MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)

MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)
Eps. 52 Tercekik


__ADS_3

“Hei, tak bisakah kalian melakukannya di dalam kamar kalian?” Teriak Naginisa dengan nada menggoda saat menerobos masuk kedalam ruang kerja Bram.


“Maafkan saya tuan, saya gagal menghadang nona Naginisa agar tidak masuk kesini.” Kata Johan dengan  sangat ketakutan karena telah gagal menghalangi sepupu Josephira itu hingga menemukan tuan dan  nyonyanya sedang berciuman panas di dalam ruang kerja.


“Keluar sekarang juga Johan!” Bentak Bram.


Johan seketika langsung keluar dan menutup pintu ruang kerja Bram.


“Apalagi mau kamu sekarang hah?” Tatap Bram tajam pada sepupu istrinya itu.


“Ayolah kak, jangan sesinis itu pada sepupu cantikmu ini.” Katanya sambil duduk disofa menghadap pada  Bram dan Josephira yang masih berdiri disamping meja kerja.


Josephira melotot pada sepupu yang sangat tidak disukainya ini.


“Dan kau juga sepupuku, jangan terlalu emosilah, santai saja. Itu akan lebih baik untuk kondisimu dan janin  kamu.” Seloroh Naginisa lagi sambil duduk disofa. Dia lalu mengambil sebatang rokok dan mulai menyalakannya.


Bram cepat bergerak mendekat ke tempat Naginisa, dengan cepat dia merebut rokok yang menyala itu dan menjatuhkannya kelantai lalu menginjaknya.


“Aku ga punya banyak waktu untuk kamu. Cepat katakan apa mau kamu?” Kata Bram tepat diwajah Naginisa.


“Come on, beginikah kamu memperlakukan seorang tamu yang bersilaturahmi?” Ujar Naginisa tenang. “Apa  kamu sudah lupa kak Bram? Kalau kita pernah didalam satu kamar tanpa satu lembar baju menutupi  tubuh kita?” Tanya Naginisa lalu tersenyum smirk.


“Arrgh!” Teriak Bram sambil  melemparkan vas bunga yang berada didekatnya ketembok hingga vas itu  pecah berantakan.


“Dasar kamu ****** murahan tak punya malu!” Bentak Josephira dengan suara lantang.


“Ish, ish, ish, calm down my beloved cousin (tenangkan dirimu sepupu tercinta), ingat janin dalam perutmu.  Bisa terpengaruh loh bila kamu emosian kaya gini.” Naginisa berkata dengan tenang meski dia sempat  terkejut saat Bram melemparkan vas bunga didepannya ketembok.


Tiba-tiba Bram mencekik leher Naginisa karena sangat marah dengan wanita ular didepannya ini. Bram sangat emosi dan tak bisa lagi mengendalikan emosinya, mengngat kejadian memalukannya bersama Naginisa waktu itu.


“Aku akan bunuh kamu sekarang juga!” Bentak Bram dengan tetap mencekik Naginisa.


Naginisa memberontak dan memukuli lengan Bram yang mencekiknya. Rasa sesak karena kesulitan  bernafas membuat Naginisa berusaha menjauh. Tapi tubuhnya yang telah bersandar di sofa tak bisa lagi  mundur.


Lengan besar Bram yang sedari tadi dipukuli Naginisa tak bergeming. Kini malah semakin kuat mencekik  leher jenjang itu dan mengangkatnya keatas. Gerakan itu membuat tubuh Naginisa kelojotan seperti ikan  didaratan.


Josephira yang melihat adegan itu merasa ngeri. Melihat kemarahan Bram yang memuncak hingga gelap mata. Wajahnya yang putih, kini semakin terlihat seputih salju karena pucat pasi.


“Bram Kawijaya! Hentikan itu!” Bentak Josehphira. Sebenarnya dia takut Bram akan marah padanya, tapi dia  takut jika Bram sampai menjadi pembunuh disaat dia akan melahirkan beberapa bulan lagi. “Hentikan  sekarang juga Bram Kawijaya suamiku.” Perintahnya lagi, kali ini nada suaranya sedikit dilembutkan  Josephira.

__ADS_1


Bram menoleh kearah Josephira. Tatapan tajamnya beradu dengan tatapan penuh cinta Josephira. Tatapan  tajam Bram dengan cepat berubah. Lalu dia mengarahkan pandangannya lagi pada Naginisa yang masih  dicekik olehnya.


Bram menyeringai pada Naginisa yang matanya mulai melotot dan bibirnya terbuka karena kesulitan  bernafas. Dengan cepat Bram melempar tubuh Naginisa kekiri hingga wanita itu terjerembab ke sofa.


“Uhuk, uhuk, uhuk.” Naginisa terbatuk-batuk dengan tubuh tertelungkup di sofa. Dipijatnya leher jenjang  miliknya untuk menghilangkan sedikit sakit akibat cekikan tadi. Tampak warna merah bekas gambar tangan  Bram tercetak disana. “Bangsat! Uhuk! Brengsek kau Bram! Uhuk!” Makinya dengan wajah masih tertunduk  kearah sofa. “Aku akan membalasmu seratus kali lipat dari rasa sakit ini. tunggu saja pembalasanku.”  Ancamnya sangat lirih dengan nada geram.


Bram menghela nafas lalu berjalan menghampiri istrinya yang tampak pucat.


