
“Mama, jangan tinggalkan aku. Mama….” Jerit Diva dengan mata berkaca-kaca.
Nabila yang memandangnya terpukau melihat ekspresi putrinya yang begitu natural.
“Maafkan mama sayang, maafkan mama. Mama harus pergi.” Jawab Nabila sambil menggelengkan kepala dan dengan tatapan yang kosong.
Plok, plok, plok.
“Bravo, bravo, adegan kelas dunia yang bisa menyabet piala Oscar.” Teriak Adli mengomentari kedua orang didepannya.
Nabila dan Diva sama-sama tersenyum bangga.
“Beneran om Adli? Akting Diva bagus?” Tanya Diva dengan memasang wajah polosnya.
“Hei, ini kamu sedang akting atau lagi serius tanya nih?” Goda Aldi dengan memiringkan kepalanya kearah Diva. Yang digoda tersenyum lebar mempamerkan giginya yang putih dan rapi.
“Serius tanya dong om, malah pake banget seriusnya.”
“Hehehe… iya sepertinya bakat akting mama Bila menurun kekamu. Malah lebih bagusan akting kamu.”
“Beneran om. Asyik.”
“Hei, ga bisa. Jelas bagusan akting mama lah?” Nabila ikutan menggoda putrinya, dengan berpura-pura manyun.
“Yeaa, jelas banget keliatan aktingnya. Ga natural.” Seru Diva sambil terbahak-bahak mengejek mamanya, yang langsung dibalas gelitikan diperut. Teriakan jeritan canda tawa menghiasi rumah mungil itu. Suasana yang sangat jarang terjadi.
Sekarang Diva telah tumbuh menjadi remaja, usianya telah menginjak usia tiga belas tahun. Diva kini telah menginjak sekolah kelas VII. Nabila tidak perlu bingung saat pendaftaran putrinya setelah lulus SD, karena yayasan tempat SD Diva menyediakan jalur khusus bagi yang ingin meneruskan ke jenjang berikutnya.
“Eh om kesini ga bawa apa-apa nih?” Selidik Diva sambil menatap intens pada Adli.
“Diva, kamu kok ga sopan kaya gitu?” Sergah Nabila karena tidak senang dengan perilaku putrinya yang dianggap tidak sopan.
“Ga apa-apa Bil, aku memang kesini membawa oleh-oleh untuk Diva.” Kata Adli menimpali.
“Wek.” Diva menjulurkan lidah pada mamanya.
“Mana om?” Tanya Diva dengan manja sambil bergelayut di lengan Adli.
__ADS_1
“Mana ya, om kok kelupaan.” Jawab Adli sambil mencari-cari sesuatu di saku jasnya. Lalu menggaruk keningnya seolah memikirkan sesuatu.
“Yeaaa, ooommm…” Rengek Diva.
“Hehehe… ada kok ini. Taraaaaa…” Jawab Adli sambil mempamerkan beberapa lembar kertas berukuran folio. “Nah kamu tanda tangan disini ya. sekarang kamu berada dibawah manajemen Star Fiction Management. Dan mulai minggu depan kamu sudah harus melakukan syuting sinetron remaja baru untuk satu stasiun televise nasional.”
“Horeeee… Makasih om Adli. Om memang the best deh.” Sorak Diva kegirangan sambil memeluk manajer barunya itu.
Nabila yang hanya mendengarkan saja semakin bingung,dahinya mengernyit secara jelas.
“Hei… hei… kok sepertinya mama menjadi orang asing disini ya? Apa sekarang mama harus keluar negeri sekalian?” SIndir Nabila.
“Hehehe… maaf ma.. hehehe…” Diva meminta maaf sambil cengengesan.
Adli kemudian menjelaskan bahwa satu minggu lalu saat Nabila syuting di Lombok, Diva ikut sebuah casting, dan dia diterima. Karena Diva memasukkan nomor pribadi Adli sebagai walinya, pihak rumah produksi menghubungi Adli untuk tanda tangan kontrak awal sepuluh episode. Jika nanti ratingnya bagus dipastikan akan Diva akan mendapat kontrak eksklusif, karena dalam sinetron ini Diva di plot sebagai tokoh protagonist meski bukan pemeran
utamanya.
Nabila yang mendengar penjelasan itu bingung bagaimana harus mengambil sikap. Sejujurnya dia sangat senang putrinya bisa mewarisi bakatnya, tetapi dunia hiburan itu dunia yang keras dan kejam. Apalagi Diva masih muda. Sama persis dengan dirinya waktu dulu mengawali karir.
