
Musim berganti seiring waktu,
Aku disini terdiam.
Akankah pelangi datang meski tanpa hujan?
Aku disini terdiam.
Hati berjelaga,menghitam.
Malam tanpa rembulan.
Mengapa tak kubakar saja rerumputan?
Biar tahu aku disini terdiam.
Diva membisukan suasana pesta kelulusan ketika dia membacakan puisi karyanya yang dinyatakan sebagai pemenang dalam lomba cipta puisi disekolahnya.
Ini penampilan perdananya diatas panggung dalam waktu hampir dua tahun terakhir. Dan ini adalah pesta kelulusannya. Satu tahun lebih setelah rahasia yang dia simpan dengan mamanya terbongkar, Diva memutuskan meninggalkan geliat dunia selebritis yang melambungkan namanya.
Diva turun dari panggung kecil, setelah didaulat untuk membaca puisi karyanya. Penonton masih membisu, entah mereka mengerti kesedihan Diva yang merasa sepi tanpa kekasih hati, atau mereka jengah karena ditengah meriahnya pesta dia membaca puisi kesedihan.
Pembawa acara bertepuk tangan, dan kemudian diikuti gemuruh tepukan dari seluruh penonton yang hadir dalam pesta perpisahan itu.
“Menyedihkan sekali puisi kamu Diva. Aku sampai speechless. Aku jadi ingat sama kak Betho.” Ucap Bella, salah satu sahabat yang selalu bersamanya.
“Terima kasih.” Balas Diva pelan.
“Oh ayolah. Ini pesta perpisahan kita. Masa penghayatan puisi kamu masih belum hilang juga. Ayo bergembira Diva.” Ucap Bella setelah beberapa saat berlalu dan Diva masih terdiam, meski panggung sudah ramai dengan musik yang mengalun, menghibur.
Bella lalu memeluk sahabatnya itu. Dia tahu, Diva begitu terpuruk setelah Bethoven pergi. Terbongkarnya rahasia yang dia simpan, membuat hampir semua orang disekolah ini mencomooh dan mencibir Diva secara terang-terangan. Mereka meninggalkannya, dan yang terberat bagi Diva adalah ditinggalkan Bethoven. Sudah hampir dua tahun, Bethoven masih belum juga memberikan kabar. Dia seolah telah memutus kontak dengan seluruh negeri ini dan tenggelam dan geliat kesibukan London.
“Iya. Ini hari terakhir kita disekolah ini.” Jawab Diva masih dalam pelukan Bella. “Akan kunikmati untuk terakhir kalinya saat berada disini.”
“Nah, gitu dong. Sekarang saatnya berpesta setelah lulus.” Teriak Bella ditengah bisingnya suasana pesta.
\=o0o=
__ADS_1
“Bagaimana, apa kalian sudah memutuskan untuk kuliah dimana?” Tanya Bella.
Saat ini seluruh genk BCD berkumpul dirumah Bella yang mewah. Bella, Cherry dan Diva sedang membahas rencana mereka untuk mendaftar kuliah.
“Aku belum.” Jawa Diva.
“Aku juga. Malah aku tak tahu harus mengambil jurusan apa.” Timpal Cherry sambil menggaruk-garuk kepalanya dan melihat pada lembaran brosur-brosur.
“Kamu sendiri akan kuliah dimana dan mengambil jurusan apa Bell?” Tanya Diva.
“Kalau papah dan mamah inginnya aku mengambil jurusan bisnis dan manajemen. Tapi aku ga ingin kesana. Aku ingin jadi ahli kecantikan saja.” Jawab Bella. “Karena aku ingin punya klinik kecantikan sendiri. Kamu tahu kan klinik kecantikan itu sangat laris manis saat ini. Dan yang pasti mehong bangeng tarifnya. Kalau aku punya klinik sendiri, dan juga menjadi ahlinya aku bisa tampil lebih cantik dan memukau biaya juga lebih ringan. Hehehe... dan kalian juga bisa melakukan perawatan. Jangan kuatir aku akan beri diskon.”
“Ngimpi kok terus. Bangun tidur dulu kek, Sekolah dulu, buka usaha dulu baru promo.” Seloroh Diva membuyarkan lamunan Bella.
“Iih kamu kejam Diva. Baru saja menghayal sudah main ambyar saja.”
“Terus kamu pilih yang mana?” Kejar Cherry. “Maksudku menuruti orang tua atau keinginanmu?”
“Aku tak tahu Aku belum sempat bilang sama mamah dan papah. Tapi jika diijinkan memilih sendiri aku inginnya berkuliah di Korea. Biar bisa ketemu sama si Ji-Min.”
Diva dan Cherry ikutan heboh dan berhayal. Masing-masing berhalu ria bisa bertemu dengan idolanya yang
“Memangnya kamu tak ingin berkuliah di London saja Diva?” Tiba-tiba Cherry bertanya setelah heboh menghalu. “Siapa tahu kamu bisa bertemu kak Bethoven disana.”
