MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)

MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)
Eps. 63 Tak Berguna


__ADS_3

“Itulah Nab. Aku jadi semakin pusing bagaimana caranya membuat Josephira kembali seperti dulu yang lemah  lembut, ceria dan penyayang.” Keluh Bram diruang santai rumah besar Bram.


Malam telah tiba. Nabila menepati janjinya untuk menginap. Josephira mengajak Nabila mengobrol sepuas hatinya.  Dan sekarang jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Josephira sudah tertidur dikamarnya dua  jam yang lalu.


“Iya kak, sepertinya kak Jose masih belum bisa menerima sepenuhnya keadaan dirinya.” Jawab Nabila. “Mungkin  kakak harus lebih bersabar lagi, karena seperti kata dokter kondisi kejiwaan orang yang mengalami kelumpuhan  mendadak juga kehilangan bayinya cenderung mudah stres.”


“Mungkin kamu benar Nab, aku akan selalu mencoba bersabar. Tapi aku juga merasa kasihan dan tak enak hati  pada perawat yang kupecat dan agen yang mencarikan perawat seperti yang aku pinta.” Ujar Bram lagi sambil  mengusap-usap keningnya sendiri.


“Iya juga ya kak, suatu saat pasti tidak ada lagi yang mau menjadi perawat untuk kak Jose kalau hal ini terus terjadi.”


“Itulah Nab yang menjadi kerisauanku.”


Hening.


Bram meminum air putih didepannya. Lalu menoleh pada Nabila.


“Terima kasih ya, dua malam ini kamu telah menemani kakakmu. Aku senang sekali bisa melihat Josephira bisa tertawa lepas seperti dulu saat bercanda denganmu.” Ucap Bram dengan senyuman yang sangat tulus.


“Iya kak, aku sebenarnya ingin selalu dekat dan terus bisa menghibur kak Jose. Tapi terkadang aku sangat sibuk hingga tak bisa datang kesini.”


“Tidak apa Nab. Aku sudah sangat senang bisa melihat Jose tertawa lepas lagi. Meskipun hanya dua hari. Itu sudah cukup mengurangi rasa lelahku.”


“Hoaaheem... Eh maaf kak, udah tak bisa aku tahan lagi.” Ucap Nabila seraya menutup mulutnya yang tiba-tiba menguap karena mengantuk. “Aku pergi tidur dulu kak.”


“Iya nab.” Jawab Bram


Beberapa saat Bram masih duduk sendirian ditempatnya, sebelum memutuskan untuk masuk kekamarnya dan  pergi tidur.


‘Kamu cantik sekali sayang.’ Puji Bram dalam hati sambil mengamati wajah istrinya yang pulas dalam tidurnya. Diulurkan tangannya membelai pipi mulus Josephira.


“Hmmm... Selamat tidur sayang.” Ucap Bram seraya mengecup kening istrinya. Lalu berbaring disebelahnya.


Mata Bram masih menatap wajah Josephira yang sangat dicintainya. Dengan tubuh miring dan kepala disangga  satu tangan Bram memandangi wajah cantik, hidung mancung, alis tebal tanpa riasan, dan bibir tipis yang selalu  membuatnya tak tahan untuk tak menciumnya.


Perlahan kepalanya mendekat dan lalu memberikan french kiss pada istrinya yang tertidur.


Josephira terkerjap karena merasa geli saat bulu berewok Bram mengenai pipinya.

__ADS_1


“Ah kamu Bram.” Kata Josephira saat menyadari suaminya baru saja mencium bibirnya.


“Maafkan aku sayang. Aku membangunkan kamu.”


“It’s okay honey, it’s okay.” Jawab Josephira sambil tersenyum manis dan memiringkan kepalanya mengarah pada Bram.


“Kamu cantik sekali. I love you.” Puji Bram lalu meletakkan kepalanya diatas bantal tapi tetap memandangi wajah cantik Josephira, seolah tak pernah puas.


“Hei, sudah ayo cepat tidur, ini sudah malam kan?” Kata Josephira seraya memiringkan kepalanya lagi, lalu menatap wajah tampan suaminya sambil tersenyum.


Bram dengan patuh memejamkan matanya dan meletakkan satu tangannya melingkar di perut Josephira.


Josephira mengusap lengan yang melingkar diatas perutnya itu dengan pelan dan penuh kelembutan.


“Selamat tidur Bram suamiku tercinta.” Ucap Josephira lirih.


Bram tak menjawabnya. Hanya tangannya bergerak mengelus perut samping istrinya.


Josephira diam dan membiarkannya.


Perlahan usapan tangan Bram semakin naik dan mulai menyentuh bongkahan daging yang masih terasa kenyal dan mengundang gairah Bram.


‘Hentikan Bram, jika kamu teruskan ini, kamu yang akan tersiksa lagi seperti malam-malam yang lalu.’ Larang  Josephira dalam hati. Dia tak tega menghentikan Bram, namun juga tak tega saat melihat Bram kecewa.


