
Satu minggu kemudian. Nabila dan Adli terlihat sedang berbicara dengan serius di dalam ruang kerja Adli.
“Bagaimana keadaan Diva Nab?” Tanya Adli.
“Syukurlah dalam satu minggu ini dia sudah bisa beraktifitas normal lagi. Tapi…”
“Kenapa Nab? Kamu kuatir dengan keselamatan Diva? Aku juga. Makanya hari ini aku memanggil kamu untuk berbicara.” Jawab Adli dengan wajah serius.
“Iya bang, aku juga bingung. Kalo sewa pengawal pastinya terlalu mahal dan uangku juga sudah menipis.” Keluh Nabila.
“Itulah sebabnya. Kamu tahu kan, kalian ini sudah aku anggap sebagai keluarga aku. Aku juga sangat sayang sama Diva seperti kamu menyayanginya.” Kata Adli tegas. “Aku ada usul, demi kebaikan Diva. Sebaiknya dia home schooling saja. bagaimana? Itu jauh lebih murah daripada kita harus menyewa pengawal untuk mengawal Diva kemana-mana.”
“Benar juga ya bang. Tapi masalah kontrak kerja dia dengan beberapa vendor bagaimana bang?”
“Sebenarnya, semenjak diterjang berita tentang kamu dan Diva meledak, vendor-vendor itu untuk sementara mereview lagi kontrak bersama Diva, kecuali satu kontrak sinetron, ph nya masih belum membicarakan denganku. Hanya saja masih ada kendala dengan pihak televisi yang membeli program tersebut, maka proses produksi sementara delay dulu.” Terang Adli. “Aku pikir tidak akan terjadi masalah. Aku yakin tuan Bram akan memaksa pihak televisi untuk tetap pada kontrak yang telah ditanddatangani.”
“Syukurlah bang. Abang memang selalu memikirkan aku dan Diva dengan sangat baik.” Jawab Nabila lega. “Tapi, apakah Diva mau ya bang untuk home schooling?”
“Nah itu tugas kamu untuk meyakinkan. Toh ini semua juga demi keselamatannya.”
Pembicaraan mereka terhenti, karena dari pintu terdengar suara ketukan.
“Masuk.” Jawab Adli.
“Maaf pak, diluar ada dua orang ingin bertemu bapak.” Kata sekretaris Adli setelah dia masuk kedalam ruangan.
__ADS_1
“Tahan saja dulu. Saya dengan Nabila masih membahas hal penting disini.”
“Sudah saya tahan dari setengah jam yang lalu pak. Tapi mereka mengancam akan memanggil wartawan bila bapak tidak berkenan menemui mereka dalam sepuluh menit. Lalu mereka akan menggelar jumpa pers memberitahukan perihal somasi yang mereka layangkan.”
“Somasi? Mereka lawyer? Lawyernya siapa?” Tanya Nabila.
“Mereka pengacara yang diutus tuan Ferdi Nab.” Jawab Sekretaris.
“Mereka mengatakan somasi tentang apa?” Sergah Adli.
“Tidak pak. Mereka bilang ingin berkata langsung kepada bapak sebelum menggelar jumpa pers.”
“Gila! Apa-apaan mereka itu! Sekarang kamu panggil pak Burhan, karena perusahaan ini sudah berbadan hukum, maka biar Burhan saja yang menghadapi.”
“Sudah pak, pak Burhan sudah otw kemari.”
“Baik pak.”
“Bagaimana?” Tanya Burhan kepada dua pengacara didepannya.
Kini Adli dan Nabila sudah didampingi Burhan pengacara senior dari firma hukum yang cukup terkenal dan biasa menangani perkara hukum yang menjerat sejumlah artis terkenal.
Dua orang pengacara yang diutus oleh Ferdi juga tengah duduk bersama. Mereka lalu menyerahkan berkas dokumen somasi yang dilayangkan untuk Adli selaku pempinan manajemen Nabila dan Diva bernaung juga untuk Nabila sebagai personal yang bernaung.
Burhan membaca sebentar sokumen yang diserahkan tersebut.
__ADS_1
“Kami akan mempelajari ini dulu. Meskipun kami yakin bahwa somasi yang dilayangkan oleh klien anda ini tidak berdasar.” Burhan dengan tenang mengatakannya lalu melanjutkan kalimatnya. “Pertama klien anda meminta kepada klien kami untuk memberikan penjelasan secara terbuka perihal hubungan seperti apa diantara Nabila dan Diva. Karena klien anda menganggap Nabila dan Diva mempunyai hubungan darah yaitu hubungan ibu dan anak. Benar?”
