MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)

MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)
Eps. 92


__ADS_3

“Coba kalian lihat konten video ini!” Seru Cherry sambil menunjuk sebuah video baru di yutub di laptopnya.


“Malas Cher. Kamu cerita saja apa yang kamu lihat itu.” Jawab Diva sambil tiduran dikasur.


Sudah tiga hari ini mereka menginap di rumah Bella.


“Iya Cherry, aku sedang sibuk mengisi apliasi pendaftaran masuk ke universitas nih. Kamu tahu sendiri kan, papa  dan mamaku memberikan ijin aku berkuliah di Korea.” Timpal Bella dengan tetap fokus pada laptopnya.


“Oke, video ini sudah dilihat lima ratus ribu viewer dalam sehari. Padahal dalam video itu ada kita bertiga yang  berjalan-jalan dari satu stand ke stand dalam pameran kemarin malam.” Cerita Cherry.


“Itukan sudah sering terjadi Cher. Video yang berkaitan dengan Diva atau tante Nabila juga sering menjadi viral.  Padahal didalam video itu biasa-biasa saja, tak ada yang aneh. Hanya judulnya saja yang bombastis.” Seloroh  Bella.


“Nah itu maksudku. Kenapa mereka menghujat tapi juga kepo ya? Lihat nih dikolom komentar, banyak sekali yang  menghujat, tapi mereka menonton. Padahal di caption title nya jelas-jelas ada tulisan Diva di pameran dan Diva  berkenalan dengan penjaga konter tampan. Eh mereka masih menonton videonya tapi juga menghina-hina Diva.” Kecam Cherry.


“Mana aku tahu Cherry.” Jawab Diva.


“Kenapa kamu tak membuat konten lagi Diva?” Tanya Cherry sambil menoleh kearah Diva yang sekarang sudah sibuk dengan laptopnya juga.


“Lagi malas Cher. Ga kuat baca komentar netizen.”


“Eh benar juga. Aku juga sangat geram ketika membaca komentar-komentar pedas dan menghina kamu.” Timpal  Cherry. “Dan aku juga geram sih lihat video yang barusan, kenapa pakai judul Diva berkenalan dengan penjaga  stand tampan?”


“Benar juga, perasaan saat kita kemarin disana tak melihat ada yang tampan kaya Ji-Min atau Lee Min Ho.” Seloroh Bella.


“Ji-Min melulu. Ya ga bakal ada si Ji-Min, yang pasti ada tuh Sarmin penjual gorengan didepan mall.” Balas Cherry sambil mengerucutkan bibirnya.


“Wow, aku kagum pakai banget sama kamu Cher, bisa-bisanya kamu tahu nama penjual gorengan didepan mall. Dia ganteng ya?” Goda Diva.


Bella seketika tertawa keras mendengar candaan Diva.


Sementara itu.


Didalam sebuah restoran.

__ADS_1


“Bagaimana kabar Diva, apakah dia sudah memilih untuk berkuliah dimana dan mengambil jurusan apa?”


“Kayaknya masih bingung Ren.” Jawab Nabila. “Sudah tiga hari ini dia menginap dirumah Bella bersama Cherry.  Obrolan terakhir sih, dia bercerita kalau Bella akan mendaftar di sebuah universitas di Korea dan mengambil  jurusan kedokteran, biar bisa menjadi ahli kecantikan. Begitu ceritanya kemarin.”


“Jadi Diva belum tahu mau berkuliah dimana?” Tanya Rendi lagi mengejar.


“Iya.”


“Coba video call dia sekarang.”


“Kenapa harus video call?”


“Biar dia tahu mamanya lagi ngedate sama aku.”


“Cih lebay.”


“Biarin. Ayolah nanti aku coba untuk meberinya saran.” Pinta Rendi lagi.


“Aku telpon saja ga  pakai video  call.” Sergah Nabila.


\==o0o==


Satu minggu berlalu. Bethoven mendapat sebuah  hobby baru. Dia sangat senang menjadi tenaga relawan di  Chester Hospital. Seolah menemukan semangat baru dalam membantu sesama. Bukan hanya uang atau harta  yang bisa dia amal sedekahkan. Turun langsung merawat orang-orang tua yang sudah tak dihiraukan keluarganya seolah membuka matanya bahwa itu menyenangkan ketika memperoleh senyum tulus dan ucapan terima kasih dari mereka.


“Mau kemana kamu?” Tanya Sam saat melihat Bethoven bergegas pergi meninggalkan  kampus siang ini.


