
“Kamu mau kemana Nab?” Tanya Minah dengan penuh keheranan.
Nabila sudah mengenakan topi lebar mirip dengan sombrero*), juga mantel panjang berwarna hitam menutup seluruh badannya, dan juga boot panjang warna senada.
“Aku akan mengikuti dan mengawasi Diva dari kejauhan. Aku takut dia melakukan kesalahan seperti yang kulakukan dimasa lalu bik.” Jawab Nabila.
“Sudahlah Nab, sebaiknya kamu dirumah saja.” Seru Minah.
“Tapi bik, aku takut.”
“Percayalah sama bibi. Aku tak melihat sifat seperti Ferdi dalam diri Bethoven. Meskipun mereka memiliki persamaan.” Jawab Minah mencoba meyakinkan Nabila untuk tenang.
“Maksud bibik?”
“Ya selama ini aku juga memperhatikan Betho setiap kali dia bertamu kesini, juga setiap kali Diva menceritakan saat dia bersama dengan Betho. Setidaknya aku bisa menangkap Bethoven bukanlah seorang bad boy yang suka ambil untung dari seorang wanita. Itulah perbedaannya dengan Ferdi.”
“Kalau persamaannya?” Tanya Nabila. Kini wajahnya sedikit berubah tenang.
“Mereka sama-sama tampan dan putra tunggal orang kaya. Tapi menurut penilaianku dia itu sopan, tidak arogan, dan selalu mengalah dengan Diva.”
“Seperti itu ya bik?”
Minah menganggukkan kepalanya. “Mungkin kita harus sedikit memberikan kepercayaan yang lebih pada Diva, karena putrimu itu bibi yakin sangat bisa menjaga dirimu. Dia tak selugu dirimu dimasa lalu. Dan kini dia juga semakin dewasa, aku yakin dia bisa menjaga dirinya sendiri dengan baik.”
Sementara itu, Bethoven dan Diva telah tiba di tempat prom night diadakan. Terlihat disana telah banyak orang tua yang juga mengantarkan putri-putri mereka, meski mereka tidak ikut masuk ke dalam pesta.
Bethoven turun lalu membukakan pintu untuk Diva.
Rona merah di pipi Diva seolah tak hilang malam ini. Dia begitu bahagia karena mendapat perlakuan layaknya seorang putri di negeri dongeng yang akan turun dari kereta kuda kencana. Diva menjulurkan satu tangannya dan disambut Bethoven, baru dia melangkahkan kakinya keluar dari mobil.
Untuk bisa masuk kedalam arena pesta. Dari tempat mereka turun dari mobil mereka harus menaiki beberapa anak tangga yang telah tertutup dengan karpet merah.
“Diva.” Sebuah panggilan membuat Diva dan Bethoven menoleh.
__ADS_1
“Tante Mira.” Balas Diva lalu menghampiri Mira, ibunya Cherry. Diva lalu bersalaman dan mencium punggung tangan Mira dengan takzim.
“Whuih kamu cantik sekali nak.” Puji Mira. Dia sangat antusias melihat penampilan Diva ditunjang dengan gaya remaja yang sopan. Meski sudah terkenal, cantik, dan kaya, tapi Diva tetap saja berlaku hormat padanya. “Dan ini pasti Bethoven. Tampan. Kalian berdua terlihat sangat serasi.”
Bethoven juga mengikuti gaya Diva, yang membuat Mira semakin kagum pada mereka berdua. Dia sudah mendengar dari putrinya kalau Bethoven ini putra salah satu taipan kaya raya negeri ini. Mira sungguh tak menyangka kalau Bethoven akan bersalaman dan mencium punggung tangannya dengan takzim, layaknya anak pada orang tua.
“Kalian pasti akan jadi raja dan ratu prom malam ini.”
“Terima kasih tante. Oh ya Cherry mana tan?” Tanya Diva.
“Sudah masuk bersama Julian. Tadi Julian menunggu disini, lalu datang Bella dengan Fino. Kemudian mereka masuk bersama.” Beber Mira.
“Oh mereka semua sudah didalam ya tan? Kalau begitu kami pamit dulu mau masuk kedalam.” Pamit Diva.
Mira menatap punggung kedua remaja itu sedang menaiki anak tangga dengan serasinya menuju ruang pesta prom night. Senyum Mira mengembang mengetahui masih ada remaja yang bisa berlaku sopan pada orang yang lebih tua seperti mereka. Karena sekarang dia sering melihat para remaja lebih sering bersikap cuek pada orang yang lebih tua, dan mengatakan hal etika dan kesopanan adalah kuno dan tidak penting.
Pesta berlangsung meriah. Para guru tampak sibuk mengawasi para siswa yang tampak bergoyang mengikuti musik. Ada peraturan yang diterapkan disekolah ini, yaitu selama prom night mereka tidak boleh melakukan dance dengan saling memeluk bagi lawan jenis.
