
Cuplikan eps. sebelumnya…
‘Whoaa! Kenapa pas adegan seperti ini ada duo reseh sih. Kenapa ga dari tadi juga ditempelin kaya gini Diva???’ Rungut hati Bethoven yang tiba-tiba panas dingin karena lengannya kini telah menempel di lengan dan dada Diva. Wajahnya seketika merona kemerahan.
“Loh kak Betho sakit? Kok wajahnya sekarang merah seperti udang goreng.” Tanya Bella.
Seketika Diva melepaskan tangannya dan menghadap ke muka Bethoven, lalu dia bungkukkan badan memandangi wajah Bethoven dengan seksama. Hal yang sama juga dilakukan oleh Bella dan Cherry. Genk BCD ini seolah sehati sepenanggungan lagak mereka begitu kompak. Ketiganya meneliti dengan seksama, bahkan ketiganya mengamati sambil memegang dagu masing-masing. Seolah-olah mereka mengamati sebuah keindahan yang paripurna.
“Heh! Apa-apaan sih kalian ini?” Sergah Bethoven salah tingkah karena dilihat secara dekat oleh tiga gadis cantik.
“Kak Betho sakit?” Tanya mereka serempak.
“Enggak, enggak kok.”
“Kenapa sekarang wajah kak Betho memerah?” Selidik Diva dengan telunjuk kanannya menempel didagu dan dahi yang mengernyit seolah berpikir keras.
“Iya. Beneran loh kak.” Timpal Cherry.
“Betul, betul, betul. Merah banget biking gemasssss.” Sambung Bella sambil menempelkan dua telapak tangannya dipipinya sendiri.
Diva lalu menempelkan punggung telapak tangannya di dahi Bethoven.
“Biasa saja. Tidak panas.”
“Kalian semua ini kenapa sih? Udah-udah mending kita foodcourt saja. Aku haus.” Sengit Bethoven semakin tidak nyaman dengan kondisi seperti itu.
Bethoven berjalan sendiri didepan, sementara genk BCD mengekor dibelakangnya sambil bergurau dengan hebohnya.
‘Sial, sial, sial, ngedate hari ini gagal total.’ Runtuk batin Bethoven geram.
\===o0o===
“Oma…” Panggil Sadil pelan sambil menata rambut Nabila. Sementara Wawan sibuk memoles wajah Nabila dengan riasan make up.
“Hmmm…”
“Kata wanita tadi siang, acara makan malam ini hanya oma Nabila dan pak bupati.”
__ADS_1
“Iya.”
“Eeee…” Sadil masih ragu untuk melanjutkan apa yang dipikirkannya.
“Kenapa?” Tanya Nabila.
“Aku kok tiba-tiba merasa takut ya? Oma Nabila dengan gaun seksi seperti ini, lalu berduaan saja.” Sadil berhenti sejenak. “Aku kok takut nanti oma dapat pelecehan gitu.”
“Kalau dia sampai berani melakukan itu, aku akan lapor polisi.” Jawab Nabila tegas. Sebenarnya dia juga merasakan kekuatiran yang sama. Namun dalam pikiran dan hatinya mengatakan the show must go on. Jadi lakukan saja secara professional, dan berharap tidak terjadi sesuatu yang memalukan.
Setengah jam lagi acara dinner dengan bupati itu akan dimulai. Gaun telah dipilih, riasan make up dan tata rambut sudah selesai.Nabila memilih heels warna senada dengan asesoris goldie.
Nabila mematut dirinya sebentar didepan cermin. Kedua asistennya juga ikut memperhatikan kesempunaan penampilannya dengan seksama.
“Hmm… bahan gaun ini bagus bwanget. Jatuhnya nempel dibadan.” Puji Wawan.
“Bener oma sekarang sudah terlihat seperti Kim Kardashian atau On In Hye waktu melintas di karpet merah. So beautiful, so elegant and so hot. Very, very hot lady.” Timpal Sadil.
Nabila lalu bergaya seolah sedang pose didepan fotografer. Satu kakinya maju kedepan dan ditekuk sehingga belahan bawah gaun itu menyingkap kesamping memperlihatkan paha dan betisnya yang putih mulus.
Seorang lelaki berusia lima puluh tahun berdiri dengan jas hitam menyambut Nabila yang masuk kedalam restoran dengan diantar pelayan wanita. Lelaki itu bertubuh pendek dan tambun dengan perut yang membuncit dan sangat jelas terlihat menyembul. Rambutnya sedikit mengombak namun terlihat jelas kebotakan telah menyerangnya. Dia tersenyum lebar mempamerkan giginya yanb besar dan rapi.
“Terima kasih tuan Kemal. Anda juga terlihat sangat menawan.” Jawab Nabila lalu mengulurkan tangan membalas.
Kejadian yang tak disangka Nabila terjadi. Begitu tangan Nabila dan tangan bupati, Kemal itu bertaut. Kemal seketika membungkukkan badan dan lalu mengecup punggung tangan Nabila dengan intens.
Nabila terperanjat dan refleks menarik tangannya cepat.