“Ke Rumah Sakit Chester.” Jawab Betho pendek.


“Bersama dengan Lula.”


Bethoven hanya mengangguk sebagai jawaban pertanyaan Samuel yang berajalan disebelahnya itu.


“Kalian udah jadian?”

__ADS_1


“Jangan ngaco kamu. Kami berteman baik itu saja.” Bentak Bethoven jengah merasa dikejar-kejar Samuel.


“Hehehe... oke, oke, tak perlu nge gas juga kali...” Seloroh Samuel sembari terkekeh. “Karena sebenarnya Lula  juga sudah bercerita banyak kok, kamu tetap dingin dan hanya berubah hangat saat membantu para manula di  rumah sakit. Tapi saat kembali bersama Lula kamu berubah menjadi pribadi yang dingin dan cuek. Pertanyaanku  adalah ada apa dengan kamu bro? Lula itu cantik, seksi, punya kepribadian yang baik dan hangat dan yang pasti  dia telah menolak George Coldwell, putra Charles Coldwell.”


“Siapa dia?”


“Kamu tak tahu Charles Coldwell? Oh ya benar kamu bukan dari UK sih, baiklah akan aku jelaskan. Charles  Coldwell atau seharusnya aku menyebutnya dengan Sir Charles Coldwell adalah salah satu bangsawan negeri ini  dan juga termasuk dalam lima orang terkaya di eropa.”


“Oh, terus siapa George Coldwell? Apakah dia satu almamater dengan kita? Kenapa aku belum pernah mendengar namanya disini?”


“Tentu saja kamu tak pernah mendengarnya, karena kamu selama ini lebih sering di perpustakaan daripada di  pesta-pesta yang diadakan oleh George.”


“Ah, jadi seperti itu?”


“Hadeh, kenapa kamu tak merasa bangga karena Lula lebih memilih kamu sih? Bayangkan dia menolak George  Coldwell yang tajir melintir itu dan memilih untuk mengejar kamu.”


“Kenapa  aku harus berbangga untuk itu? Seorang wanita bebas jatuh cinta pada siapa saja kan?”


“Itu benar. Tapi aku tak mengerti maksud kamu?”


“Kalau seorang wanita bebas jatuh cinta, kenapa aku seorang lelaki tak bebas untuk memilih dan mengejar cintaku sendiri?”


“Cih, pemikiran kamu memang rumit bro. Atau kamu punya kekasih di negeri sana? Tapi kenapa juga aku tak  pernah melihat kamu melakukan video call atau sekedar sibuk berkirim chat seperti orang lain?”


“Apa aku harus melaporkan segalanya kepadamu?”


“Tentu saja tidak bro. Kamu bebas kok merahasiakan apapun itu. Selama kamu merasa nyaman saja berteman  denganku dan rahasiamu itu tak mengganggu aku, aku akan biasa-biasa saja kok. Dan aku tak akan mengejar  kamu untuk membuka rahasia-rahasia yang ingin kamu simpan kok. Santai saja bro.” Jawab Samuel panjang lebar.  “Tapi jika suatu saat kamu ingin berbagi, tentu saja aku akan  terbuka untuk mendengarnya.”


“Ah jadi seperti itu?” Gumam Bethoven pelan dan Samuel tak mendengarnya. “Oke Sam, aku berangkat ke rumah  sakit dulu.” Pamit Bethoven seraya membuka pintu mobilnya. Sekarang dia hanya memakai mobil bekas, agar  penampilannya tak mencolok saat menjadi relawan di rumah sakit.


Hari-hari berlalu.


Tapi satu hal dari yang Samuel katakan telah membuat Bethoven kembali berpikir keras. Kalimat yang menyatakan  bebas merahasiakan apapun selama tak mengganggu hubungan pertemanan. Dan tak akan memaksa seorang  teman untuk membuka semua rahasia miliknya.

__ADS_1


“Apakah aku sudah berlebihan ya? Dan ini sudah hampir dua tahun sejak terbongkarnya rahasia yang disimpan  Diva dan tante Nabila terbongkar, dan aku masih marah karena Diva menyimpan rahasianya kepadaku?” Ucap  Bethoven didepan cermin didalam kamarnya. “Haruskah kutelpon dia sekarang? Terus apa yang harus kukatakan?  Maaf aku tak pernah menghubungimu? Ga, ga, ga kalau menurut Samuel kan itu terjadi pada pertemanan.  Sementara aku dan Diva itu kan sudah pacaran. Masa sama pacar sendiri main rahasia.”


Bersambung...


__ADS_2