
“Aduh, bagaimana bisa sih Diva? Kamu ini. Ga biasanya loh ceroboh seperti begini?” Omel Nabila saat diberitahu oleh Diva perihal hilangnya ponsel.
“Maaf ma, aku juga bingung. Padahal ponsel yang ini tuh diluar tas. Malah ga hilang. Yang itu didalam tas justru raib?”
“Kamu beneran ga lupa taruh? Coba kamu misscall lagi. Siapa tahu jatuh dimana gitu?”
“Udah mah, dari kemarin malam ada seratusan kali aku misscall tapi tak bisa terhubung mah. Aku jadi yakin kalau itu dicuri. Tapi kapan dan kenapa?”
Nabila menghela nafasnya dalam-dalam. Tersirat rasa kekuatiran akan ada masalah baru akibat hilangnya ponsel itu, tapi langsung ditepisnya perasaan kuatir itu karena dia takut kalau semakin dikuatirkan perasaan itu akan menjadi kenyataan.
“Tapi, didalam sana tak foto-foto kamu yang vulgar kan?” Selidik Nabila lagi memastikan.
“Tidaklah mah, Diva ga punya hobi mengagumi keindahan tubuh orang lain, apalagi diri sendiri. Bahkan foto berdua sama kak Betho saja tidak ada. Disana hanya foto aku dan mamah. Karena ponsel itu memang aku khususkan untuk berhubungan dengan mamah dan ibu saja. Soalnya dulu aku kan selalu titip ke asisten, nah karena sudah biasa jadinya aku selalu bawa dua ponsel mah.”
“Ah syukurlah. Tapi kenapa sepertinya ada yang membuat mama risau ya?”
“Sudahlah. Tenangkan diri kalian. Karena sudah terlanjur, kita hanya bisa berdoa saja. Semoga ponsel Diva itu ga dicuri sama orang yang berniat jahat, tapi dicuri orang yang butuh duit saja atau terjatuh dan sudah terlindas mobil.” Tukas Minah yang sedari tadi hanya mendengarkan saja menengahi. Sejujurnya dia juga gelisah. Tapi hanya bisa pasrah saja atas apa yang telah terjadi.
“Aamiin.” Jawab Diva dan Nabila serentak setelah mendengar doa Minah tadi.
“Ya sudahlah. Kita pasrahkan saja sama Allah Ta’ala, semua ini pasti sudah diatur oleh Nya. Kita hanya bisa menunggu dan berharap yang terbaik saja.” Timpal Nabila pasrah.
Diva menganggukkan kepala saja. Dia juga sudah tak tahu lagi harus berbuat apa selain menunggu dan berpasrah kepada Allah.
Empat hari berlalu.
Perasaan Nabila dan Diva semakin tenang dan mulai bisa melupakan ponsel yang hilang. Rasa kekuatiran akan terjadi permasalahan yang tak diinginkan mulai terkikis.
Siang itu.
Nabila sedang memandang keluar jendela mobilnya mengusir rasa jenuh karena harus menempuh tiga jam perjalanan untuk balik kerumahnya, setelah melakukan kegiatan diluar kotanya. Seperti biasanya dia selalu ditemani sopir dan dua asisten kemayunya, Sadil dan Wawan. Perjalanan balik ini lancar tak ada aral, hanya saja dua asisten yang selalu meramaikan suasana sepertinya sedang sariawan atau apalah, sehingga keduanya memilih tak bersuara.
“Oma! Bang Adli Oma. Bang Adli.” Teriak Sadil sambil mewek.
“K-kenapa?” Nabila sangat kaget hingga hampir saja melompat kalau saja dia tak ingat dirinya sedang didalam mobil yang melaju.
__ADS_1
“Ini oma, pesan untuk oma.” Ujar Sadil seraya menyerahkan ponsel yang dipegangnya.
“Aduuuh, gimana ini?” Wawan ikutan heboh dengan gaya kemayunya.
“Loh bang Adli dibawa lari ke ICU? Sakit apa ya?” Tanya Nabila setelah membaca pesan dalam ponselnya. “Aku akan telepon bu Nesy saja.”
Nabila segera menelpon Nesy, sekretaris Adli.
“Halo assalamualaikum.”
“Waalaikumusalam. Kamu cepat balik ya Nab. Tadi pak Adli khusus berpesan agar kamu langsung dibawa masuk ke ICU jika sudah tiba.”
