
Cuplikan eps. sebelumnya…
“Ough, apa ini?” Batin Bethoven dalam hati. Dia segera menjauhkan lehernya dari wajah Diva. Sekilas dia melihat Diva sedang berusaha menjilat lagi seluruh batang lehernya. Bethoven mengelap area lehernya yang kini basah karena jilatan Diva.
“Diva apa yang kamu lakukan?”
Diva kembali tidak menjawab. Kembali kedua lengannya menarik tubuh Bethoven hingga pemuda ini kembali jatuh dalam dekapannya.
\=\=\=o0o\=\=\=
Diva mendorong tubuh Bethoven hingga pemuda itu kini terbaring diatas kasur. Dengan cepat Diva duduk tepat diatas pangkal paha Bethoven, lalu mendekatkan wajahnya dan mulai menciumi wajah pemuda tampan itu. Tangan Diva tak tinggal diam, kedua tangannya mulai membuka kaos tanpa lengan yang membalut tubuh Bethoven.
“Di… va…. A-apa yang ka… mu laku…kan? Hentikan Diva…. Ini salah. Ouhg…”
Tanpa bersuara ciuman Diva kini telah berada di dada bidang Bethoven, lidahnya terjulur menjilati dada kekar itu, hingga tanpa sadar bibir Bethoven melenguh tertahan. Jemari Diva menari-nari diatas permukaan kulit perut pemuda tampan ini yang mirip roti sobek. Terkadang kuku Diva sedikit ditekan hingga Bethoven merasakan sensasi kenikmatan.
Bethoven berusaha keras mengumpulkan segenap akal sehatnya menghalangi sensasi-sensasi nikmat yang menjalari tubuhnya. “Apa yang terjadi denganmu, kenapa kamu melakukan hal seperti ini? Jangan Diva, kita belum saat melakukan ini… Hentikan!”
Tapi gadis cantik itu seolah kerasukan. Dia tidak menggubris segala larangan yang diucapkan Bethoven. Lidahnya terus menyapu setiap centimeter permukaan kulit Bethoven.
Tubuh Bethoven semakin menegang menerima serangan kenikmatan dari gadis cantik didepannya. Bethoven melihat kepala Diva terus mengarah kebawah tubuhnya, sesekali tatapan mata sayu nan menggoda dilemparkan Diva, lalu meneruskan kembali kegiatannya tanpa berkata sepatah katapun.
Kini jemari Diva mulai bergerak pada inti tubuh Bethoven. Tangannya berusaha melepaskan kain berbentuk segi empat sepanjang lutut Bethoven itu.
“JANGAN! HENTIKAN DIVA!”
Bethoven membentak dan mendorong gadis itu untuk menjauh dari tubuhya. Tubuh Diva sedikit terpelanting dan terguling diatas kasur. Tapi secepat itu juga Diva bangkit, wajahnya terlihat memerah dengan sorot mata berubah tajam menatap kearah Bethoven yang sudah duduk ditepi ranjang.
Diva pun tak kalah sigap. Dia juga langsung bangkit dan merangsek maju kearah Bethoven. Dia mendorong tubuh Bethoven hingga terjerembab kebawah ranjang.
Brugh!
“Aww!” Bethoven memekik dan merasakan sakit dikepalanya yang terantuk lantai kamarnya.
Hah, kamarku tiba-tiba terang benderang? Batin Bethoven sambil mengedarkan pandangannya. Dia melihat keatas ranjang, tidak ada siapapun disana.
“Sialan, ternyata hanya mimpi.” Runtuk Bethoven. “Menyebalkan kenapa aku jadi semesum ini? Bisan-bisanya aku mimpi Diva datang menyerahkan tubuhnya padaku.” Kembali Bethoven bermonolog sambil menggaruk ujung kepalanya.
__ADS_1
Pagi yang sama, dirumah Diva.
“Udah bangun cantik?” Tanya bu Minah pada Diva yang baru keluar dari kamar tidurnya.
“Udah ibuku sayang, ibu juga sangat cantik pagi ini.” Jawab Diva lalu memeluk bu Minah yang sedang menata makanan dimeja makan dari belakang.
“Hari ini pak Adli tidak membolehkan kamu berangkat sekolah. Besok baru boleh karena harus mengambil raport. Oh ya, kamu periksa email kamu ya, kata pak Adli beliau sudah email naskah untuk syuting kamu minggu depan. Seperti biasa, kamu disuruh untuk mempelajari dan mencoba menghayati peran kamu.” Bu Minah menjelaskan apa yang harus dilakukan Diva hari ini berdasar perintah dari Adli. Lalu memutar tubuhnya dan memandang wajah Diva yang seketika mengerucutkan bibirnya. “Hadeeeh… anak ibu ini…”
“Oh ya bu, mama Nabila hari ini pulang kan?”
“Gitu sih rencananya. Emang kenapa? masih kurang omelan lewat telepon kemarin?”
Diva kembali mengerucutkan bibirnya. Dia masih teringat hampir satu jam dia harus menerima omelan dari mama Nabila nya kemarin malam.
