MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)

MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)
Eps. 12 NEKAT


__ADS_3

Nabila berjalan memasuki café XX. Begitu masuk telah nampak seorang Ferdi duduk di sebuah sudut café dengan secangkir kopi diatas meja dan rokok menyala ditangan kirinya. Malam ini Nabila mengenakan dress lengan panjang berwarna putih tulang dan juga memakai masker untuk menutupi wajahnya. Dia sangat tidak ingin menjadi pusat perhatian di café itu.


“Hei, silahkan duduk dulu, kita makan malam dulu. Tadi aku sudah pesankan makanan kesenangan kamu.” Kata Ferdi dengan ramah. Lalu tangannya melambai pada pelayan café memberikan kode agar menyajikan makanan.


“Kita langsung saja. Apa mau kamu Fer?” Jawab Nabila dengan malas sambil duduk dihadapan Ferdi.


“Kita makan dulu. Ayolah beb, ramahlah sedikit dengan aku.”


“Bodo.”


Mereka terdiam, saat dua pelayan menyajikan menu yang telah dipesan Ferdi. Menu kegemaran Nabila tersaji begitu menggoda, udang asam manis dan jus alpukat. Melihat itu semua, Nabila justru semakin jengah.


“Aku sudah makan. Cepatlah katakan apa perlu kamu?” Sergah Nabila begitu pelayan telah menjauh.


“Tenang beb. Hari belum terlalu malam. Kamu makanlah dulu.”


“Aku pergi sekarang. Aku anggap tidak ada hal penting yang harus dibicarakan.” Nabila langsung berdiri dan hendak melangkah pergi.


“Hmm… dia anakku kan?” Tanya Ferdi sambil mulai memasukkan makanan kemulutnya.


Nabila terpaku. Dia mengurungkan niatnya meninggalkan Ferdi dan kembali duduk. Wajahnya menatap tajam pada Ferdi.


“SIapa?”


“Diva.” Jawab Ferdi dengan tenang sambil terus menyendok makanannya.


“Apa maksudmu?”


“Aku hanya ingin tahu, apa benar dia darah dagingku?”


“Bukan.”


“Hmm.. kalau bukan, makanlah dulu. Sebab aku mau bilang, aku tertarik dengan Diva dan ingin kujadikan kekasihku untuk menggantikan kamu beb.” Kata Ferdi dengan seringaian yang sangat aneh.


“Kamu Gila Ferdi!”


“Sst.. jangan keras-keras ngomongnya. Kamu mau rasa cemburu kamu ini diketahui seluruh pengunjung café ini? Dan besok ada berita gosio hah?"


“Jangan sekali-kali kamu dekati Diva. Atau… aku akan NEKAT!”


“Hei, kamu ini ya, kalau dia bukan anakku mengapa kamu melarangnya? Atau kamu masih berharap aku kembali menjadi teman tidurmu? Hahahah…”


“Bangsat kamu Ferdi. Terkutuk kamu!”


“Kamu mengutuk aku hah! Dengarkan aku Nabila, akan aku dapatkan Diva dengan baik-baik ataupun kasar. Aku inginkan dia, karena dia mengingatkanku pada kamu saat di vila.”


Nabila menggenggam erat garpu didepannya. Dia sangat ingin menusukkan garpu itu ke wajah Ferdi. Tapi, keberanian untuk itu tidak juga datang. Tangannya bergetar hebat hingga garpu ditangannya ikut bergerak dan menubruk gelas berisi air. Begitu kerasnya hingga gelas itu terguling dan pecah.


Mata Ferdi terkesiap melihat kemarahan Nabila didepannya. Namun sejenak saja, kemudian dia dengan tenang kembali memasukkan makanan kemulutnya.


“Jadi, dia anakku atau bukan hah?”

__ADS_1


Nabila hanya terdiam. Air matanya tidak terbendung lagi, menetes deras karena meredam rasa takut pada kegilaan Ferdi merayu putrinya sendiri, jika mengaku resiko Ferdi merampas Diva juga terbuka lebar.


Garpu itu masih digenggamnya rapat.


“Aish, kamu ini masih suka sekali menangis hah?” Ferdi menghentikan kegiatan makannya. Lalu diambilnya serbet dan hendak mengusap air mata Nabila yang menetes. Tangannya terjulur.


“AWW!” Pekik Ferdi kesakitan saat garpu dalam genggaman Nabila tertancap di lengannya. Darah memuncrat, mengucur lengan Diva juga membasahi taplak dan piring makanan didepan Nabila yang masih utuh.


“Aku akan lebih nekat dari ini, jika kamu berani melakukannya.!” Ancam Nabila dengan volume suara yang pelan namun penuh penegasan.


“Kamu Gila!”


Ferdi buru-buru menarik tangannya, namun karena Nabila belum melepaskan genggamannya pada garpu, membuat luka di lengan Ferdi semakin lebar dan mengucurkan darah semakin deras.


Nabila membanting garpu yang dipegangnya, lalu buru buru pergi meninggalkan Ferdi yang masih kesakitan dan memegangi lengannya yang berdarah.


