MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)

MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)
Eps. 19 KEPO


__ADS_3

Cuplikan Eps. sebelumnya…


“APA?! Hadeeh… nih anak ditinggal meleng dikit aja udah bikin cemas.” Seru Adli saat melihat pesan dan lokasi yang dibagikan oleh Diva dan juga sopir sekaligus pengawal Diva.


Adli langsung menelpon kedua orang suruhannya itu untuk mengamankan dan menjemput Diva.


“Cepat kalian jemput Diva. Jangan sampai terjadi hal yang bisa melukainya. Kalau sampai itu terjadi kalian harus menanggung akibatnya karena telah lalai. Dan juga langsung bawa pulang. Aku tunggu kalian disana.” Perintah Adli melalui telpon pada sopir Diva.


\=\=\=o0o\=\=\=


Diva telah keluar dari mobil yang menjemputnya dan langsung memasuki rumahnya. Didalam dia sudah ditunggu oleh Adli dan Minah.


“Duduk Diva.” Perintah Adli dengan tegas dan terkesan sangat marah pada Diva.


Diva langsung duduk di sofa. Kepalanya tertunduk, dia sangat takut sama Adli yang sudah dianggap seperti papanya sendiri. Dia ingin meminta maaf, tapi ketakutan lebih menguasainya.


“Kamu tahu apa kesalahan kamu?”


Diva hanya mengangguk pelan, “iya om, Diva salah keluar tanpa berpamitan dan pengawal yang om sediakan. Maafkan Diva om, Diva menyesal sekarang dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi om.” Jawab Diva pelan dengan kepala tetap tertunduk dalam-dalam.


“Hggrh…” Adli begitu geram. Dia tahu segala rencana yang telah disusunnya akan berantakan dengan penolakan dari Nabila kalau sampai terjadi sesuatu pada Diva. Tapi Adli juga menyadari kalau di usia Diva ini masih senang berlaku teledor dan jarang memikirkan efek dari tindakannya.


“Aah… sudahlah yang penting kamu selamat. Kuharap ini menjadi pelajaran bagi kamu.”


“Iya om. Sekali lagi maafkan Diva om.”


“Hmmm…”


Beberapa saat mereka terdiam dengan posisi masing-masing.


“Sudah… sudah… kamu sekarang ganti baju kamu dulu nak, terus makan. Ibu sudah siapkan dimeja makan.”


Diva masih terdiam, tidak berani beranjak dari tempatnya.


“Ya sudah, kamu ganti baju dulu, terus makan dan istirahalah. Aku akan balik ke kantor dulu.”


Malam harinya di rumah besar Bram dan keluarga.


“Betho, papa ingin berbicara sama kamu dulu.” Bram berkata dengan nada dingin dan datar pada putranya sehabis makam malam bersama. “Tunggu didalam ruang kerja papa.”


“Iya pa.” Jawab Bethoven dengan wajah murung. Dia sangat takut papanya akan marah karena kejadian tadi siang.


Telah beberapa saat Bethoven duduk di sofa dalam ruang kerja papanya. Dia masih menunggu ritual sehabis makan malam yang biasa dilakukan kedua orang tuanya di meja makan.


Hmm… mama pasti sedang membahas kegiatan papa, begitu juga sebaliknya. Semoga saja cepat selesai, biar aku bisa segera masuk kekamarku. Rasanya semakin menakutkan berada disini menunggu dimarahi, batin Bethoven dalam hatinya.

__ADS_1


Pintu ruang kerja itu terbuka, Johan asisten pribadi Bram masuk. Setelah tahu bahwa Bethoven sedang duduk didalam situ, dia membungkukkan badannya dan berdiri di dekat meja kerja Bram dan berdiam disana.


Lima menit kemudian Bram memasuki ruangannya lalu duduk di depan Bethoven.


“Hhmm… Kamu tahu kenapa sekarang papa ingin berbcara dengan kamu?”


“Iya pa. Soal tadi siang kan? Bethoven minta maaf pa. Betho hanya ingin mentraktir seorang teman tanpa ada pengawal. Betho hanya ingin sedikit mendapat privasi papa.”


“Beruntung mereka tidak berhasil menangkap kalian….”


“UHUK… UHUK!” Johan terbatuk dengan suara yang cukup keras.


“Aish.. Johan, kamu tahu aku sedang berbicara dengan putraku, dan batukmu itu sangat mengganggu telingaku. Cepat minum obat batuk sana!”


“Maaf tuan, saya terpaksa menyela pembicaraan tuan.”


“Kenapa?”


“Kemungkinan yang dikejar oleh pengawal tuan Rudi bukan tuan muda Bethoven, melainkan temannya. Karena berdasar informasi yang kami dapatkan, putra tuan Rudi, Ferdi, yang bintang sinetron itu merasa tertarik dengan teman tuan muda.”


“Kamu sudah menyelidikinya? Itu artinya si Rudi sudah tahu anak buahnya telah mengejar-ngejar putraku?”


