MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)

MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)
Eps. 6 MARAH


__ADS_3

\=\=\=o0o\=\=\=


Review eps. sebelumnya


“Kita berfoto ya?” Pinta Josephira, lalu memanggil seorang pelayan untuk mengambil foto dirinya bersama Nabila tanpa menunggu persetujuan Nabila.


Beberapa foto diambil pelayan itu dari beberapa angle foto dan beberapa gaya. Setelah Josephira merasa puas, dia meminta kembali hapenya.


\=\=\=o0o\=\=\=


“Sayang sini, sayang…” Josephira memanggil seseorang sambil melambaikan tangannya.


Seorang lelaki dengan setelan jas warna biru pastel melambaikan tangannya, lalu berjalan menghampiri Josephira. Tangan lelaki itu langsung melingkar dipinggul Josephira.


“Sayang… kenalin nih artis idolaku. Nabila.” Kata Josephira. Lelaki itu tersenyum menatap Nabila lalu menyodorkan tangannya untuk bersalaman.


“Bram. Senang berkenalan dengan anda.” Katanya memperkenalkan diri. Nabila menyambut uluran tangan Bram sambil melempar senyum manis.


“Nabila. Saya juga sangat senang berkenalan dengan anda.” Katanya berbasa basi. Tapi Nabila mengagumi ketampanan Bram. Hidung mancungnya, kulit kecoklatannya ditunjang dengan warna kebiruan bekas jambang, jenggot dan kumis yang dicukur. Begitu maskulin dimata Nabila.


Mereka lalu terlibat dalam obrolan ringan. dari obrolan ringan itu Nabila mengethaui status Bram adalah suami Josephira. Dan Bram adalah pengusaha besar di bisnis pertambangan dan sekuritas. Obrolan itu berlangsung beberapa lama, sampai muncul tuan rumah menyapa mereka.


“Ah, tuan Bram. Saya tak menduga anda bersedia hadir dipesta sederhana ini.” Sapa tuan Fadel sambil memberikan pelukan pada Bram. “Dan saya merasa sangat terhormat dan berbahagia sekali nyonya Josephira juga berkenan datang.” Tuan Fadel membungkuk memberi hormat pada Josephira.


Mereka mengobrol lagi dengan seru, meskipun Josephira dan Nabila yang mendominasi pembicaraan, karena Josephira begitu antusias bertanya tentang film dan sinetron yang pernah dibintangi Nabila.


“Hai, Rama. Sini.” Tuan Fadel memanggil seseorang bernama Rama.


Saat itu Rama terlihat sedang berbicara dengan Adli. Nabila tahu Rama adalah pemilik rumah produksi Maracine Entertainment. Sebuah rumah produksi yang pernah ikut andil memproduksi salah satu sinetron yang dibintangi Nabila dengan rating yang sangat bagus.


Rama pun mendekat diiringi Adli. Mereka semua lalu berkenalan. Rama ternyata adalah saudara jauh dari Fadel.


“Tuan Rama, apa Nabila akan menjadi salah satu bintang dari sinetron baru anda?” Tanya Josephira.


“Eee, sepertinya belum ada nyonya. Tapi saya sekarang butuh dana untuk poduksi satu sinetron baru yang saya rasa akan cukup bagus. Barangkali nyonya atau tuan Bram berkenan menjadi sponsor? Hahaha…” Jawab Rama sambil tertawa.

__ADS_1


“Owh, begitu ya? pasti suamiku ini mau loh untuk membiayai asal nona Nabila yang menjadi bintang utamanya. Iya kan sayang?” Kata Josephira lalu bertanya manja pada suaminya.


“Untuk memenuhi keinginanmu sudah pasti sayang. Pasti kupenuhi.” Jawab Bram sambil memandang intens pada istri cantiknya itu. “Bagaimana tuan Rama, besok anda kirimkan proposal dan salah satu syarat dari saya adalah permintaan istri saya, nona Nabila harus menjadi bintang utamanya.”


“Ah, saya harus betanya dulu pada nona Nabila, apakah bisa meluangkan waktunya untuk menjadi bintang utama disinetron baru ini nantinya.” Jawab Rama sambil tersenyum lebar. “Nona Nabila, apakah nona berkenan untuk menjadi bintang utama di sinetron baru kami nantinya?” Tanya Rama pada Nabila dengan gaya formal.


Nabila melirik sebentar pada Adli. Sang manajer menberi isyarat untuk menerima dengan menaggukkan kepalanya.


“Tentu saja tuan Rama, terima kasih atas penawarannya. Dan untuk tuan Bram terima kasih. Khusus pada nyonya Josephira, saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, saya jadi mempunyai pekerjaan besar lagi. Terima kasih nyonya. Terima kasih.” Ucap Nabila dengan mata berkaca-kaca.


“Ah oke. oke. besok saya kirim proposalnya pada anda tuan Bram. Saya merasa sangat beruntung malam ini. Bisa mendapat suntikan dana dan bintang bertalenta.” Kata Rama sambil tertawa bahagia.


Setelah itu kembali mereka mengobrol. Nabila dan Josephira berpamitan ke toilet untuk merapikan riasan wajah. Sambil bercanda mereka menuju toilet.


Setelah selesai dengan ritual umumnya para ladies di toilet saat pesta, mereka keluar. Tiba-tiba sebuah tangan mengamit lengan Nabila. Wanita cantik ini terkesiap ketika tahu siapa yang menarik lengannya.


