
“Beruntung kita tidak diusir selama mengikuti tujuh harinya sama mamanya om Adli ya?” Tanya Bethoven sepulang dari acara tujuh hari meninggalnya Adli. “Tapi beliau sama tante Nabila terlihat sangat membenci.” Tambah Bethoven sambil menyetir mobilnya.
“Iya, aku juga tak tahu sumber kebencian itu kak. Padahal yang aku tahu dulu om Adli begitu dekat dengan tante Nabila, tapi entah mengapa kebencian itu tiba-tiba muncul.” Jawab Diva.
“Ah, kalau ingat itu jadi kasihan sama tante Nabila.”
“Kasihan kenapa kak?”
“Karena diusir seperti itu, tante Nabila jadi tak bisa ikut acara kirim doa.”
“Ya, kalau kirim doa sih kata ibuku bisa kirim dari mana saja dan kapan saja. Yang penting niat mendoakannya tulus iklas. Jadi sebenarnya tak masalah juga sih buat tante Nabila. Itu menurut ibuku kak.”
“Begitu ya?”
“Ya begitu sih kata ibu.” Jawab Diva. “Ke kafe dulu kak, mumpung masih sore.”
“Boleh deh, minta ijin sana sama tante Minah. Nanti biar aku ga kena semprot saat mengantarmu pulang.” Seloroh Bethoven.
“Siap bos.” Jawab Diva sambil tersenyum lebar.
Bethoven lalu mengarahkan mobilnya ke kafe tempat dia biasa nongkrong bersama Diva.
Sementara itu Nabila sudah berada di sebuah hotel berbintang lima yang akan di launching. Dia dikontrak disana untuk meramaikan acara soft launching hotel tersebut.
“Seperti biasa, oma selalu terlihat cantik menawan anggun mempesona, seperti layaknya princess dari negeri dongeng.” Ucap Sadil sambil memperhatikan seluruh penampilan Nabila yang malam ini menggunakan dress panjang putih tulang dengan model shoulder look yang mempamerkan kulit pundak mulus dan leher jenjangnya, karena tampilan rambut Nabila yang digelung keatas dan hanya membiarkan bebarapa ekor rambut menjuntai kebawah. Ditambah dengan asesoris kalung berlian dengan bandul batu jamrud berwarna biru tua. Kecantikannya semakin terlihat dengan anting berlian panjang menempel dikedua telinganya.
“Benar-benar wow memukau, bling-bling indah seperti bintang dilangit malam.” Timpal Wawan.
“Cih kalian ini, kalau memuji aku selalu lebay, jatuhnya malah terkesan menjilat saja.” Seloroh Nabila.
“Benaran oma. Sadil dan aku selalu iri, karena tak bisa tampil secantik oma Nabila.” Seru Wawan tak mau dibilang lebay dan menjadi seorang penjilat.
“Yeeee, kalian ini kan cowok mana bisa tampil cantik?”
__ADS_1
“Oma Nabila selalu begitu. Membuat kami patah hati dengan mengingatkan status kami.” Rajuk Wawan dengan gaya kemayunya.
“Hahahaha...sudah, sudah. Coba cek apa panitia sudah menjemput?” Sergah Nabila tak mau meneruskan obrolan tak berguna itu.
“Barusan datang oma.” Jawab Wawan.
“Ehm, kalian sudah cari tahu siapa bos yang mengendors dan dirahasiakan namanya ini?”
“Kata pegawai hotel disini, big bos belum pernah sekalipun datang melihat hotel. Atau setidaknya mereka belum pernah melihat dan juga tak tahu namanya oma. Mereka hanya kenal manajer hotel yang bernama Reyhan oma.” Jelas Sadil sambil merapikan sedikit baju yang dipakai Nabila. “Kata mereka manajer Reyhan orang masih muda, gagah dan tampan oma, tapi bersikap sangat dingin pada semua karyawan disini.”
“Oh begitu? Tapi big bosnya siapa, mereka tidak tahu?”
“Tidak oma.” Jawab Sadil dan Wawan serempak.
Mendengar jawaban itu membuat dahi Nabila berkerut. ‘Jadi yang sangat ingin untuk mengendors aku ini masih misterius? Ataukah si manajer bernama Reyhan itu ya? Tapi setidaknya aku akan aman untuk malam ini, tak perlu takut mendapat perlakuan tak mengenakkan.’ Kata hati Nabila. Dia lalu mematut dirinya didalam cermin setelah menerima dompet cantik yang diserahkan Sadil padanya. ‘Sangat elegan penampilanku malam ini.’ Pujinya sendiri dalam hati seraya tersenyum.
