
Cuplikan Eps. Sebelumnya…
“Syukurlah.” Tiba-tiba dokter itu berkata, setelah melihat ponselnya. “Istri tuan sudah siuman barusan. Dia telah melewati masa kritisnya. Tampaknya doa-doa yang dipanjatkan banyak orang telah dikabulkan sama yang diatas.”
“Alhamdulillah…” Ucap syukur Bram dan Bethoven barengan.
Beberapa hari kemudian Josephira sudah siuman dan bisa berbicara.
Kini, Bram, Bethoven, Nabila dan Diva sedang berusaha menghibur Josepira agar merasa nyaman pada masa pemulihannya di rumah sakit.
“Bram, mana bayi cantikku? Sudah kamu beri nama?” Tanya Josephira seraya memegang telapak tangan suaminya.
Bram tercekat, kebingungan mau menjawab apa. Dia benar-benar tak menyangka istrinya akan bertanya.
Dia lalu menoleh pada Nabila meminta pertolongan. Tapi Nabila juga bingung harus berkata apa, lalu pandangan Bram beralih pada Bethoven dan Diva yang berdiri disamping Nabila, tapi mereka juga tak tahu harus mengatakan apa.
Mereka semua terdiam, bingung harus menjawab seperti apa yang mudah diterima oleh Josephira.
“Mana Bram. Aku ingin memeluknya juga menyusuinya dan nama apa yang kamu berikan untuk putri kita?” Kejar Josephira.
Kembali Bram tak mampu mengatakan kebenaran pada istrinya saat ini. Dia hanya menunduk dalam-dalam, perlahan air matanya meleleh.
Mata Nabila mulai berkaca-kaca. Satu persatu air matanya mengalir kebawah tanpa bisa dia cegah lagi.
“Bram!” Sentak Josephira jengkel karena tidak mendapat jawaban dari suaminya. Lalu dia mengalihkan padangannya pada Nabila yang berdiri disekitar kakinya. “Nab, mana bayiku? Dan Kenapa kamu menangis?” Lalu Josephira menoleh pada putranya dan Diva. “Mana adikmu Betho? Dan kenapa kalian juga menangis seperti ini? Ada apa Diva?”
Diva tak kuasa lagi menahan tangisnya, dia lalu ambruk memeluk tubuh Josephira yang masih terbaring lemah.
“Maaf tan, maaf.” Katanya sambil sesengukan didada Josephira.
“Kenapa minta maaf? Ada apa ini?”
“Sayang… ba-bayi ki.. ta… telah tiada."Jawab Bram terbata-bata karena tak mampu menahan tangisannya. Lelaki yang biasa terlihat gagah itu kini terlihat rapuh, sangat rapuh.
“No, jangan katakan apa lagi Bram. No, tidak mungkin. Dia anak perempuan kita. Adiknya Betho. Tidak… tidak… tidak mungkin.” Josephira meracau tak percaya dengan nada tinggi. “Kalian pasti bercanda kan? Diva, kamu dan Betho sedang bikin konten untuk nge prank tante kan?” Tanya Josephira mulai berkaca-kaca sambil menggoyang-goyangkan tubuh Diva lalu mengangkat kepala Diva agar melihat kearahnya.
Tangis Diva semakin menjadi dan memeluk erat Josephira seraya menggelengkan kepalanya.
“Nab, kamu sahabatku, sudah kuanggap adikku sendiri. Katakan yang dikatakan Bram adalah tidak benar. Nab…” Josephira mulai menangis. Air matanya deras mengalir.
__ADS_1
“Kak Jose tidak salah dengar.” Jawab Nabila lirih sambil menangis.
Josephira diam tak bersuara, hanya air mata yang mengalir deras menandakan dia sedang sangat bersedih atas kematian bayi yang dikandungnya. Dia lalu menoleh pada Bram yang masih berdiri dan menunduk sambil sesengukan.
“Bram…” Panggilnya lirih.
“Iya sayang…” Jawab Bram sambil sesengukan, tak berani menatap mata istri yang sangat dicintainya.
“Ma-maafkan aku. Aku ceroboh, aku ngawur hingga putri kita tiada.” Kata Josephira dengan nada marah tertahan. “Semua salahku, maafkan aku Bram.” Katanya lagi sambil menjambak-jambak rambutnya sendiri.
“Hentikan kak… hentikan…” Seru Nabila sambil mendekat lalu menahan satu tangan Josephira agar tidak menyakiti dirinya sendiri.
Diva pun ikutan memegangi satu tangan Josephira.
Josephira meronta-ronta hebat. Tapi tenanganya masih sangat lemah, dan akhirnya dia jatuh pingsan.
Bram dan Bethoven yang melihat itu pun panik. Bram segera memencet tombol untuk memanggil dokter jaga. Sementara Bethoven langsung berlari keluar kamar menuju dokter jaga berada.
Dokterpun datang dengan berlari-lari memasuki kamar.
