
Cuplikan Eps. sebelumnya…
“Diva anakku.” Sambut Minah sambil memeluk Diva yang masih berdiri didepan pintu rumahnya. “Ayo masuk nak, ibu kangen banget.”
Minah menggandeng tangan Diva yang sudah dirawatnya dari bayi dan telah dianggap seperti putri yang telah dilahirkannya.
\===o0o===
Minah membuka pintu samping yang terhubung dengan rumah Nabila. Tepat disaat Nabila bermaksud menemui putrinya yang sedang istirahat.
“Non..”
“Diva dimana bi?”
“Sedang tidur dikamarnya non.”
“Baiklah aku langsung kesana saja.”
Nabila melangkahkan kakinya menuju ke kamar Diva. Dengan pelan Nabila mengetuk pintu kamar, tak ada jawaban.
Dia pasti sudah tertidur, aku akan masuk saja kedalam.Fikir Nabila dalam hati.
Benar dugaan Nabila, saat dia sudah memasuki kamar putrinya. Dia melihat Diva sedang pulas memeluk gulingnya. Nabila menutup pintu kamar dengan pelan lalu mendekat perlahan. Pandangan matanya tak lepas dari wajah ayu putrinya yang kini semakin dewasa.
Nabila duduk disudut ranjang dekat dengan kepala Diva. Pelan diusapnya rambut Diva, pipi tembem putrinya itu. Perlahan Nabila menyorongkan wajahnya hendak mengecup kening putrinya. Rasa sayang pada putri semata wayangnya ini begitu besar dan mendalam. Hanya saja karena keadaan mereka harus jarang bertemu dan tak bisa bebas menjalani kegiatan laiknya ibu dan anak.
“Aku sudah memaafkan kamu kak Beto, udah pergi sana. Dasar mesum…”
Nabila terhenyak mendengar igauan putrinya. Kak Beto? Mesum? Apa yang telah dia lakukan pada putriku? Beragam pertanyaan bergerilya didalam otak Nabila.
Nabila kebingungan mengetahui ada hal yang terjadi diantara Bethoven dan putrinya. Meskipun dia tak mengerti sampai sejauh mana mereka berhubungan. Bayangan masa lalunya yang tergoda rayuan manis Ferdi
membuat mendung dalam hatinya semakin menebal.
Diva terbangun ketika merasakan tekanan yang semakin berat di pipinya.
“Ma… ma”
“Oh, eh, kamu sudah bangun?”
“Ya iyalah ma, tangan mama menekan pipiku niih..” Jawab Diva memasang wajah cemberut.
“Ups, maaf…” Nabila tersenyum kecut.
“Diva, ada apa kamu dengan Bethoven?” Spontan bibir Nabila mengucapkan kalimat tanya itu.
“Ma.. maksud mama?” Diva kaget mendengar pertanyaan mamanya.
“A… apa kalian pacaran?” Tanya Nabila pelan dan terkesan sangat berhati-hati sekali.
“Nggg… aku ke kamar mandi dulu ma, kebelet nih.” Tanpa menunggu persetujuan mamanya, Diva langsung meloncat turun dan berlari menuju kamar mandi.
Nabila hanya bisa memandangi punggung putrinya itu. Diva telah menutup pintu kamar mandi dan dia telah berada didalamnya.
“Aku terlalu terburu-buru. Kalau sudah seperti ini aku tak akan bisa memperoleh keterangan yang benar dari Diva.” Nabila menyesali pertanyaan yang telah terlontar pada putrinya tadi. “Oooh… bagaimana ini? Jangan sampai Diva mengalami hal buruk seperti masa laluku. Ya Allah Ya Tuhanku, apakah ini de ja vu? Jangan Ya Allah Ya Tuhanku, kumohon lindungi putriku dari dosa besar perzinahan seperti yang telah kulakukan….” Tanpa sadar air mata Nabila menetes pelan dalam monolog dan pengharapannya pada Allah Yang Maha Kuasa.
