
“Johan, sudah satu minggu lebih. Bagaimana perkembangan penyelidikan kamu?” Tanya Bram pada asistennya yang setia.
“Awalnya memang sedikit sulit tuan. Tapi syukurlah akhirnya saya bisa menemukan satu titik yang membuka semuanya.” Jawab Johan sambil menyerahkan laporan penyelidikannya. “Mereka sangat rapi tuan, media yang disuruh untuk membentuk opini itu disuruh oleh seseorang misterius melalui sambungan telepon. Lalu mereka mendapatkan sejumlah uang dari kurir, untuk memberitakan hal tersebut.”
“Hmmm…” Bram mendengarkan sambil membaca laporan yang diserahkan Johan.
“Untunglah jejak digital dari kamera yang mengambil gambar nona Nabila bisa kami ketahui tuan. Dan kebetulan kamera itu belum secara resmi ada dinegeri ini. Jadi pembeliannya bisa dilacak. Dari sanalah tuan, saya bisa tahu kalau semua peristiwa ini ujung pangkalnya adalah ulah Ferdi tuan.”
“Ferdi? Maksud kamu Ferdi putra tunggalnya si Rudi?”
“Benar tuan. Dan menurut hasil penyelidikan yang saya kembangkan, Ferdi ini dulu sempat berpacaran dengan nona Nabila. Dan entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba nona Nabila hidup selama beberapa tahun di Singapura. Ketika nona Nabila pulang dia tidak sendiri tuan, melainkan membawa seorang pembantu dan bayi. Yang dalam dokumen resmi, bayi itu adalah putri dari si pembantu. Anehnya catatan pembantu itu belum bersuami. Saya mengambil kesimpulan bayi itu adalah putri dari nona Nabila tuan.”
“Haduuh, kenapa kamu malah bergosip? Pembantu itu memang tidak bersuami dan lalu melahirkan karena selama di Singapura dihamili pacaranya. Itu kan bisa. Apa hubungannya dengan laporan kamu?”
“Pada awalnya saya juga mengambil kesimpulan seperti itu. Tapi kemudian saya menemukan fakta lain. Ditahun pertama nona Nabila di Singapura dia tercatat melakukan medical chek up di satu rumah sakit. Dan catatan itu juga menunjukkan ditahun yang sama nona Nabila melahirkan seorang putri.” Jawab Johan menjelaskan.
“Terus…”
“Sepertinya itu adalah hasil hubungan antara nona Nabila dan Ferdi tuan. Karena pada tahun-tahun itu berita disemua tabloid kuning memberitakan gossip tentang hubungan mereka. Meskipun gossip itu hanya beredar sekitar lima bulanan dan tiba-tiba mereda lalu nona Nabila tanpa pengumuman resmi menghilang dan membatalkan semua kontrak kerja yang berjalan. Lalu pihak manajemen yang menaunginya membayar penalty atas pemutusan kontrak itu.”
“Terus… apa hubungannya dengan proses produksi ph kita yang harus berhenti, karena pihak stasiun televisi tiba-tiba mereview nya?”
“Sebenarnya ada kemungkinan Ferdi ingin kembali berhubungan dengan nona Nabila. Mungkin juga Ferdi ingin dia diakui sebagai ayahnya Diva tuan.”
“Kamu ini dari tadi bergosip terus! Aku ga ada urusan dengan Ferdi dan Nabila dalam hal ini. Biar saja mereka punya masa lalu. Aku tak peduli.”
“Saya yakin Ferdi adalah dalang penyebaran berita hubungan antara nona Nabila dan nona Diva ada hubungan keluarga yang dirahasiakan. Tapi sesungguhnya saya tidak yakin Ferdi memikirkan efek domino dari hal tersebut tuan. Jadi dia hanya memiirkan bagaimana mencari simpati atau berusaha menekan nona Nabila tuan. Padahal dari perbuatannya itu, kita menjadi rugi karena pihak televisi berniat untuk membatalkan kontrak sinetron produksi
__ADS_1
kita tuan.”
“Oh begitu? Memang seekor serangga kecil hanya mempunyai otak yang kecil. Yang mereka pikirkan pastinya hanya tentang makan dan kehidupannya sendiri.” Bram geram, karena merasa kebodohan Ferdi telah membuat salah satu perusahaannya merugi. Dan yang pasti usahanya membuat bahagia istri tercintanya, Josephira, akan gagal. “Johan, yakinkan pihak televisi agar meneruskan kontrak yang telah ditanda tangani. Apapun caranya. Aku ingin syuting secepatnya berhenti dari break nya. Dan juga cari cara agar semua lini usaha Rudi hancur dan kita miliki dengan harga termurah.”
