
“Terima kasih kak. Kakak bisa langsung pulang saja.” Ujar Diva pada Bethoven setelah mobil berhenti didepan gerbang rumahnya.
“Aku akan mengantar kamu. Dan aku akan berpamitan dengan ibu kamu.” Kata Bethoven tegas. membuat Diva tak mampu berkata-kata lagi untuk membantahnya.
Mereka turun dari mobil dan memasuki gerbang setelah dibukakan oleh penjaga. Malam telah sangat larut. Tapi terlihat lampu ruang tamu rumah Diva masih menyala, menandakan penghuninya masih terbangun karena menunggu putrinya pulang.
Diva akan mengetuk pintu meminta untuk dibukakan. Tapi lengan Bethoven menariknya dan mencegahnya untuk melakukan hal itu. Diva menoleh dan memandang Bethoven seolah bertanya ada apa?
“Aku ingin bertanya padamu sebelum aku bertemu ibu kamu malam ini.” Kata Bethoven.
“Tanya apa kak?”
Bethoven terdiam. Terlihat jelas bagi Diva, pemuda tampan didepannya ini tengah berpikir sesuatu.
‘Oh no, apa dia ingin mencium aku?’ Batin Diva karena teringat pada film-film yang sering dia lihat saat seorang gadis diantar pulang setelah acara prom night. Seketika pikiran itu ditepisnya. “Ga mungkin, ga mungkin kak Betho akan melakukan itu. tapi…”
Tiba-tiba Bethoven berjongkok dengan satu lutut menyentuh lantai. Kepalanya menengadah menatap ke wajah Diva.
“A-apa yang kak Betho lakukan?” Tanya Diva kebingungan, sambil berusaha menarik pundak Bethoven agar mau berdiri.
“Ma-maukah kamu menjadi pacarku?” Ucap Bethoven tiba-tiba.
Glek!
Diva tercengang dan langsung menelan ludahnya kasar. ‘Aku ditembak malam ini? Whoaaaa….’ Jerit Batin Diva. Perasaan bercampur aduk, antara bahagia dan bingung.
“Diva, kumohon jadilah pacarku. Karena aku mencintaimu.” Kata Bethoven lagi.
“Nggg…” Diva masih bingung untuk menyusun kalimat guna menjawab kalimat Bethoven.
“Please…” Sangat lirih diucapkan Bethoven. Namun karena malam sudah larut dan suasana begitu sepi, kalimat lirih yang memohon itu sungguh bagaikan gunung semeru yang mendorong Diva untuk segera menjawab dengan satu kata ‘YA’.
“Kak, kumohon bangkitlah dulu. Jangan seperti ini.” Jawab Diva kemudian.
“Kamu jawab dulu Diva. Terimalah permohonanku ini dan balaslah rasa cintaku padamu.”
“Ayolah kak, jangan seperti ini. kumohon kak.”
“Jawab dulu Diva. Aku sungguh mencintaimu setulus hatiku.”
“Aduh gimana ya? Aku bingung.” Kata Diva bingung dan lalu menggigit bibir bawahnya. Kemudian dia menoleh kearah pintu taku Minah keluar dan melihat kondisi seperti ini. “Aduh kak, please bangun dulu.” Pintanya lagi sambil berusaha menarik pundak Bethoven agar mau bangkit.
Tapi Bethoven bergeming.
Diva menghirup nafas dalam-dalam lalu menlepaskannya pelan-pelan. Dia berusaha menata hatinya terlebih dulu sebelum menjawabnya.
“Aku tak menolak cinta kakak, tapi…”
“Kamu menerima cintaku?” Tanya Bethoven memastikan pendengarannya dengan wajah berbinar.
Diva hanya terdiam sambil menatap wajah Bethoven dengan intens.
“A-aku tak menolak cinta kakak, tapi… tapi aku juga tak bisa menerima cinta kakak. Setidaknya tidak untuk saat ini.” Diva berkata lagi. Dan setelah mengucapkan kalimat terakhir dia akhirnya bisa bernafas dengan lega.
“Mak-maksudmu apa?”
“Eeng.. Maaf kak, jujur aku sangat bahagia saat mendengar kakak mengucapkan kata cinta padaku. Tapi ma, eh ibu telah memintaku untuk berjanji padanya.”
__ADS_1
“Janji apa?”
“Kalau aku tak akan berpacaran sebelum usiaku lewat tujuh belas tahun.” Jawab Diva lirih.
‘Sesungguhnya aku juga mencintaimu kak, dan ingin berpacaran denganmu. Tapi maaf aku harus menepati janjiku pada ibuku.’ Jrrit hati Diva.
“Apakah kamu jujur padaku soal janjimu itu?”