Sesaat kemudian, Nabila menangis dengan memeluk guling Diva. Kilasan bayangan masa lalu berkelebat bergantian menampilkan kenaifan dirinya yang begitu mudah terbujuk oleh si setan jahanam Ferdi. Bayangan
berlanjut pada penghinaan-penghinaan, cacian dari orang tua Ferdi. Disusul hidup terlunta-lunta di negeri orang mengasuh bayi di usia yang masih sangat muda. Nabila terus menangis menyesali kebodohannya dulu, Nabila menangis memohon agar putri semata wayangnya dilindungi dari segala bentuk syetan yang terkutuk.
Sementara itu didalam kamar mandi. Diva memandang wajahnya di cermin. Air kran dia buka lebar-lebar, hingga suaranya memenuhi seluruh ruangan. Diva berharap suara kran itu akan membuat mamanya percaya
kalau sekarang dirinya sedang sibuk dikamar mandi.
“Kenapa tiba-tiba mama bertanya tentang kak Betho ya? Apa ada gossip baru di medsos? Tapi kan kak Betho bukan selebritis, lagian syuting kali ini juga belum tayang. Hadeeh… tapi kenapa juga aku kebingungan seperti
ini? Emangnya siapaku kak Betho itu?”
Bayangan senyuman Bethoven sekelebat melintasi fikiran Diva. Bagaimana disaat Bethoven dengan sigap melindunginya dari kerumunan media, disaat dikejar orang jahat.
“Pahlawanku…” Desis Diva pelan dengan bibir menyungging senyuman.
Bayangan terus berkelebat satu persatu bagaikan slide foto melintasi fikiran Diva. Wajah Diva bersemu merah terlihat jelas di pantulan cermin, tatkala teringat kejadian didalam kulkas bekas, lalu… tangan yang menempel dengan tepat di….
__ADS_1
“Aaaah… Mesum!” Jerit Diva tertahan. Tiba-tiba rasa malu menyerangnya. Dirabanya dada yang telah tersentuh tangan Bethoven itu. “Hiks, aku malu. Malu sekali.”
“Tapi itu tidak sengaja Diva.” Diva bermonolog tanpa sadar telah melakukan pembelaan pada Bethoven sambil menatap wajahnya sendiri didalam cermin. Terlihat wajah itu begitu serius.
“Kenapa aku membela dia?” Kali ini dia memasang wajah penuh kecurigaan pada dirinya sendiri.
“Karena aku mencintainya!”
Dari cermin terlihat jelas mata Diva membulat dan bibirnya melongo membentuk huruf O besar saat menerima pembelaan dirinya sendiri atas kelakuan Bethoven dan bahkan secara tak sadar mengakui rasa yang telah terukir dalam hatinya meskipun masih samar.
“Ah kenapa aku memikirkan perasaanku yang ga jelas ini sama kak Bethoven, padahal aku lari kesini kan karena menghindari pertanyaan aneh dari mama. Oh ya kenapa ya tiba-tiba mama menanyakan apakah aku pacaran sama kak Bethoven. Aku harus mengecek berita on line, harus mengecek medsos.”
Setelah beberapa lama dikamar mandi, Diva keluar. Dia mendapati mamanya tertelungkup di atas kasur sambil memeluk gulingnya.
Lah mama kok malah tidur sih? Ah, biarin saja dah. Mungkin mama sedang capek. Daripada nanti ditanya-tanya lagi, mending aku turun saja liat drakor. Batin Diva sambil berjinjit keluar meninggalkan kamar, tak
lupa dia menutup pintu dengan perlahan.
Diva menyalakan televisi. Berkali-kali dia tekan tombol remote hanya untuk mencari apa yang diinginkannya.
“Ah sebel. Kenapa ga ada acara yang bagus sih?” Gerutu Diva sambil melemparkan remote sembarangan. Televisi dibiarkannya menyala, kini jemari Diva bergerak lincah mencari berita gossip di internet. “Tak ada satu
pun berita tentang diriku dan kak Bethoven, yang ada malah berita ga mutu tentang aku dan mama Nabila. Tapi kenapa mama tiba-tiba melontarkan pertanyaan itu?”
