
“Pah, bagaimana kondisi mamah?” Tanya Bethoven sambil berlari menyusuri lorong rumah sakit. Diva juga berlari tergopoh-gopoh mengikuti dibelakangnya. Mereka berdua mendadak harus keluar kota tadi pagi, dan baru saja diberi kabar oleh Bram perihal Josephira yang harus masuk rumah sakit karena bunuh diri.
Bram menoleh kearah anaknya dan Diva.
“Mama kamu sudah ditangani, dan sekarang sedang tertidur karena efek obat penenang.” Jawab Bram setelah Bethoven dan Diva duduk didekatnya.
“Bagaimana sampai begitu pah, tadi saat kami tinggalkan kondisi mamah baik-baik saja.”
“Benar om.” Timpal Diva. “Tadi tante masih ceria-ceria saja saat kami mendadak harus pergi.”
Bram lebih dulu mengambil nafas dalam-dalam, lalu mulai menceritakan kejadian yang telah terjadi tadi dengan detil termasuk bagaimana Josephira meminta dia untuk menikahi Nabila dan mengancam bunuh diri. Juga bagaimana nasihat dokter Eka padanya.
Bethoven dan Diva mendengarkan dengan seksama, mulut mereka terbuka lebar tak percaya.
“Aku tak menyangka mamah akan sedepresi itu. Padahal saat bersamaku mamah terlihat sudah bisa menerima dengan iklas musibah yang dialami.” Renung Bethoven pilu.
Diva memegang telapak tangan Bethoven untuk menguatkan hati kekasihnya itu. “Sabar ya kak, pasti ada jalan keluar untuk semua ini. Tidak mungkin ada wanita yang meminta suaminya menikah lagi. Itu mungkin karena tante sedang dalam kondisi yang kurang stabil saja. Nanti kalau sudah tenang lagi, tante pasti lupa akan permintaannya itu.”
Bethoven mengangguk dan mengamini ucapan Diva barusan. Tentu saja dia berharap papanya tak akan menikah dengan tante Nabila yang sudah dianggap seperti tantenya sendiri itu.
“Pah aku mau lihat mamah dulu.” Kata Bethoven setelah terdiam beberapa saat.
Bram mengangguk.
Bethoven dan Diva masuk kedalam kamar Josephira. Mereka melihat wanita cantik itu tergolek tenang di brangkar. Perban dan plester menghias lehernya yang jenjang.
Diva yang mudah tersentuh seketika menangis melihat tubuh Josephira yang terbungkus baju pengikat (baju restrain).
“Tante tidak gila, tante tidak gila, dia tak pantas diperlakukan seperti ini.” Tangis Diva pecah seketika. “Kak, ini tidak benar. Ini salah kak, mintalah pada dokter untuk melepaskan itu.”
__ADS_1
“Iya Diva, sudahlah tenanglah.” Jawab Bethoven seraya memeluk Diva.
Mereka segera keluar.
“Om, kenapa tante Jose dipakaikan baju pengikat? Tante tidak gila om.” Tanya Diva pada Bram.
“Iya kamu benar, tapi itu hanya untuk berjaga-jaga agar tantemu itu tidak lagi berusaha melukai dirinya sendiri dulu.” Jelas Bram.
"Tapi sampai kapan om? Diva tak tega melihat tante mendapat perlakuan seperti itu."
"Om juga tak tahu Diva, om cuma bisa berharap dan berdoa agar baju restrain itu segera dilepaskan. Mungkin setelah tim medis merasa yakin tantemu sudah bisa mengendalikan emosinya."
“Lalu apa yang harus kita lakukan pah? Apa tingkat depresi mama sebegitu mengkhuatirkannya?” Tanya Bethoven.
“Entahlah, tadi aku dan tante Nabila berunding. Tapi masih belum menemukan solusi yang tepat. Mungkin yang bisa dilakukan untuk saat ini hanyalah menuruti permintaan mama kamu saja.”
“Maksud papa permintaan mamah yang meminta papah menikahi tante Nabila?”
“Jadi om dan tante akan menikah beneran?” Tanya Diva. Nabila menangkap ada sinyal tidak suka dari pertanyaan itu.
“Tidak, tidak seperti itu.” Jawab Nabila gelagapan.
“Benar, tadi kita membahas untuk menikah secara resmi tapi tidak benar-benar melakukan itu.” Jelas Bram seraya memberi isyarat tanda petik dengan jari-jarinya.
“Itu?” Tanya Diva menirukan isyarat Bram.
