MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)

MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)
Eps. 16 Kencan


__ADS_3

Cuplikan eps. sebelumnya…


“Iya CHER… ry..a-aku ma-afkan.” Jawab Diva dengan sedikit merintih. Dia merasakan sakit karena kini telapak tanganya diremas dengan sangat keras oleh Cherry.


Cherry pun melemparkan seringaian seolah berkata, dasar kamu sahabat rubah betina kecil, rasakan ini!


\=\=\=o0o\=\=\=


“Oke, sekarang aku boleh kan untuk bicara berdua dengan Diva?” Tanya Bethoven sambil menoleh pada Bella dan Cherry.


“Bo-boleh, kami kesana dulu ya Diva.” Jawab Bella sambil menarik lengan Cherry yang masih bengong karena pertanyaan Bethoven.


Bethoven menarik nafas dalam-dalam sambil memperhatikan Bella dan Cherry yang berjalan menjauh. Sejenak kemudian dia menatap Diva dalam-dalam.


“Diva, sebenarnya aku ingin mengajak kamu jalan-jalan hari ini. Kamu ga ada kesibukan lagi kan?”


“Ah, eh ga ada kegiatan lagi kok kak. Apa… kakak mengajak aku ngedate nih?”


“Hmmm…”


“Mau kak… mau banget…” Diva menerima ajakan dari kakak kelasnya yang tampan mempesona itu dengan senyuman lebar. Tapi sejenak kemudian, “tapi kak… bagaimana dengan sopir yang telah menungguku seharian diluar sana.”


“Oh..” Bethoven yang tadinya merasa lega, kini ikut bingung.


“Aduuh… apakah ditunda saja ya kak?”


“Jangan!” Sergah Bethoven, dia sudah sangat ingin lebih dekat dengan Diva. Sekalinya bisa mendapat kesempatan langsung gagal.


Aku ga rela Diva, hari ini kita harus kencan. Hari ini kita harus jalan-jalan, mengobrol berdua, aku sudah sangat jatuh hati padamu Diva. Batin Bethoven dalam hati.


“Kalo gitu biar ga gagal, sekarang aja kita berangkat, kita berangkat terus makan bakso, terus kembali kesini. Gimana?”


“Yaa… cuman sebentar dong.”


“Daripada gagal. Kamu kan artis terkenal, takutnya aku ga bisa lagi ngajakin jalan kamu besok-besoknya.”


“Iiih… apaan sih.”


“Gimana, mau ya?”


“Eeee… oke deh. Tapi janji ya jam dua kita sudah sampai disekolah lagi.”


“Siap. Aku ambil motor dulu ya?”


“Motor?”


“I-iya, kamu ga mau?”

__ADS_1


“Mau mau mau banget kak… itu kereeeen. Diva belum pernah diboncengin pake motor.” Jawab Diva dengan mata berbinar.


“Ya udah, kamu tunggu di dekat gerbang ya.”


“Siap kak…” Jawab Diva lalu berlari mendekat pada dua sahabatnya dan menceritakan kalau Bethoven mengajaknya makan bakso.


“Iiih… aku jadi iri…” Seru Bella sambil manyun menatap kepergian Diva menuju gerbang sekolah.


“Iya, sebel! Aku kan juga ingin diboncengin ama kak Bethoven, terus memeluk dia dari belakang, menyandarkan kepala dipunggungnya. Hiks, hiks, lain kali kali harus ngajakin aku meskipun hanya lima menit aja.” Gerutu Cherry dengan mata menerawang.


“Iya, beruntung banget sih Diva.” Timpal Bella lagi. Kali ini matanya juga menerawang membayangkan bisa dibonceng dan memeluk Bethoven.


Diva dan Bethoven sudah melaju diatas aspal. Seperti kebanyakan gaya remaja, mereka berdua melaju dengan pelan dijalan raya tanpa mengenakan helm. Motor model sport keluaran terbaru itu melaju pelan.


“Eee.. Diva, bisakah kamu berpegangan pada pinggangku. Karena warung bakso faforitku itu rada jauh dari sekolah kita, aku akan sedikit ngebut nih.”


