
Pada saat yang bersamaan, Nabila yang telah di endors sebuah instansi pemerintah untuk memeriahkan acara. Nabila berangkat bersama dengan dua asistennya.
“Oma diendors acara apaan sih?” Tanya Wawan dengan lagak kemayu pada Nabila ketika mobil mereka telah masuk ke perbatasan kota.
“Ga tahu nih. Kayaknnya sih acara ultahnya pak bupati gitu. Hanya saja dibarengkan dengan sebuah acara di instansi peluncuran program pemerintah daerah yang baru.” Jelas Nabila.
“Bupatinya pasti kaya.” Ujar Wawan lagi.
“Eh, jangan salah. Kalo acara beginian yang aku tahu sih bukan dari kantong bupati sendiri. Tapi udah ada anggarannya.” Sengit Sadil dan memakai lagak kemayu persis gaya Wawan.
Mereka kini telan sampai disebuah hotel. Nabila dan asisten segera diarahkan ke kamar VVIP.
“Cih, kamar kaya gini dibilang VVIP!” Decih Sadil. Setelah panitia yang mengantarkan mereka keluar meninggalkan mereka.
Kamar bernuansa putih keemasan itu terkesan biasa saja bagi Nabila dan kawan-kawan. Karena mereka sudah pernah menempati kamar suite disebuah hotel bintang lima yang jauh lebih terkesan mewan di ibukota. Perabotan yang ada bahkan jauh dari kata mewah.
“Sabar omaaa… Kita ini dikota kecil. Bukan kaya di ibukota. Ini juga sudah sangat mewah disini.” Sahut Wawan.
“Oh ya oma Nab, menurut kontrak oma harus memakai pakaian yang telah disediakan panitia. Baik untuk acara lunch ataupun dinner nanti. Tapi dimana ya pakaiannya. Disini kok belum ada?” Seru Sadil sambil membuka lemari yang tampak kosong. Dia lalu menoleh pada Wawan yang sedang membongkar koper-koper bawaan mereka.
Nabila tak langsung menjawab. Dia malah melangkahkan kaki kekamar mandi. Rasa gerah setelah berkendaraan tiga jam tanpa henti membuatnya ingin mandi.
“Kita tunggu saja Sadil, acaranya masih dua jam lagi. Mungkin sekarang masih on the way kesini. Atau kamu hubungi saja panitianya.” Jawab Nabila sambil menutup pintu kamar mandi.
Setengah jam kemudian, Nabila sudah menyelesaikan ritual mandinya. Dia keluar dengan badan hanya dibungkus handuk lebar.
“Aduuuh omaaa, lihat bentar deh…” Panggil Wawan pada Nabila dengan hebohnya.
“Ada apa sih?” Tanya Nabila malas.
“Lihat deh, masa oma Nabila harus pakai gaun seperti itu. Kalau yang untuk lunch sih masih fine ajah. Tapi untuk yang dinner ini omaaaaa, lihat sendiri deh.”
“Apaa? Seperti itu?” Geram Nabila.
__ADS_1
Nabila, Wawan dan Sadil melotot bersamaan kearah tiga potong gaun yang dipersiapkan untuk Nabila. Ketiganya lalu saling berpandangan bergantian.
Ketiga gaun itu pada dasarnya sama modelnya. Sebuah gaun long dress ketat polos. Hanya warnanya saja yang berbeda. Yang membuat Nabila geram adalah longdress ketat itu juka dia pakai, maka dia harus membiarkan sebagian besar dadanya terekspos, lalu pada bagian belakangnya terbuka lebar hingga mungkin sebagian besar punggung dan sedikit bagian pantatnya akan terekspos.
Wajah Nabila memerah menahan emosi yang tiba-tiba naik sampai ke ubun-ubunnya.
“Sadil cepat telepon panitia. Suruh untuk mengganti gaun malam ini semuanya. Aku ga sudi mengekspos tubuhku seperti itu.” Perintah Nabila dengan lantang dan terkesan menyeramkan.
“Ba-baik oma. Aku akan langsung telepon mereka.” Jawab Sadil merasakan kengerian melihat wajah Nabila dan mendengar gelegar suaranya.
Beberapa saat kemudian seorang wanita datang menemui Nabila.
“Maaf nona Nabila, kami tidak bisa melakukannya. Anda harus bersedia memakai gaun yang telah dipilih oleh bapak.”
“Maksud anda?” Tanya Nabila dengan nada tinggi.
