
Nabila masih berada di hotel tempat dia diendors. Pada hari kedua dia hanya melakukan kegiatan yang cukup santai dan terkesan dimanjakan oleh pemilik hotel itu. Nabila hanya diwajibkan untuk menikmati semua fasilitas yang ada pada hotel tersebut. Mulai dari sarapan mewah, berenang dikolam renang yang tersedia pada setiap kamar, perawatan tubuh dengan massage dan spa, juga menikmati wahana permainan seperti slingshot di rooftop, dan lain sebagainya.
“Baru kali ini kerja enak banget.” Seru Sadil dengan wajah gembira dan tetap bergaya kemayu.
“Benar banget Dil, kita juga diperbolehkan luluran, pijat, sauna, creambath dan lain sebagainya. Lihat nih kuku-kuku aku jadi bening dan kinclong banget kan?” Timpal Wawan seraya mempamerkan kuku-kuku tangannya.
“Sama aku juga, lihat nih kuku aku. Wajahku juga glowing banget loh.” Sadil tak mau kalah pamer. “Habis dipijat dan sauna, badan serasa segar banget terus kita juga seru-seruan naik slingshot. Wow gila banget tuh permainan aku sampe pingsan diatas sana tadi.”
“Benar seru banget deh, tapi kalo disuruh naik lagi ga banget. Aku tadi juga pingsan loh oma, terus pas udah turun aku langsung muntah-muntah.” Seloroh Wawan.
Nabila hanya tertawa mendengar celotehan dua cowok kemayu disampingnya itu. Memang benar seharian ini dia asistennya diperbolehkan bahkan diwajibkan untuk menikmati seluruh fasilitas mewah yang disediakan hotel. Tubuhnya kini serasa bersih dan segar sama seperti yang dirasakan kedua asistennya.
Dan yang pasti, semuanya Nabila abadikan kedalam story di media sosial miliknya. Dan langsung saja story nya itu banjir komentar. Dan gara-gara hal tersebut manajer Reyhan juga ikut komentar di storynya dan mengucapkan terima kasih pada Nabila yang tanpa diminta sudah melakukan promosi hotel yang ada dibawah kendalinya.
Nabila juga ditelpon oleh manajer Reyhan dan secara khusus mengucapkan rasa terima kasihnya, karena berkat story nya itu, hotelnya kini sudah lima puluh persen di booking dari seluruh jumlah kamar hotel. Dan itu sangat diluar ekspektasinya.
“Malam ini apa ada jadwal untuk saya nona Nadia?” Tanya Nabila pada sekretaris manajer Reyhan.
“Tidak ada. Hanya saja saya menyarankan anda bersama asisten anda untuk makan malam di restauran hotel dan bukannya makan didalam kamar seperti saat anda sarapan tadi.” Jawab Nadia.
“Oh baiklah. Saya akan melakukannya.” Jawab Nabila. “Kami akan balik kekamar kami dulu untuk berganti pakaian lalu kami akan makan malam direstaurant.”
“Terima kasih nona Nabila. Kami sangat senang bekerja sama dengan anda.” Jawab Nadia.
Hari sudah beranjak malam. Nabila telah selesai menyelesaikan semua kegiatan yang disarankan pihak hotel. Kini dia tengah beristirahat dikamarnya.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Nabila memutuskan untuk menelpon putrinya. Dua terpisah sebenarnya tak terlalu lama, mereka pernah dalam dua bulan penuh tidak bertemu satu sama lain, karena jam kerja yang berbeda dan terkadang jarak yang terlalu jauh. Bahkan sekedar untuk menelpon harus hati-hati karena tidak ingin rahasia mereka terbongkar.
“Halo, assalamualaikum Diva.” Ucap Nabila setelah mencoba beberapa kali menelpon dan baru diangkat Diva.
“Waalaikumusalam mah. Gimana kabar mamah?”
“Alhamdulillah mama baik-baik saja. Kamu sendiri bagaimana?”
“Alhamdulillah baik mah, kak Bethoven baru saja pamitan pulang.”
“Benarkah. Ini sudah malam loh. Masa baru pamit pulang.”
“Yee mamah, ini juga baru setengah sepuluh malam.”
“Jangan ngawur kamu. Lihat jam baik-baik.” Sergah Nabila.
__ADS_1
“Beneran mah, baru aja akan jam sepuluh.”
“Lah kenapa jam dinding hotel ini hampir jam sebelas ya?”
“Duh mamah ini kaya ga pernah kebali aja. Kan memang beda satu jam dengan sini mah.”
“Ah ya, mama lupa deh. Maafin mama ya.”
“Hehehe... Diva udah maklum kok mah, biasalah faktor u. hahahaha...”
“Hahaha... Bisa saja kamu ini.”
“Mamah bagaimana apa mengalami hal buruk lagi?”
“Eh ga sama sekali Diva. Malah seharian ini mama bersenang-senang saja. Mulai sarapan mewah dikolam renang, sauna, pijat, spa perawatan mulai dari ujung kuku sampairambut. Sadil dan Wawan juga diperbolehkan ikutan. Mereka berdua jadi semakin heboh saja. Terus mama juga diperbolehkan menggunakan wahana yang ada, tadi mama mencoba slingshot, whuih itu permainan keren banget. Sadil dan Wawan sampai pingsan karena ketakutan. Hahahaha...”
“Enak banget mah, pantas saja story mamah isinya terlihat asyik banget. Dan itu benar-benar mengasyikkan ya mah?”
