MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)

MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)
Eps. 23 TERKEJUT


__ADS_3

Cuplikan eps. sebelumnya…..


“Joe…”


“Siap bos.”


“Carikan aku dua orang detektif swasta untuk mengikuti


dan mengamati Diva dan Nabila kemanapun mereka pergi.”


“Siap bos.”


\===o0o===


Sudah dua hari Diva berada di lokasi syuting sinetron barunya. Sebagai pemeran utama dan salah satu bintang baru, Diva banyak berkenalan dengan pemain lainnya dan beberapa pemain senior. Hari pertama kemarin tidak langsung diisi dengan kegiatan syuting, melainkan lebih banyak pada persiapan dan perkenalan.


Diva datang dengan dikawal dua orang bodyguard yang selalu bersiaga di lokasi syuting, sementara untuk semua kebutuhannya Adli memberikan dua orang asisten untuk membantu semua kebutuhan Diva selama dilokasi syuting.


Hari ini syuting akan dilaksanakan setelah jam dua belas siang. Para kru kini sedang sibuk mepersiapkan set untuk kebutuhan syuting. Beberapa pemain yang mendapat bagian untuk pengambilan gambar juga sedang bersiap di depan meja rias masing-masing dengan dibantu asisten dan make up artis, begitu pulan dengan Diva. Hari ini dia mendapat lumayan banyak jatah scene.


Dengan konsentrasi yang terbagi, Diva dengan tangan memegang naskah mencoba menghafal beberapa dialog. Sementara seorang make up artis tanpak sibuk menata rambutnya, dan sang asisten sedang sibuk memilah  beberapa wardrobe yang disediakan untuk digunakan Diva.


“Kamu udah cantik alami nek… aku jadi ga terlalu repot mempermak wajah kamu.” Kata lelaki kemayu sang make up artist sambil tangannya terus melakukan gerakan menyisir rambut hitam nan panjang Diva.


“Hmm…” Diva tak menjawab dengan jelas, karena fikirannya sedang mencoba menghafal dialog yang ssedikit panjang.


“Kamu pilih yang mana cyiiinnn?” Tanya asisten Diva yang datang dengan membawa tiga potong baju.


“Pilihin yang kasual aja mak, scene awal ini diambil dipinggir hutan, ceritanya aku tersesat di hutan.” Jawab Diva tanpa melihat ke arah asisten.


“Huuh… ini semua baju kasual cyin… ayo dong kamu pilih sebentar saja.” Kata asisten lagi dengan gaya kemayu yang khas.


“Ya udah, aku pilih yang di tangan kanan kamu aja.” Jawab Diva datar setelah melihat sekilas.


“Oke.” Seru asisten dengan wajah berseri. Ini anak memang ga bawel kayak bintang-bintang lainnya. Baju yang kupilihkan langsung diterima tanpa complain. Batin asisten dengan senyum mengembang.


Tiba-tiba ada suara cempreng yang cukup keras.


“Lima belas menit lagi kita akan lakukan first take. Pemain harus sudah siap di lokasi sepuluh menit lagi.” Teriakan cempreng dari asisten sutradara mengagetkan hampir semua orang. Sebenarnya bukan kaget, lebih  tepatnya menyakitkan gendang telinga.

__ADS_1


“SIAAAP…” Koor dari beberapa pemain bergema membuat asisten sutradara satu itu tersenyum puas. Dia lalu berjalan menghampiri Diva.


“Kamu udah siap Diva? Scene kali ini lumayan membuat kamu capek loh.”


“SIap kak Alin. Diva sudah tahu kok dari naskah ini.” Jawab Diva sambil tersenyum lebar dan mengangkat naskah yang sedari tadi di pelajarinya.


Alin, wanita tiga puluh tahun sang asisten sutradara satu tersenyum puas mendengar jawaban itu. Dia lalu menepuk bahu Diva dan berlalu untuk menyapa pemain lainnya.


Beberapa saat kemudian. Segala kebutuhan selama syuting telah siap. Tata lampu, letak kamera dan juga pengamanan agar masyarakat yang ikut menyaksikan jalannya proses syuting tidak akan mengganggu.


Sang sutradara sudah mulai berteriak untuk memeriksa kesiapan kru dan pemain.


“Take one, schene tepi hutan, roll one .” Kru dengan clapper board berkata didepan Diva yang tengah bersiap. Claper adalah kru yang bagian divisi produksi, fungsinya adalah untuk mempermudah proses editing gambar, karena syuting film tidak dilakukan secara berurutan sesuai dengan alur, melainkan diatur sedemikian rupa sehingga biaya produksi bisa dihemat seefisien mungkin.


“Oke, semua tenang. Kamera siap…. And….. action!” Teriak sutradara memberikan perintah pada Diva untuk mulai berakting didepan kamera.


Dalam schene kali ini Diva sang pemeran utama sedang tersesat dan kebingungan di pinggir hutan. Dalam schene ini, Diva tanpa banyak melakukan dialog, karena itu dia harus bisa mengekspresikan wajahnya sealami


mungkin untuk menggambarkan keterbingungan yang dialaminya.