“Tentu saja. Bersabarlah kak, semua akan indah pada waktunya. Hanya kurang satu tahun dan aku akan menjadi pacar kakak. Untuk sementara kita akan menjadi sahabat saja.” Jelas Diva.
Dengan lemas Bethoven berdiri lalu menatap Diva seolah tak percaya.
“Jagalah perasaan cinta kakak, dan aku juga akan menjaga perasaan ini hanya untuk kakak. Anggap saja ini adalah ujian kesetiaan kita berdua.” Jawab Diva lagi.
Bethoven menarik nafasnya dalam-dalam. Dia merasa lemas, kembali keadaan menggantung ini akan menyiksanya setiap hari.
“Baiklah Diva. Akan kakak buktikan akulah yang paling pantas untuk mendapatkan hatimu karena aku bersungguh-sungguh padamu.” Akhirnya Bethoven mampu berpikir jernih. Dia rela untuk menunggu sedikit lebih lama lagi.
Klek.
“Eh kalian sudah tiba.” Ujar Minah setelah pintu terbuka.
“Iya tan, maaf karena acaranya selesai sangat malam.” Sahut Bethoven.
“Terima kasih ya nak Betho sudah mengantarkan Diva sampai kerumah dengan selamat.” Ucap Minah dengan senyum ramah.
“Sudah menjadi kewajiban saya tante. Sekarang saya pamit pulang tante. Diva. Assalamualaikum.” Pamit Betoven kemudian.
“Waalaikumusalam.” Jawab Diva dan Minah berbarengan.
Nabila, Diva dan Minah sudah duduk bersama dimeja makan untuk sarapan pagi. Diva berceloteh panjang lebar tentang acara prom night semalam. Minah dan Nabila antusias mendengarnya.
“Sudah, sudah, ayo sarapan pagi dulu. Keburu dingin.” Potong Minah. “Jarang-jarang loh kita bisa sarapan pagi barengan kaya gini.” Lanjutnya lagi.
Dan mereka pun bergantian mengambil nasi untuk sarapan. Baru saja giliran Diva berdiri untuk mengambil nasi, ponselnya berdering. Sebenarnynya dari tadi bunyi ponsel tanda ada pesan masuk terus berbunyi tapi dihiraukan oleh Diva.
Diva melihat, ternyata Cherry yang menelponnya.
“Halo, Assalamualaikum.” Sapa Diva.
“Waalaikumusalam. Kamu tahu ga Diva, foto dan video kamu pagi ini sudah masuk trending topik nomor sepuluh loh. Aku sungguh ga nyangka foto dan video yang kuaplod di akun pribadiku bisa masuk jadi trending topik dan sekarang telah ditonton lebih dari satu juta. Wkwkwkwk… Sungguh aku tak menyangka bisa jadi postingan aku bisa…”
“Stop, stop, kamu ini pagi-pagi udah nyerocos panjang kaya kereta api, sampai aku pusing mendengarnya.” Potong Diva, karena dia sulit menangkap apa maksud daripada Cherry.
“Makanya buka pesan-pesanku dong. Kamu ini, aku udah kirim lebih dari lima pesan tak satupun kamu baca.”
“Oke, oke. aku lihat pesan dulu ya.” Jawab Diva.
Beberapa saat kemudian, dengan sambungan telepon yang masih belum terputus. “Whoaaa! Beneran ini Cher?”
“Beneran lah. Kamu cek aja akun aku.” Balas Cherry.
Diva lalu menutup sambungan teleponnya. Belum sempat dia membuka akun Cherry, ponselnya sudah berdering kembali. Kali ini nama Dodit, salah satu tim kreatif menelponnya.
‘Tumben sepagi ini mahluk yang satu ini sudah bangun?’ Heran batin Diva. ‘Pasti sangat penting.’
“Halo, Assalamualaikum.”
__ADS_1
“Waalaikumusalam. Bosku coba lihat aku yutub kita. Subsribe nya sudah tembus satu juta dua ratus. Entah kenapa ini bisa terjadi, yang pasti kita berhasil jadi yutuber terkenal. Hahahaha….” Sahut Dodit sangat bersemangat.
“Ah masa Dit, perasaan baru kemarin aku memeriksa angkanya masih tiga ratus ribuan?”
“Beneran lah. Coba aja bosku periksa sendiri.” Jawab Dodit dengan semangatnya.
“Makan dulu Nab.” Sergah Nabila yang melihat putrinya itu tidak jadi mengambil nasi untuk makan.
“Bentar lagi mah. Ada yang harus aku periksa sebentar.” Jawab Diva dengan wajah berbinar.
Sambungan teleponnya telah dia tutup, dan kini dia tengah memeriksa akun yutub dan akun medsos Cherry.
“Whoaaaa?!?! Beneran. Jumlah subscriber pagi ini sudah satu juta lima ratus. Asssyiiikkkk….” Teriak Diva kegirangan sambil jingkrak-jingkrak.