“Maafkan aku sayang. Aku lepas kendali, dan membuatmu sangat ketakutan.” Kata Bram penuh penyesalan sambil memeluk istri yang sangat  dicintainya itu. “Maafkan aku.” Katanya lagi sambil merapatkan kepalanya diceruk leher Josephira.


Josephira memeluk suaminya itu dengan hangat. Diusapnya kepala berambut hitam nan tebal itu dengan penuh kasih sayang.


“Its okay honey. Its okay., dia layak menerimanya.” Jawab Josephira pelan penuh kehangatan. “Biarkan dia mengoceh tentang masa lalu. Kita berikan saja apa yang ia minta. Okay?”


Bram tak menjawab. Dia malah semakin mempererat pelukannya.


“Oh Bram, kamu lupa kalau diperutku ini ada calon anak gadismu?” Tanya Josephira.


Seketika Bram melepaskan pelukannya, lalu mengusap lembut perut istrinya dan mengecupnya.


‘Sialan mereka tak menganggap aku ada!’ Runtuk Naginisa melihat pemandangan didepannya sambil


Bram masih mengusap lembut perut istrinya dan mengecupi perut istrinya. Sementara Josephira hanya  melihatnya dan mengelus pucuk kepala suaminya.


“Aaaarrrrgghhh! Hentikan ulah kalian! Dasar tak tahu malu!” Maki Naginisa merasa disepelekan.


Josephira dan Bram hanya menoleh sebentar lalu meneruskan lagi aktivitasnya seperti yang mereka lakukan tadi.


“Dengar ya, aku akan lapor ke polisi atas kejadian ini.” Ancam Naginisa sambil menunjuk lehernya yang lebam. “Awas kalian!”


Naginisa melangkah keluar. Dan Bram maupun Josephira tetap tak mengacuhkan sepupu mereka itu.


“Aku tidak akan melaporkan ini semua karena kalian adalah sepupuku. Tapi jika malam ini di rekeningku  tidak masuk empat milyar, lihat saja besok.” Katanya lagi lalumembuka pintu dengan kasar dan melangkah  keluar.


Bram segera mengambil ponselnya begitu Naginisa telah menghilang dari pandangan. Dia kemudian  menulis pesan pada Johan untuk mentransfer uang pada Naginisa.


Johan yang menerima pesan dan membacanya hanya bisa geleng-geleng kepala. ‘Selalu saja begini, setiap  wanita ular itu datang. Sampai kapan tuan Bram akan diperas seperti ini ya?’ Batin Johan merasa iba  dengan tuannya.


\===o0o===

__ADS_1


Kembali pada Bethoven dan Diva yang masih diatas panggung.


Diva masih terdiam dengan wajah memerahnya. Sementara teriakan menyuruhnya untuk menerima semakin deras dan kencang.


Bethoven berdiri semakin gelisah dan gelisah menunggu kata ya atau bersedia atau mau dari bibir Diva. Tapi  yang ditunggu masih termangu sambil menundukkankepalanya. Sebuah perjudian besar dalam hidup  Bethoven.


‘Ayolah Diva terima cintaku dan jadilah pacarku. Jangan kau buat aku patah hati dan mendapat malu malam  ini.’ Batin Bethoven merintih karena sangat gelisah.


“Sambil jongkok dong biar romantis.” Teriak seorang pengunjung wanita.


Tanpa menunggu aba-aba kedua, Bethoven lalu berjongkok didepan Diva yang masih berdiri tertunduk.  Bethoven mendongak. Kini tatapan mata mereka beradu. Bethoven melihat mata Diva berkaca-kaca.


‘Maafkan aku Diva, aku tak bermaksud membuatmu malu dan bersedih.’ Pekik hati Bethoven. Dia baru  tersadar perbuatannya seperti ini tidak hanya dia yang akan merasa malu. Tetapi Diva juga akan  mengalaminya.


“Maafkan aku Diva. Aku tak bermaksud membuatmu malu seperti ini. Dan apapun jawaban kamu, aku akan  menerimanya dengan lapang dada asalkan kamu memaafkan kebodohan dan keegoisanku ini.” Kata  Bethoven didepan mik hingga semua pengunjung mendengar ucapannya tak hanya Diva.


Diva mengangkat gagang mikrophone nya perlahan.


Semua pengunjung terdiam, hingga suasana mendadak hening. Alunan suara gitar Bimo yang sedari tadi  tenggelam kalah oleh teriakan pengunjung, kembali terdengar menambah syahdu suasana.


“A – Aku…”


Hening lagi. (alunan suara gitar Bimo)


“Aku…”


Hening lagi. (alunan suara gitar Bimo)


“Aku mau jadi pacar kamu.” Lanjut Diva lagi dengan pelan dan malu-malu.


Pengunjung pun sontak bertepuk tangan dan bersorak ramai.


Sementara Bethoven masih terdiam, antara percaya dan tidak dengan jawaban dari Diva yang baru saja dia  dengar. Ditatapnya wajah Diva dengan intens. Baru kemudian Bethoven bisa tersenyum lebar ketika Diva  tersenyum lebar dan membentangkan tangan sambil menganggukkan kepala. Seolah berkata, ‘iya kak, aku  menerima cintamu dan mau menjadi pacarmu.’


Bethoven pun melompat tinggi dari jongkoknya sambil memukul angin diatas kepalanya. Sementara  pengunjung café semakin antusias mengabadikan moment bersejarah itu. Bethoven memeluk Diva erat.  Sangat erat seolah tak ingin melepasnya lagi.


“Terima kasih Diva. Terima kasih.” Kata Bethoven sambil memeluk.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2