MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)

MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)
Eps. 58 NIHIL


__ADS_3

Pagi harinya tim vloger sedang membuat persiapan untuk pengambilan gambar konten mereka. Bethoven  telah mendapatkan ijin dari papanya dengan syarat tidak mengambil gambar dirinya dan mamanya.  Bethoven dan tim setuju. Setelah mengurus ijin dari rumah sakit dan mendapatkan perijinannya mereka pun  langsung membuat konsep konten.


“Oke, semua siap diposisi masing-masing. Kita akan mulai streaming dalam lima, empat, tiga, dua, satu,  Action.” Aba-aba Dodit memulai pengambilan gambar untuk konten streaming.


Konten itu diawali dengan Nabila yang mengejar Bethoven yang memasuki pintu masuk rumah sakit. Lalu  terjadi pembicaraan yang menjelaskan bahwa ibunda Bethoven sedang dalam kondisi kritis. Lalu Nabila  selaku bintang utama chanel mereka, meminta pada seluruh fans untuk mendoakan ibunda Bethoven.


Dalam sekejap, konten live streaming itu dibanjiri viewer dan komentar berisi doa.


Tapi ada hal lainnya yang sangat diluar perkiraan Diva dan tim vloger. Para fans itu ternyata mempunyai  empati yang sangat besar pada yang dihadapi Bethoven dan Diva. Dalam satu jam, telah puluhan orang  datang kerumah sakit untuk mengirim bunga dan berdoa. Dan karena pihak rumah sakit takut dengan  semakin banyaknya jumlah fans yang berdatangan, akan mengganggu jalannya proses pengobatan dan perawatan terhadap seluruh pasien dirumah sakit, maka para fans hanya diijinkan melakukan doa bersama  di halaman parkir rumah sakit.


Ditempat lain, Naginisa masih bermain-main dengan budak nafsunya. Dengan televisi yang menyala,  mereka berdua bergumul seperti dua atlit gulat. Saling tindih dan mengerang hebat, saling berganti posisi  dan saling menekan diantara mereka.


Tiba-tiba perhatian Naginisa terusik, karena tak sengaja kakinya menginjak tombol volume pada remot kontrol, membuat volume suara siaran televisi mengeras.


Nabila membuang  lelaki yang sedang menindihnya itu. lelaki itu mengerang karena kepuasannya  terganggu. Budak nafsu itu merasa tanggung, jadi dia menerjang lagi tubuh Naginisa yang kini tengkurap  dengan wajah melihat pada siaran televisi. Lelaki itu melanjutkan lagi aktifitas sebelumnya.


Naginisa terus saja melihat acara televisi dengan  seksama. dikabarkan disana Josephira telah menjadi  korban penusukan saat mendatangi gerai toko perhiasan yang milikinya bekerja sama dengan Nabila seorang artis terkenal. Dia terus saja mendengar setiap ulasan pembawa acara, sambil sesekali mendesah  nikmat dan menggigit bibir bawahnya, sambil memejamkan mata merasakan sensasi genjotan  dari budak nafsunya.


Sambil menikmati setiap gerakan dari lelaki dibelakangnya, Naginisa semakin mengeraskan volume teve nya.


“Sejak video live streaming dari vloger juga sekaligus bintang sinetron Diva dan Bethoven ini ditayangkan,  keadaan halaman parkir dari rumah sakit bertaraf internasional ini sangat ramai dengan para fans yang  berdatangan untuk berdoa bersama bagi kesembuhan ibunda Bethoven.” Kata penyiar televisi. Kemudian  gambar beralih pada kerumunan fans yang tengah duduk dengan tenang meskipun kepanasan, dan beberapa orang yang sedang mendirikan tenda. “Seorang relawan yang tak mau disebutkan namanya telah  menyumbangkan pendirian tenda di halaman parkir disini. Dan pihak rumah sakit telah memberikan ijin  untuk pendirian tenda bagi orang-orang yang kini sedang mendoakan ibuda Bethoven.”


“Arrggh…!!!” Teriak Naginisa. Entah itu erangan marah setelah melihat tayangan berita itu, ataukah erangan  kepuasan, karena bersamaan dengan itu lelaki budak nafsu ambruk diatas punggung Naginisa.


Naginisa berputar balik hingga tubuh lelaki diatasnya ambruk kesamping.

__ADS_1


“Sial, mereka selalu mendapat simpati dari banyak orang. Dulu ketika mereka menikah, begitu banyak dari  keluarga besar yang memuji-muji mereka, kini saat seperti ini pun mereka bisa menarik simpati begitu  banyak orang.” Geram Naginisa penuh rasa cemburu atas perhatian yang selalu didapatkan keluarga  Josephira, sepupunya itu.


Kembali ke rumah sakit.