Kemal dengan posisi membungkuk menengadahkan kepalanya melihat kepada Nabila.
Nabila hanya menjawab tersenyum dikulum seolah malu-malu.
‘Brengsek, apa-apaan tuh gayanya. Main nyosor saja tuh bibir.’ Rungut hati Nabila jengkel. Tapi sebagai artis berbakat, Nabila pun menunjukkan akting terkejut dan tersipu dihadapan bupati Kemal.
Kini mereka duduk berhadapan dimeja. Meja berbentuk bundar dengan penutup kain putih lebar menjuntai kelantai. Didepan Nabila dan Kemal tersaji peralatan makan dalam keadaan tertutup lengkap lalu ada flute glass*). Dan dua standing candle dengan lilin yang telah menyala.
‘Hmm… bupati ini sepertinya ingin sekali candle light dinner denganku?’ Batin Nabila setelah melihat tata meja didepannya.
__ADS_1
Kemal menjentikkan jarinya. Lalu terlihat seorang pelayan pria datang mendorong troli dengan timba berisi es batu dan sebotol sampanye diatasnya. Setelah sampai pelayan pria itu menunjukkan pada Kemal merk dan tahun pembuatan sampanye. Kemal tersenyum lalu menganggukkan kepala. Pelayan pria itu lalu mengambil pembuka tutup sampanye.
POP!
Sampanye telah terbuka dan meluberkan busa alkoho dari dalam botol. Sebuah pemandangan indah bagi penggemar sampanye. Begitu juga Kemal dia terlihat begitu sumringah. Pelayan tadi lalu menuang sampanye ke flute glass milik Kemal dan memberikannya pada Kemal.
Seolah ahli dalam mencicipi sampanye, Kemal lalu menggoyang-goyangkan gelas tadi dan mengangkatnya sedikit diatas kepalanya. Matanya dengan seksama meneliti buih-buih yang melayang didalam gelas. Lalu meminumnya sedikit.
“Dom perignon**) is the best.” Katanya sambil tersenyum puas. Kemudian dia menghabiskan seluruh sisa sampanye dari gelasnya. Setelah itu dia memberikan isyarat untuk menuangkan sampanye pada kedua gelas kosong dimeja.
“Maaf. Saya tidak suka minum alkohol.” Kata Nabila menolak pelayan tadi untuk menuangkan sampanye kedalam gelasnya.
“Kenapa nona Nabila. Anda berpikir saya akan membuat anda mabuk lalu akan mengambil keuntungan dari anda?” Tanya Kemal dengan tajam.
“Mohon maaf tuan Kemal. Sudah dijelaskan didalam kontrak bahwa saya tidak akan minum-minuman beralkohol karena saya punya alergi terhadap minuman jenis itu.” Jawab Nabila dengan sopan. Padahal itu hanyalah muslihat Adli dan Nabila agar Nabila tidak perlu meminum minuman beralkohol tanpa terkesan menghina tuan rumah.
“Aaah…. Jadi seperti itu?” Tanya Kemal lagi. Tanpa menatap wajah Nabila.
“Benar tuan Kemal.” Jawab Nabila dengan tersenyum dan lalu menggerai rambut panjangnya kearah depan. Sehingga dadanya kini tertutup rambut.
‘Sialan. Matanya sedari tadi menatap tajam kearah dadaku. Dasar bandot mesum!’ Maki Nabila dalam hati.
“Oke, oke, its fine.” Kata Kemal dengan wajah terlihat kecewa akibat posisi rambut Nabila. “Hmmm.. Kalau begitu kita akan langsung makan malam saja nona Nabila.” Katanya lagi tapi sangat jelas kurang bersemangat ditelinga Nabila.
Nabila tersenyum lalu mengangguk. “Baiklah tuan. As you wish sir.”
Kemal lalu memberi kode untuk menu pembuka disajikan.
“Ngomong-ngomong sebaiknya nona Nabila tidak harus memanggil saya tuan Kemal. Alangkah indah dan bahagianya hidup saya jika nona Nabila mau memanggil saya mas.”
“Maaf tuan, saya tidak bisa.”
“Hmm… Oh ya sambil menunggu menu pembuka datang. Saya ada sedikit hadiah untuk nona karena telah menemani saya malam ini.” Kata Kemal. Lalu tanpa menunggu jawaban Nabila, Kemal lalu berdiri dan mencari-cari didalam saku jasnya. “Aah… Ini dia. Taraaaa….” Seru Kemal.
Bersambung…
Footnote :
__ADS_1
*) flute glass adalah sebutan untuk jenis gelas yang digunakan untuk meminum minuman jenis sampanye.
**) Dom Perignon (bacanya Dom Perinyon), merk sebuah minuman sampanye. Sebenarnya lebih panjang sih nama lengkapnya. Hanya saja karena author ga diendors maka disebut sebagian saja deh. Harga minuman ini termasuk yang termahal sekitar 78 juta per botol. (So Ladies and gents ga usah minum minuman beralkohol deh, udah mahal dosa lagi.)