“Syukurlah pasien hanya pingsan. Tampaknya pasien mengalami syok hebat, dan karena tenaganya masih sangat lemah pasien pun jatuh pingsan. Saya sudah menyuntikkan obat agar pasien dapat tidur dengan tenang.” Jelas dokter jaga setelah melakukan pemeriksaan pada Josehphira. “Saya harap keluarga pasien bisa lebih bersabar dan kuat, karena untuk saat ini kondisi psikis pasien benar-benar rapuh. Apalagi jika nanti pasien menyadarikondisinya yang lumpuh.”
“Baik dok, terima kasih.” Jawab Bram.
Satu minggu berlalu, berkat kesabaran semua yang selalu menunggu Josephira secara bergantian, kondisi kejiwaan Josephira bisa menerima kenyataan. Kondisi fisiknya juga semakin membaik.
“Kenapa aku susah bergerak ya Nab?” Tanya Josephira. “Punggungku terasa panas karena harus terlentang terus setiap saat. Aku ingin tidur mirimg Nab.”
Nabila gelagapan. Karena saat ini dia yang kebagian menjaga sendirian.
“Maaf kak, kakak harus lebih bersabar ya. Kata Dokter, kakak belum boleh terlalu bergerak karena luka tusuk yang kakak alami. Dan juga luka bekas operasi itu pasti akan membuat perut kakak kaku.” Jawab Nabila mencoba setenang mungkin memberi penjelasan agar Josephira tak menyadari kalau kakinya lumpuh.
“Tapi, sepertinya ada yang aneh Nab. Kenapa ya….”
“Aneh? Aneh bagaimana? Itu mungkin hanya perasaan kakak saja karena masih dalam kondisi pemulihan.”
“Sepertinya aku tak bisa menggerakan kakiku.” Jawab Josephira dengan wajah bingung. “Kenapa ya?”
“Ah itu mungkin karena kakak masih dalam pengaruh obat kak. Karena kakak harus dioperasi cukup lama.”
__ADS_1
“Begitu ya? Kamu ga bohong kan?”
“Ya… eng-enggak lah kak. Buat apa aku berbohong pada kakak?” Jawab Nabila gelagapan. “Oh ya kak, aku mau mengupas mangga, kakak mau?” Nabila mencoba mengalihkan arah pembicaraan.
“Mau Nab. Tolong suapin kakak cantikmu ini ya?” Goda Josephira.
“Iya, untuk kakakku apapun akan kulakukan.”
“Beneran loh ya? Kamu jangan pakai banyak alasan kalau suatu saat aku meminta tolong padamu.”
“Beneran. Jajni deh.” Jawab Nabila tersenyum lega, karena Josephira tak lagi mengungkit-ungkit kakinya.
“Eh, pihak kepolisian sudah menemukan orang yang mencelakaiku?” Tanya Josephira sambil menoleh kearah Nabila yang sedang mengupas mangga. “Whuih cepetan dong Nab, lihat mangga ranum itu sampai meleleh air liurku.”
“Iya, iya, sabar dong kak.” Jawab Nabila seraya tersenyum. “Kepolisian masih sulit mengindetifikasinya kak, karena dia cukup licik dengan menunduk dalam-dalam.”
“Hmmm, jadi begitu ya. Kalau sampai ketangkap, aku akan berusaha mati-matian agar dia dihukum mati!” Josephira berucap dengan nada sangat geram.
Nabila mengangguk setuju dengan yang diucapkan Josephira. Seraya menyuapkan sepotong mangga yang tuntas ia kupas separonya.
“Kalau aku kak, aku akan meminta ijin pada pihak kepolisian untuk menusuk telapak tangannya yang telah digunakan untuk menusuk kakak. Seperti yang pernah kulakukan pada Ferdi dulu.”
“Setuju Nab. Aku jadi ingat kamu pernah cerita pernah menusuk tangan Ferdi pakai garpu. Grrr… Aku akan pastikan kita akan mendapat ijin itu kalau dia berhasil ditangkap pihak kepolisian.”
“Assalamulaikum istriku tercinta.” Seru Bram dengan membawa seikat bunga mawar seraya tersenyum lebar.
“Waalaikumusalam.” Jawab Josephira dan Nabila serentak.
“Wah terima kasih sayangku.” Seru Josephira sambil menerima mawar, lalu mencium dan memeluknya.
Bram langsung mencium kedua pipi istrinya, tapi Bram gagal mencium bibir istrinya karena terganjal telunjuk kakan Josephira.
“Ssst… Jangan sekarang Bram, Nabila masih disini entar kasihan Nabilanya karena ga punya lawan.” Ujar Josephira seraya terkekeh sambil melihat Nabila yang membuang muka melihat adegan mesra keduanya.
“Aku pulang saja kalau begitu, kalau terlalu lama disini aku takut mengganggu kalian.” Kata Nabila seraya mengambil tasnya pura-pura marah.
Bram dan Josephira hanya tertawa terbahak-bahak. Mereka tahu Nabila tak serius marah.
“Aku pulang dulu ya kak, assalamualaikum.” Pamit Nabila.
__ADS_1
“Waalaikumusalam.” Jawab suami istri itu kompak.
Bersambung…