“Hmm, aku tak menyangka akan seperti ini.” Kata Bram sambil melihat kebawah jendela pada kerumunan  orang yang terus berdatangan masuk kedalam tenda yang telah didirikan. “Semoga allah mengijabahi doa  kami. Aamiin.” Ucap Bram lagi. Air matanya menetes karena rasa haru mendapati begitu banyak orang yang  mendoakan keselamatan istrinya.


“Tuan.” Panggil Johan pelan dari arah belakang Bram.


“Hmmm…”


“Tim penyeledik kita baru saja melaporkan.”


“Benarkah? Bagaimana laporannya, apakah mereka sudah bisa mengindentifikasi pelakunya?”


“Belum tuan. Masih  nihil.”


“Tampaknya pelaku cukup cerdas tuan.” Katanya sambil menyerahkan tablet, Bram menerimanya dan  memutar potongan video cctv. “Pelaku terus menundukkan mukanya, tanpa sekalipun pernah mengangkat  wajahnya. Bahkan ketika bergerak menabrak dan melukai nyonya, dia tetap menundukkan kepala.” Jelas  Johan.


“Bagaimana dengan cctv jalan raya?”


“Hanya terlihat dia berlari menyeberang dan lalu masuk ke lorong kecil. Tapi terlihat lagi dari cctv manapun dimana dia keluar.”


“Panggil Nabila, mungkin dia bisa mengenali sosok lelaki misterius ini.” Titah Bram pada Johan.


Johan mengangguk lalu menelpon Nabila.

__ADS_1


Nabila mendekat kearah mereka berdiri. Johan lalu menjelaskan maksud Nabila disuruh datang. Nabila  memperhatikan dengan seksama, tapi dia juga tidak bisa menebak sosok dalam video tersebut. Meski ada  sedikit kecurigaan dalam hatinya, karena sosok itu sekilas mirip dengan Ferdi, tapi Nabila tak berani  mengatakannya karena tak bisa melihat dengan jelas wajah lelaki didalam video.


“Maaf, aku juga tak bisa menebaknya.” Kata Nabila lemah sambil menyerahkan tablet kembali pada Johan. “Aku akan kembali menemani kak Jose.” Pamitnya.


Nabila duduk disebelah Josephira yang terbaring. Tubuh Josephira penuh dengan alat bantu medis. Mulai  dari alat pendeteksi jantung, tekanan darah, alat bantuan pernafasan yang dimasukkan kedalam mulut, dua  selang infus menancang di kedua tangannya. Melihat itu hati Nabila serasa teriris tak tega.


“Kak, maafkan aku yang ceroboh.” Ujar Nabila dengan tetesan air mata. “Bangunlah kak, aku masih membutuhkan kamu.”


Nabila melihat dari sudut mata Josephira ada setitik air. Nabila mengambil tisu untuk membersihkannya. Dia  tidak tahu apakah itu adalah air mata tangisan ataukah itu hanya imbas rasa sakit dari tubuh karena  begitu banyak alat yang tertancap ditubuh Josephira.


Sementara didalam ruangan dokter yang merawat Josephira, Bram dan Bethoven mendengarkan penjelasan dokter tersebut.


“Begini, tuan Bram, tuan Bethoven, saya akan mengajak anda berandai-andai dalam hal positif.” Kata dokter  itu sambil menatap keduanya bergantian. “ Jika saja, pasien bisa melewati masa kritis hari ini, dan saya  berharap dengan penuh keyakinan, nyonya Josephira pasti bisa melewatinya, anda berdua sebagai  eluarganya harus mampu mendukung dan memberikan perhatian penuh pada beliau.” Dokter itu berhenti sebentar lalu melanjutkannya lagi. “Karena selain kehilangan bayi yang telah dikandungnya selama delapan  bulan itu sudah pasti akan memukul psikologi nyonya Josephira dan memberikan beban yang cukup berat  pada mentalnya, ditambah lagi karena luka tusuk yang telah memutus beberapa urat syaraf beliau, saya bisa memastikan saat beliau nantinya terbangun, nyonya Josephira akan dalam keadaan lumpuh.”


“Apa? Benarkah itu dok?” Teriak Bram tak percaya dengan apa yang telah didengarnya.


“Dok, jangan  katakan itu. kumohon. Itu pasti terlalu berat untuk mama.” Ucap Bethoven.


“Maafkan saya, itu memang hal yang sangat berat. Karena itu saya meminta pada kalian berdua selaku keluarga terdekat pasien.”


Bram dan Bethoven terdiam. Mereka begitu terpukul mengetahui kondisi yang dialami orang yang paling mereka sayangi.


“Syukurlah.” Tiba-tiba dokter itu berkata, setelah melihat ponselnya. “Istri tuan sudah siuman barusan. Dia  telah melewati masa kritisnya. Tampaknya doa-doa yang dipanjatkan banyak orang telah dikabulkan sama yang diatas.”


“Alhamdulillah…” Ucap syukur Bram dan Bethoven barengan.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2