“Ferdi?” Pekik Nabila. Dia sungguh tidak menyangka Ferdi akan hadir di pesta ini. Karena kebanyakan para artis yang hadir disini adalah artis escort yang artinya diundang khusus tuan rumah untuk meningkatkan rasa prestise tuan rumah. Tapi seorang Ferdi kesini? Ada apa ya? batin Nabila dalam hati.


Josephira yang juga tahu Ferdi adalah salah satu lawan main Nabila dalam beberapa sinetron terdahulu pun merasa sangat senang. Dia lalu meminta pelayan mengambil foto dirinya diapit Nabila dan Ferdi.


Setelah beberapa kali mengambil foto bareng, Josephira merasa puas mendapatkan foto dirinya besama artis-artis idolanya, Ferdi memohon ijin pada Josephira agar bisa berbicara empat mata dengan Nabila. Josephira yang dengan berat hati meninggalkan Nabila dan Ferdi kembali ke suaminya.


“Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi Fer.” Ketus Nabila. Dadanya merasa sakit mengingat penghianatan dan penghinaan Ferdi dan keluarganya.


“Jangan begitu dong sayang. Sampai hari ini aku pun merindukan dirimu. Masih merindukan sentuhan seperti saat dulu.” Ujar Ferdi sambil menyeringai mesum.


Tanpa sadar tangan Nabila bergerak menyilang didepan dadanya. Tiba-tiba dia merasakan jijik luar biasa pada mahluk lelaki didepannya ini.


“Kamu tetap terlihat cantik sayang, aku jadi sangat kangen. Oh ya, aku yakin kamu sudah menggugurkannya kan? Hehehe…” Ferdi seolah tanpa beban dosa berkata hal gila pada Nabila yang semakin terbakar amarah.


“Selamat tinggal Fer.” Kata Nabila lalu berbalik pergi. Bibirnya mengerucut kulit mukanya memerah bagai bara yang terbakar.


Baru satu langkah kaki Nabila terjejakkan. Lengannya ditarik kasar hingga dia tertarik dan menabrak Ferdi. Nabila kaget bukan kepalang karena sekarang tubuh mungilnya berada dalam dekapan lelaki paling dibencinya dimuka bumi.


“Hen… Hmffff..” Nabila tidak bisa meneruskan kalimatnya, tatkala bibir Ferdi telah ******* bibirnya tanpa permisi.

__ADS_1


Sekuat tenaga Nabila mendorong tubuh Ferdi. Lelaki ini tidak siap dengan perbuatan Nabila, membuat dia tertolak mundur dan tangannya melepaskan Nabila.


PLAK!


Sebuah tamparan keras dipipi Ferdi mendarat dari tangan lentik Nabila. Begitu kerasnya hingga telapak tangan Nabila terasa panas dan sedikit kesemutan.


“Ba#in#an! Jangan pernah lakukan itu lagi padaku. Atau aku akan berbuat lebih nekat daripada ini.” Teriak Nabila dengan bibir bergetar menahan amarah karena merasa terlecehkan. Sekali lagi dia mengalami penghinaan, bahkan kali ini didepan orang banyak.


Ferdi hanya tersenyum tipis, lalu mengerling. Dia melangkah mendekat, Nabila bersiap melayangkan tamparannya lagi.


“Bibirmu masih terasa nikmat sayang.” Bisik Ferdi tenang seolah tidak terjadi apa-apa diantara mereka.


Beberapa tamu yang kebetulan berada didekat mereka, terkejut. Beberapa diantara mereka mengeluarkan hape dan melakukan pengambilan gambar.


Nabila merasa semakin malu. Ferdi yang dibencinya, Ferdi yang pernah merayunya untuk menyerahkan mahkota berharga satu-satunya, kini muncul dan melecehkan dirinya didepan banyak orang.


“Bang, ayo kita pulang. Se ka rang!” Titah Nabila. Dia tidak memperdulikan Josephira dan Bram bahkan Rama yang menatap heran mendengar nada permintaan yang penuh amarah.


Adli yang paham dengan kebiasaan Nabila, hanya bisa menggenggam tangan Nabila lalu berpamitan pada koleganya itu.


Nabila tanpa bisa tersenyum lagi memaksakan diri mencoba bersikap ramah pada Josephira dan berpamitan. Saat mencium pipi Josephira, Nabila membisikkan kata maaf.


Josephira tercekat tak tahu harus berkata atau berbuat apa selain memandangi wajah Nabila yang berubah cepat. Dilihatnya mata Nabila kini berkaca-kaca. Josephira melepas Nabila dengan berat, dalam hatinya dia ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Adli bergegas menggandeng tangan Nabila mengajaknya keluar menuju mobil. Mereka lalu berlalu menuju rumahnya.


Didalam mobil Nabila langsung meraung, menangis sejadinya. Dashboard mobil yang tak mengetahui masalah yang dihadapi Nabila menjadi sasaran amukan. Adli hanya diam menunggu, dia sudah hafal perangai artis kesayangannya ini. Jadi Adli hanya perlu menunggu Nabila tenang, baru dia akan bercerita sendiri atau akan menjawab saat ditanya.


Bersambung…


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Selamat menikmati


Jempol, komentar dan vote juga tombol favorit jangan lupa ya readers baik.

__ADS_1


__ADS_2