
Cuplikan eps. sebelumnya…
“Ini semua gara-gara kamu, goblok! Coba kalau telpon itu tidak kamu angkat, kita sekarang pasti sudah berada di pub dengan gadis-gadis cantik.”
“Maaf bos… maaf…” Jawab Joe dengan wajah memelas. Sementara hatinya ngedumel, kalo ga kuangkat aku yang dipecat sama papa kamu bos. Dasar bos edian.
\=\=\=o0o\=\=\=
“Hei anak bodoh! Apa yang kamu lakukan tadi siang hah?” Tanya Rudi pada Ferdi putranya ketika putranya itu telah sampai dan duduk di depannya.
“Biasa pah, hanya main-main.”
“Main-main kepalamu. Kamu gunakan pengawalku untuk apa? Katakanlah apa tujuanmu mau menangkap anak laki-laki itu?”
“Ah, papa salah faham. Bukan anak lelaki itu yang aku kejar pa, tapi cewek yang bersamanya itu.”
“Emangnya siapa dia? Sekarang kamu senang dengan anak kecil hah?”
“Kalo Diva sih, aku ga bakalan nolak pah. Papa juga jangan muna dong… aku tahu loh minggu lalu papa booking anak esempe juga.” Jawab Ferdi sambil menyeringai.
“HEH! Anak bodoh! Jangan keras-keras, mama kamu ada didalam.” Bentak Rudi sambil kepalanya celingukan melihat kearah ruangan lainnya.
“Hehehe….” Ferdi terkekeh pelan melihat papanya yang sedikit ketakutan. “Tenang pah, mama tadi masih di taman samping kok. Biasalah lagi ngerumpi sama teman-temannya.”
“Oke… oke… sekarang kamu jelaskan pada papa. Kalau hanya untuk booking cewek esempe aja kenapa sampe harus ngelibatkan pengawal papa hah?” Tanya Rudi kali ini nadanya tidak sekeras diawal, bahkan terkesan seperti seorang teman yang bertanya pada temannya.
“Sebenarnya aku tuh merasa sedikit berbeda dengan cewe yang bernama Diva itu. Pasti papa sudah tahu kan profil dia?” Ferdi berhenti dan melihat kepala papanya yang mengangguk pertanda mengamini pertanyaan yang dilontarkan Ferdi. “Aku ingin menangkap dia karena dia sangat sulit didekati, selalu saja ada pengawal, baik disekolah ataupun dirumahnya. Entah mengapa kalau aku melihat wajah Diva, Ferdi itu ga ada nafsu pah, hanya penasaran, mungkinkah dia putriku dari hubunganku dengan Nabila beberapa tahun lalu itu. Mungkin papa masih ingat, dia adalah salah satu mantanku yang hamil.”
“Na-bi-la?” Rudi berkata pelan dengan dahi mengernyit dan mata menerawang. Dia mencoba mengingat nama yang baru saja ditirukannya itu. Beberapa saat kemudian dia teringat dengan sosok gadis yang merengek-rengek dikakinya. Karena Nabila ingin dinikahi oleh Ferdi sebagai bentuk tanggung jawab atas kehamilannya. “Papa ingat sekarang, dia yang mengaku hamil itu kan? Tapi kamu waktu itu masih belum ingin menikah, hingga terpaksa papa memberikan pada dia dua milyar sebagai uang tutup mulut.”
“Iya pah, Nabila yang itu. Dari semua mantan dan wanita-wanita yang telah kutiduri hanya dia yang hamil pah. Lalu ketika beberapa waktu lalu muncul gossip bahwa Diva adalah putri yang disembunyikan Nabila, aku menjadi penasaran akan gossip itu. Aku sudah sempat menanyakan langsung pada Nabila, tapi dia menolak mengakuinya. Makanya aku ingin menanyakan secara langsung pada Diva pah.”
“Terus jika memang benar itu anakmu, kamu mau apa? Kalaupun bukan kamu mau apa juga?”
__ADS_1
“Hehehe…. Kalau dia anakku, apa papa tidak ingin punya cucu? Katanya aku disuruh cepat-cepat kawin, biar bisa beri papa dan mama cucu.” Jawab Ferdi enteng tetap dengan seringainnya. Membuat Rudi, papanya jengah.
“Aku inginnya kamu tuh kawin sama anak gadis dari pengusaha ternama, jangan sama artis kampungan itu. Dasar anak bodoh!”
“Tapi, Diva kalau jadi cucu papa juga ga bakalan malu-maluin. Dia cantik, seksi juga pintar. Sinetron mini serinya saja langsung sukses. Dia sangat pantas menjadi cucu papa.”
“Aish, udah ga usah diteruskan lagi. Sekarang kalau bukan putri kamu, apa yang akan kamu lakukan hah?”
“Yaaaa…. Seperti yang biasa seorang lelaki sejati lakukanlah pah. Apalagi? Masa papa ga tahu kegemaran anak papa yang gantengnya ga ketulungan ini?” Lagi-lagi Ferdi menjawab dengan entengnya dan diakhiri tawa terbahak-bahak.
“Hei… udah malam sepeti ini kok masih ketawa-tawa, ada cerita seru apa nih?” Tanya Ferisa, mamanya Ferdi, yang tiba-tiba memasuki ruangan dimana Ferdi berbincang dengan papanya.
“Aish, kamu ini mengagetkan saja.” Gerutu Rudi pada istrinya.