“Pertanyaan apa?” Tanya Minah sambil menjinjing keranjang berisi pakaian. Minah lalu duduk disamping Diva dan mulai melipat pakaian.
“Ga kok bu, cuman pertanyaan dalam kuiz di internet saja. hehehe…”
“Kamu sudah ga cape lagi nak?”
“Udah segaran dikit bu. Makasih ibuku yang baik hati.” Jawab Diva sambil mencium Minah. “Aku mau buat jus jeruk, ibu mau kubuatkan ga?”
“Ga usah.”
Kening Diva sedikit mengernyit mendengar jawaban pendek Minah. Kok terdengar sedikit ketus ya? batin Diva. Ah, salah dengar kali kupingku.
“Aaah… segar banget.” Ujar Diva selepas meminum jus jeruk buatannya sendiri, lalu duduk lagi disebelah Minah.
“Kayaknya ga deh, tapi coba aku hubungi asisten dulu, kali-kali aja ada yang kelupaan bawa.” Diva sibuk mengetik di hapenya berkirim pesan pada asisten yang telah membantunya di lokasi syuting.
Minah diam tak merespon. Tangannya kembali sibuk melipat pakaian dalam keranjang.
“Waah, pada kumpul nih. Maafin mama ya Diva, mama tadi ketiduran. Abisnya kamu kelamaan di kamar mandi.” Seru Nabila dari ujung tangga.
“Iya ma, gapapa. Tadi Diva ga tega mau ngebangunin.”
“Non, hari ini hari apa ya?” Minah bertanya.
“Oh, hari rabu, emang kenapa?”
“Kalo tanggalnya?”
“dua puluh, kenapa? Memang belanja bulanan abis?”
“Ga, ga papa.” Minah lalu diam dan terus merapikan pakaian yang telah dilipatnya tadi. Lalu pergi ke belakang.
“Hei, anak nakal. Kamu sekarang benar-benar udah pacaran sama Betho?” Selidik Nabila.
“Eh, enggak ma.”
“Beneran?” Tanya Nabila lagi sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Diva. Sorot mata Nabila mencari kejujuran dari mata putrinya itu.
“Beneran ma. Emang sih beberapa malam lalu kak Betho berlutut didepanku seusai syuting….”
“Dia nembak kamu?”
“Enggak.”
“Terus kenapa berlutut? Emang dia kena asam urat apa?”
“Wkwkwk… mama, mama, masa kak Betho yang super duper ganteng, masih muda, gagah perkasa kena asam urat? Wkwkwkwk… “
“Ganteng sih iya, masih muda…. Iya, gagah perkasa? Emang kalian ngapain kok kamu udah tahu dia gagah perkasa?” Nabila semakin kuatir mendengar ungkapan yang dipilih putrinya itu. Dalam otaknya kata gagah perkasa berkonotasi kemampuan pria diatas ranjang.
__ADS_1
“Iiih.. mama, apaan sih? Kita ga pernah ngapa-ngapain ma, selain pernah boncengan, teman sekelas ama pernah syuting bareng.” Jawab Diva tenang. “Mama ini ngaco deh.”
“Hei, kamu mulai berani ngatain mama ngaco ya? kalo udah kejadian beneran yang bakalan nyesel setengah mati itu kamu. Ngerti gak?”
“Maksud mama ini apa sih? Ga jelas deh.”
“Ga jelas? Kamu itu yang ga jelas.”
“Mama yang ga jelas.”
“Kamu itu yang ga jelas Diva, mama tanya kenapa dia berlutut, malah bilang gagah perkasa lagi.”
“Emang iya, kak Betho gagah perkasa.” Bela Diva. Langsung dia teringat bagaimana Betho melindunginya saat dikerumuni wartawan, saat dikejar orang jahat, saat dia digendong di lokasi syuting. Bibirnya tak sadar melukiskan senyuman tipis.