“Benar, itu yang kami tuntut pada klien anda tuan Burhan. Kami meminta paling lama dua kali dua puluh empat jam agar klien anda memberikan klarisfikasi secara terbuka didepan awak media. Jika tidak maka klien kami akan membawa hal ini ke pengadilan negeri dan menuntut klien anda karena telah melakukan kebohongan public.”
“Hahaha… Apakah itu diperlukan oleh klien anda? Mengetahui bahwa klien anda tidak mempunyai hubungan apapun dengan klien kami. Lalu klien anda mengatakan akan menuntut? Hahaha…. Sebagai lwayer yang sudah dua puluh tahun sepertinya anda berdua harus memberikan saran yang bagus pada klien anda.” Tegas Burhan dengan nada sangat sinis. “It’s okay. Kami terima ini tapi kami dan kami akan menjawab somasi ini. Tunggu jawaban kami. Tidak sampai dua kali dua puluh empat jam, kami pasti akan memberikan jawaban.”
“Masalah yang anda utarakan tadi, itu bukan yang harus anda perhatikan tuan Burhan.” Jawab mereka tak kalah sinis.
“Oke… Oke… Tapi ingat! Jangan dulu berkoar-koar pada media sebelum kami menjawabnya. Kalau sampai itu terjadi, maka tak segan bagi kami untuk menuntut anda juga klien anda dengan tuduhan pencemaran nama baik.”
“Oke, deal! Kami akan menunggu jawaban dari saudara. Tapi perlu diingat juga jika dalam dua kali dua puluh empat jam jawaban itu tidak kami terima. Maka jangan salahkan kami untuk mengobralnya pada awak media.” Tegas salah satu dari dua pengacara tadi. “Oh ya, ini bukan bukti resmi yang kami berikan. Tapi ini adalah sebagai peringatan bagi kalian bahwa kami punya bukti untuk mendukung tuntutan kami dipengadilan.” Katanya lagi seraya menyerahkan sebuah flashdisk. “Sekarang kami undur diri, silahkan anda pelajari dokumen dari kami dan jangan lupa untuk melihat isi flasdisk. Permisi.”
Setelah beberapa saat.
“Bagaimana tuan Burhan.” Tanya Nabila membuka pembicaraan. Dia sudah sangat tidak sabar karena merasa sangat takut jika harus terpaksa mengakui tentang kebenaran hubungan antara dia dan Diva putrinya.
“Anda tenang saja nona Nabila. Sebagai lawyer anda, saya bisa dengan mudah mematahkan berdasarkan hukum somasi ini. Akan tetapi setelah melihat isi flashdisk ini. Saya harap saya tahu yang sebenarnya, karena isi dari flashdisk ini sepertinya adalah sebuah rahasia tentang anda berdua yang tidak ingin diketahui oleh publik.”
Dan mereka pun lalu menceritakan detail kisah hingga lahirnya Diva. Dan juga yang menjadi latar belakang kenapa mereka harus menutupinya.
“Hmm.. Saya paham. Saya paham. Saya juga telah mendengar banyak sepak terjang keluarga Ferdi di dunia bawah. Baiklah, saya akan mencoba yang terbaik untuk hal ini. Anda berdua tenang saja. saya akan berusaha semaksimal mungkin agar hal ini tidak bisa naik ke pengadilan.”
“Terima kasih tuan Burhan.” Jawab Nabila cepat.
“Bang, kenapa bisa mereka mempunyai data seperti itu?” Tanya Nabila setelah Burhan pergi.
__ADS_1
“Aku juga bingung Nab. Padahal data itu hanya aku yang memilikinya. Semua staff bagian keuangan tak tahu. Dan laptop yang menyimpan ini juga tidak pernah kupakai untuk online. Apa ada penyusup yang mengambil data ini ya?” Jelas Adli dengan wajah bingung. “Ga mungkin, selama ini yang masuk kesini hanya orang tertentu saja. itupun dengan diriku. Kalau aku sedang tidak ada hanya ob. Dari kamera cctv tak pernah ada orang lain atau pencuri. Hah bingung aku!”
Bersambung…