
Cuplikan eps. sebelumnya…
“Kenapa sih orang mesum itu harus ada disini?” Gerutu Diva.
Tanpa terasa hari telah malam. Proses kegiatan syuting pun dihentikan.
\===o0o===
Malam semakin larut. Kini hanya tinggal beberapa orang saja yang terlihat sibuk berlalu lalang di villa besar tempat seluruh pemain dan kru bermalam.
Diva tiba-tiba tidak bisa memejamkan matanya untuk tidur. Meskipun kondisi alam pegunungan begitu sejuk dan tubuhnya begitu lelah karena kerjanya hari ini, namun fikirannya selalu tertuju pada Bethoven yang tiba-tiba muncul dan ikut sebagai pemeran figuran hari ini. Tanpa sadar otak kecil Diva terus terbayang potongan-potongan kejadian saat bersembunyi di tempat penimbunan benda rongsokan, dan sekarang ditambah adegan digendong oleh Bethoven. Dalam rebahnya diatas kasur yang disediakan untuknya tanpa sadar kedua telapak tangannya meraba dadanya sendiri.
“Sial!!! Kenapa kamu selalu tersentuh oleh kak Bethoven?” Maki Diva lirih sambil meremas dadanya sendiri. “Dan kenapa aku terus terbayang akan hal itu? Kenapaaaaa….???”
Diva memutuskan untuk berjalan-jalan di pelataran depan vila kemudian dia duduk di kursi taman yang membelakangi rumah utama vila. Dia berharap bisa segera mengantuk ketika menikmati hembusan angin malam. Diliriknya jam yang melingkar dipergelangan tangan kirinya. Jam setengah dua belas, batin Diva.
“Hei… Kebetulan kamu ada disini.” Tampak sang sutradara bertubuh tambun dan kedua asistennya menghampiri Diva yang sedang duduk sendirian.
Sutradara itu lalu duduk disebelah Diva, sementara kedua asistennya berdiri dibelakang mereka.
“Besok akan ada sedikit perubahan naskah. Barusan kami selesai miting dan diputuskan untuk menambahkan satu pemeran pembantu baru. Yaitu cowok figuran tadi siang. Aku harap kamu bisa cepat beradaptasi dengan perubahan itu.”
“A-apa?” Diva terkejut bukan kepalang. Bibirnya terbuka dan membentuk lingkaran besar, sementara matanya terbelalak seakan ingin melepaskan diri.
“Benar. Dia akan menjadi sahabat baru kamu di cerita ini. Dan perubahan ini sudah disetujui oleh produser.” Jelas sutradara datar dan dingin. “Oh ya, kenapa kamu belum tidur sekarang? Setahuku kamu ini gampang tidur kalo
di lokasi syuting?”
“Ga tahu bang, tiba-tiba ngantuknya hilang pergi entah kemana?”
“Halah! Sok-sok an puitis.” Timpal assisten sutradara dua dengan wajah masam. “Awas ya kalo besok pagi ngeluh ga bisa konsen karena kurang tidur.”
“Iya kak, sebentar lagi juga pergi tidur kok.”
“Oke, abang harap kamu bisa cepat beradaptasi dengan perubahan ini. Juga kamu cepat istirahat, besok syuting kita mungkin akan lebih lama dari hari ini.”
Diva hanya mengangguk dua kali sebagai jawabannya. Sutradara itu lalu beranjak pergi diikuti kedua asistennya. Kembali Diva termenung mencoba mengerti apa yang sedang terjadi. Lagi-lagi Bethoven harus berada didekatnya tiap hari, dan itu terjadi seolah ada tangan-tangan berkuasa yang mengaturnya.
“Boleh aku duduk?”
Tiba-tiba terdengar Bethoven berkata membuyarkan lamunan Diva. Gadis itu mendongak dan melihat Bethoven dengan t-shirt putih ketat dan celana jeans biru telah berdiri didepannya.
“Untuk apa? Aku akan berangkat tidur sekarang.” Tanya Diva datar.
“Beri waktu lima menit untuk aku berbicara dan minta maaf juga mendapatkan kata maaf darimu.”