“Nah itu, kamu tersenyum-senyum sendiri. Pastinya bayangin yang ngeres-ngeres!”
“Bayangin apaan, Diva ga bayangin apa apa kok.”
“Terus kenapa tersenyum?”
“Emang ga boleh? Ya udah Diva akan manyun terus.”
“Kalian ini ya, kalau ga ketemu selalu nyari-nyari, nanya-nanya. Giliran ketemu kalian berantem. Mendingan kalian keluar saja sana!” Bentak Minah dari belakang mereka.
Nabila dan Diva terkejut baru menyadari kalau Minah telah berdiri di belakang kursi mereka. Keduanya serempak menoleh kearah Minah. Terlihat wajah sangar Minah. Keduanya terkejut bukan kepalang. Orang yang
biasanya terlihat sabar dan penuh kasih sayang, tiba-tiba memasang wajah seperti itu.
“Mama tuh bu yang bikin gara-gara.” Diva berinisiatif mengadu dan meminta pembelaan.
“Enak aja, kamu tuh ditanya baik-baik jawabannya ngaco.”
“Kalo mama nanyakannya jelas, jawabanku ya jelas.”
“Ga jelasnya dimana Diva?”
“SUDAH. DIAM!” Semprot Minah dengan suara keras.
Nabila dan Diva kembali terhenyak. Belum pernah Minah membentak seperti ini. Nabila dan Diva duduk diam dengan kepala tertunduk. Meskipun Minah adalah pembantu disini, tapi keduanya sudah menganggap Minah
seperti ibu mereka.
“Maaf bik, maafin Nabila ya…” Pinta Nabila setelah ketiganya sama-sama berdiam diri sekitar sepuluh menit.
“Diva juga minta maaf ibu. Ibu duduk sini deh, nanti Diva pijitin bahu ibu.”
“Sudahlah, kalian memang tidak peka.” Seloroh Minah lalu pergi ke belakang.
Nabila dan Diva saling menatap. Mereka bingung dengan yang Minah katakan.
“Oops, hari ini kan ulang tahun bibi… kok bisa kelupaan sih.” Tiba-tiba Nabila berkata sambil menepuk dahinya, menyadari kalimat tidak peka dari Minah tadi.
“Aaah… pantas. Pertanyaan-pertanyaan aneh keluar dari ibu tadi ya, yang nanya apa ga kelupaan, hari apa, tanggal berapa. Astaghfirullah… beneran ma, ini ulang tahun ibu!”
“Oke, oke, sekarang kamu pesan kue ulang tahun kecil dan beberapa minuman ringan juga pizza kesukaan bibi.”
“Siap ma.”
Dua jam kemudian.
Diva dengan membawa kue tart kecil dan beberapa lilin yang telah dinyalakan menghampiri Nabila yang tengah mengetuk pintu kamar Minah. Setelah beberapa kali ketukan di pintu, Minah baru membukakan pintu. Wajah Minah sudah sedikit kembali seperti biasanya, tapi hawa dingin begitu terasa dari sorot matanya.
“Kenapa? Kalian berdua mau pamit keluar kan? Ya sudah kalian keluar dulu, ingat pulangnya jangan terlalu malam.” Tanya Minah ketus karena tidak melihat Diva dibelakang Nabila sambil membawa kue ulang tahun.
“Enggak kok.” Jawab Diva dan Nabila hampir bersamaan.
“Kami minta maaf bik, dan kami disini mau ucapin selamat ulang tahuuuunnn…..” Jelas Nabila sambil menggeser tubuhnya hingga terlihat Diva yang tersenyum berhiaskan cahaya lilin dari atas kue ulang tahun.
“Haaaa…. Terima kasih anak-anakku… terima kasih….” Seru Minah setelah terlepas dari keterkejutannya.
Bersambung…
\=============
__ADS_1