“Yee… itu emang maunya kak Betho kan?” Cibir Diva, pura-pura jual mahal, sambil mencubit perut samping Bethoven.


“Enggak, bukannya begitu Diva, tapi sekarang kan udah hampir jam satu, entar kita makan baksonya harus buru-buru kalo kelamaan dijalan. Beneran deh, jaraknya lumayan jauh loh. Kalo aku ga ngebut kita ga sampe-sampe. Makanya aku akan ngebut dan kamunya harus berpegangan ke aku. Aku takut kamunya akah terjatuh kalo ga pegangan dan merapat ke aku.”


“I-iya deh…” Jawab Diva sambil tersenyum lebar.


Dia lalu merapatkan duduknya dan segera melingkarkan kedua lengannya dipinggang Bethoven. Sejurus kemudian Bethoven menarik stang gasnya menambah laju kecepatan motor.


“Awww…” Diva terpekik kaget dan sedikit merasa ngeri karena laju motor yang sangat kencang. Dia lalu menyandarkan kepalanya dibalik punggung Bethoven, karenanya matanya mulai perih tersapu angin dan debu. Diva kini hanya bisa mengikuti setiap liuk gerak motor sambil memejamkan mata. Dia menikmati bisa memeluk lelaki tampan disampingnya itu sekaligus juga merasakan ngeri yang semakin menjadi.


“Ah, sepertinya sekarang tidak terlalu ramai. Biasanya jam-jam segini sangat ramai warung ini Diva.” Kata Bethoven sambil menggandeng Diva memasuki warung setelah memarkir motornya.


“Disini baksonya enak ya?” Tanya Diva. Dia memandangi warung bakso itu yang sangat sederhana. Tidak ada kesan mewah disana.


Kabarnya kak Bethoven ini anak orang kaya raya, tapi kok warung bakso seperti ini dia tahu dan sepertinya dia sudah sering kesini, batin Diva dalam hati. Ini kabarnya yang ga bener ato emang kak Bethoven orang yang humble banget ya? lanjut hatinya bertanya-tanya.


“Entar deh buktikan aja sendiri.”


Mereka berdua lalu duduk. Didalam warung bakso itu hanya berisi tiga pasang pelanggan. Bethoven memilih meja ditengah. Mereka berdua duduk berhadapan, dan Bethoven mengarah pada pintu masuk warung.


“Ah, tuan Bethoven, pesan seperti biasanya?” Tanya seorang lelaki paruh baya bertubuh tambun dengan ramah.


Diva memandang lelaki itu. Dia sudah mengenal kak Bethoven, jadi warung ini memang sering dikunjungi kak Bethoven, batin Diva dalam hati.


“Iya paman, dua porsi ya.” Jawab Bethoven. Lalu menoleh pada Diva, “kamu minum apa?”


“Oh, lemon tea aja deh.”


“Oke, tunggu sebentar kami akan menyajikannya.” Lalu lelaki tambun itu pergi meninggalkan mereka berdua.


Sambil menunggu, Bethoven dan Diva terlibat obrolan hangat, beberapa saat kemudian ada keganjilan. Karena posisi Bethoven yang menghadap pintu masuk hingga dia bisamelihat ada sedikit keganjilan itu. Bethoven melihat beberapa lelaki bersetelan jas hitam masuk dan langsung duduk disekitar pengunjung lain juga ada yang berdiri didepan kasir, lalu terlihat mereka membisikkan beberapa kata, setelah itu pengunjung yang tadi terlihat santai menikmati bakso terlihat terburu-buru pergi. Hingga saat ini tinggal Bethoven, Diva dan beberapa lelaki bersetelan jas hitam.

__ADS_1


Lelaki tambun itu datang mendekati meja dimana Bethoven dan Diva duduk, dengan nampan berisi mangkuk bakso dan gelas minuman segar dia mendekati. Begitu didekat meja, Bethoven dan Diva bisa mengetahui kalau lelaki tambun itu terlihat begitu tegang hingga tangannya yang membawa nampan itu terlihat bergetar.


“Kenapa dengan anda?” Tanya Diva dengan kening mengernyit.


“A, saya tidak apa-apa nona. Saya baik-baik saja dan sangat tenang.” Jawabnya sambil meletakkan pesanan.


