
“Ti-tidak aku tak mau.” Sergah Bram cepat setelah mendengar permintaan istrinya. "Pintalah yang lain saja sayangku. Untuk saat ini jangan minta yang itu dulu. aku tak akan sanggup melakukannya."
Josephira memandang wajah Bram dengan tajam mencoba mencari kejujuran disana. Matanya berkaca-kaca, lalu perlahan air mata itu meleleh. Ucapan Bram tadi terasa sangat menghinakan ego kewanitaannya.
Dia yang sudah mempasrahkan seluruh tubuhnya agar bisa memuaskan hasrat suami yang dicintainya telah ditolak mentah-mentah. Rasa terhinakan itu berubah pelan menjadi amarah yang memuncak.
“Aku sungguh seorang istri tak berguna untukmu Bram.” Ucap Josephira lirih. “Aku ini istrimu. Aku harus bisa membuatmu puas diranjang. Jamah aku sekarang juga!” Bentak Josephira.
“Tidak, aku tak bisa.” Ujar Bram seraya menggelengkan kepala. “Aku tak tega membuatmu sakit dan menderita hanya agar aku senang. Tidak, tidak sayangku. Aku tak sanggup melakukannya.”
Bram ambruk memeluk istrinya yang kini menangis hebat tanpa suara. Hanya terlihat air mata dan dadanya yang naik turun tak beraturan seolah menahan beban yang sangat berat.
“Lakukan Bram, aku memohon padamu, biarkan aku merasakan lagi menjadi istri yang sempurna untukmu. Aku akan menanggung sakit itu sendiri. Lakukan Bram, please, aku memohon padamu jamah aku, bercintalah denganku.” Ucap Josephira diantara isakannya yang semakin menjadi. Kedua tangannya memukul-mukul lemah pada punggung Bram.
Tapi Bram bergeming. Dia biarkan saja istrinya meracau, memukul, menjambak bahkan mencakar punggungnya. Dia tetap merasa tak akan sanggup melakukannya jika tahu Josephira akan kesakitan.
Entah berapa lama mereka saling berpelukan dan menangis.
Bram terbangun dari tidurnya. Dilihatnya jam di dinding kamarnya.
“Pukul lima.” Desis Bram, lalu menoleh pada istrinya yang masih terpejam. “Sayang, ayo bangun.” Ucapnya seraya mengelus pipi Josephira. “Panas?” Kepanikan seketika menyeruak diwajah Bram. Punggung tangannya dia letakkan di dahi Josephira, dan seketika rasa paniknya semakin meninggi “Sayang bangunlah, apa kamu sakit?”
Josephira hanya mengerang lirih tanpa membuka matanya. Seolah sekarang dia sangat menderita.
Bram segera mengambil ponselnya yang tergeletak datas nakas kecil disebelah kasurnya.
“Halo! Johan cepat panggil dokter Eka. Josephira tiba-tiba demam dan terlihat sangat kesakitan.” Titah Bram sangat panik.
Setelah menutup sambungan teleponnya dia pun memanggil pelayan untuk mengambilkan kompres.
Pagi itu, seluruh isi rumah besar Bram mendadak sibuk. Beruntunglah dokter Eka yang paham bagaimana kebiasaan Bram jika sudah mengenai anggota keluarganya cepat datang meski hanya memakai piyama berbungkus jas putih khas seorang tenaga medis.
__ADS_1
“Tenang Bram, untuk saat ini aku hanya bisa memberikan obat penurun panas. Tapi nanti kamu harus membawanya kerumah sakitku. Aku akan memeriksa dan menganalisanya lebih teliti.” Ujar dokter Eka, setelah melakukan pemeriksaan dan memberikan satu suntikan pada Josephira.
“Baiklah. Terima kasih Ka. Maaf merepotkanmu sepagi ini.”
“Ah, sudahlah. Ini adalah tugasku. Kalau begitu aku akan pulang. Dan ingat bawa istrimu kerumah sakit siang ini juga.” Wanti-wanti dokter Eka.
“Iya, iya. Itu pasti Ka. Aku akan mengantarmu keluar. Betho jaga mamamu.”
Siangnya, Bram membawa Josephira ke rumah sakit untuk pemeriksaan medis yang lebih lengkap.
“Hmmm, sepertinya tak ada masalah dengan kesehatan istrimu Bram.” Ujar dokter Eka.
Bram hanya berdua saja dengan dokter Eka diruangannya. Sementara Josephira sudah dibawa Johan menuju mobil.
“Apa maksudmu? Kamu tahu sendiri kan, tadi pagi badan istriku itu tiba-tiba demam. Padahal malam sebelumnya tidak ada gejala apapun.”
