MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)

MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)
Eps. 38 Bukan Muhrim


__ADS_3

“Mah, udah hampir satu tahun aku home schooling. Dan dua bulan lagi aku ujian kelulusan. Doakan ya mah, agar aku dapat nilai yang baik.” Ujar Diva setelah Nabila duduk disebelahnya dengan membawa popcorn.


Mereka berdua kini duduk menonton drakor dirumah Nabila.


“Iya mama akan doakan kamu Diva, tapi kamu harus off semuanya juga. Beruntung PH mau break untuk  proses syuting sinetron stripping kamu, hingga kamu bisa fokus belajar. Tapi kegiatan bikin video konten  kamu harus juga break dulu. Setidaknya sampai ujian kamu selesai.”


“Iya mah. Lagian setelah beberapa bulan kerja dan belajar tanpa liburan yang cukup rasanya sangat  melelahkan. Apalagi aku jadi jarang ketemu mamah dan ibu.” Kata Diva sambil membaringkan kepalanya  dipangkuan Diva.


Nabila membelai lembut rambut putrinya. Dia sangat rindu dengan kemanjaan Diva seperti ini. dia sangat  rindu mengusap rambut putrinya, menyisir rambutnya mengecup keningnya dan lain-lainnya. Kesibukan  mereka berdua membuat mereka sangat jarang bisa bertemu, meskipun rumah mereka bersebelahan, meskipun mereka selalu tidur bersama disaat libur kerja mereka dihari yang sama.


Nabila menghela nafasnya perlahan. Dunia entertainment ini sungguh keras. Kami ini sudah bekerja keras  demi bisa memberikan hiburan, tetapi masih banyak saja bibir yang nyinyir pada kehidupan pribadi kami,  belum lagi para pengusaha berduit itu mereka selalu mencoba melecehkan kami. Nelangsa batin Nabila.


“Yaaah, nih anak kalau sudah dielus begini langsung saja molor.” Gerutu Nabila setelah melihat putrinya  tertidur pulas dipangkuannya. Namun bibirnya tetap tersenyum memancarkan kebahagiaan.


\===o0o===


“Hei, bukankah ini hari sabtu pak Virgos. Apa Diva ada kelas hari ini? Tanya Bethoven dengan ketus.


Pada siang ini, dia berencana untuk mengajak Diva jalan-jalan. Karena seminggu lagi ujian akhir bagi Diva,  maka Bethoven berniat mengajak kencan terakhir, karena dia tidak ingin mengganggu konsentrasi belajar Diva.


“Aku hanya ingin Diva untuk fokus belajar.” Jawab Virgos dengan enteng.


“Memangnya harus begitu pak? Orang belajar juga perlu refreshing. Kalau tidak, malah akan menjadi beban dan akhirnya stress.”


“Benar juga sih, tapi aku hanya ingin memantau Diva saja.”


‘Cih. Alasan. Kamu ini sudah tua bung. Cari yang sepadan sana!’ Maki Bethoven dalam hati. Dia sangat  curiga pada Virgos, yang akhir-akhir ini tampak sedikit overacting saat memberikan pelajaran.


“Eh, kak Betho. Duduk dulu kak. Aku ambilkan minum kesukaan kakak dulu kalau begitu.” Tiba-tiba Diva  keluar dengan membawa nampan dan segelas minuman untuk Virgos.


Diva lalu balik masuk kedalam lagi.


‘Duh bisa gagal rencanaku mengajak Diva nge date. Salahku juga kenapa ga chat dari kemarin sore.’ Runtuk Bethoven dalam hati.


Dua lelaki beda usia ini sama-sama terdiam. Tak satu pun berinisiatif membuka obrolan, sampai Diva keluar  membawa minuman untuk Bethoven.

__ADS_1


“Silahkan kak.” Ujar Diva seraya tersenyum manis.


“Iya makasih.” Jawab Bethoven. “Apa kamu masih harus belajar siang ini?” Tanya Bethoven.


“Ga juga sih. Tadi aku berencana off baca buku. Aku ingin santai sejenak. Baru besok aku akan fokus belajar.” Jawab Diva dengan polosnya.


Virgos yang mendengarnya langsung bersungut. ‘Sial! Kalau jawaban Diva seperti ini aku akan tersingkir nih.” Sungutnya dalam hati.


“Emang kenapa kak?” Tanya Diva lagi.


“Eee… Aku ingin mengajak kamu jalan-jalan dan nonton siang ini.” Jawab Bethoven.


“Sebaiknya kamu jangan terpengaruh sesuatu yang bisa mengganggu konsentrasi belajar kamu nantinya.  Lebih baik kamu bersantai dirumah saja. Apalagi cuaca sekarang kurang begitu bersahabat, takhutnya saat  hari h kamu jatuh sakit Diva.” Sela Virgos dengan nada bijak.


