MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)

MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)
Eps. 60 Saved By The Bell


__ADS_3

“Nab, badanku lengket. Bisakah kamu bantu aku untuk mandi, aku ingin sekali mencuci rambutku. Rasanya  semakin pusing saja ini.” Keluh Josephira sambil mengurai rambut sebahunya.


‘Waduh, kenapa selalu meminta ke aku sih? Aku kan jadi bingung untuk menjelaskan kondisi kelumpuhan  kak Jose.” Keluh Nabila dalam hati. ‘Kalau minta diantar ke kamar mandi, dan lalu keramas, pasti minta  berjalan sendiri. Hadudududu…. Bagaimana aku menjelaskannya?’ Rintih hati Nabila lagi.


“Nab, kok malah bengong sih? Kamu dengar tidak apa yang kukatakan tadi.”


“Eh ya kak, ada apa ya?” Tanya Nabila pura-pura bego.


“Aku pengen mandi Nab, juga keramas. Bantu aku ya?”


“Ah, eh,…” Nabila semakin kebingungan. Tangannya mulai menggaruk-garuk ubun-ubunya yang tak gatal.


“Ayolah Nab, kamu ini kenapa sih?”


“Sebentar kak, sebentar. Aku ingat harus menelpon tuan Kenji dulu.”


“Tuan Kenji? Siapa dia?”


“Eh, Oh itu kak seorang kolektor perhiasan. Salah satu disain cincin yang aku buat membuatnya tertarik dan  berniat membeli seharga satu milyar sepasang, asal dia bisa mendapat jaminan tidak akan ada lagi model  yang sama.” Bohong Nabila.


“Oh” Josephira bengong, karena baru pertama kali mendengar seorang kolektor perhiasan bernama Kenji. ‘Siapa lagi si crazy rich Kenji ini? aku belum pernah mendengar namanya.’ Batin Josephira.


“Sebentar kak, aku menelpon diluar saja.” Pamit Nabila, dan langsung ngacir meski Josephira belum  memberi persetujuan.


“Kamu bisa…” Nabila sudah diluar dan menutup pintu kamar. “… menelpon Kenji disini saja.” Lanjut Josephira mulai merasakan keganjilan.


Sementara itu, Nabila segera menghubungi Bram.


“Halo Assalamualaikum.” Ucap Nabila begitu tersambung dengan Bram.


“Waalaikumusalam. Ada apa? Apa ada masalah?” Tanya Bram dengan nada kuatir.


“Eeeee… Ya dan tidak kak. Maksudku, aku sedang kebingungan karena kak Jose tiba-tiba minta dibantu  mandi dan keramas kak. Aku bingung harus bagaimana jika kak Jose memaksa. Untuk sementara aku masih bisa berbohong kak.”


“Begitu ya? Ah, begini saja. Kamu ulur waktu dulu, aku langsung kerumah sakit sekarang. Biar aku yang  handle ini. Aku ingin Josephira mendengarnya dariku sendiri.”


“Baik kak.” Jawab Nabila tersenyum tenang.


Ditutupnya sambungan telepon setelah membalas salam dari Bram.


Nabila tak langsung kembali ke dalam kamar, dia memilih untuk pergi ke kantin yang berada di lantai bawah.  Kamar Josephira berada di lantai lima. Nabila baru kembali, ketika meninggalkan Josephira sekitar sepuluh menit lebih.

__ADS_1


“Aduh, kak Bram pasti belum sampai. Kalau aku masuk sekarang, kira-kira apa yang harus aku pakai  sebagai alasan ya?” Monolog Nabila sambil berjalan pelan menyusuri koridor lantai lima.


“Ih, lama banget telpon-telponannya. Aku udah sangat gerah ini.” Gerutu Josephira tak sabar.


“Maaf kak, tuan Kenji ingin detail ditambah tentu saja aku harus menjelaskan padanya tentang banyak hal.”


“Terus bagaimana?”


“Belum tercapai kesepakatan kak, tuan Kenji bilang akan telepon sepuluh menit lagi.”


“Bukan itu maksudku, bagaimana kamu akan memandikan aku?”


‘Aduh mati aku!’ Keluh Nabila dalam hati. “Pakai air lah kak, memang kakak mau aku mandiin pakai pasir kayak ayam?” Seloroh Nabila bercanda, agar Josephira sedikit lupa.


“Ga lucu!” Sungut Josephira.


“Maaf kak, maaf.”


“Cepetan Nab, ambilin kursi roda. Beneran deh punggungku rasanya sudah melepuh nih, berbaring terus  beberapa hari tanpa bisa bergerak. Obak sialan yang disuntikkan dokter itu kok ga habis-habis ya efeknya.  Sudah berapa hari aku sadar, tapi aku masih juga ga bisa gerakkan kakiku.” Omel Josephira karena sudah  sangat gerah dibadan dan lelah. “Sekarang ini seolah aku ini sudah lumpuh saja.”