Suasana hati Diva seketika berubah. Dia mengambil nafas dalam-dalam dan menghempaskannya. Raut mukanya berubah muram.
Melihat itu, Bella menyikut Cherry seolah menyalahkan karena telah membuat sahabat mereka itu jadi galau teringat pada sang kekasih yang menghilang di negeri orang. “Kamu sih.” Bisik Bella ditelinga Cherry.
Sementara Cherry hanya bisa meringis kesakitan terkena sikutan Bella. “Aku keceplosan, ga sengaja.” Jawabnya seraya berbisik juga.
“Sebenarnya...” Jawab Diva pelan. “Ada yang menawariku untuk memfasilitasi kuliah disana. Bahkan bisa sambil magang juga. Tapi... “
“Tapi kenapa Diva? Bukankah itu sangat bagus? Kamu bisa bersekolah dan bekerja disana.” Tanya Bella.
“Iya, benar. Aku juga jadi pengen ke London. Tapi ga punya biayanya untuk sekolah disana.” Timpal Cherry.
“Tapi aku takut kecewa lebih jauh lagi. Aku takut terlalu berharap entar jadi malah membuat aku lebih kecewa.”
__ADS_1
“Maksud kamu?”
“Serting aku membayangkan berkuliah di London, terus bisa bertemu sama kak Betho. Dan kita kembali seperti dulu. Tapi semakin kesininya, aku semakin takut, jika itu hanya akan dalam bayangan dan impianku saja. Kenyataannya akan sangat berbeda. Aku takut terpuruk lagi dalam kesedihan. Apalagi saat disana, tidak ada mamah, tidak ada kalian. Aku mengadu dan minta pelukan sama siapa? Masa sama ratu Elizabet? Ga mungkin kan?” Jelas Diva diimbuhi gurauan diakhir kalimatnya. “Ah sudahlah, mending berkuliah disini saja.” Ga pakai mikiri London."
“Atau ke korea saja. Sama aku.” Sahut Bella.
“Kalau kalian ke Korea, aku main sama siapa?” Ratap Cherry. Dia merasa orang tuanya tak akan mampu mengkuliahkan dia ke luar negeri. Secara perekonomian, kedua orang tuanya jauh dibawah kedua sahabatnya ini. Secara kepandaian dirinya juga dibawah kedua sahabatnya.
“Aduh jangan sedih gitu dong.” Seru Diva seraya memeluk tubuh Cherry. Yang dipeluk malah sesenggukan menangis.
“Kalian jangan pergi keluar negeri ya. Kumohon kalian kuliahnya jangan jauh-jauh cukup ke Ciater saja deh tempat yang paling jauh.” Kata Cherry sambil sesenggukan.
Kontan kedua sahabatnya ini tertawa terbahak-bahak.
“Emang ada kampus di Ciater? Kamu ada-ada saja.” Seloroh Diva sambil menepuk-nepuk punggung Cherry.
Sementara itu di London.
Bethoven sudah tenggelam dibalik tumpukan buku-buku dimeja. Dia sedang sibuk membuat essai tugas kuliahnya.
(dialog sebenarnya dalam bahasa english readers. Tapi karena kemampuan author dalam bahasa asing terbatas. Jadinya kuberi pakai bahasa negeri sendiri saja ya? Mohon maklum readers.)
“Ayolah Betho, kamu harusnya lebih santai sedikit.” Ucap Sam teman kuliah Bethoven di Western London University, sambil berbisik karena mereka saat ini sedang didalam perpustakaan. “Lagipula ini hanya kuliah musim panas.”
“Sst.. Aku sedang sibuk Sam. Kalau kamu mau hangout sama teman-teman, tak apa-apa pergi saja sana. Untuk saat ini aku ingin fokus belajar.” Jawab Bethoven.
“Ayolah temanku, aku memohon sama kamu.” Bisik Sam lagi dan badannya dia sorongkan maju, lalu menatap Bethoven dengan mimik wajah memelas.
“Berisik sekali sih kamu ini.” Sergah Bethoven kesal.
“Ayolah, kalau bukan karena Lula yang meminta tolong padaku. Aku tak akan merengek-rengek padamu kan?”
“Apa yang kamu perbuat dengan Lula?”
“Tak ada. Aku hanya akan dimudahkan jalanku untuk kencan dengan Agnes, teman sekamar Lula. Ayolah broo bantu aku, aku jatuh cinta sama Agnes. Sekali ini saja. Plisss...”
“Baiklah, ingat sekali ini saja.” Tukas Bethoven menyetujui, karena semakin risih dengan tatapan beberapa pengunjung perpustakaan yang menatap kearah mereka dengan tatapan tidak senang.
__ADS_1
Bersambung...