
Pagi harinya tim vloger sedang membuat persiapan untuk pengambilan gambar konten mereka. Bethoven telah mendapatkan ijin dari papanya dengan syarat tidak mengambil gambar dirinya dan mamanya. Bethoven dan tim setuju. Setelah mengurus ijin dari rumah sakit dan mendapatkan perijinannya mereka pun langsung membuat konsep konten.
“Oke, semua siap diposisi masing-masing. Kita akan mulai streaming dalam lima, empat, tiga, dua, satu, Action.” Aba-aba Dodit memulai pengambilan gambar untuk konten streaming.
Konten itu diawali dengan Nabila yang mengejar Bethoven yang memasuki pintu masuk rumah sakit. Lalu terjadi pembicaraan yang menjelaskan bahwa ibunda Bethoven sedang dalam kondisi kritis. Lalu Nabila selaku bintang utama chanel mereka, meminta pada seluruh fans untuk mendoakan ibunda Bethoven.
Dalam sekejap, konten live streaming itu dibanjiri viewer dan komentar berisi doa.
Tapi ada hal lainnya yang sangat diluar perkiraan Diva dan tim vloger. Para fans itu ternyata mempunyai empati yang sangat besar pada yang dihadapi Bethoven dan Diva. Dalam satu jam, telah puluhan orang datang kerumah sakit untuk mengirim bunga dan berdoa. Dan karena pihak rumah sakit takut dengan semakin banyaknya jumlah fans yang berdatangan, akan mengganggu jalannya proses pengobatan dan perawatan terhadap seluruh pasien dirumah sakit, maka para fans hanya diijinkan melakukan doa bersama di halaman parkir rumah sakit.
Ditempat lain, Naginisa masih bermain-main dengan budak nafsunya. Dengan televisi yang menyala, mereka berdua bergumul seperti dua atlit gulat. Saling tindih dan mengerang hebat, saling berganti posisi dan saling menekan diantara mereka.
Tiba-tiba perhatian Naginisa terusik, karena tak sengaja kakinya menginjak tombol volume pada remot kontrol, membuat volume suara siaran televisi mengeras.
Nabila membuang lelaki yang sedang menindihnya itu. lelaki itu mengerang karena kepuasannya terganggu. Budak nafsu itu merasa tanggung, jadi dia menerjang lagi tubuh Naginisa yang kini tengkurap dengan wajah melihat pada siaran televisi. Lelaki itu melanjutkan lagi aktifitas sebelumnya.
Naginisa terus saja melihat acara televisi dengan seksama. dikabarkan disana Josephira telah menjadi korban penusukan saat mendatangi gerai toko perhiasan yang milikinya bekerja sama dengan Nabila seorang artis terkenal. Dia terus saja mendengar setiap ulasan pembawa acara, sambil sesekali mendesah nikmat dan menggigit bibir bawahnya, sambil memejamkan mata merasakan sensasi genjotan dari budak nafsunya.
Sambil menikmati setiap gerakan dari lelaki dibelakangnya, Naginisa semakin mengeraskan volume teve nya.
“Sejak video live streaming dari vloger juga sekaligus bintang sinetron Diva dan Bethoven ini ditayangkan, keadaan halaman parkir dari rumah sakit bertaraf internasional ini sangat ramai dengan para fans yang berdatangan untuk berdoa bersama bagi kesembuhan ibunda Bethoven.” Kata penyiar televisi. Kemudian gambar beralih pada kerumunan fans yang tengah duduk dengan tenang meskipun kepanasan, dan beberapa orang yang sedang mendirikan tenda. “Seorang relawan yang tak mau disebutkan namanya telah menyumbangkan pendirian tenda di halaman parkir disini. Dan pihak rumah sakit telah memberikan ijin untuk pendirian tenda bagi orang-orang yang kini sedang mendoakan ibuda Bethoven.”
“Arrggh…!!!” Teriak Naginisa. Entah itu erangan marah setelah melihat tayangan berita itu, ataukah erangan kepuasan, karena bersamaan dengan itu lelaki budak nafsu ambruk diatas punggung Naginisa.
Naginisa berputar balik hingga tubuh lelaki diatasnya ambruk kesamping.
__ADS_1
“Sial, mereka selalu mendapat simpati dari banyak orang. Dulu ketika mereka menikah, begitu banyak dari keluarga besar yang memuji-muji mereka, kini saat seperti ini pun mereka bisa menarik simpati begitu banyak orang.” Geram Naginisa penuh rasa cemburu atas perhatian yang selalu didapatkan keluarga Josephira, sepupunya itu.
Kembali ke rumah sakit.