Bibir Nabila membentuk huruf O besar secara tak sadar, saat dalam benaknya melintas kisah kelamnya di masa lalu yang harus membuatnya bersembunyi.
“Diva, selamat ya, tapi ingat kamu harus menurut semua omongan mama, bu Minah juga om Adli. Tidak boleh sedikitpun membantah. Mengerti.” Nabila akhirnya mengucapkan kata selamat, meskipun tidak ada nada bahagia disana.
Diva yang bingung melihat ekspresi Nabila hanya mengangguk saja.
“Siapa nanti yang menjadi lawan mainnya bang?” Nabila dengan serius mengorek keterangan dari Adli.
“Semuanya artis pendatang baru. Karena sinetron ini bergenre remaja dan mengambil segmentasi para abg.” Jawab Adli dengan tenang. “Dan Bil, aku minta maaf ya, karena aku tidak memberitahukan ini padamu terlebih
dulu. Tetapi aku berjanji, aku akan menjadi manajer yang secara langsung menangani Diva. Seperti aku menangani kamu. Kamu masih percaya sama aku kan?”
“Iya bang, aku percaya. Aku titip Diva ya bang.”
Sekarang ganti Diva yang merajuk, karena dia seorang yang tidak mengerti arah dialog dua orang dewasa didepannya.
\===o0o===
__ADS_1
“Aish… dia berjalan menuju kemari.” Jerit Chery heboh. Gadis berseragam biru putih ini menepuk-nepuk paha Diva yang sedang bermain hape.
Bella gadis berkacamata minus dan rambut dikepang dua yang duduk disamping Diva segera menghentikan aktifitas membaca majalahnya. Pandangannya kini fokus pada sosok remaja lelaki berseragam putih biru dengan rambut ikal tebal sedikit gondrong melangkah dingin mendekat kearah Bella, Chery dan Diva.
Diva pun menghentikan sejenak game tetris di hapenya. Pandangannya kini terpaku dan terpana, terpesona pada sosok lelaki yang semakin mendekat kearah mereka. Genk BCD demikian mereka menamakan kelompok kecil menjadi begitu heboh saat sosok pemuda itu melewati dan melemparkan senyum canggung karena ditatap tiga cewek tanpa berkedip.
“Whaaaaa…. Dia tersenyum padaku. Kak Bethoven tersenyum padaku.” Jerit Chery yang memang terkenal paling heboh nan rempong itu, “aroma parfumnyaaaaaaa… menggoda banget, pengen diriku dalam pelukannya selamanya.”
Bella dan Diva tertawa terbahak-bahak melihat sahabatnya itu kini memonyongkan bibirnya dan bergerak seolah mengendus arah parfum yang tertinggal.
“Whoeeee… hentikan, kamu udah mirip jery si tikus saat mencium aroma keju. Wkwkwkwk…” Seloroh Diva sambil terpingkal memegangi perutnya.
Bella pun mengamini pendapat Diva. Dia juga terpingkal-pingkal.
Bethoven putra Bram dan Josephira memang tampan, dan menjadi kakak kelas sekaligus idola genk BCD. Apalagi Bethoven ikut dalam band sekolah sebagai vokalis, maka genk BCD pun semakin tergila-gila. Tentu saja bukan hanya genk BCD yang tergila-gila dengan Bethoven banyak cewek lainny disekolah ini yang mengidolakan Behoven.
Itulah sebagian keceriaan Diva di sekolah, meski dia sering melihat foto Bethoven dari hape mama Nabila, tapi dia berpura-pura didepan temannya kalau dia hanya tahu disekolah saja. Diva merahasiakan hal itu dari para sahabatnya. Didepan Nabila, Diva juga merahasiakan kalau dirinya dan genk nya adalah fans garis keras Bethoven.
“Diva, kamu dipanggil kepala sekolah sekarang” Sebuah suara merusak suasana ceria genk BCD.
Bella dan Chery saling berpandangan tidak mengerti, tapi tidak dengan Diva.
“Kenapa kamu dipanggil kepala sekolah?” Tanya Bella dengan nada kuatir.
“Iya, kamu tidak berbuat yang salah dibelakang kami kan?” Tanya Chery menimpali.
“Tidak kok.”
“Terus kenapa?” Bella bertanya lagi.
“Ah sudah, sebagai sahabat karib kita akan bersama menghadapi ini. Ayo Diva kami antarkan.” Seru Chery dengan bergaya seperti pahlawan kesiangan.
Bersambung....
===============
Maaf baru update readers
__ADS_1
jangan lupa jempol dan komentarnya ya biar semangat