
*Cuplikan Eps.**Sebelumnya…*
Nabila yang berjalan sambil telepon tiba-tiba disenggol dengan keras oleh seorang lelaki yang berjalan dengan cepat kearah Josephira.
“Hei, hati-hati dong kalau berjalan.” Sengit Nabila karena merasa terganggu.
Laki-laki itu tak menghiraukan Nabila. Dia berjalan terus dengan cepat mendekati Josephira.
Brugh!
Lelaki itu menabrak Josephira dengan keras tepat disaat Josephira dibukakan pintu keluar oleh pelayan toko.
“Aaaakh!” Jerit Josephira. Tubuhnya terhuyung dengan satu tangan berusaha menyeimbangkan badannya dan tangan lainnya memegang perutnya. Josephira ambruk dan tak sadarkan diri.
Kejadian itu berlalu dengan cepat. Lelaki yang menabrak Josephira langsung kabur keluar dari pintu yang telah terbuka dan menghilang entah kemana. Menyisakan jerit keterkejutan pelayan yang membukakan pintu.
Sesaat Nabila terpaku ditempatnya. Namun cepat dia tersadar dan langsung berlari menghambur ke tubuh Josephira yang telah ambruk dan pingsan. Ditepuk-tepuknya pipi Josephira berusaha membangunkan.
“Kak, kakak, bangun kak.” Nabila mencoba mengangkat tubuh Josephira kedalam pelukannya. Tangisannya pecah karena takut kehilangan Josephira. “Cepat panggilkan ambulans, cepat!” Pintanya entah pada siapa sambil menangis.
Nabila bertambah panik tatakala menyadari ketika melihat begitu banyak darah yang menggenang dibawah tubuh Josephira.
“Kak bertahanlah kak. Kumohon bertahanlah. Aku akan membawamu ke rumah sakit.” Katanya sambil menangis. Nabila lalu menengadah pada orang-orang yang mengerumuninya “Apakah sudah ada yang menghubungi ambulans?” Teriaknya dengan suara serak.
“Nona kita antar saja langsung ke rumah sakit. Karena jaraknya hanya tiga ratus meter dari sini.” Kata sopir Josephira berinisiatif.
“Baik pak, baik pak.” Beberapa lelaki membantu mengangkat tubuh Josephira ke mobil yang terparkir tak jauh dari toko. Nabila mengikuti dengan kecemasan yang teramat sangat. Air matanya mengalir deras menbayangkan nasib buruk pada sahabat dan calon bayinya itu. “Bertahanlah kak, bertahanlah.” Seru Nabila ketika menerima tubuh Josephira didalam mobil.
Mobil langsung tancap gas menuju rumah sakit terdekat. Tak mempedulikan pengendara lain yang harus menginjak pedal rem karena terpotong jalurnya. Bunyi decit ban mobil dibelakang membuat Nabila menoleh sejenak. Dan dilihatnya dua mobil nyaris bertabrakan karena ulah mobil yang ia tumpangi ini.
“Bertahanlah kak, bertahanlah…” Nabila terus mengatakan itu pada Josephira yang terkulai pingsan dipundaknya, dan tangisannya tak berhenti. Dengan sesengukan dia terus membisikkan kata itu berharap Josephira mendengarnya dan mampu bertahan. Satu tangan Nabila meraba pada baju yang basah karena darah. “Kenapa bisa seperti ini?” Dirasakan ada darah mengalir deras keluar dari samping kiri perut Josephira.
Nafas Josephira semakin melemah, wajahnya memucat seperti mayat kaena kehilangan banyak darah.
“Cepat pak, cepat Kak Jose semakin lemah karena banyak kehilangan darah. Cepat pak.” Perintah Nabila pada sopir disela isak tangisnya.
Jalanan cukup padat meskipun tak sampai macet. Namun untuk orang yang terburu-buru, sopir harus bermanuver gila-gilaan. Meskipun hanya berjarak tiga ratus meter namun butuh waktu hampir sepuluh menit untuk mencapai rumah sakit.
__ADS_1
Mobil berhenti tepat didepan UGD rumah sakit internasional. Sopir segera berlari dan memberitahukan pada petugas medis. Beberapa detik kemudian seorang doter dan dua perawat wanita berlari sambil mendorong brangkar. Mereka dengan cepat memindahkan tubuh Josephira keatas brangkar dan dengan cepat memberikan pertolongan pertama.
“Apa yang telah terjadi?” Tanya seorang dokter laki-laki pada Nabila. Sementara rekannya memberikan pertolongan.
“Kakak ditabrak seseorang lalu jatuh dan bersimbah darah. Tolong dok, tolong kakak saya dan bayi dalam kandungannya.” Jawab Nabila dengan berurai air mata.
“Hamil berapa bulan?” Tanya dokter itu tenang.
“Delapan bulan jalan dok. Cepatlah dok, selamatkan kak Jose!”
“Ada luka robek di perut sebelah kiri yang menyebabkan pendarahan hebat. Ini harus cepat ditangani di meja operasi karena kondisi pasien sangat kritis dan juga sedang hamil.” Jawab dokter yang memberikan pertolongan.
“Baik aku akan menghubungi ruangan operasi agar mempersiapkan tempat.” Sahut dokter yang bertanya pada Nabila. “Tenanglah nona kami akan menangani kakan nona sebaik mungkin, harap nona bisa menghubungi suami atau keluarganya yang lain, barangkali kami memerlukan untuk transfusi darah yang mungkin dibutuhkan pasienkorban.” Kata doter itu pada Nabila.
Nabila mengangguk. Dia lalu menelpon Bram. Tapi tak juga tersambung.
