
Dengan kecepatan tinggi Joe memacu mobil mewah yang mereka tumpangi. Beberapa kali Ferdi yang duduk di samping Joe yang sedang mengemudi harus berteriak mengingatkan Joe karena mengemudi dengan kesetanan.
“Joe, jangan terlalu panic kamu ini. Kalo kamu seperti ini yang akan masuk dalam ruang perawatan bukan hanya Diva, tapi kita semua.”
“I-iya bos…” Jawab Joe tanpa mengurangi kecepatan mobilnya.
Sementara Nabila memegangi tubuh putrinya yang tergolek lemah dengan kepala bersandar di pahanya. Beberapa kali tubuh Diva harus terguncang hebat karena mobil yang ditumpangi seakan terbang melayang mengikuti kontur jalan aspal yang terkadang bergelombang dan berlubang.
“Joe, kurangi sedikit kecepatanmu. Tampaknya tidak ada yang mengikuti kita dibelakang.” Teriak Adli sambil menahan kaki Diva yang terlentang dikakinya. “Kasihan Diva, dia akan semakin terluka kalau kamu mengemudi seperti setan jalanan!”
“Benar Joe! Sepertinya kita aman. Kurangi sedikit kecepatan kamu!” Bentak Ferdi menimpali kata-kata Adli.
“B-baik bos.” Jawab Joe seraya mengurangi sedikit kecepatannya. Matanya melihat wajah Nabila yang terlihat begitu gelisah. Seulas senyum tergaris dibibir Joe, seolah berkata gotcha, kena kamu Nabila.
Beberapa saat kemudian mobil telah sampai di depan pintu unit gawat darurat sebuah rumah sakit kecil. Ferdi segera keluar dan berlari kedalam. Tak menunggu lama tiga perawat wanita dan seorang dokter lelaki bergegas mendekati mobil sambil mendorong brangkar. Dengan cekatan mereka mengeluarkan tubuh Diva dari mobil dan meletakkannya dengan hati-hati keatas brangkar.
“Ada yang bisa memberi tahu saya kenapa nona ini sampai pingsan?” Tanya dokter sambil berjalan mengikuti perawat yang mendorong brangkar.
“Eee… kami hanya menemukan dia dalam keadaan pingsan dok.” Jelas Adli cepat. Dia tak ingin kejadian sebenarnya diketahui orang lain. Adli dengan cepat memutuskan untuk berbohong demi menutupi dari kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan, terutama harus memberikan penjelasan pada awak media. Biar bagaimanapun Diva adalah sosok rising star dengan kategori media darling. Yang berarti awak media akan sangat antusias memburu cerita apa saja yang berkaitan dengan Diva.
“Hmmm…” Dokter itu hanya mangut-mangut. Lalu dia mulai memeriksa keadaan kondisi Diva. Para perawat membantu menyediakan apa yang diminta oleh dokter. Seorang perawat menutup tirai dan mempersilahkan Nabila, Adli dan Ferdi untuk berada diluar tirai dan memberikan sedikit keleluasaan pada tim medis untuk melakukan pemeriksaan.
Beberapa saat kemudian dokter itu keluar dari balik tirai.
“Syukurlah keadaan pasien tidak apa-apa. Dia hanya mengalami pembiusan dan mungkin sebentar lagi akan siuman. Tapi untuk lebih memperoleh kepastian atas diagnosa saya ini, saya akan melakukan uji pada sample darah dari pasien.”
Adli, Ferdi dan Nabila mengangguk bersamaan dengan menampilkan wajah penuh rasa lega.
__ADS_1
“Siapa keluarga pasien disini. Tolong segera didaftarkan untuk masalah administrasinya didepan sana. Saya akan kembali beberapa saat lagi untuk memeriksa pasien. Saya permisi dulu.” Pamit dokter tersebut.
“Terima kasih dok.” Jawab Adli.
Sementara Nabila bergegas masuk kedalam tirai bermaksud menemani putri tunggalnya itu.
“Aku akan mendaftarkan Diva ke bagian administrasi. Karena aku adalah manajernya.” Pamit Adli pada Ferdi.
Ferdi hanya menganggukkan kepala. Setelah Adli berlalu Ferdi pun ikut masuk kedalam tirai dan menjumpai Nabila yang tampak memegang jemari Diva dengan tangan kirinya sementara tangan kananya mengusap lebut
kening Diva.
“Eh… hem.” Ferdi mendehem pelan.