Nabila lalu berjalan keluar dari kamarnya.
Diluar kamar sudah menunggu seorang wanita cantik yang mengaku sebagai sekretaris manajer Reyhan. Dan langsung mengajak Nabila menghadiri pesta soft launching hotel baru itu di ballroom hotel.
‘Hmmm, dia sangat tampan dan pastinya masih sangat muda.’ Batin Nabila saat keduanya berjabat tangan.
Di tempat lain. Johan sedang menelpon Bram yang sudah tinggal di London.
“Bagus Johan kamu urus sisanya. Setidaknya dalam beberapa hari ini proyek-proyek kita masih on the track.” Puji Bram melalui sambungan telepon. “Terus bagaimana dengan Bethoven?”
“Tuan muda baik-baik saja tuan. Malam ini baru saja perjalanan pulang ke rumah besar setelah mengantarkan nona Diva pulang.”
“Hmmm... Apakah Naginisa ada berbuat ulah?”
“Dalam beberapa hari yang lalu selalu datang ke kantor dan ke rumah besar, namun sampai saat ini masih bisa saya tangani tuan. Meskipun dia selalu balik keluar dengan uring-uringan tuan.”
“Terus pantau dia. Aku tak mau ada gangguan selama proses terapi Josephira disini. Dan kamu jangan sampai terlambat mentransfer jatah bulanan dia.”
__ADS_1
“Iya tuan. Saya tadi siang menerima laporan dari orang yang mengawasi nona Naginisa tuan. Dan dia sepertinya akan membuat ulah sebentar lagi.”
“Ulah? Seperti apa?” Tanya Bram buru-buru.
“Menurut informasi yang diperoleh nona Naginisa tadi siang bertemu dengan beberapa orang media juga pegiat medsos. Dan menurut informan tadi, nona Naginisa mempunyai bukti kuat untuk membuka rahasia nona Nabila tuan, yaitu tentang hubungan nona Nabila dengan nona Diva. Dan menurut informan yang sama, mereka berencana merilis dan menciptakan opini publik yang kuat dalam beberapa hari kedepan tuan.”
“Apakah informasi itu valid?”
“Menurut informan tersebut data yang dibawa sangat valid tuan.”
“Apakah dia juga tahu rahasia apa itu?”
“Ternyata mereka adalah ibu dan anak tuan. Jadi selama ini rumor yang didiamkan itu benar adanya. Oh ya tuan, apakah kita akan membantunya lagi seperti waktu dulu?”
“Tidak perlu, kita tidak perlu membantunya untuk saat ini. Terus awasi Naginisa saja. Oh ya kirimkan profile Bethoven ke tuan Jones sekarang juga. Aku akan menyuruh Bethoven bersekolah di sini saja sekalian memberikan support pada mamanya.”
“Mendadak sekali tuan, bukankah masa SMA tuan muda hanya kurang dari setahun tuan. Apakah tidak lebih baik menunggu sampai tuan muda lulus baru berkuliah disana?”
“Laksanakan saja perintahku.” Titah Bram dengan menaikkan nada suaranya. Johan paham benar kalau sudah begini itu berarti sudah tidak ada lagi ruang negosiasi.
“Baik tuan. Saya akan laksanakan. Ada lagi tuan.”
“Apakah belum ada informasi pada siapa dan dimana Naginisa menyimpan foto-foto terkutuk itu?”
“Maaf tuan, sampai hari ini saya tak bisa menemukan kepada siapa nona Naginisa menitipkan foto-foto tersebut. Saya masih terus berusaha, tapi karena minimnya informasi membuat saya tidak bisa melangkah lebih jauh selain menunggu kesalahan nona Naginisa tuan.”
“Sialan! Si ular Naginisa ini benar-benar licin dan licik.” Geram Bram. “Ya sudah, aku ingatkan sekali lagi jangan sampai telat mentransfer ke Naginisa. Paham?”
“Mengerti tuan. Saya akan laksanakan sebaik mungkin. Ada lagi tuan?”
“Hari ini cukup.”
“Baik tuan, selamat malam.” Jawab Johan lalu menutup sambungan teleponnya.
__ADS_1
“Aku sangat benci dibohongi! Ternyata Nabila dan Diva adalah pembohong besar. Mereka ini sebenarnya ular berbisa, dan aku harus menyelamatkan keluargaku sebelum ular-ular ini membelit hingga kami kesulitan. Cukup sudah memiliki satu ular seperti Naginisa.” Kata Bram sambil mondar-mandir didepan jendela kamar tidurnya.
Bersambung...