“Tapi yang aku katakan ini adalah hasil pemeriksaan dan hasil laborat Bram. Semua tanda-tanda vital istrimu normal dan bagus. Aku kuatir ini berkaitan dengan kondisi psikis dari istrimu. Kuatkan mental dia Bram. Maaf, aku bukan psikiater dan itu juga perkiraanku saja. Tapi secara medis aku berani mengatakan bahwa istrimu baik-baik saja.”
“Hmmm, jika aku pada posisimu aku juga tak akan tega Bram. Karena bila kamu memaksakannya secara medis bisa terjadi pendarahan disekitar daerah vital itu.”
“Itulah Ka, aku jadi bingung. Jujur saja aku membutuhkan penyaluran hasratku. Tapi setiap kali kami melakukannya, dia menjerit kesakitan sampai menangis.” Keluh Bram.
“Untuk saat ini aku hanya bisa mengatakan padamu untuk bersabar ya. Pasti ada solusi atas permasalahan yang kamu hadapi ini.”
“Aku mengerti Ka, terima kasih telah menampung curhatan ini.” Ucap Bram lalu dia berdiri. “Aku pulang dulu Ka.” Pamit Bram.
Semenjak hari itu, Josephira tak mau berbicara sepatah katapun pada Bram. Josephira membisu jika Bram berada dirumah. Tentu saja hal itu membuat Bram blingsatan. Wanita yang sangat dicintainya ini telah mengacuhkannya berhari-hari.
“Josephira sayang. Please berbicaralah padaku. Aku sungguh tersiksa kamu perlakukan seperti ini.”
“Hmmm...” Josephira mendehem pelan namun suara itu bagaikan senandung surgawi yang memberikan semangat pada diri Bram.
__ADS_1
“Ah syukurlah. Aku minta maaf sayang, maafkan aku. Akan aku berikan segalanya tapi jangan meminta itu dulu untuk saat ini. Biar aku menahan hasrat ini.” Ucap Bram, meski telah berkali-kali diucapkan dan selalu tak mendapat respon yang bagus dari istrinya.
“Karena ini sudah tiga hari aku mendiamkan kamu, hari ini aku mulai berbicara lagi padamu. Agar aku tidak terlalu berdosa dalam hal ini.” Kata Josephira.
“Benar, itu benar. Tidak baik dalam satu keluarga ada perang dingin lebih dari tiga hari.” Jawab Bram sumringah.
“Tapi kamu membuatku merasakan hinaan terbesar dalam hidupku. Aku sudah bertekad dan mengemis padamu tapi kamu tak mau menjamahku. Sebagai istrimu aku merasa sangat terhina Bram. Kamu tahu bagaimana rasanya orang yang dihinakan? Sakit Bram, sakit sekali!”
“Ta-tapi...”
“Sudahlah, aku sedang berpikir beberapa hari ini. Apakah lebih baik kita berpisah saja daripada aku merasa terus terhinakan seperti ini?”
“APA?” Bram berteriak sangat terkejut. “Ja-jangan pikirkan itu sayang. Please pasti ada pilihan lain yang lebih baik. Perpisahan itu dibolehkan tapi dibenci Allah, Tuhan kita.”
“Kalau sebagai istri aku akan selalu terhinakan, mengapa aku harus bertahan?”
Deg!
Jantung Bram serasa berhenti mendengar kalimat tegas Josephira. Seluruh persendian tulang belulangnya seakan tak mampu menyangga tubuhnya yang tertimpa langit ketakutan akan kehilangan seseorang yang teramat dicintainya.
“Please sayangku, kamu tahu kan betapa aku mencintaimu. Jangan, jangan pernah berpikir seperti itu lagi. Aku sungguh akan hancur jika tanpa dirimu dan rasa cintamu.”
Josephira diam tak berkata-kata lagi. Bibirnya bergetar dan matanya juga berkaca-kaca. Didalam hatinya dia juga sangat tak ingin untuk berpisah dengan lelaki yang telah menjadi suami dan lelaki terbaik dalam hidupnya.
“Kumohon padamu sayangku. Aku berjanji akan meluluskan semua permintaanmu tapi kalau untuk yang itu, jangan dulu ya.”
“Akan kupikirkan janjimu. Sekarang kamu berangkat bekerja sana. Aku mau kembali kekamar.” Ujar Josephira dengan bibir bergetar.
Sesungguhnya dia tak tega melihat suaminya harus mengemis seperti ini. Tapi rasa marah dalam hatinya masih belum reda meski sudah mulai berkurang.
Bersambung...
__ADS_1