“….” Bethoven lalu mengedarkan pandangannnya, disekitar meja kasir ada dua lelaki bersetelan jas hitam. Disana juga terlihat penjaga kasir sangat tegang.


Pasti terjadi sesuatu, dan kami adalah yang menjadi incaran mereka, karena dari semua pengunjung hanya kami yang tidak mereka dekati. Batin Bethoven. Pelayan gendut ini juga terlihat begitu tegang, bahkan tangannya sampai gemetar. Karena di dekat gerobag bakso itu juga berdiri orang-orang misterius ini, apakah ada kemungkinan mereka mencampurkan sesuatu pada bakso atau minuman ini ya?


“Terima kasih.” Kata Bethoven dingin. Dia mencoba bersikap setenang mungkin, berharap orang-orang yang mengincarnya ini tidak bertindak nekat sekarang.


Lelaki tambun itu segera berlalu.


“Diva, sepertinya kali ini kita harus berkeringat.”


“Hah? Maksud kakak kita harus banyak makan sambalnya nih. It’s okay, siapa takut. Aku juga suka makanan super pedas kok.”


“Kamu jangan sentuh makanan dan minuman dulu.” Sahut Bethoven cepat, saat melihat Diva sudah mulai memasukkan beberapa sendok sambal ke mangkuk baksonya.


“Ke-kenapa kak?”


“Kamu tenang dulu ya, jangan panik.” Bethoven lalu mencoba untuk mengambil beberapa foto dengan kamera ponselnya. Dia melakukannya dengan cepat dan bergerak bukan seperti orang yang akan mengambil foto dengan ponsel.


Tetapi Diva yang melihat apa yang dilakukan Bethoven ikutan menoleh kearah ponsel yang diputar ke beberapa arah.


“Jangan menoleh Diva, tatap aku atau baksonya saja.” Bisik Bethoven. Membuat Diva semakin kebingungan, tapi instingnya mengatakan dia harus menuruti apa yang dikatakan Bethoven. Diva menunduk dan mengaduk-aduk bakso yang kini telah tercampur dengan sambal itu.


“Oke, sekarang kamu harus pergi ke toilet, sebentar lagi aku akan menyusulmu.” Perintah Bethoven kemudian dengan suara lirih.


Diva menatap wajah Bethoven semakin kebingungan.


“Kamu masuk kesana, diujung sana sebelah kiri ada toiletnya.” Tiba-tiba Bethoven berkata dengan sedikit lantang. Matanya lalu memberikan isyarat agar Diva segera berdiri dan berjalan menuju kearah yang dikatakannya tadi.


Diva yang kebingungan berdiri dengan ragu, lalu dia berjalan dengan menundukkan kepalanya kearah yang ditunjukkan Bethoven. Saat dia melewati dua orang lelaki bersetelan jas hitam matanya sempat melirik dan melihat kotak besi mirip gagang pistol terselip dibalik jas salah satu lelaki. Fikiran Diva secara otomatis mencoba merangkai perintah misterius Bethoven dengan apa yang baru saja dilihatnya.


Mungkin mereka mengincar kak Bethoven, tapi kenapa? Ataukah aku yang diincar mereka seperti yang pernah mama Nabila ceritakan bebarapa hari yang lalu. Aduh… aku harus bagaimana ini? Hati Diva dipenuhi pertanyaan-pertanyaan dan ketakutan.


Kini dia telah sampai didepan toilet. Diva segera masuk dan mengunci pintu toilet. Keringat dingin mulai deras keluar dari sekujur tubuhnya. Kecemasan dan ketakutan semakin melanda dirinya. Tubuhnya gemetar


Siapa mereka? Kenapa tiba-tiba warung hanya ada orang-orang misterius berpakaian hitam-hitam? Apa tujuannya? Beragam tanya berkecamuk dalam fikiran Diva. “Apa mereka orang suruhan Ferdi seperti yang mama Nabila ceritakan tempo hari ya?”


Tok… tok tok.


Beberapa ketukan pintu berirama terdengar membuyarkan lamunan Diva. Keringat dinginnya semakin deras mengurucur dari keningnya, ketakutan semakin menyelimuti tubuhnya.


Bersambung…

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2