
Bethoven mencoba lagi untuk menghubungi Diva, tapi tetap saja tak bisa tersambung.
“Ada apa denganmu Diva? Kenapa kamu menghilang? Kamu juga tak bilang akan pergi kemana, bahkan ibumu tak tahu keberadaan kamu saat ini.” Rintih Bethoven dalam kekalutan hatinya.
Saat ini perasaan bingung, marah dan benci karena merasa telah ditipu dan tak dianggap sebagai kekasih, menyelubungi kalbu hatinya. Sebagai orang yang telah tulus mencintai seorang Diva, dan tak pernah memperdulikan gosip yang ada karena telah menempatkan penuh kepercayaannya. Tiba-tiba mendapatkan berita lengkap dengan bukti-buktinya, lalu tak bisa langsung kepada sang kekasih membuat Bethoven berada dalam kekalutan yang mendalam.
Sementara itu Diva sedang menemani Nabila, mamanya makan didalam kamar.
‘Kenapa mata kananku tiba-tiba berkedut tiga kali ya? Apakah ada orang yang sedang mengatakan hal buruk dibelakangku? Atau ada orang yang sedang kangen sama aku ya? Ah! Kak Bethoven, gara-gara semua ini, aku sungguh telah melupakannya sejenak. Aku juga tak berpamitan kalau sedang dibali sekarang. Karena memang sebenarnya aku ingin bersama mamah berlibur disini. Tapi ada hal diluar dugaan terjadi, meskipun kami akhirnya bisa berduaan saja disini. Ya benar Allah mengabulkan keinginanku untuk bisa berdua dengan mamah, dan bisa memanggil mamah dengan kata mamah bukannya tante meskipun ada orang lain disamping kami.’ Diva membatin. Tanpa sadar tangannya hanya mengaduk-aduk makanan didepannya.
“Diva, kamu kenapa? Itu nasi kenapa diaduk-aduk saja? Apa yang kamu pikirkan nak?” Tanya Nabila dengan dahi mengernyit.
“Tiba-tiba teringat sama kak Betho mah. Aku kesini tanpa pamitan kepadanya. Karena aku tak ingin kak Betho ikut kesini atau datang kesini. Karena aku sangat ingin bisa berlibur bersama dengan mamah di bali ini.”
“Oh, kenapa sekarang tidak kamu telepon dia saja sekarang?”
“Aku bingung mah.” Jawab Diva sambil menggelengkan kepalanya. “Kalau aku telepon dia sekarang, kemungkinannya dia akan ada disini nanti atau besok. Dan itu akan membuatku tak bisa menemani mamah lagi, karena harus kembali berakting didepan kak Bethoven.”
‘Yah, semuanya adalah kesalahanku yang terus mencoba menutupi aib masa laluku. Aku tak pernah membayangkan efek yang seperti ini pada Diva. Oh ya Allah ya Tuhanku, ampuni dosaku yang terlalu egois hanya memikirkan diriku sendiri.’ Rintih batin Nabila. Tanpa sadar air matanya menetes pelan.
“Mah, mamah jangan bersedih. Diva akan menemani dan mendukung mamah selalu. Apapun yang terjadi. Diva yakin kak Bethoven bisa mengerti dan mau memaafkan Diva. Karena memang Diva harus melakukan ini semua.” Ujar Diva sembari memegang jemari Nabila, mencoba memberi dukungan yang dibutuhkan mamanya saat ini.
Suara ketukan pintu menghentikan percakapan ibu dan anak ini. Diva membukakan pintu dan muncullah Rendi. Kali ini dia memakai pakaian casual, sebuah kaos polo berwarna putih dipadu dengan celana pendek selutut warna hitam dan sepatu kets.
“Apakah kamu sudah merasa semakin baikan?” Tanya Rendi setelah duduk didepan Nabila.
Nabila menjawabnya dengan anggukan kepala.
“Di media sosial, semua berita tentang kalian menjadi viral dan trending topik. Entah mengapa setiap kali berita tentang hubungan kalian, selalu memancing reaksi seperti ini. Kalian berdua benar-benar magnet yang sangat menarik perhatian masa.” Rendi membuka obrolannya.
Nabila hanya terdiam. Dia mengakui apa yang dikatakan Rendi benar adanya. Beberapa kali dia dan Adli dulu berupaya keras membendung agar berita-berita itu tak beredar lagi. Terkadang dengan diam tak berkata dan bereaksi itu lebih baik. Tapi itu dulu, mereka hanya menduga-duga jadi akhirnya reda dengan sendirinya. Tapi sekarang kanal-kanal itu punya bukti percakapan dari ponsel yang hilang.
__ADS_1
“Apakah kamu pernah mempertimbangkan untuk mengakuinya saja?” Tanya Rendi pelan.
“Entahlah, aku takut aku dan Diva tak siap dengan perubahan yang terjadi.”
“Perubahan seperti apa yang kamu takutkan?”
“Entahlah.”
“Maaf, ini memang bukan ranahku. Aku juga tak paham dengan dunia entertainmen kecuali yang aku lihat dipermukaannya saja. Tapi aku selalu percaya, bahwa aib yang kita miliki itu diketahui orang lain atau tidak karena kehendak Allah Ta’ala, jika Allah sudah membuka tabir yang menutup aib kita, maka tak ada yang bisa mencegahnya.”
“Maksudmu adalah sebaiknya aku tak lagi berusaha keras menutupinya?”
“Maksudku adalah lebih baik kamu pasrahkan pada Allah Ta’ala saja. Kamu sudah berbuat baik dengan berusaha keras tidak mengumbar aibmu sendiri. Tapi memang aib-aib yang kita tutupi itu, suatu saat akan Allah buka, entah didunia ini atau nanti saat yaumul hisab*) kelak.”