Nabila memasuki mobilnya dan memerintahkan sopir untuk membawanya pulang. Didalam mobil Nabila segera menelpon Adli.


“Halo bang. Kapan abang balik kesini?”


“….”


“Lusa? Ga bisa besok bang.” Suara Nabila mulai parau karena tangisnya mulai tak tertahan lagi.


“….”


“Aku menusuk lengan Ferdi dengan garpu bang. Aku takut.”


“…”


“…”


“Ini o te we pulang bang.”


“Iya bang. Cepetan balik ya, aku takut bang.”


Lalu sambungan telepon ditutup.


Nabila terisak di jok belakang. Pikirannya kacau, tidak tahu lagi harus melakukan apa, dan lagi bagaimana caranya melindungi putrinya Diva.


Nabila langsung menghubungi Diva.


“Halo Diva, kamu dimana?”


“….”


“Syukurlah. Kamu jangan kemana-mana ya nak. Mama akan secepatnya sampai disana.”


“…”


“Mama baik-baik saja. Tunggu ya. sepuluh menit lagi mama sampai. Assalamu’alaikum.”

__ADS_1


Sementara itu di café XX. Terlihat Ferdi duduk sambil memegangi lengannya. Seorang lelaki tampak berusaha menutup luka itu dengan perban.


“Ini harus dibawa kerumah sakit bos. Takut kenapa napa.” Ujar lelaki itu pada Ferdi, sambil tangannya terus membebat luka dengan perban.


“Keparat kamu Bila. Joe, sudah kamu suruh orang untuk membuntuti mobil Nabila?”


“Sudah bos.” Jawab Joe. Kali ini dia sudah merampungkan pekerjaannya memperban luka bosnya itu.


“Kamu juga sudah tahu dimana Diva tinggal?”


“Kalo alamat rumah mungkin baru besok bos. Data Diva dan Nabila dikunci sendiri oleh bos Star Fiction bos. Mata-mata kita sulit mendapatkan informasinya. Tapi kalau alamat sekolahnya saya sudah punya bos, termasuk daftar nama guru dan para teman dekat Diva. Ini bos datanya.” Joe lalu menyerahkan setumpuk map pada Ferdi.


“Kalo info mengenai saat menghilangnya Nabila lima belas tahun lalu bagaimana?”


“Nihil bos. Tidak satupun karyawan Star Fiction yang tahu hal itu. Bahkan staf paling senior pun tidak mengetahuinya. Tampaknya khusus informasi Nabila dan Diva yang memegang hanya tuan Adli bos.”


“Adli bang@4T!” Geram Ferdi.


Dia teringat dulu Adli lah yang selalu menjadi penghalang niatnya meniduri Nabila, dan sekarang Adli juga yang menjadi pelindung Diva.


Sepertinya ini tidak semudah aku mengerjai Nabila, sepertinya aku harus menggunakan cara kekerasan untuk bisa meniduri Diva. Batin Ferdi bermonolog. Sementara Joe anak buahnya tidak mengerti dan hanya melihat senyum menyeringai penuh kelicikan dari rubah kota didepannya.


“Tunggu saja Nabila, kamu akan merasakan kecemburuan luar biasa saat tahu aku meniduri Diva. Hahahaha…” Ferdi bermonolog lalu berdiri dari tempat duduknya. “Ayo Joe, antar aku ke dokter Anwar sekarang.”


Joe mengangguk lalu berjalan mengekori tuannya menuju mobilnya.


Di Malaysia, Adli kebingungan.


Adli berkali-kali menghirup udara dalam-dalam lalu menghempaskannya dengan keras. Kemudian berjalan mondar-mandir, menggaruk-garuk kepalanya dengan kasar hingga rambutnya acak-acakan.


“Apalagi ini. Mengapa kamu senekat ini Nabila…” Keluh Adli sendiri.


“Besok, aku harus bisa menyelesaikan urusan kontrak Nabila disini. Harus selesai. Kalau tidak aku tidak tahu apa yang akan dilakukan maniak Ferdi itu padanya.”


Kembali pada Nabila yang kini telah sampai dirumah. Nabila langsung masuk ke rumahnya, tanpa menyadari mobil yang ia tumpangi telah diikuti oleh mobil yang dinaiki orang suruhan Ferdi.


Beruntung Nabila tetap disiplin. Meskipun dia telah berniat untuk menemui Diva, dia tetap masuk melalui rumahnya dulu baru kemudian menuju rumah yang ditempati Diva melewati jalan kecil dibelakang rumah yang menghubungkan dua rumah bersebelahan itu.


Nabila yang sangat panik setelah kejadian di café XX itu langsung menemui Diva.


“Diva…”


Diva yang sedang belajar dikamarnya segera keluar mendengar suara mamanya memanggil.


“Ma! Mama kenapa?” Pekik Diva sambil berlari kearah Nabila.


Diva langsung memegang tangan kanan mamanya itu. Tampak beberapa percikan darah yang telah mengering terlihat jelas membasahi lengan putih yang dipakai Nabila. Mimik mukanya terlihat sangat cemas dan kuatir melihat keadaan Nabila.


“Mama tidak apa-apa Diva. Tenanglah.”


Bersambung...

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2