“Sesuai kontrak yang telah disepakati, anda diwajibkan menggunakan gaun rancangan desainer lokal yang dipilih oleh bapak. Didalam kontrak hanya disebutkan anda akan bersedia memakainya dengan catatan pakaian itu adalah pakaian yang sopan dan sesuai dengan tema acara.” Jawab wanita itu dengan tenang. “Dan saya pikir gaun yang dipilih bapak cukup sopan meski sedikit terbuka. Lagipula saat acara makan malam nanti, anda hanya akan bertemu dengan bapak. Tidak ada undangan yang lain.”
“Sedikit? Sedikit kamu bilang? Buka mata kamu lebar-lebar dan lihatlah!” Bentak Nabila sambil membentangkan satu gaun berwarna merah marun didepan wanita itu.
Nabila mencak-mencak, emosinya meledak seketika. Belum juga dia mengenakan gaun itu, tapi dia sudah merasakan malu besar. Karena dengan mengenakan gaun itu maka dia harus memakainya tanpa bra, ****** ***** pun dia harus pake yang jenis g-string. Bila tidak maka penampilannya akan terlihat sangat terganggu oleh tali bra.
“Oma, bang Adli barusan kutelpon. Gaun-gaun ini juga sudah kulaporkan termasuk kemarahan oma. Bang Adli bilang minta maaf karena membuat oma menderita. Nanti kedepannya bang Adli akan lebih menekankan kata sopan dalam kontrak kerja.” Jelas Sadil pelan.
“Iya, ini sudah terlanjur. Selama ini kata sopan dalam kontrak belum ada yang seperti ini pada prakteknya.” Nabila menarik nafasnya dalam-dalam. Seolah kadar oksigen sangat tipis hingga dia merasa berat untuk sekedar bernafas. “Aku harus professional dalam hal ini. Dan aku akan bersikap professional juga.”
Nabila memilih satu gaun berwarna merah marun. Dengan bibir manyun dia mematut diri di cermin.
“Aduuh omaaaa… You look so georgeus and hot!” Teriak Wawan mengagumi Nabila. “Kulit oma selaksa bersinar seperti kemilau mutiara disaat senja.”
“Aduh cerewet banget sih kamu ini. Tanpa ini gaun, oma Nabila cantik luar dalam tahu!” Sahut Sadil. “Ga perlu menonjolkan payudara dan punggung sampai bokong kaya gini.”
“Udah-udah sekarang cari plester dong untuk persiapan nanti malam.”
__ADS_1
“Plester? Untuk apa oma?” Tanya Wawan bingung. Yang dia tahu Nabila tidak ada luka yang harus ditutup plester.
“Untuk ini!” Jawab Nabila sambil menunjuk kearah putingnya yang menonjol karena dia tidak menggunakan bra.
“Oooo..” Kata Sadil dan Wawan serentak.
\===o0o===
Pada saat yang sama.
“Hei itu Diva kan?” Tanya Cherry sambil menyesap cola dinginnya dengan sedotan.
“Benar. Itu Diva dengan pangeran tampan pujaan hatiku.” Seru Bella. “Ayo kita samperin. Enak saja si Diva bisa dekat-dekat sama kak Betho.”
“Ayok. Biar nge date mereka ga romantis. Hahahaha…” Timpal Cherry mengiyakan ajakan Bella.
Mereka berdua lalu berlari kecil mendekati Diva dan Betho dari belakang. Setelah jarak sudah dekat.
“WHAAAA!” Teriak kedua bersamaan. Lalu terbahak-bahak karena melihat ekspresi keterkejutan dari Diva dan Bethoven.
Diva dan Bethoven terlonjak kaget. Tubuh mereka sampai terlompat beberapa centi keatas.
“Hrrgh! Kalian ini, bikin kaget setengah mati!” Bentak Diva jengkel atas kejahilan sahabatnya itu.
“Hehehe… maaf-maaf. Habisnya sih kita udah lama ga ketemu, karena kamu home schooling dan super sibuk banget.” Jawab Bela cengengesan.
“Iya Diva. Kami kan rindu banget. Apalagi ama kak Betho. Iya kan Bel?” Timpal Cherry.
“Ho-oh.” Jawab Bella sambil menganggukkan kepalanya berkali-kali.
“Cih, enak saja kalian.” Sungut Diva seraya mengamit rapat lengan Bethoven, mengamankannya. Seolah- olah anak kecil yang melindungi permennya.
‘Whoaa! Kenapa pas adegan seperti ini ada duo reseh sih. Kenapa ga dari tadi juga ditempelin kaya gini Diva???’ Rungut hati Bethoven yang tiba-tiba panas dingin karena lengannya kini telah menempel di lengan dan dada Diva. Wajahnya seketika merona kemerahan.
__ADS_1
Bersambung...