“Iya, beneran. Ga ada sesi pemotretan, ga ada wawancara, pokoknya hari ini mama serasa diberi liburan mewah gratis dan dibayar lagi. Dan karena mama aplod tuh kegiatan mama hari ini di story mama, manajer hotel ini langsung mengucapkan terima kasih baik di kolom komentar juga ditelpon langsung. Duh mamah seneng banget, soalnya orangnya ganteng banget.”
“Ah syukurlah aku mendengar kalimat itu dari mamah.”
“Kalimat yang mana?”
“Hei kamu ini, ingatkan mama saat kita bertemu nanti, dan pastikan kamu mendapat jeweran dari mama karena selama ini telah menganggap mamamu ini tidak normal.”
“Wkwkwkw... Besok aku kesana ya mah? Aku akan cari tiket pesawat paling pagi biar sampai bali nya ga siang-siang. Aku ingin memanjakan diriku seharian besok.”
“Beneran. Boleh, nginap dihotel ini juga ya?”
“Baik mah, eh mamah kedengarannya sudah seperti marketing hotel sekarang ya?” Goda Diva lagi.
“Hadeeeh, ini anak makin ngelunjak ya.”
“Wkwkwkwkw.... Udahan ya ma, mau booking tiket pesawat juga kamar hotel juga. Semoga bisa dapat.”
“Iya, baju-bajunya beli disini saja. Eh kamu datangnya nanti sama Bethoven?”
“Kayaknya tidak mah, kak Betho udah pamitan ga main dua hari kedepan. Dia ada urusan keluarga katanya.”
“Oh ya sudah kalau begitu. Aku tunggu disini ya putriku tersayang.”
__ADS_1
“Oke mah, Assalamualaikum.”
“Waalaikumusalam.”
\==o0o==
Pagi harinya Nabila mendapat pesan dari Nadia, sekretaris manajer Reyhan agar bersiap untuk sarapan dengan CEO dari hotel XX yang mengendors dirinya. Pakaian yang harus dipakai akan dikirimkan.
“Hmmm... Jadi bukannya manajer Reyhan si sosok misterius itu?” Tanya Nabila sendiri setelah membaca pesan yang masuk padanya. “Kalau begitu aku harus bersiap sekarang. Semoga saja orangnya tak brengsek dan semoga juga ganteng, lebih ganteng dari manajer Reyhan.” Harap Nabila sambil memasuki kamar mandi.
Satu jam kemudian dia sudah mematut diri didepan cermin. Seperti biasa dua asisten kemayunya selalu memuja-muji penampilannya.
“Oma benar-benar cantik. Apapun yang oma Nabila pakai selalu nempel dibadan.” Puji Sadil dengan kedua tangan menangkup dibawah dagunya.
“Ya eyalah nempel dibadan Dil, masa nempel ditembok?” Gurau Nabila.
“Cih oma Nab selalu begitu. Maksud Sadil kan jatuhnya kain itu pas banget dan itu bikin mata yang memandang oma ini ga mau pindah apalagi pindahnya ke arah Wawan yang rungsep.” Seloroh Sadil.
“Idiih sok-sokan ngatain aku rungsep. Kamu itu yang super duper rungsep kaleeee...” Solot Wawan sambil memonyongkan bibirnya.
“Udah-udah, pagi-pagi udah berantem saja. Lagipula sesama rungsep kenapa juga berantem?” Seloroh Nabila menggoda keduanya.
“Oma Nabila suka jujur deh kalau ngomong.” Timpal Sadil yang dibalas tawa mereka bertiga barengan.
“Bagaimana udah perfect kan? Apa masih ada yang kurang?”
“Udah oma. Perfect banget.” Tegas Wawan sambil membentuk lingkaran dengan jarinya.
“Sekretaris Nadia sudah menunggu sejak lima menit lalu didepan pintu kamar oma.” Beritahu Sadil.
“Oke aku berangkat sekarang. Kalian jangan berantem lagi ya selama aku kencan pagi ini. See you cantik...” Pamit Nabila dengan lagak ceria.
Nabila dengan diantarkan Nadia sudah memasuki restauran hotel yang sangat lengang. Selama perjalanan menuju restauran, Nadia tak sekalipun memberi petunjuk atau saran pada Nabila, meskipun Nabila banyak menanyakan apa-apa kesukaan sang CEO atau yang dibenci sang CEO. Nadia hanya bilang, jalani saja sebagaimana patutnya.
Nadia dan Nabila berhenti di satu meja yang posisinya tepat ditengah restauran. Seorang lelaki muda, tampan bertuksedo lengkap menambah kesan gagah dan kewibawaannya. Lelaki itu langsung berdiri saat mengetahui Nabila telah tiba. Dia lalu bergerak ke dekat Nabila dan menarikkan kursi untuk Nabila duduk.
‘Wow, orang ini. Ga pake banyak ngomong langsung saja berlaku romantis seperti ini.’ Batin Nabila seraya duduk di kursi yang disediakan untuknya.
Setelah Nabila duduk, pria tadi lalu mengambil posisi duduk tepat didepan Nabila.
Melihat itu, Nadia langsung membungkuk dan berpamitan pergi, yang dijawab hanya dengan anggukan kepala saja oleh pria didepan Nabila.
__ADS_1
Setelah Nadia keluar dari hotel, pria tadi menatap Nabila dengan tatapan hangat dan tanpa berbicara dia menjentikkan jarinya keatas.
Bersambung...