
“Assalamualaikum..” Seru Adli begitu melihat Nabila dan Diva yang duduk diruang tengah rumahnya.
“Waalaikumusalam..” Jawab Nabila dan Diva barengan.
“Om…” Diva langsung melompat dan memeluk Adli.
“Diva! Jaga sikapmu, kamu ini sudah dewasa.” Bentak Nabila melihat Diva yang bergelayut manja pada Adli.
“Ih mama. Selalu begitu. Ga papa kan om.”
“Iya ga papa.” Jawab Adli sambil tersenyum.
Diva menjulurkan lidah kearah mamahnya. Dan dibalas dengan mata yang melotot oleh Nabila.
“Kamu terlalu memanjakan dia bang.” Sungut Nabila. “Diva cepat kamu ambilkan minum untuk om kamu.” Perintahnya lagi.
Diva segera berlalu menuju dapur dan membuatkan minuman kegemaran Adli.
“Tidak apa-apa biarkan saja. Dia itu sebenarnya merindukan sosok ayah yang bisa melindunginya Nab. Dan selama ini kan hanya aku yang lelaki kebapakan yang dia kenal.”
“Iya juga sih.” Jawab Nabila lirih. “Emang ada perlu apa sampai harus kesini sendiri?”
“Kita tunggu Diva sebentar baru nanti aku akan jelaskan.” Jawab Adli.
Diva datang membawa suguhan untuk Adli. Setelah meletakkannya dia lalu duduk disebelah mamanya.
“Ah oke. Om akan jelaskan pada Diva.” Kata Adli. Dia menyempatkan menyeruput minuman yang dibuatkan Diva. “Segarr… enak sekali. Mantab.” Katanya lagi. “Jadi begini, Diva, aku dan mama kamu sudah membuat keputusan
demi keamanan kamu, maka kamu harus bersekolah dirumah saja atau dengan kata lain home schooling.”
“Yaa.. Kalo bisa sih ga usah lah om. Diva bersekolah biasa saja, disekolahan yang umum saja. kalo home schooling, Diva jadi ga bisa ketemu sahabat-sahabat Diva dong.” Diva memotong kalimat Adli.
“Om dan mama kaamu minta maaf untuk itu. Ini semua kami lakukan semata hanya demi keselamatan kamu. Ingat Diva, sudah dua kali kamu mengalami hal seperti ini. Pertama-tama kamu dikejar-kejar sewaktu jalan bareng Bethoven. Lalu yang terakhir kamu sudah bisa diculik. Untungnya kamu masih selamat. Kamu mengerti kan?”
“Iya om, tapi…”
“Om tahu, kamu takut bosan kan? Om sudah punya solusi,dan semoga ini berhasil. Jadi rumah kamu ini nantinya akan menjadi kantor dan studio kamu. Om akan beri kamu orang-orang kreatif.”
“Maksudnya om?”
__ADS_1
“Sekarang ini kan sudah masa mileneal. Dimana banyak aplikasi medsos yang bisa kamu gunakan. Jadi om ingin kamu tidak hanya artis sinetron dan bintang iklan di tv, atau media cetak saja. Tapi om ingin kamu menjadi bintang baru di dunia media sosial.” Adli diam sejenak lalu menyeruput lagi minumannya. “Kamu dan tim kreatif kamu akan membuat konten-konten yang menarik. Om yakin kamu bisa, karena kamu yang masih baru saja sudah punya banyak basis penggemar. Om yakin kamu akan lebih terkenal lagi di media sosial. Jadi tidak banyak waktu kamu yang terbuang dan kamu ga akan kebosanan.”
“Hah? Tapi bikin konten itu sulit om. Harus punya ide, harus punya editor video, banyaklah om.”
“Kamu tenang saja. Om akan sediakan tim nya. Om juga akan sediakan perlengkapan dan peralatannya. Dan jika ada jadwal syuting kamu masih bisa untuk melakukannya. Baik itu syuting film atau sinetron atau bikin konten. Bagaimana, kamu setuju?”
“Hmmm.. Setuju. Tapi nanti ide-ide dari aku harus paling sering digunakan untuk konten itu ya om.”
“Tentu saja."
“Asyiiikk…. Setuju om.” Seru Diva dengan gembira.
“Oke. Sekarang bisa kamu biarkan om kamu ini berbicara empat mata dengan mama kamu?”
