MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)

MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)
Eps. 77 Diusir


__ADS_3

 Cuplikan eps. Sebelumnya...


“Kakak sudah dinyatakan meninggal Nab.” Kata Safira dengan bersimbah air mata. "Kita terlambat Nab, padahal  tadi kakak sangat ingin melihat kamu dan Diva." Ujarnya lagi dengan sesengukan.


“Innalillahi waa innailaihi rojiun...” Ucap Nabila dan Diva spontan dan diiringi derai air mata berjatuhan dari pelupuk  mata mereka.


“Tidak, tidak, itu tidak benar om belum boleh meninggal.” Ratap Diva. Ini adalah kejadian pertama bagi dia  ditinggalkan orang yang dia cintai. “Tidak tante, tante Safira pasti salah. Tante pasti salah.”


Safira cepat memeluk Diva. Dia tahu hati gadis kecil ini pasti tidak bisa menerima kepergian Adli yang sangat dia kagumi.


“Tabahkan hatimu Diva. Tuhan lebih sayang pada om kamu. Tabahkan hatimu ya..” Safira menenangkan Diva. Meski dia sendiri juga sangat bersedih.


Hanya Nabila yang tak banyak berbicara. Hanya air matanya yang menunjukkan dia saat ini sedang bersedih. Dia  merasa sangat bersalah pada Adli yang selama ini telah membantunya, melindunginya sepenuh hati. Tapi apa yang  dia lakukan untuk Adli? Bahkan disaat terakhirnya dia tidak disisinya.


Diva menghambur pada mamanya. Memeluk Nabila dengan erat dia tumpahkan semua air mata kesedihan dalam pelukan mamanya.


Nabila hanya bisa sesengukan. Hatinya kini terasa kosong, terasa ada lobang besar yang menganga. Adli yang  selama ini berada mengisi lobang besar itu, baik disadari atau tidak oleh Nabila, tapi itulah kenyataannya. Dan  ketika Adli telah pergi untuk selama-lamanya dia baru sadar sepenuhnya bahwa dia telah menyiakan orang yang tulus mencintainya. Dia telah abai pada lelaki yang melindunginya yang selalu menjaganya yang selalu ada saat dia memerlukan dia.


Nabila menyandarkan tubuhnya di dinding. Kakinya sangat lemas seolah tanpa ada tenaga yang bisa dia jadikan  tumpuan untuk berdiri. Beruntunglah kesadarannya masih bisa dia jaga, hingga dia tidak jatuh pingsan.


Pihak keluarga almarhum memutuskan untuk menguburkan jenazah tanpa berlama-lama lagi. Mereka semua menyetujui untuk mengikuti petunjuk agama untuk mensegerakan pemakaman jenazah siang itu juga.


Malam harinya. Nabila dan Diva masih disana berkumpul dengan Safira dan keluarga besar setelah acara kirim doa hari pertama selesai diadakan.


Safira, Nabila dan Diva tengah duduk bersimpuh disudut ruangan. Mereka tidak banyak mengobrol, raut wajah ketiganya masih terlihat sangat terpukul dengan meninggalnya Adli.


“Assalamualakum...” Ucap salam dari seorang wanita sepuh berpakaian hitam-hitam dan berkerudung warna hitam pula.


“Waalaikumusalam.” Jawab ketiganya serempak.


“Mamah...” Panggil Safira pada wanita sepuh itu yang ternyata adalah ibunda Adli dan Safira.

__ADS_1


Wanita itu mengangguk pelan. Dari raut wajahnya terlihat jelas gurat kesedihan masih banyak tersisa disana.  Wanita itu lalu menoleh dan menatap tajam pada Nabila. Wajahnya berubah dari yang kalem dan bersedih, kini  berubah menjadi dingin, kaku dan penuh amarah.


Nabila jadi salah tingkah mendapat tatapan tajam seperti itu.


“Kamu yang bernama Nabila kan?” Tanya mamanya Adli dingin.


“I-iya tante saya Nabila. Saya salah satu artis dibawah naungan bang Adli.” Jelas Nabila dengan kikuk karena sorot tajam itu masih menghujam kepada dirinya.


“Sebaiknya besok kamu tidak perlu datang lagi kesini.” Ucap mamanya Adli lagi dan penuh dengan penekanan.


Safira sangat kaget mendengar ucapan mamanya itu.


“Mamah ini kenapa? Tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba berkata seperti ini?” Sergah Safira pelan karena takut didengar oleh tamu lain yang belum pulang.


“Dia tak pantas mendoakan putraku. Dia tak boleh berdoa disini!”


“Tapi, tapi kenapa mah?”