Mengetahui Josephira diam saja. Tangan Bram semakin nakal. Dirubahnya posisi tangannya yang tadinya tertahan  kain baju tidur Josephira, kini telah menerobos masuk dan *******-***** bagian paling menonjol milik istrinya  itu.


Josephira melenguh pelan, nafasnya sedikit mulai berat tak beraturan. Meskipun mengalami kelumpuhan dia masih  bisa merasakan kenikmatan dari aksi yang dilancarkan suaminya itu.


“Bram...” Desis Josephira menyebut nama suaminya.


Bram tak menjawabnya. Malam membuka seluruh kancing piyama Josephira. Hingga terpampang jelas dimatanya  gundukan besar nan indah berbalut bra biru berenda yang menawan. Jakun Bram naik turun dan tiba-tiba dia  merasakan tenggorokannya mengering.


Greb!


Bram sekarang sudah seperti bayi besar yang sedang meminum asi dari ibunya.


Beberapa saat Bram bermain disana. Dan akhirnya Bram tak mampu menahannya. Dia mulai menuntun tangan Josephira untuk memijat inti tubuhnya yang telah kaku.

__ADS_1


Bram mulai merasakan inilah saatnya. Dengan cepat dia menurunkan celana panjang yang membungkus kaki  istrinya. Lalu merobek diaper yang menutupi inti ternikmat dari Josephira. Lalu memposisikan dirinya diatas tubuh  sang istri, dan lalu bergerak perlahan turun, meletakkan inti tubuhnya dibibir mulut bawah istrinya.


“Ough! Sa-sakiiittt...” Rintih Josephira tertahan seraya menutup bibirnya sendiri agar tak terdengar suaminya. Ujung matanya seketika mengeluarkan air mata.


Namun Bram mendengar rintihan itu, seketika dia menghentikan tindakannya dan langsung melemparkan tubuhnya kesamping.


“Maafkan aku Bram. Maafkan aku.” Ucap Josephira sambil sesengukan menangis.


“Tidak apa sayang, aku yang minta maaf karena tak bisa menahannya. Maafkan aku sayang. Maafkan aku.” Ujar  Bram seraya memeluk tubuh polos istrinya yang menangis sesenggukan.


"Apakah kamu mau aku mengoralnya?" Tanya Josephira lirih. Dia sangat ingin seperti dulu, dan akan melakukan apapun asal suaminya ini terpuaskan diranjang.


"Tidak! Tentu saja tidak perlu. Kau wanitaku, kau wanita terhormatku. Bukan wanita murahan diluar sana." Jawab Bram keras.


Josephira hanya bisa tersenyum mendengarnya.


Setelah beberapa saat Bram mulai membetulkan semuanya hingga kini seluruh tubuh Josephira kembali tertutup piyama.


“Tidurlah.” Ucap Bram seraya mengecup kening istrinya.


Josephira tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Lalu menggerakkan bibirnya mengucapkan kata maaf tanpa sedikitpun suara terdengar, namun Bram mengerti dan mengangguk seraya tersenyum.


Beberapa saat kemudian Bram turun setelah memastikan Josephira telah terlelap. Dia lalu menuju kamar mandi untuk menuntaskan syahwat yang tertunda tadi.


Sebenarnya Josephira belum tertidur, dia hanya berpura-pura saja karena kantuknya belum datang lagi setelah  terbangun tadi. Namun dia memutuskan untuk berpura-pura tidur agar Bram tak merasa malu harus menuntaskan  syahwatnya dikamar mandi tanpa merasa malu pada dirinya. Tanpa disadarinya satu bulir air mata lolos dari ujung mata Josephira.


‘Maafkan aku suamiku yang menjadi istri tak berguna untukmu.’ Ucap Josephira dalam hati.


Sebelum subuh, Josephira sudah terbangun. Dia lalu membangunkan Bram untuk segera mandi junub dan juga memintanya untuk memindahkan tubuhnya keatas kursi roda.


Setelah meletakkan tubuh Josephira duduk dengan benar diatas kursi roda, Bram pergi kekamar mandi untuk mandi besar.


Josephira lalu melajukan kursi rodanya keluar menuju kamar dimana Nabila tidur.


“Nab, apakah kamu sudah bangun?” Panggil Josephira setelah mengetuk pintu kamar tidur Nabila.


 Tak menunggu lama, Nabila sudah membuka pintu kamarnya.

__ADS_1


“Mandikan aku dan cuci rambutku lagi ya?” Pinta Josephira lembut tanpa memberi kesempatan Nabila  menyapanya. Bahkan Josephira juga tak memberikan kesempatan Nabila untuk berkomentar, dia langsung  melajukan kursi rodanya masuk kekamar Nabila menuju kamar mandi.


 Bersambung...


__ADS_2