Rudi lalu menceritakan semua pembicaraan mereka. Melihat kedua orang tuanya bercengkerama, Ferdi berinisiatif menuju mini bar yang juga berada diruangan yang sama. Diapun mengambil sebotol minuman keras merek terkenal dan mahal lalu menuangkannya kedalam gelas sloki dan langsung meminumnya dalam sekali tenggak. Ferdi menuang sampai tiga kali, baru kemudian bergabung lagi dengan kedua orang tuanya.
“Aish… kamu ini anak nakal, sampai kapan kamu berpetualang hah? Mama sudah pengen banget punya cucu seperti teman-teman mama.”
“Fer, papa perintahkan kamu untuk tidak mengusik Diva lagi, kecuali kamu mencari informasi kebenaran tentang Diva. Cari tahu yang sebenarnya apakah dia memang anak kamu atau bukan. Mengerti? Jangan mencoba dengan kekerasan. Papa akan sangat kesulitan membantu kamu lepas dari masalah itu jika kamu nekat melakukannnya. Dan juga hal itu akan mengancam semua lini usaha papa. Paham?”
“Iya pa, Ferdi akan mencari info saja. Ga lebih.”
“Baguslah.”
“Hei, kenapa tiba-tiba percaya kalau Diva adalah putri Ferdi. Apa rencana kamu Rud?” Tanya Ferisa tidak mengerti jalan fikiran suaminya.
“Udahlah… biar kami yang menangani ini.” Jawab Rudi dengan senyum smirk.
Kalau memang Diva adalah cucuku, dan kebetulan putra Bram itu kekasihnya, ini adalah takdir yang indah. Kami akan menjadi besan, aku tidak akan lagi kebingungan mencari investor untuk perusahaan-perusahaan ku. Rudi bermonolog dalam hatinya sendiri.
Ditempat lain, dikamar Bethoven.
Bethoven masih terduduk di kursi depan meja didalam kemarnya. Matanya menerawang kearah jendela yang menghadap taman bunga mawar merah milik mamanya. Tiba-tiba dia melihat ada sesosok wanita berdiri di depan jendelanya. Antara percaya dan tidak, Bethoven menggosok-gosok matanya berusaha mendapatkan kepastian atas apa yang ada didepannya. Setelah dia merasa yakin, dia segera membuka jendela kaca kamarnya.
__ADS_1
“Diva, bagaimana kamu bisa sampai masuk kesini?”
Diva hanya diam tidak menjawab. Tubuhnya tetap berdiri diantara bunga-bunga mawar yang yang bermekaran. Angin malam berhembus sedikit kencang membuat rambut hiramnya bergerak-gerak. Begitu juga dengan dress longgar berwarna pink yang membalut tubuhnya ikut bergerak mengikuti arah angin bertiup.
“Eh, cepat masuk. Nanti kamu masuk angin. Udah lompat lewat jendela saja.” Kata Bethoven dengan nada sangat kuatir.
Diva hanya mengangguk, tanpa bersuara dia melangkahkan kakinya mendekat lalu memanjat jendela dan masuk kedalam kamar.
“Ada apa?”
“…” Diva Lalu duduk di tepi ranjang kamar Bethoven. Wajahnya tertunduk hingga rambutnya menutup seluruh wajahnya.
Bethoven kebingungan melihat semua itu. Perlahan dia mendekati Diva yang terus menunduk. Sayup terdengar ditelinganya isak tangis Diva, dalam keremangan kamar Bethoven melihat gerak tubuh Diva seolah menahan tangis. Bethoven cepat menghampiri Diva dan memegang pundaknya.
“Maaf, atas kejadian tadi siang. Semua salahku, besok pagi aku akan mendatangi ibumu dan menjelaskan semua juga meminta maaf pada beliau. Eeee…. Untuk kejadian lebih rincinya tentu tidak akan aku ceritakan, cukup aku dan kamu saja yang tahu Diva, dan sungguh itu bukan aku sengaja melakukannya, sungguh! Aku minta maaf padamu.” Bethoven mengakhiri kalimatnya dengan menundukkan tubuhnya sambil kedua tangannya tetap berada diatas pundak Diva.
Diva mendongakkan kepalanya menatap wajah Bethoven yang kini juga menatap dirinya. Seulas senyum terpancar dari wajah Diva, menambah kecantikannya. Perlahan tangan Diva menyentuh lengan Bethoven dan menelusuri lengan berotot itu. Bethoven diam dan merasa bingung dengan segala yang terjadi kini. Kedua tangan Diva kini menggenggam bahu Bethoven dengan erat. Tiba-tiba tanpa aba-aba Diva menarik kedua bahu pemuda didepannya ini hingga pemuda ini jatuh dalam pelukannya.
Bethoven terkejut bukan kepalang, tapi dia diam saja karena penasaran ingin tahu apa yang terjadi pada Diva hingga berlaku aneh seperti ini.
Kini Diva memeluk erat Bethoven. Dia letakkan kepalanya diatas ceruk leher pemuda yang dikaguminya itu.
Beberapa saat mereka berdua dalam keheningan dan dalam posisi berpelukan. Bethoven mengernyit ketika merasakan kulit lehernya basah oleh air. Lalu sejenak kemudian Bethoven merasakan usapan-usapan kasar dan basah menyapu batang lehernya.
“Ough, apa ini?” Batin Bethoven dalam hati. Dia segera menjauhkan lehernya dari wajah Diva. Sekilas dia melihat Diva sedang berusaha menjilat lagi seluruh batang lehernya.
“Diva apa yang kamu lakukan?”
Diva kembali tidak menjawab. Kembali kedua lengannya menarik tubuh Bethoven hingga pemuda ini kembali jatuh dalam dekapannya.
Bersambung….
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1