“Benar tuan, tadi sore saya langsung mendatangi tuan Rudi dikantornya lalu menjelaskan semuanya dan meminta pada tuan Rudi untuk tidak lagi membuat masalah. Setelah saya mengatakannya, ternyata tuan Rudi tidak tahu menahu, sehingga beliau memanggil kepala keamanannya. Dari sanalah cerita yang saya ceritakan tadi berasal tuan.”


“Hmm…”


Johan lalu menyerahkan stopmap coklat berisi profil Ferdi. Bram pun menerimanya, tapi tidak langsung membukanya. Kini dia mengalihkan pandangannya pada Bethoven yang masih duduk didepannya dan menyimak pembicaraan antara dirinya dan Johan.


“Kamu keluar dulu ya. Kali ini papa maafkan tapi tidak ada maaf lagi jika hal ini terjadi. Kamu mengerti Bethoven?”


“I-iya pa.”


Bethoven lalu berdiri dan keluar dari ruang kerja papanya.


“Johan…” Setelah lama melihat profil Ferdi, tiba-tiba Bram terbelalak membaca salah satu nama sebagai mantan kekasih Ferdi.


“Iya tuan.”


“Kalau melihat profil ini, kamu yakin data kamu ini valid?”


“Saya yakin hanya enam puluh persen saja tuan. Karena saya juga mensurvei dari berita-berita koran lama di internet. Jadi ada beberapa data situ bisa dikatakan hanya gossip.”


“Kalau nama Nabila yang tertera sebagai salah satu daftar gadis yang pernah dipacari oleh Ferdi?”


“Itu sekitar sembilan puluh persen tingkat kebenarannya. Karena banyak rekan profesi dan teman main di sinetron yang sama yang menceritakan itu tuan. Hanya tidak bisa dikonfirmasi langsung pada nona Nabila atau manajemennya.”

__ADS_1


“Oke, anggaplah data tentang hubungan Nabila dan Ferdi ini valid, apakah ada kemungkinan Nabila dulu menghilang dari publik karena hamil, lalu bersembunyi dan melahirkan?”


“O, saya belum sejauh itu tuan dalam menyelidikinya.” Jawab Johan sambil menggaruk-garuk ujung kepalanya meskipun tidak gatal. Ternyata tuan Bram ini suka kepo? Juga suka gossip murahan. Sungguh aku tak menyangka. Batin Johan sambil tangannya terus menggaruk.


“Hmmm…”


“B-baik tuan, jika data itu valid…. Saya tidak mengerti arah tujuan anda tuan Bram. Maaf.”


“Maksudku begini Johan. Aku tadi sangat heran sewaktu kamu berikan profil teman Bethoven. Wajah dia itu sangat mirip dengan Nabila, bisa dikatakan dia adalah Nabila dimasa muda.”


Johan hanya menyimak dengan seksama dan mengangguk-anggukan kepala saja.


“Apakah ada kemungkinan pengawal Rudi itu disuruh menangkap anak hasil hubungan Ferdi dan Nabila, yang sampai saat ini dirahasiakan oleh Nabila.”


“Bisa jadi tuan, apakah tuan ingin saya menyelidikinya?”


“Sepertinya Bethoven telah dewasa dan mulai mengenal cinta. Johan selidiki latar belakang Diva, aku ingin tahu siapa dia sebenarnya.”


“Baik tuan, akan saya laksanakan.”


Diwaktu yang sama di tempat lain.


“Bos, ada telepon dari papanya bos.” Kata Joe asisten pribadi Ferdi seraya menyerahkan ponselnya.


“Aish, kenapa ga katakan aku lagi sibuk syuting aja sih. Menyebalkan!”


“Tapi bos, papanya bos bilang kalo bos tidak mau angkat telepon ini, kartu kredit bos akan diblokir malam ini juga.” Joe tetap menyodorkan ponsel dengan menutupi mikroponnya.


Ferdi menyambar ponsel dari tangan Joe dengan wajah geram.


“Iya pa.”


“……”


“Baik pa, aku pulang sekarang juga.”


Ferdi lalu melemparkan ponsel Joe ke jok dengan emosi. Joe yang tahu itu segera berusaha menangkapkap ponselnya agar tidak terjatuh atau terbentur pintu mobil yang keras.


“Sopir, putar balik. Kita pulang sekarang!” Perintah Ferdi penuh amarah.


“Kita ga jadi dugem bos?” Tanya Joe pelan.


“Ini semua gara-gara kamu, goblok! Coba kalau telpon itu tidak kamu angkat, kita sekarang pasti sudah berada di pub dengan gadis-gadis cantik.”


“Maaf bos… maaf…” Jawab Joe dengan wajah memelas. Sementara hatinya ngedumel, kalo ga kuangkat aku yang dipecat sama papa kamu bos. Dasar bos edian.

__ADS_1


Bersambung….


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2