“Hmm…”
“Diva, sungguh aku minta maaf atas ketidak sengajaan perbuatanku waktu kita bersembunyi tempo hari. Sungguh itu tanpa kesengajaan. Tolong maafkan aku.”
Diva diam tak berkata sepatah katapun membuat Bethoven bingung harus berbuat apa lagi untuk meyakinkan Diva, bahwa dia benar-benar tidak sengaja melakukan hal yang terkesan amat mesum itu.
Diva mengalihkan pandangannya kearah lain.
“Please Diva… aku mohon maafkan aku. Aku sungguh tidak sengaja melakukannya. Itu hanya reflek.” Tiba-tiba Bethoven berlutut di depan Diva yang sedang duduk dikursi taman itu.
__ADS_1
“A-apa yang kakak lakukan? Kenapa kakak berlutut didepanku?” Sergah Diva bingung dan salah tingkah melihat perbuatan Bethoven.
“Aku ingin mendapatkan maaf darimu Diva. Hatiku tidak tenang dan terus dihantui perasaan bersalah karena telah menyentuh tubuh kamu.”
“Bang-bangkit dulu kak… aku malu dilihat yang lainnya.” Jawab Diva sambil matanya mengedarkan pandangannya dan melihat beberapa kru yang masih mondar-mandir mempersiapkan kebutuhan syuting besok pagi tampak berhenti dan melihat kearah mereka.
“Maafkan aku dulu. Please… kumohon…”
“Baiklah. Kakak aku maafkan. Cepat bangkit kak. Aku malu.”
“Benarkah?”
“BENAR KAK! Kalau kakak ga berdiri sekarang aku tak akan pernah memaafkan kakak selamanya.” Bentak Diva yang mulai hilang kesabaran karena malu tak tertahankan.
“Terima kasih Diva. Terima kasih. Thanks God because of You, she forgive me now.” Teriak Bethoven memecahkan keheningan malam itu.
“Kakak…. Ini sudah tengah malam.”
“A… aa… maaf… maafkan aku, maafkan aku.”
[Kilas balik dimulai]
“Hari ini adalah hari terakhir masuk sekolah, dan aku belum mendapatkan kata maaf dari Diva. Bagaimana ini?” Bethoven bermonolog didalam kamarnya.
Seharian ini setelah permintaan maafnya tidak digubris Diva saat bertemu di sekolah, membuat suasana hati Bethoven tidak menentu. Fikirannya kalut, entah mengapa.
“Kenapa aku tak mampu melupakan semua itu. Toh aku tak sengaja melakukannya. Kenapa pula aku terus merasa berdosa seperti ini? Hrghghg!!!”
Bethoven menjambak rambutnya kesal. Dia sekarang seperti orang gila. Ingin marah, ingin tertawa dan menangis dalam satu waktu dirasakan didalam hatinya.
Hening.
Detik waktu terus berputar mendorong menit berlalu berganti jam. Beberapa jam Bethoven terdiam didalam kamarnya. Hingga suara ketukan di pintu kamarnya membuyarkan kecamuk fikirannya.
“Ya.” Jawab Bethoven dengan malas.
“Tuan muda, papa anda menunggu anda untuk makan malam.”
“Baiklah. Aku akan bersiap sebentar lagi.”
Lima menit kemudian Bethoven telah tiba di meja makan. Terlihat papanya telah menunggu ditemani mamanya dan juga paman Johan asisten pribadi papanya.
“Malam pa, ma, paman Johan.” Sapa Bethoven pelan, lalu dia mengambil kursi tempatnya duduk.
Tidak ada yang menyahuti sapaan Bethoven, hanya anggukan kepala dan senyuman yang termunculkan disana. Bethoven lalu duduk.
Beberapa saat kemudian acara makan malam telah selesai. Bethoven bermaksud langsung kembali ke kamarnya.
“Ada apa dengan putra ganteng mama ini?” Tanya Josephira mencegah Bethoven yang akan berlalu.
“Eh, ga ada apa apa mah.”