“Mana Josephira!” Teriak Bram didepan pintu UGD. Wajahnya telihat panik dan kalut.
“Kak, kak Jose sudah dibawa ke ruang operasi. Kak Jose mengalami pendarahan hebat karena jatuh tadi.”
“Tapi dia tidak apa-apa kan? Josephira baik-baik saja kan?” Tanya Bram sambil mengguncang tubuh Nabila.
Terlihat Bram semakin kalut. Dia lalu mendatangi meja informasi dan bertanya tentang istrinya. Setelah mendapat pejelasan Bram lalu bergegas ke ruang tunggu didekat ruang operasi.
Bram berjalan mondar-mandir, Nabila hanya duduk dikursi ruang tunggu dengan bibir komat-kamit berdoa sambil terus berlinang air mata, Bethoven dan juga Diva sudah duduk tak jauh dari Nabila. Keduanya tampak tegang dan juga komat-kamit berdoa. Mereka semua tampak sangat tegand dan cemas. Operasi itu sendiri sudah dilakukan selama satu jam lebih, namun belum juga ada tanda-tanda akan berhenti. Johan juga disana, asisten pribadi Bram yang biasanya tampil dingin ini pun terlihat sangat tegang dan cemas memikirkan nasib nyonya besar dan calon bayinya.
Tampak seorang perawat wanita lengkap dengan baju APD untuk operasi mendatangi mereka.
“Apakah kalian keluarga pasien bernama Josephira?” Tanyanya tenang.
“Iya. Benar. Bagaimana kondisi istri dan calon bayinya suster?” Jawab Bram cepat.
“Kami sedang mengupayakan untuk menyelematkan mereka berdua. Saya kesini ingin bertanya apakah ada diantara kalian yang bergolongan darah A?”
“Saya suster.” Bethoven menjawab dengan cepat.
“Baiklah tolong anda datang ke laboratorium kami untuk dites. Dan juga serahkan surat ini pada petugas bank darah yang juga sama dengan laborat kami agar segera dikirim bag darah keruang operasi. Bilang cepat karena urgent ya.” Perintahnya pada Bethoven.
__ADS_1
Tanpa berkata-kata lagi, Bethoven berlari menuju lab yang berbeda gedung. Diva berlari dibelakangnya mengekori tanpa berkata apa-apa.
Beberapa lama kemudian tampak seorang doter keluar dari ruang operasi lalu berjalan kearah Bram dan Nabila.
“Bagaimana dok?” Sergah Bram tak sabar.
“Kami sedang mengupayakan keselamat pasien dan bayinya. Berdoalah agar tuhan memberi keselamatan pada mereka berdua. Saya kesini untuk memberitahu mungkin operasi akan memakan waktu yang cukup lama dan kemungkinan keberhasilannya dibawah lima puluh persen. Karena pasien mengalami luka tusuk yang cukup dalam hingga menembus rahim bahkan sampai merusak syaraf pada tulang punggung. Jadi saya harap kalian membantu kami dengan berdoa, agar tuhan memberikan kemudahan.” Kata dokter itu, lalu pamit kembali ke meja operasi.
Sepeninggalnya dokter yang memberitahukan tadi, Bram langsung menatap tajam pada Nabila.
Nabila sendiri semakin syok karena baru menyadari darah yang mengalir dari tubuh Josephira tadi adalah akibat luka tusuk. Dia sungguh tak menyangkanya, karena tak melihat apapun selain lelaki yang menabrak Josephira.
“Cepat ceritakan kronologisnya secara detil padaku!” Bentak Bram pada Nabila.
“Aku juga baru tahu kak. Aku tak mengira kakak Josephira ditusuk lelaki itu.” Jawab Nabila lirih.
“Apa? Cepat ceritakan dengan detil. Johan lakukan hal yang bisa kamu lakukan untuk mencari identitas lelaki itu. Cepat!” Titah Bram berapi-api.
Bethoven dan Diva baru saja kembali dari laborat dan bank darah, ikut kaget mendengar penjelasan Nabila tadi. Hanya Diva yang tak berani berkata-kata terlalu banyak. Karena dia belum menceritakan apapun tentang hubungan sejati antara Nabila dengan dirinya pada Bethoven, Diva takut kecepolosan omong yang membuat suasana semakin tak enak.
Nabila lalu menceritakan semua yang dilihatnya. Dan Bram menyimaknya dengan serius.
“Johan kamu sudah lapor polisi?”
“Sudah tuan. Tadi bawahan saya sudah melaporkan polisi sudah mengambil rekaman cctv dan juga mencari hal lain penyebab jatuhnya nyonya Josephira. Dan barusan saya sudah melaporkan kabar baru ini kepihak kepolisian, ternyata dari rekaman cctv terlihat lelaki yang menabrak nyonya telah menusuknya dengan gerakan cepat tuan.”
“Arrgh! Temukan lelaki itu. Minta salinan video itu dari pihak kepolisian untuk kita cari tahu sendiri.”
“Sudah tuan. Saya baru saja menerima email yang berisi rekaman itu. Nanti akan kita periksa bersama saat kondisi sudah sedikit tenang.”
“Tidak bisa. Cepat kamu suruh bawahan kamu untuk bertindak.”
“Sudah tuan, saya sudah menyewa dua orang ahli untuk menyelidiki ini.”
“Bagus. Aku ingin kamu melaporkannya padaku setiap ada petunjuk penting sebelum melaporkannya ke kepolisian.”
“Baik tuan.” Jawab Johan dengan dingin mode on.
__ADS_1
Bersambung...