“Hmm, aku tak menyangka akan seperti ini.” Kata Bram sambil melihat kebawah jendela pada kerumunan orang yang terus berdatangan masuk kedalam tenda yang telah didirikan. “Semoga allah mengijabahi doa kami. Aamiin.” Ucap Bram lagi. Air matanya menetes karena rasa haru mendapati begitu banyak orang yang mendoakan keselamatan istrinya.
“Tuan.” Panggil Johan pelan dari arah belakang Bram.
“Hmmm…”
“Tim penyeledik kita baru saja melaporkan.”
“Benarkah? Bagaimana laporannya, apakah mereka sudah bisa mengindentifikasi pelakunya?”
“Belum tuan. Masih nihil.”
“Tampaknya pelaku cukup cerdas tuan.” Katanya sambil menyerahkan tablet, Bram menerimanya dan memutar potongan video cctv. “Pelaku terus menundukkan mukanya, tanpa sekalipun pernah mengangkat wajahnya. Bahkan ketika bergerak menabrak dan melukai nyonya, dia tetap menundukkan kepala.” Jelas Johan.
“Bagaimana dengan cctv jalan raya?”
“Hanya terlihat dia berlari menyeberang dan lalu masuk ke lorong kecil. Tapi terlihat lagi dari cctv manapun dimana dia keluar.”
“Panggil Nabila, mungkin dia bisa mengenali sosok lelaki misterius ini.” Titah Bram pada Johan.
Johan mengangguk lalu menelpon Nabila.
__ADS_1
Nabila mendekat kearah mereka berdiri. Johan lalu menjelaskan maksud Nabila disuruh datang. Nabila memperhatikan dengan seksama, tapi dia juga tidak bisa menebak sosok dalam video tersebut. Meski ada sedikit kecurigaan dalam hatinya, karena sosok itu sekilas mirip dengan Ferdi, tapi Nabila tak berani mengatakannya karena tak bisa melihat dengan jelas wajah lelaki didalam video.
“Maaf, aku juga tak bisa menebaknya.” Kata Nabila lemah sambil menyerahkan tablet kembali pada Johan. “Aku akan kembali menemani kak Jose.” Pamitnya.
Nabila duduk disebelah Josephira yang terbaring. Tubuh Josephira penuh dengan alat bantu medis. Mulai dari alat pendeteksi jantung, tekanan darah, alat bantuan pernafasan yang dimasukkan kedalam mulut, dua selang infus menancang di kedua tangannya. Melihat itu hati Nabila serasa teriris tak tega.
“Kak, maafkan aku yang ceroboh.” Ujar Nabila dengan tetesan air mata. “Bangunlah kak, aku masih membutuhkan kamu.”
Nabila melihat dari sudut mata Josephira ada setitik air. Nabila mengambil tisu untuk membersihkannya. Dia tidak tahu apakah itu adalah air mata tangisan ataukah itu hanya imbas rasa sakit dari tubuh karena begitu banyak alat yang tertancap ditubuh Josephira.
Sementara didalam ruangan dokter yang merawat Josephira, Bram dan Bethoven mendengarkan penjelasan dokter tersebut.
“Begini, tuan Bram, tuan Bethoven, saya akan mengajak anda berandai-andai dalam hal positif.” Kata dokter itu sambil menatap keduanya bergantian. “ Jika saja, pasien bisa melewati masa kritis hari ini, dan saya berharap dengan penuh keyakinan, nyonya Josephira pasti bisa melewatinya, anda berdua sebagai eluarganya harus mampu mendukung dan memberikan perhatian penuh pada beliau.” Dokter itu berhenti sebentar lalu melanjutkannya lagi. “Karena selain kehilangan bayi yang telah dikandungnya selama delapan bulan itu sudah pasti akan memukul psikologi nyonya Josephira dan memberikan beban yang cukup berat pada mentalnya, ditambah lagi karena luka tusuk yang telah memutus beberapa urat syaraf beliau, saya bisa memastikan saat beliau nantinya terbangun, nyonya Josephira akan dalam keadaan lumpuh.”
“Apa? Benarkah itu dok?” Teriak Bram tak percaya dengan apa yang telah didengarnya.
“Dok, jangan katakan itu. kumohon. Itu pasti terlalu berat untuk mama.” Ucap Bethoven.
“Maafkan saya, itu memang hal yang sangat berat. Karena itu saya meminta pada kalian berdua selaku keluarga terdekat pasien.”
Bram dan Bethoven terdiam. Mereka begitu terpukul mengetahui kondisi yang dialami orang yang paling mereka sayangi.
“Syukurlah.” Tiba-tiba dokter itu berkata, setelah melihat ponselnya. “Istri tuan sudah siuman barusan. Dia telah melewati masa kritisnya. Tampaknya doa-doa yang dipanjatkan banyak orang telah dikabulkan sama yang diatas.”
“Alhamdulillah…” Ucap syukur Bram dan Bethoven barengan.
__ADS_1
Bersambung…