Beberapa menit sang sutradar mengamati melalui monitor kecil didepannya, bagaimana ekspresi wajah Diva. Dia tampak tersenyum puas. Dari layar monitor terlihat Diva tersandung dan terjatuh, salah satu kamera menyorot ekspresi wajah Diva yang kesakitan karena terjatuh lalu terlihat mulai meringis kesakitan sambil memijit-mijit pergelangan kakinya.


Lelaki muda dengan pakaian lusuh khas pemuda desa yang tinggal ditepian hutan mendekat kearah Diva dengan bergegas. Tampak dari layar monitor yang terus diawasi oleh sutradara dan asisten sutradara juga pengawas sekenario pemain figuran itu berbicara dengan baik sesuai naskah.


Diva yang seharusnya masih menampakkan ekspresi kesakitannya sedikit merubah ekspresinya begitu pemain figuran itu mendekat, berbicara dan menyentuh ujung kakinya. Tapi Diva cepat menguasai keadaan, hingga ekspresi itu tidak terlalu terlihat.


Lagi-lagi Diva menampilkan ekspresi yang membuat sutradara harus meng cut adegan itu.


“Cut! Cut!!! Come on Diva… what’s up with you? Kenapa ekspresi wajahmu tiba-tiba berubah hah?”


“Maaf bang…. Maaf…” Jawab Diva sambil membungkukkan badan. Dia tahu dia salah.


“Oke… Oke… kita ulangi lagi dari awal. Tapi kamu Diva jangan bikin kesalahan lagi ya… figuran itu lumayan bagus aktingnya. Kamu harusnya merasa malu karena telah merusak schene ini.” Sang sutradara bertubuh  tambun ini sedikit memaklumi dan memberikan teguran pada Diva.


Diva hanya menganggukkan kepala sebagai jawabannya. Matanya kembali melirik tajam pada lelaki figuran yang kini telah berjalan menjauh kembali ke posisinya tadi.


Mengapa ada dia disini? Tanya Diva dalam hati.


Akhirnya adegan diulangi seperti tadi. Sampai lelaki figuran itu memapah Diva untuk membantunya berjalan. Tapi bukannya memapah lelaki figuran itu malah menggendong Diva dibelakang punggungnya. Tentu saja

__ADS_1


ekspresi Diva sangat terkejut, tapi beruntung dia menoleh membelakangi kamera yang menyorot wajahnya.


Duuuh… kenapa sutradaranya ga nge cut sih? Ini kan ga ada dalam sekenario? Harusnya Cuma dipapah saja, kenapa harus digendong segala. Cericit hati Diva tidak terima sang sutrada yang tidak menghentikan adegan


diluar sekenario ini.


“…. Aaand…. CUT! Bagus…. Bagus… that’s look so natural. Excellent… excellent….” Teriak sutradara dengan senyum puas terkembang menghias wajahnya yang berewokan.


Diva buru-buru turun dari gendongan dan segera menghambur kearah sutradara.


“Bang, itu kan tidak ada dalam naskah? Kenapa abang membiarkannya?”


“Ooo… maaf Diva, tapi di screen monitor terlihat sangat bagus dan penuh dengan dramatisasi yang indah. Jadi aku biarkan improvisasi yang dilakukan figuran itu.” Jawab sutradara lalu tertawa tidak menggubris protes yang Diva lontarkan.


Merasa protesnya tidak digubris, Diva berlalu dengan perasaan kesal. Dia lalu menghampiri pemeran figuran yang telah lancang menggendongnya tadi. Setelah berada didekatnya Diva lalu menyeret lengan figuran tadi sedikit menjauh dari lokasi syuting.


“Apa-apaan kamu bang?” Bentak Diva pada Bethoven yang menjadi figuran tadi.


Bethoven tidak langsung menjawab. Dia hanya cengengesan


sambil menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal.


“Kamu sengaja ya? Dasar mesum!” Maki Diva lagi. Lalu pergi meninggalkan Bethoven sendirian.


“Ah… oh… bu…” Bethoven tidak meneruskan kalimatnya karena Diva kini telah semakin jauh dan telah bersama asistennya.


“Siiiiaaaallll…. Kenapa dia selalu menuduhku mesum sih?” Geram Bethoven dalam monolognya.


Ditempat masyarakat yang ingin menyaksikan proses syuting film, terlihat seorang lelaki tampak serius melihat dan sesekali melakukan pemotretan dengan kamera yang dilengkapi lensa tele. Sesekali tampang lelaki itu tersenyum puas melihat adanya adegan Diva dan Bethoven berdebat setelah syuting barusan.


Adegan syuting kembali dilakukan dengan beberapa pemain lainnya. Sementara Diva masih merasa sangat dongkol duduk didepan meja riasnya. Beberapa sapaan pemain lainnya yang juga berada didalam ruangan dan menunggu waktunya pengambilan gambar tak dihiraukannya. Fikiran Diva berkecamuk.


“Kenapa sih orang mesum itu harus ada disini?” Gerutu Diva.


Tanpa terasa hari telah malam. Proses kegiatan syuting pun dihentikan.


Bersambung…


\==============

__ADS_1


__ADS_2