“Eh hem, bagaimana ya? Maksudnya itu kita hanya akan berpura-pura didepan mamanya Bethoven sebagai suami istri. Tapi kami tidak benar-benar melakukan hubungan layaknya suami istri.”
“Benar. Benar seperti itu.” Timpal Nabila. “Kami hanya akan berakting didepan kak Jose. Dan jika ini nantinya harus terjadi, kami harap kalian bisa membantu akting kami.” Pinta Nabila lagi sambil menghela nafas yang terasa sangat berat didadanya.
__ADS_1
“Haruskan kalian membohongi mamah?” Tanya Bethoven.
“Eeeeee... Untuk saat ini hanya itu solusi yang terpikirkan. Entahlah.” Jawab Bram kebingungan lalu dengan kasar menyugar rambutnya.
“Atau mungkin kalian ada ide lainnya? Agar kami tak melakukan pernikahan bohongan?” Tanya Nabila pada Bethoven dan Diva.
Keduanya hanya menundukkan kepala setelah berpikir lama. Mereka berdua tak mampu memberikan alternatif lain karena sebelum upaya bunuh diri, Josephira hanya meminta Bram menikahi Nabila.
Nabila menarik nafas dalam-dalam, lalu menghempaskannya dengan cepat.
‘Aku harus berbohong didepan semua orang, agar tak tahu soal kehamilanku dan sekarang bertambah lagi, aku akan berbohong pada orang lain lagi. Semoga ada solusi lain atau kak Jose mau merubah keinginannya.’ Batin Nabila.
Nabila lalu melihat melalui ekor matanya kearah Diva, putrinya. Dilihatnya Diva menatap tajam kearahnya juga, seolah mengatakan, apa yang akan kau lakukan mama?. Sekali lagi Nabila mengambil nafasnya dalam-dalam, seolah beban semakin memberat didalam dirinya.
Tiga hari berlalu.
Tanggal pernikahan antara Bram dan Nabila sudah ditentukan. Josephira terlihat sangat bahagia. Namun tidak dengan Diva dan Nabila. Sejak hari penentuan tanggal pernikahan, hampir setiap hari terjadi pertengkaran antara keduanya.
“Mah, tak bisakah mama menghilang sementara? Hingga mamah tak perlu menikah dengan om Bram?” Tanya Diva dengan keras. Dan pertanyaan itu entah sudah berapa kali dilontarkannya dalam beberapa hari ini.
“Sudahlah Diva, keputusan sudah diambil. Kamu juga ada disana saat kita semua bersepakat. Lalu kamu meminta mamamu ini kabur? Mama tak bisa nak, kak Jose pasti akan melakukan hal yang lebih gila lagi. Dan mama tak mau itu terjadi.”
“Tapi mah, kenapa harus mamah? Tak bisakah om Bram memilih wanita lain? Tante Vena misalnya. Atau siapalah. Asal jangan mamah. Diva tak setuju mamah menikah dengan om Bram. Diva tak tega dengan nyinyiran netizen atau berita gosip di tivi yang akan mengatakan mamah adalah pelakor. Diva tak mau itu terjadi menimpa mamah. Meski orang lain tak tahu kalau Diva adalah putri mamah, tapi tetap saja Diva merasa sakit hati jika sampai hal itu terjadi.”
“Iya mama tahu itu. Tapi nak, tolong mengertilah. Mama juga tak bisa berbuat banyak dalam hal ini. Semua ini mama lakukan hanya untuk menolong orang yang sangat baik dan selalu menolong mama disaat mama membutuhkan pertolongan. Tolong mengertilah Diva. Mama mohon.”
“Sampai kapanpun Diva tak akan bisa mengerti mah, tante Jose memang orang yang baik. Diva akui itu. Bahkan semua orang yang mengenal tante Jose pasti akan setuju. Tapi mah, tak bisakah mama mengerti? Jika itu terjadi, masa depan Diva juga akan terganggu.”
“Terganggu bagaimana?”
__ADS_1
“Selain harus menahan sakit didada karena nyinyiran netizen. Pernikahan bohongan ini juga membuatku harus melakukan kebohongan lainnya. Sebenarnya aku merasa sangat sakit dihati ini mah, saat harus memanggil mamah dengan sebutan tante didepan orang lain. Mamah tak mengerti itu kan? Mamah tak tahu kalau aku selalu menahan sesak didada saat memanggil mamahku sendiri dengan kata tante. Dan sekarang aku masih harus berbohong lagi pura-pura merasa bahagia dengan pernikahan mama dan om Bram?”
Bersambung...