“Heh, heh, Diva. Apa-apaan sih kamu?” Bentak Nabila.
Kejadian saat prom night mungkin adalah berkah bagi Diva juga Bethoven. Kepopuleran mereka membuat pundi-pundi uang mengalir deras ke kantong mereka. Mejadi ambasador beberapa produk ternama, menjadi bintang tamu dalam banyak acara talk show ataupun reality show di televisi, dan lain-lainnya.
Tentu saja, setiap yang ada didunia akan terlahir dengan dua sisi yang berimbang. Disaat kepopuleran karena jumlah fans dan penghasilan tentu akan dibarengi dengan jumlah orang yang tidak senang atau di media sosial lebih dikenal dengan sebuta haters. Mereka muncul karena sifat iri, dengki dan cemburu.
“Anjrit! Apa-apaan mereka ini? Seenaknya saja komentar seperti beginian, dasar manusia sampah!” Diva ngedumel tidak karuan sambil membaca kolom komentar dari akun medsos dan vlog nya.
“Ada apa nak? Dari tadi ibu kok melihat kamu uring-uringan terus.” Tanya Minah sambil melipat baju-baju yang baru dia angkat dari jemuran.
“Iya Diva, kamu ini jangan mengomel terus dari tadi. Jangan sampai kegiatan kamu di medsos mengganggu sekolah kamu loh.” Timpal Nabila.
“Ini mah, mama baca saja sendiri. Mereka ini begitu entengnya mengatakan aku ini gendut lah, pansos lah, hanya modal wajah tanpa otak dan lain-lain.” Kata Diva dengan wajah manyun, sambil menyerahkan ponselnya pada Nabila.
“Hei, jumlah komentarnya sampai tiga ribuan? Hmm, sudah sangat terkenal kamu ya?” Seru Nabila lalu tertawa menggoda.
“Mamah, anaknya yang cantik ini lagi jengkel malah digoda.”
“Hehehe, iya deh mama minta maaf.” Jawab Nabila, lalu dia membaca beberapa komentar di ponsel Diva. “Sebenarnya kamu harus selalu bersyukur pada Illahi karena keadaan ini. Tak perlu marah-marah.”
“Bagaimana tidak marah mah? Diva sudah berusaha memberikan yang terbaik selalu saja dikata-katain.” Ujar Diva dengan nada semakin meninggi.
“Begini putriku sayang. Mama juga pernah mengalami hal ini. Selama mereka hanya berkata-kata yang buruk tentang mama, bergosip, mama tidak akan ambil pusing. Santai saja, biarin saja, karena ada ustadz bilang mereka mengatakan hal buruk tentang seseorang tanpa bukti itu adalah cerminan kehidupan mereka sendiri, atau paling tidak mereka itu bisanya hanya itu saja.”
“Maksud mamah?”
“Ya itu artinya mungkin iri kenapa mereka tidak bisa melakukan apa yang Diva lakukan, atau mungkin iri karena mereka tidak bisa mendapatkan seperti yang Diva dapatkan.” Jawab Nabila. “Lagipula, coba Diva pikir, jika saja tidak ada haters yang komen buruk apakah para fans Diva tidak akan terpancing untuk membela Diva sehingga terjadi perang komen yang membuat jumlah komen ini sampai ribuan?”
“Benar juga ya mah?” Diva mulai bisa memahami nasihat Nabila.
“Jumlah komentar sebanyak itu hanya untuk satu postingan pendek seperti ini? Ini bisa jadi berkah untuk kamu, asal kamunya bisa memenej sehingga komentar-komentar ini tidak menjadi bumerang. Kalau berhasil dimenej dengan baik, ini akan melonjakkan kepopuleran kamu. Dan itu artinya cuan.”
“Iiiih mamah, cuan melulu!”
“Becanda sayang, mamah becanda. Tapi mamah sarankan agar kamu bisa selalu bersyukur pada setiap hal yang terjadi sama diri kamu. Jika itu kamu rasa terlalu berat, mengeluh lah pada yang diatas, Diva masih punya Allah Ta’ala kan? Dia yang mengatur itu semua.” Nasihat Nabila sambil mengelus rambut Nabila dengan sayang.
“Iya mah, Diva paham. Semakin tinggi pohon semakin kencang angin berhembus. Kita hanya ditugaskan untuk berusaha dan berdoa, lalu mensyukuri semuanya.”
“Bagus. Anak mama semakin dewasa sekarang.” Nabila tersenyum senang, lalu dikecupnya kening Diva dengan penuh kasih sayang.
Bersambung…
Maaf Pembaca yang Baik hati dan tidak sombong sangat banyak kesalahan ketik
__ADS_1