“Siap tuan. Saya akan laksanakan.
\===o0o===
“Apa maksud mama?” Tanya Diva.
“Aku dan om Adli memutuskan kamu untuk home schooling saja. Semua demi keamanan kamu. Ingat ini penculikan ini adalah yang kedua kalinya. Yang pertama gagal, tapi yang kedua berhasil. Entah harus sampai
berapa lagi, mama tidak sanggup bila seperti ini terus.”
“Tapi ma… Itu pasti akan membuatku seperti dipenjara. Ga ketemu sama teman-temanku.” Rengek Diva.
“Tapi ma, bersekolah tuh enak banget. Kita bisa ngusilin teman dan guru kalo lagi bete.”
“A-apa???” Tanya Nabila setelah mendengar cerita putrinya.
“Oups! Ga ma… becanda kok. Hanya ngusilin teman, ga pake guru. Hehehe…” Jawab Diva sambil tersenyum lebar memamerkan gigi-giginya dan mengacungkan dua jarinya sebagai isyarat mengajak damai, biar mamanya tidak marah.
“Awas kamu! Kalo sampe mama mendapat surat pemanggilan dari sekolah.”
“Siap ma! Hehehe…” Diva senang mamanya tidak jadi marah. “Ma… mama dan om Adli seriusan tentang home schooling?”
Nabila mengangguk. Tangannya sekarang tengah memegang hape dan tampak seperti mengetik pesan. “Barusan om kamu itu mengatakan semua persyaratan untuk home schooling sudah diurus. Dan juga aku sampaikan padanya bahwa kamu keberatan karena takut bosan.”
__ADS_1
“Ya mama…” Diva kecewa karena harus berada dirumah terus menerus dan tak lagi bertemu teman-temannya. Dia lalu menyandarkan kepalanya di pangkuan Nabila.
Nabila membelai pelan rambut putri cantiknya itu. “Tenang sayang, om kamu itu pasti punya cara agar kamu tidak kesepian dan cepat bosan nantinya. Kamu juga masih bisa untuk syuting kok.” Jawab Nabila menghibur.
“Iya ma.” Tukas Diva lemah.
Ditempat lain.
“Kenapa lagi sih ini. Beberapa hari lalu tiba-tiba menghilang. Lalu muncul lagi menjawab telepon dan pesan-pesanku tanpa memberi penjelasan apa-apa. Sekarang menghilang lagi.” Gerutu Bethoven dalam kamarnya.
Bethoven melemparkan hapenya kekasur.
Pikiran Bethoven semakin gelisah. Tampaknya panah dewi cinta telah membuat pikirannya bingung karena rindu yang dia tanggung. Bethoven merebahkan tubuhnya diatas kasur. ‘Aku ini kenapa? Kok pikiranku hanya ke Diva saja.’ Kata hati Bethoven.
Dia lalu bangkit dan meraih gitar. Dia lalu memetiknya dan berusaha memainkan satu lagu. Tapi lagi-lagi macet. Dipikirannya hanya tertulis kata Diva.
“Inikah jatu cinta itu?” Monolog Bethoven bertanya pada ruangan kamarnya. “Memang benar kata Dylan rindu itu berat, tapi apa sanggup aku menahannya jika saat aku ingin mendengar suaranya aku tak bisa, atau jika saat aku ingin sekedar tahu apa yang sedang dilakukannya aku pun tak bisa.”
Lalu Bethoven bangkit dari duduknya, meletakkan gitarnya dan pergi keluar kamar. Dia lalu mengambil motor kesayangannya dan pergi meninggalkan rumah.
“Kemana aku harus pergi? Selama ini Diva selalu merahasiakannya. Dia tidak mau memberitahukan dimana dia tinggal.” Kata Bethoven lagi.
Ditungganginya motor kesayangannya. Tanpa helm, tanpa jaket dia memacu pelan. Tiba-tiba terbayang saat pertama dia membonceng Diva.
Seulas senyum tergambar di wajah tampan Bethoven. Jalanan yang sepi membuat Bethoven bisa dengan santai mengendarai motonya sambil berhayal.
“Cinta memang memabukkan…” Teriak Bethoven ditengah malam yang sepi.
__ADS_1
Bersambung…