“Ngusir nih ceritanya? Ga boleh dengar omongan orang dewasa?” Jawab Diva dengan bibir dimajukan lima sentimeter. “Iya, iya, Diva sekarang ke kamar.” Jawab Diva setelah melihat mata mamanya yang semakin
melotot.
“Begini Nab, kemarin malam aku mendapat telepon dari tuan Burhan.” Kata Adli membuka pembicaraan empat matanya dengan Nabila, setelah dilihatnya Diva memasuki kamarnya.
“Terus?” Tanya Nabila tidak sabar.
“Dia bilang besok akan menjawab somasi yang dilayangkan oleh pihaknya Ferdi. Dan dia juga bilang bahwa dia mendapatkan satu info dari tim lawyer nya keluarga tuan Bram, bahwa mereka akan memback up penuh, agar
“Kenapa bisa begitu?” Tanya Nabila bingung.
“Entahlah, aku kemarin juga bertanya seperti itu pada tuan Burhan. Tapi beliau hanya menjawab, bapak hanya perlu tahu apa yang harus bapak dengar dari saya. Dan saya harap bapak dan nona Nabila tenang saja, karena nona Nabila ini punya sahabat orang yang sangat kuat dan berkuasa.”
“Wow, kak Josephira?” Desis Nabila dengan mata melebar tak percaya.
Adli hanya mengangguk dengan senyum yang lebar.
\===o0o===
“Paman, paman Johan.” Panggil Bethoven pada Johan yang baru saja keluar dari ruang kerja Bram, papanya.
“Iya tuan muda.”
“Bisakah paman memberikanku alamat rumah Diva?” Tanya Bethoven penuh harap.
__ADS_1
“Bisa. Tapi untuk apa?”
“Ayolah paman, berikan saja alamatnya.”
“Hmmm… saya akan bertanya dulu pada papanya tuan muda.” Johan tersenyum tipis. Dan berasa ingin menggoda putra tuannya ini.
“Eits! Jangan! Ga usah bertanya dulu atau nanti. Intinya jangan minta ijinlah. Please paman… please…” Rengek Bethoven.
“Tapi…” Kata Johan lagi pura-pura takut kena marah Bram.
“Ayolah paman, please. Aku ga akan bilang-bilang ke papa kok, jika paman memberiku alamat Diva.”
Sebenarnya tidak ada larangan dari Bram untuk hal itu. Tapi memang Johan ingin menggoda Bethoven saja.
“Emmm… Tunggu sebentar tuan muda.” Jawabnya lagi sambil seolah-olah menimbang-nimbang hal yang dijanjikan Bethoven padanya.
Sementara Bethoven menunggunya dengan wajah yang sangat memelas, membuat Johan ingin tertawa tapi ditahannya.
“Baiklah akan saya kirimkan alamat nona Diva lewat pesan saja.” Jawab Johan sambil mengeluarkan ponselnya. “Nah sudah.” Katanya lagi.
Bethoven segera membukan ponselnya dan matanya langsung bebinar.
“Terima kasih paman.” Katanya langsung pergi meninggalkan Johan.
“Hahahah…. Sayang sekali aku tak berani mengambil foto kamu tuan muda saat kamu menampilkan wajah memelasmu. Hahahaha….” Ucap Johan kemudian berlalu dari tempatnya.
Bethoven segera melajukan motornya. Dalam pikirannya sekarang hanya memesan satu buket mawar merah dan putih yang akan dikirimkannya ke rumah Diva. Lalu dia akan belanja parfum baru dan baju baru, karena dia berencana mendatangi Diva malam ini.
Ditempat lain.
“Bagaimana, apakah kalian sudah siap dengan tuntutan kalian?” Tanya Ferdi pada dua pengacara yang kini duduk didepannya.
“Kami sudah mempersiapkannya tuan. Belum seratus persen, tapi setelah dua hari batas waktu dari somasi kita habis dan mereka tidak melakukan seperti yang kita minta, maka saya harap anda bersedia untuk ikut dalam proses laporan ke pihak kepolisian tuan.”
“Bagus. Bagus. Hahahaha…” Tawa Ferdi menggema. “Kamu akan menyerah dan kembali pada Nab, dan Diva akan menjadi putriku. Hahahaha….”
Riiingg…
Ponsel Ferdi berdering membuat Ferdi menghentikan tawanya. Dilihatnya nama papa tertera dalam layar. Segera dia mengangkatnya.
__ADS_1
“Iya pah, beres. Semua sudah on the track.” Jawab Ferdi cepat.
Bersambung…