“Memangnya abang sakit apa sih bu Nesy?”
“Kayaknya sih serangan jantung, tapi sekarang sudah siuman kok.”
“Kok kayaknya?”
“Iya, aku juga belum sempat berbicara dengan pihak keluarga dari pak Adli. Hanya saja tadi dapat pesan bahwa kamu atau Diva yang datang harus langsung dibawa masuk ke ICU.”
“Belum sih, masih otewe katanya. Kamu ini masih dilokasi atau sudah arah pulang?”
“Sudah arah pulang bu, tapi masih sekitar satu jam lagi lah kalau lancar sudah bisa di rumah sakit.”
“Baiklah, aku akan memberitahu perwakilan keluarga kalau kamu sudah dalam perjalanan kalau begitu. Cepetan ya, kayaknya pak Adli ingin berbicara khusus denganmu.”
“Iya bu. Aku usahakan.”
Lalu sambungan telepon ditutup.
“Pak rada cepat ya dan kita langsung menuju rumah sakit xxx.”
Sementara itu.
Diva dengan dibonceng Bethoven sudah memasuki halaman parkir rumah sakit xxx. Dengan cepat keduanya langsung berlari menuju ICU.
__ADS_1
Diva dengan mata sembab berlari. Dan karena sangat terburu-buru berkali-kali dia hampir menabrak pengunjung rumah sakit lainnya. Setelah tiba didalam elevator yang langsung terhubung dengan lantai dimana ruang ICU berada, Diva menumpahkan tangisnya dalam pelukan Bethoven.
“Sudahlah Diva, om Adli mungkin hanya kecapean. Jangan histeris seperti ini dong, seolah-olah om Adli sudah meninggal saja.” Ucap Bethoven menenangkan Diva yang memang sangat mudah tersentuh dan menangis.
“Tapi kak, om Adli itu ga pernah sakit selama ini. Sekali sakit langsung masuk ICU, aku takut kak.”
“Iya, tapi lebih baik kamu berdoa saja yang terbaik. Jangan berpikir terlalu jauh dulu.”
“Iya kak.” Jawab Diva seraya menyeka air matanya dengan tisu.
Sementara itu di rumah besar Bram.
“Bagaimana Johan semuanya sudah kamu urus?”
“Sudah tuan Seperti yang tuan Bram minta tiga hari lagi tuan sudah bisa terbang ke London.”
“Bagus. Mungkin aku akan terus berada disana sampai program terapi Josephira selesai. Kata dokter Camila, bila hasil operasinya bagus lalu program terapinya berjalan sesuai dengan harapan. Paling lama dua tahun lagi Josephiraku bisa berjalan seperti dulu lagi dan paling cepat sekitar satu tahun.” Bram menjeda sebentar lalu melanjutkan kalimatnya. “Urusan kantor dan pekerjaan disini kamu yang tangani semuanya. Aku akan mengawasi dari kantor cabang kita di London. Beruntung dulu aku memilih London bukannya memilih Manchester saat ingin buka kantor cabang di UK*).”
“Iya tuan, lima tahun lalu saat kita harus membuka kantor cabang di UK, kita dihadapkan pada dua pilihan, dan tuan bersikeras memilih London. Padahal menurut saya seharusnya kita memilih Manchester karena view didepan gedung kita waktu itu lebih bagus dan juga harganya jauh lebih murah.”
“Hahahaha... Benar. Ah sudahlah.” Timpal Bram. “Oh, selama aku di UK kamu juga harus merawat rumah besar ini lalu memberikan pengawasan pada Bethoven. Meski tanpa diawasi aku percaya dia tak akan melenceng jauh, tapi entahlah aku merasa dia harus dijaga. Beri dua pengawal yang mengawasinya dari jauh. Aku tak mau harus bertengkar dengan Bethoven perihal dua pengawal yang menjaganya.”
“Baik tuan.”
“Satu lagi. Jangan sampai Naginisa masuk rumah besar ini selagi kami di London dan juga jangan sampai dia tahu kami berdua di London. Mengerti?”
“Mengerti tuan. Ada lagi tuan?” Tanya Johan.
“Hmm, sepertinya semuanya sudah. Sekarang mana laporan yang harus aku periksa?”
Bersambung...
______________
*Footnote : )UK = United Kingdom (Kerajaan Inggris)
__ADS_1