“Jadi maksud kamu ini semua adalah takdir yang harus aku jalani?” Tanya Nabila. Entah mengapa tiba-tiba hatinya dilanda perasaaan tenang mengobrol dengan Rendi.
“Yah itulah maksudku.”
“Oke, kabari aku kalau kamu butuh bantuan. Jangan sungkan ya?” Ujar Rendi dengan senyum lebar diwajahnya.
Nabila hanya mengangguk pelan.
“Oh ya, karena kalian berdua masih disini. Aku akan menawarkan pada kalian berdua untuk menjadi brand ambasodor hotel ini. Bagaimana? Kalau kalian setuju, besok pagi Nadia akan menyodorkan kontraknya dan menghubungi agensi kalian.”
“Hah, kamu sudah tahu kan apa yang akan terjadi kalau kami mengakui secara terbuka status sebenarnya hubungan kami berdua, meskipun aku tak bisa memastikan kapan hal itu kami lakukan. Bisa dipastikan publik membenci kami, dan ujung-ujungnya memberi kesan buruk pada hotel kamu ini. Dan aku yakin, meskipun kami mendiamkan saja sambil menunggu publik jenuh dan lupa, berita-berita seperti ini tak urung juga akan merusak imej hotel yang kamu bangun ini.”
Rendi tak langsung menjawab. Dia mengangguk kecil setuju dengan yang Nabila bilang barusan. “It’s okay, dalam marketing mix hal itu memang bisa memberikan dampak buruk bagi kami. Tapi instingku mengatakan hanya kalian berdua yang cocok menjadi duta hotel ini. Apapun yang akan kalian lakukan nantinya. Karena aku melihat kalian berdua sebagai dua kepribadian yang sangat baik. Publik kan hanya menilai yang ditampilkan dilayar kamera saja. Sementara untuk saat ini, aku sudah tahu kenapa kalian mengambil keputusan seperti ini.”
“Oke, oke, kirim saja draft kontraknya. Biar kami pelajari dulu. Dalam suatu kerja sama kedua belah pihak haruslah memperoleh keuntungan. Jadi aku ingin didalam kontrak itu ada klausul yang tidak memberatkan kedua belah pihak, terutama disaat publik marah kepada kami. Aku ingin ada klausul penghapusan atau pengurangan pada nilai pembayaran kontrak.”
“Oke. Deal. Besok pagi aku akan perintahkan Nadia mengirimkan draft kontraknya pada kalian dan agensi kalian. Silahkan dipelajari.”
__ADS_1
“Tapi Ren, jika nantinya imej kamu hancur dan membawa dampak pada hotel yang membuat kamu merugi bagaimana?”
“Itu takdir. Untuk saat ini aku lebih percaya pada instingku, bahwa yang aku pilih saat ini adalah akan membawa kebaikan pada usahaku ini.” Jawab Rendi enteng.
“Kamu tak takut rugi?”
“Kalau hotel ini terus merugi, ya dijual saja.”
“Enteng banget kamu ngomong kayak gitu. Terus nasib seluruh karyawan hotel ini bagaimana?”
“Kalau kinerja memang bagus, siapapun yang berada dalam jajaran manajemen pasti akan mempertahankan mereka. Kalau kinerja mereka buruk, meski masih dibawah kendaliku juga akan aku pehaka. Lagipula aku ini berangkat dari nol sudah pernah merasakan susahnya mengembangkan usaha, jadi kalau yang ini misalkan mengalami kesulitan, aku yakin aku masih mampu bangkit. Dan tentu semua itu juga jika Allah Ta’ala mengijinkan. Tapi yang terpenting aku akan berusaha semampuku dulu, baru aku pasrahkan semua hasil yang akan tercapai kepada Nya.” Jelas Rendi panjang lebar. “Seperti kamu yang telah berusaha sebaik mungkin agar aib kamu tak diketahui banyak orang, tapi setelah bertahun-tahun gagal juga, itu artinya Allah mengijinkan orang untuk engetahuinya.”
“Intinya adalah kita berusaha, berdoa lalu pasrahkan saja hasil yang akan didapatkan.”
“Benar. Kadang meskipun kita telah berusaha keras dan sudah memperhitungkan segala sesuatunya, namun hasil yang didapatkan terkadang tak susai harapan. Kadang saat kita belum maksimal berusaha hasilnya sudah melampaui dari yang diharapkan. Yah begitulah takdir Ilahi. Kita manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, lalu pasrahkan pada Nya. Dan syukuri apapun hasil yang kita terima. Jangan pernah mengeluh, kita punya Allah Yang Maha Kaya, Yang Maha Memberi.”
‘Dalam, sangat dalam pemahaman kamu Rendi.’ Puji Nabila yang kini hatinya semakin tenang.
“Berapa usia kamu Ren?” Tanya Nabila tiba-tiba.
“Dua puluh sembilan tahun, Kenapa?”
“Aku tiga puluh tiga tahun. Empat tahun lebih tua dari kamu.”
“Hei, apakah ini artinya kamu sedang mempertimbangkan lamaranku?” Tanya Rendi dengan wajah dipenuhi senyuman.
“Siapa bilang. Aku hanya mencoba menilai apa yang barusan kamu nasihatkan kepadaku. Aku lebih tua dari kamu, tapi pemahaman kamu tentang agama jauh lebih dalam daripadaku. Itu saja kok.” Jawab Nabila dengan pipi merekah merah.
“Ya mungkin karena aku memiliki teman seperti Reyhan. Dia itu hafiz Alquran loh. Kalau aku sih belum. Hehehe...”
Bersambung...
__ADS_1