Nabila sedikit terkejut mendapati Ferdi telah berdiri tepat disebelahnya. Belum hilang rasa terkejutnya, ekor mata Nabila menangkap gerakan tangan Ferdi yang memegang paha Diva yang terbungkus selimut.
“Lepaskan tangan kotormu dari sana! Atau aku akan membuatmu kehilangan tanganmu tak hanya sebuah garpu yang akan menancap disana seperti waktu itu.”
Nabila menatap tajam seperti harimau betina yang kejam saat melindungi anaknya. Meskipun didalam hatinya. Hatinya marah tak rela bila sampai tangan kotor penuh dosa itu menyentuh paha putrinya.
Ferdi beringsut mundur satu langkah menjauhi brangkar Diva dengan kedua tangannya diangkat setinggi pundak, seolah berkata, baik-baik, aku mundur dan tak akan menyentuhnya.
Nabila melengos, lalu kembali menatap sendu ke wajah putrinya.
Kenapa masalah selalu datang padamu sayangku, maafkan ibumu yang tak mampu memberikan perlindungan terbaik kepadamu. Begitu rintihan hati Nabila. Matanya berkaca-kaca hingga beberapa bulir bening terjatuh melewati pipinya.
Hatinya begitu hancur, meskipun Diva untuk saat ini masih terselematkan, tapi siapa yang berani menjamin nasib putrinya ini kelak dimasa akan datang. Dan entah kenapa ada orang yang mempunyai niat jahat pada putrinya ini. Nabila bingung bagaimana ada orang yang tega terhadap Diva, sementara sepengetahuan Nabila, Diva tidak mempunyai musuh satu pun.
__ADS_1
Air mata Nabila semakin deras mengucur, dia tak mampu membayangkan hal buruk yang akan terjadi bila Diva tak terselematkan hari ini. Dan lagi yang menjadi dewa penyelamat adalah Ferdi. Mahluk durjana yang selalu Nabila hindari demi keamanan putrinya ini.
Beberapa saat hening tanpa suara.
“Dia… can… tik.” Gumam Ferdi pelan. Pandangan matanya tak lepas dari wajah Diva yang masih terpejam matanya. “Sangat mirip kamu ya Nab?”
“Itu bukan urusan kamu!”
“A-aku menjadi semakin yakin kalau dia adalah putriku. Putri kita berdua.” Tukas Ferdi pelan namun dengan penekanan pada kata putri kita berdua.
Nabila hanya diam. Dia tak mau mengakui kalau Diva adalah hasil hubungan yang dilarang Tuhan itu, namun hati Nabila juga tahu kalau itu adalah benar. Diva adalah putri Ferdi.
Ingatan Nabila kembali melayang ka masa itu, dimana dia mendapatkan hinaan dan cacian dari kedua orang tua Ferdi. Bagaimana dia harus bersimpuh dan bersujud memohon pertanggung jawaban Ferdi. Tetapi yang dia dapatkan justru cacian dan hinaan, bukannya pertanggung jawaban malah disuruh membunuh benih yang telah tumbuh didalam rahimnya.
Tidak, tidak mungkin aku mengakuimu sebagai bapak Diva. Tak akan pernah Ferdi, tidak akan pernah! Jerit hati Nabila.
“Itu benar kan Nab?” Tanya Ferdi lirih.
“Jika pun iya, kamu jangan pernah bermimpi untuk mengasuhnya!” Hardik Nabila dengan tatapan mata sinis. Nada suara Nabila mulai meninggi, pertanda dia sudah panik mendapat pertanyaan tentang Diva dari Ferdi.
“Kalau begitu dia siapa Nab? Apa hubungan kamu dengan Diva? Kenapa kamu begitu peduli dengan dia?” Cecar Ferdi, tetap dengan suara pelan tapi penuh intimidasi.
“Bukan urusan kamu! Urus saja dirimu sendiri.” Sengit Nabila dengan suara semakin meninggi.
“Ssst…! Ini IGD Nab. Banyak orang sakit disini. Pelankan suara kamu.” Desis Ferdi. Seringaian tipis sekilas terlukis dibibir lelaki itu.
“K-Kamu! Grrrh…!” Nabila hanya bisa menggeram jengkel dengan mahluk jahanam di sampingnya.
__ADS_1
Kenapa kamu ga pergi saja dari sini, biar emosiku tak meledak seperti saat ini. Gerutu hati Nabila. Sebenarnya dia ingin mengusir Ferdi sekarang, tapi dia tetap tak merasa enak hati karena biar bagaimanapun Ferdi hari ini telah berjasa dengan menyelamatkan Diva.
Bersambung…