“Ayolah… cerita sama mama sayang. Kamu terlihat tidak seperti biasanya loh.”
“Eengg….”
__ADS_1
“Ayolah… atau kamu mau kita berbicara berdua saja?”
“Eee… hanya masalah kecil ma… tapi bikin Betho tak bisa tidur.” Jawab Bethoven lalu mengambil segelas air putih dan langsung meminumnya.
“Pasti karena Diva. Iya kan?” Terka Bram papanya dengan tersenyum lebar.
“P-papa kok tahu?”
“Iya… kok kamu tahu sayang?” Timpal Josephira heran melihat terkaan suaminya tepat.
“Tahu dong… pasti ada sesuatu yang terjadi saat kalian dikejar-kejar waktu itu kan?”
“I-iya pa… tapi Betho malu untuk cerita.”
“Hahahaha….” Bram tertawa keras mendengar jawaban putranya. Meskipun Bram tak tahu pasti apa yang terjadi. Sebenarnya Bram hanya menerka asal saja.
“Sudahlah tidak usah terlalu kamu fikirkan. Kamu baru saja naik kekelas IX, dan kamu harus lulus dengan tahun depan. Lupakan dulu Diva, kamu fokus belajar saja ya.” Pinta Bram.
“Aku sudah berusaha melupakannya pa… tapi Diva yang marah padaku dan belum memaafkan aku masih terus menghantui fikiranku pa.”
Josephira baru mengerti kalau putra semata wayangnya kini telah mengenal cinta. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar perkataan putranya.
Oh, anakku sudah dewasa sekarang. Batin Josephira dengan senyuman terlukis diwajahnya. Entah apa yang kau rasakan ini nak, entah itu cinta monyet ataukah cinta pertamamu mama berjanji akan membantumu sebisa mungkin agar kamu bahagia.
“Memangnya apa yang tuan muda lakukan hingga nona Diva marah?” Tanya Johan ikut berbicara.
Meskipun Johan hanya asisten pribadi, tapi Bram tidak terlalu kaku dalam urusan diluar pekerjaan kantor seperti ini. Berbeda hal jika itu sudah urusan kantor, Johan tidak akan berani bertanya sebelum diijinkan oleh Bram.
“Aku malu menceritakannya paman.” Jawab Bethoven sambil menundukkan kepala.
“Ayolah anakku, kalau kamu tidak bercerita jujur bagaimana kami akan membantumu?” Imbuh Josephira.
Dengan berat Bethoven akhirnya menceritakan semua kejadiannya dengan detil. Bram dan Johan tertawa mendengar kejadian itu. Berbeda dengan Josephira yang pipinya langsung memerah membayangkan wajah
putranya yang merasa malu saat diingatkan Diva perihal salah meletakkan tangannya, juga bagaimana reaksi putranya yang merasa terangsang karena harus terpaksa menindih tubuh Diva.
“Aish… kalian ini kenapa malah mentertawakan Betho hah?”
“Maaf nyonya… maafkan saya. Saya tertawa bahagia karena itu artinya tuan muda telah dewasa nyonya.” Jawab Johan setelah berhenti tertawa begitu mendengar bentakan Josephira.
“Bram…” Josephira mengalihkan pandangannya pada sang suami yang masih tertawa.
“Sori… sori… Betul kamu Johan. Kamu betul.”
“Johan, carikan cara agar Betho bisa meminta maaf pada Diva.” TItah Josephira tegas.
“Tapi, besok sudah tidak mungkin lagi bertemu Diva disekolah mah.” Bethoven menjelaskan pada mamanya.
“Benar, dan tiga hari lagi nona Diva akan melakukan syuting untuk sinetron terbarunya. Jadi akan semakin sulit untuk sekedar berbicara kecuali tuan muda bisa bermain dalam satu frame dengan nona Diva.” Jawab Johan.
“Kalau begitu atur agar Bethoven bisa syuting bersama Diva.” Titah Bram. “Kamu bersediakan mengorbankan waktu liburmu untuk bekerja?” Sekarang Bram mengalihkan kalimatnya pada putranya.
Bersambung…
\==============
__ADS_1