“Apa maksud mamah?” Tanya Safira tak sadar sedikit mengeraskan suaranya karena mamanya tiba-tiba  menjatuhkan semua kesalahan pada Nabila. “Mah, aku tahu mamah lagi berduka, kita semua yang ada disini juga  mungkin masih belum iklas sepenuhnya setelah ditinggal kakak. Mah, Alangkah baiknya jika sekarang kita semua, termasuk aku, Nabila dan yang lainnya fokus dan tulus untuk mendoakan kakak agar semua amal perbuatan kakak  diterima dan dosa-dosanya diampunkan.”


“Aku tak peduli. Sekarang kamu pergi dari sini. Aku tak sudi melihat kamu!” Usir mamanya Safira pada Nabila.


Nabila yang hanya diam tak menjawab jelas merasa kebingungan. Dia merasa tak pernah bertemu dengan kedua orang tua Adli.


“Baik tan, saya pamit sekarang juga.” Ucap Nabila. Meski kebingungan dengan apa yang telah terjadi hingga  mamanya Adli mengusirnya, namun dia memutuskan untuk mengalah saja.


“Tapi Nab, kamu tak salah apa-apa. Pasti ada kesalah pahaman disini.” Cegah Safira.


“Sudahlah Fir, aku tak marah kok. Aku paham mungkin tante sekarang sedang sangat bersedih. Aku akan balik pulang sekarang. Assalamualaikum.” Pamit Nabila, lalu dia mencoba mencium tangan mamanya Adli namun  langsung ditepis oleh si empunya tangan.


“Pergi!” Hanya itu saja katanya. Meski pelan tapi kata itu begitu tegas dan menusuk hati Nabila.

__ADS_1


Nabila pun melangkah keluar dengan kepala tertunduk. Hatinya yang sudah merasa sedih kini bertambah sedih dan bingung.


Safira dan Diva ikut keluar.


“Nab, maafkan mamaku ya?”


“Iya Fir, aku sudah memaafkannya kok.” Ucap Nabila seraya menoleh dan  tersenyum pada Safira. “Aku mengerti  kok, pasti beliau sedang sangat bersedih saat ini.”


Safira menghela nafasnya dalam-dalam. “Pasti ada yang bicara ngawur ini!” Geram Safira. “Besok aku akan berbicara dengan mama, aku jadi tak enak sama kamu.”


“Sudahlah Fira, aku tak marah kok. Aku bisa mengerti.” Ujar Nabila menenangkan Safira seraya masuk kedalam mobilnya.


“Baiklah, kamu hati-hati dijalan ya. Dan aku pastikan besok aku akan berbicara dengan mamaku, dia harus  menjelaskan kenapa sampai begitu kasar dan kejam padamu.”


Nabila hanya tersenyum tipis dan menganggukkan kepala. “Aku pulang dulu, assalamualaikum.” Pamit Nabila.


“Waalaikumusalam.” Jawab Safira.


“Kami juga pamit pulang tante.” Ucap Diva.


Safira menoleh dan dilihatnya Diva dan Bethoven telah berdiri dibelakangnya. Safira lalu melempar senyum dan  kemudian memeluk Diva sambil cipika cipiki, lalu berbisik ditelinga Diva. “Maafkan mamanya tante ya, dan bilang  pada mama kamu untuk memaafkan mamanya tante.”


Diva tersenyum lebar lalu berkata, “Iya tante. Itu pasti. Kami pamit tante Safira. Assalamualaikum.”


“Waailaikumusalam.”


Sementara itu, didalam mobil yang membawanya pulang. Nabila menangis. Biar bagaimanapun Adli adalah orang  paling berjasa dalam kehidupannya selama ini. Namun disaat dia pergi entah mengapa ibunya Adli tiba-tiba sangat  membencinya, meskipun belum pernah mereka berinteraksi satu kali pun. Dulu saat masih bersekolah, Nabila hanyalah seseorang yang tinggal di dalam panti asuhan, lalu bersahabat dengan Safira, karena miskin Nabila tidak  pernah bermain berkunjung kerumah Safira. Suatu hari Safira tertarik untuk mengikuti casting di sebuah rumah  produksi dan dia mengajak Nabila. Mereka berdua lalu mencoba peruntungan untuk sebuah iklan produk. Pada  akhirnya Nabila mendapatkan peran dan dari sanalah dia diperkenalkan dengan Adli yang lalu menjadi  manajernya.


Tapi kini, hari ini. Tak ada angin tak ada hujan, mamanya Adli mendatanginya lalu mengungkapkan kebenciannya dan mengusirnya.


“Ya Allah inikah ampunilah dosa-dosaku.” Doa Nabila ditengah derai air matanya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2