Semua ini gara-gara cowok mesum itu! Gerutu Diva dalam hati.
Seketika fikirannya melayang pada kejadian dikejar-kejar orang-orang misterius kemarin siang. Entah mengapa fikirannya sangat jelas terekam sensasi-sensasi yang ditimbulkan Bethoven waktu bersembunyi didalam kulkas bekas itu, begitu juga dengan adegan telapak tangan Bethoven yang menghalangi dadanya. Tanpa sadar wajah Diva perlahan memerah teringat itu semua.
“Nak, kamu sakit? Perasaan kok sekarang wajah kamu tiba-tiba memerah ya?” Tanya bu Minah yang kini sudah duduk di kursi mengahadap meja makan dengan wajah kuatir.
“Ah, eh, gak bu. Aku ga papa kok.” Jawab Diva gelagapan.
Hari telah beranjak siang. Di apartemen Ferdi.
Ferdi masih malas untuk bangun dari tempat tidurnya. Dengan terlentang diatas kasur matanya tajam menatap langit-langit kamarnya.
“Bagaimana caraku agar aku tahu status Diva sebenarnya? Atau emang sekarang setatus Diva itu memang benar bukan anak Nabila, hanya wajahnya mirip dengan Nabila?” Gumam Ferdi.
Perlahan ingatannya melayang pada kejadian beberapa waktu lalu dicafe bersama Nabila.
“Jika Diva bukan putriku, kenapa Nabila begitu marah hingga menusukkan garpu ketanganku? Aku harus mencari cara untuk tahu yang sebenarnya. Harus! Tapi bagaimana? Arrrrghh… pusiiiinggg….”
Ferdi duduk dari tidurnya dan memukul-mukul kepalanya sendiri. Dia merasa sangat jengkel karena bingung tidak tahu harus berbuat apa. Ferdi berdiri dari duduknya lalu berjalan menuju cermin. Dipandangi wajahnya sejenak disana.
“Hei, tunjukkan caranya mendapat info itu jika memang dia adalah putriku?” Ferdi bermonolog seolah memerintahkan bayangan dirinya didalam cermin untuk ikut berfikir. “Jadi… seperti itu? Kamu menyuruhku untuk mendekati Nabila lagi? Kamu fikir Nabila akan semudah dulu? Oh begitu? Jadi pesonaku masih bisa diandalkan ya untuk bisa mendekati Nabila lagi? Oke, oke… aku akan lakukan saranmu.” Kembali Ferdi seolah berdialog dengan sosok orang lain. Padahal itu hanyalah bayangan dirinya sendiri didalam cermin.
Hari telah beranjak sore.
__ADS_1
Kembali pada Diva yang kini tengah duduk didepan meja riasnya. Dengan wajah serius dia membaca naskah sekenario yang telah dicetaknya dari email yang dikirimkan Adli sang manajer.
Dalam sinetron keduanya itu, Diva didapuk menjadi pemeran utama. Padahal pada miniseri sebelumnya dia hanya mendapatkan peran pembantu saja. Tetapi karena dianggap sutradara bakat aktingnya lebih mumpuni, ceritapun sedikit dibelokkan sehingga pemeran utama dalam miniseri itu dihilangkan dan digantikan dirinya. Apalagi respon masyarakat pecinta sinetron juga lebih menyukai dirinya, sehingga fihak televisi yang membeli sinetron itu meminta agar dia yang menjadi pemeran utama.
Tok… tok… tok…
Pintu kamarnya diketuk dari luar.
“Kamu ada didalam Diva? Bolehkah mama masuk?” Terdengar suara Nabila dari balik pintu.
“Iya ma, masuk saja pintu ga dikunci kok.” Teriak Diva membalas Nabila.
Nabila membuka pintu dan langsung masuk kedalam kamar. Dia melihat putrinya itu sedang memegang kertas yang tergulung ditangannya.
“Sedang apa?”
“Ini ma, lagi mempelajari naskah. Baru tadi diemailkan sama om Adli.”
“Oh… gimana, apa ada kesulitan untuk memahami dan menghayati peran kamu itu?”
“Sepertinya sih belum ada masalah ma. Tapi… entah mengapa mood Diva hari ini terkadang hilang begitu saja hingga mengganggu konsentrasiku.”
“Hmm begitu? Memang apa yang mengganggu pikiran kamu?”
Diva tidak menjawab pertanyaan itu. Dia hanya menggerakkan kedua pundaknya keatas.
“Apa kamu masih merasa bersalah atas kejadian kemarin?”
“Hmmm… mungkin sih ma. Tapi entah mengapa aku lebih teringat pada kak Bethoven.” Jawab Diva polos.
Aih… putriku sepertinya telah mulai mengenal cinta. Tapi kenapa pula harus pada Bethoven putra kak Josephira? Batin Nabila bermonolog.
“Diva… mama tahu Bethoven pemuda yang tampan. Pantas saja kamu teringat padanya.”
Hah, bukan teringat karena dia tampan mama. Tapi karena KEMESUMAN DIA! Jerit hati Diva.
Bersambung…
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=