Namun tetap saja ada beberapa siswa yang kedapatan sedang melakukan dansa mesra saling berhadapan dan berpelukan dengan pasangan mereka saat datang kepesta malam itu.Yang membuat mereka harus bergoyang dalam pengawasan penuh seorang guru pengawas. Dan disana termasuk si Cherry dan Julian yang harus mendapat pengawasan itu.
Dan seperti harapan dan doa Mira, para guru memutuskan Diva dan Bethoven sebagai raja dan ratu prom. Meskipun Bethoven bukan lagi siswa disana, tapi karena sudah mendapat ijin dan datang bersama Diva maka mau tak mau mereka berdua harus naik ke panggung kecil untuk menerima mahkota raja dan ratu prom.
Mereka berdua naik keatas panggung dengan bergandengan tangan dan mendapatkan tepuk tangan meriah dari seluruh peserta pesta.
Setelah menerima mahkota, mereka didapuk untuk melakukan dansa sebagai pasangan paling serasi pesta.
“Dansa, dansa, dansa.” Sorak semua peserta pesta dari bawah panggung.
Suasana kikuk dan canggung dialami Diva dan Bethoven. Tiba-tiba Diva meraih mikrophone.
“Maaf, mohon kalian semua bisa memaafkan kami.” Seru Diva dibalik mikrophone. Ketika seluruh peserta sudah mulai tenang, Diva melanjutkan. “Mohon maaf kami tak bisa memenuhi permintaan kalian. Malam ini kami tidak akan dansa, karena akan menyalahi aturan. Ga enak dong kami raja dan ratu berdansa dalam pengawasan pak Agus.”
Seketika seluruh peserta dibawah panggung tertawa. Kalimat benar Diva, terdengar seperti suara dengungan lebah.
__ADS_1
“Tapi, sebagai gantinya kak Betho dan aku akan menyanyikan sebuah lagu. Bagaimana?”
Semua bersorak tanda menyetujui.
Oleh panitia Bethoven diberikan sebuah gitar akustik yang sudah terhubung dengan sound system gedung, juga sebuah mik kecil yang menempel di pipinya sehingga dia bisa bergerak bebas saat bernyanyi. Untuk Diva, panitia hanya memberikan sebuah kursi bundar berkaki tiga juga handmic nirkabel.
“Assalamualaikum.” Sapa Bethoven setelah persiapannya dengan gitar telah selesai.
Dan jawaban waalaikumusalam terdengar serempak terucapkan dari seluruh peserta.
“Baiklah, untuk menutup malam ini. Silahkan kaliang pegang tangan pasangan masing-masing. Dan teruntuk yang tidak mempunyai pasangan, jangan bersedih. Suatu saat kalian akan mengalami kebahagiaan yang lebih daripada malam ini.” Ucap Bethoven memberi arahan pada peserta dibawah panggung. “Aku akan menyanyikan sebuah lagu lama, semoga kalian suka. Lagu dari Yovie And Nuno, Janji Suci untuk menutup malam indah ini.”
Dan petikan gitar akustik mengawalinya. Para lelaki mulai menggandeng pergelangan tangan pasangan gadisnya sambil bergoyang pelan mengikuti dentingan gitar. Semua mulai ikut bernyanyi bagai sebuah paduan suara.
Dengan tetap bermain gitar dan bernyanyi, Bethoven lebih banyak memandang kearah Diva, daripada kearah lainnya. Suara merdunya dan petikan gitarnya telah membius seluruh peserta yang sedang menonton sambil mengikuti Bethoven bernyanyi.
Seolah sedang melakukan live concert, Bethoven tiba-tiba berjongkok didepan Diva. Dengan terus memetik gitar dan bernyanyi yang kini telah memasuki refrain.
Diva terkesiap melihat Bethoven yang berjongkok didepannya. Pipinya kembali merona merah, dan satu tangannya menutupi bibirnya yang terbuka karena tak mampu berkata-kata.
Bethoven tetap bernyanyi tapi sedikit lebih melambatkan temponya, ketika akan memasuki refrain Janji Suci.
“Aku ingin mempersuntingmu 'Tuk yang pertama dan terakhir.” Sorak gemuruh terdengar dari bawah panggung. “Jangan kau tolak dan buatku hancur Ku tak akan mengulang 'tuk meminta Satu keyakinan hatiku ini Akulah yang terbaik untukmu. Jangan kau tolak dan buatku hancur Ku tak akan mengulang 'tuk meminta Satu keyakinan hatiku ini Akulah yang terbaik untukmu Jangan kau tolak dan buatku hancur Ku tak akan mengulang 'tuk meminta Satu keyakinan hatiku ini Akulah yang terbaik untukmu… Akulah yang terbaik untukmu…”
Dan koor panjang dari bawah panggung terdengar.
“Oh-oh-oh, oh-oh…”
Bersambung…
_____________
Footnote :
__ADS_1
) Sombrero adalah topi lebar khas Mexico*