‘Sialan, terpengaruh sesuatu. Memangnya aku ini barang apa?’ Maki Bethoven dalam hati.


“Maksud pak Virgos apaan dengan sesuatu itu?” Tanya Bethoven seraya melihat Virgos dengan ekor  matanya dengan tajam.


Merasa mendapat tatapan tajam Virgos tersenyum santai. ‘Kamu itu sesuatu yang mengganggu tahu!’


“Seperti menonton film. Takutnya akibat baper membuat fokus belajar akan berkurang.” Jawab Virgos  sekenanya.


“Emang beneran bisa seperti itu pak?” Tanya Diva penasaran.


Virgos tak ingin jawaban berikutnya yang asal bicara akan menjadi bahan pertanyaan yang menyudutkan  dirinya, jadi dia menjawabnya dengan anggukan kepala saja.


“Eh, tapi Diva. Kita bisa kok nonton film bergenre komedi. Biar kamu ga baper. Biar orang lain saja yang  baper.” Sindir Bethoven pada Virgos.


“Siapa yang baper kak?” Tanya Diva naif.


“Ya orang yang menonton film romantis yang bercerita tentang seseorang yang berharap tapi tak akan pernah  kesampaian.” Lagi-lagi Bethoven menyindir Virgos.


Wajah Virgos semakin menegang. Rahangnya mengeras. Dia  jengkel, sebenarnya dia tahu Diva suka sama Bethoven begitupun sebaliknya. Tapi karena hampir tiap hari bertemu dengan Diva. Virgos pun mulai  merasakan cinta dalam hatinya. Meskipun jarak usia mereka terpaut cukup jauh. Sebenarnya dia merasa  tidak etis seorang guru jatuh cinta pada muridnya sendiri. Tetapi kecantikan dan kepolosan Diva lebih  membius logikanya dan membiarkan egonya untuk berusaha lebih dekat dengan anak didiknya ini.


Diva hanya mengangguk-angguk setuju dengan jawaban Bethoven. Dia tidak menyadari jawaban itu adalah  sindiran Bethoven pada Virgos, gurunya.

__ADS_1


“Ah, sebaiknya aku permisi pulang dulu Diva. Sebenarnya aku tadi kesini berharap bisa membantu kamu jika  ada kesulitan atas soal-soal latihan yang aku berikan kemarin.” Kata Virgos kemudian.


Virgos merasa lebih baik hari ini dia mundur dulu.


‘Kamu memang lebih dulu memikat hati Diva, tapi aku adalah guru yang bisa senantiasa dekat dengan  muridnya. Aku akan mundur hari ini, tapi aku akan terus berusaha mengejar dan mendapatkan cinta Diva  hanya untukku.’


“Oh, kalau begitu biar saya mengantar bapak sampai ke gerbang.” Sahut Bethoven cepat. Dia tak mau Diva  berbasa-basi hingga Virgos bisa beralasan untuk tetap disini sehingga rencananya gagal.


Setelah Virgos pulang. Bethoven pun mengajak Diva jalan-jalan keluar.


“Oke kak. Tapi kakak naik apa?”


“Biasalah, naik motor kesayangan kakak.”


“Cih,, kesayangan.” Cibir Diva. Lalu menampilkan wajah konyol.


Bethoven terbahak-bahak melihat ekspresi wajah Diva. Dia tahu gadis didepannya ini hanya bercanda.


“Aku ganti baju dulu kak. Biar nyaman saat dibonceng kakak.”


Setelah beberapa saat, terlihat mereka berdua berjalan menuju motor Bethoven yang terparkir diluar gerbang rumah Diva.


“Ih kok motor sport sih? Ga jadi deh. Diva ga mau.” Sungut Diva setelah melihat  motor yang dibawa  Bethoven. Motor itu jenis motor sport yang mana tempat duduk belakang sedikit lebih tinggi daripada  pengemudinya.


“Emang kenapa Diva?”


“Bu  kan  MUHRIM.” Sentak Diva ditelinga kiri Bethoven. ‘Enak saja, kakak mau cari keuntungan ya? Biar aku  menempel dipunggun kakak kaya tas ransel gitu?’ Sungut Diva dalam hati. Bibirnya kini telah maju dua sentimeter.


Bethoven hanya bisa cengengesan dan memasang wajah tak berdosa sambil menggosok tengkuknya yang tak gatal.


‘Mati aku! Bisa dianggap orang mesum lagi nih. Padahal waktu aku memilih motor ini ga pake mikir-mikir  kearah situ.’ Kata Bethoven dalam hati.


“Terus bagaimana dong?”


“Terserah kakak.” Jawab Diva ketus.

__ADS_1


“Naik taksi saja ya?” Kata Bethoven dengan memelas.


Bersambung…


__ADS_2