Deg!


Jantung Nabila seakan berhenti berdetak, mendengar gerutuan dari bibir Josephira.


Tanpa berbicara, Nabila keluar untuk mengambil kursi roda pada meja petugas jaga.


“Ish, ish, malah ngacir keluar sih?” Gerutu Josephira lagi saat tahu Nabila sudah keluar kamarr.


Saat sudah berada didalam kamar lagi, ponsel Nabila berdering. Cepat dia tengok untuk mengetahui nama penelpon.


Nama Adli tertera dilayar ponselnya.


‘Kebetulan sekali, bang Adli menelpon. Save by the bell’ Batin Nabila riang.


“Sebentar kak.” Seru Nabila seraya memberi isyarat untuk bersabar karena harus mengangkat telponnya.


“Halo Assalamualaikum abang ganteng…” Ucap Nabila.


“Waalaikumusalam, Nab, bisakah kita besok bertemu klien. Ini ada produser tertarik untuk mengajakmu dalam sebuah program acara.”


“Acara apa bang?”

__ADS_1


“Semacam talk show. Kamu akan jadi host nya. Kontrakk yang ditawarkan lumayan gede Nab.”


“Oke bang. Insyaallah besok aku bisa meluangkan waktu untuk bertemu produsen itu. Tapi bang, aku ga mau  jadi host acara talk show yang konsepnya membahas gosip, atau acara-acara alay dengan konsep  konyol-konyolan. Aku maunya acara yang sedikit bermutu dan bisa memberikan pendidikan atau membuka  wawasan pada masyarakat.”


“Iya, iya, kita akan dengar dulu besok dari mulut produsen itu sendiri. Kalau kamu nantinya merasa oke, kita akan bahas lebih lanjut tentang detil-detilnya.”


“Thank you abang, aku tahu abang the best deh.”


“Ya udah kalau begitu, oh ya bagaimana kabar nyonya Jose hari ini?”


“Alhamdulillah semakin baik bang. Sudah mulai panjang kalau mengomel.” Jawab Nabila sambil terkikik melihat Josephira yang semakin manyun mendengar selorohnya.


“Alhamdulillah, semoga cepat sehat kembali dan selalu tabah. Aamiin. Titip salamku untuk beliau ya Nab.”


“Aamiin, iya bang Insyaallah aku sampaikan.” Nabila semakin tenang ketika pintu kamar terbuka dan  dilihatnya Bram yang masuk. “Udah ya bang, sampai bertemu besok. Assalamualaikum.”


Setelah memastikan Adli menutup teleponnya, Nabila semakin tenang. Karena sekarang dilihatnya Bram tengah menggendong Josephira.


“Bram, turunin! Braaaammm….” Teriak Joesphira sambil menahan tawa mendapat perlakuan seperti itu dari suaminya.


“Ish, digendong sama suami sendiri saja sampai histeris begitu. Hari ini aku akan memanjakanmu sayang,  kamu minta apa? Ditemani seharian? Atau dibelikan perhiasan? Atau apa?” Goda Bram.


“Ga perlu. Sekarang aku hanya ingin mandi. Titik.” Jawab Josephira seraya memasang wajah jutek.


“Oke, aku akan memandikan kamu. Rasanya sudah sangat lama tak melihat tubuh telanjangmu sayang.” Kata Bram.


“Ish mesum.” Runtuk Nabila seraya melengos.


“Biarin. Kan sama istri sendiri.” Jawab Bram. sambil menjulurkan lidahnya


Josephira tertawa bahagia melihat Nabila jutek.


“Rasakan, tadi kamu bilang aku kalau mengomel semakin panjang kan dan itu membuatku keki. Sekarang  aku akan membalasmu, kamu rnikmati rasanya saat  melihat aku dan suamiku bermesraan. Dasar jomblo  akut. Ucap Josephira semakin membuat Nabila Keki. “Ayo sayang gendong lagi dong, mandiin aku dengan lembut ya?”


“Dasar alay!” Teriak Nabila yang disambut tertawa terbahak dari pasangan romantis itu seraya memasuki kamar mandi.


Beberapa menit setelah pintu kamar mandi tertutup.


 “Tidaaaaaaaak...!!!” Jerit Josephira dari dalam kamar mandi.


Nabila meneteskan air matanya lagi. Dia tahu itu jeritan syok Josephira yang pada akhirnya mengetahui keadaan sebenarnya tentang kelumpuhan yang menimpa dirinya.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2