
Cuplikan eps. sebelumnya…
Aih… putriku sepertinya telah mulai mengenal cinta. Tapi kenapa pula harus pada Bethoven putra kak Josephira? Batin Nabila bermonolog.
“Diva… mama tahu Bethoven pemuda yang tampan. Pantas saja kamu teringat padanya.”
Hah, bukan teringat karena dia tampan mama. Tapi karena KEMESUMAN DIA! Jerit hati Diva.
\===o0o===
“Bu-bukan ma, bukan karena gantengnya….” Diva tak jadi meneruskan kalimatnya, karena dia merasa malu dan takut untuk menceritakannya.
“Iya, iya… mama percaya kok pada putri mama. Tapi ingat Diva, mama dulu pernah bercerita pada kamu saat mama seusia kamu juga mengalami hal yang sama dengan kamu. Makanya kemarin mama marahin kamu, mama takut kamu akan mengalami hal terlarang seperti yang mama lakukan dulu nak. Jangan ya nak, mama hanya bisa menasihati kamu, tapi kamulah yang bisa menjaga diri kamu sendiri. Kamu harus tahu mana yang baik dan diperbolehkan untuk kamu, jangan sampai kamu terjatuh seperti yang mama alami dulu. Ingat-ingat pesan mama ini selalu.”
“Iya ma. Maafin Diva ma. Diva janji tidak akan mengulanginya lagi jika tanpa ijin dari mama atau bu Minah atau om Adli. Diva kapok ma.” Jawab Diva lalu memeluk Nabila.
Nabila pun membalas pelukan erat putrinya. Dia merasa bersyukur Diva masih bisa selamat pada peristiwa kemarin, meskipun dia sendiri tidak tahu yang sebenarnya terjadi.
\===O0O===
“Diva…” Panggil Bethoven ketika mereka berpapasan di gerbang sekolah.
Yang dipanggil hanya menoleh sebentar lalu pergi berlalu meninggalkan Bethoven, membuat remaja tampan itu semakin yakin Diva tidak memaafkan kejadian kemarin.
Sial! Dia tidak memaafkan aku, terpaksa harus repot cari cara untuk meminta maaf nih! Menyebalkan! Runtuk Bethoven dalam hati. Aku harus mengejarnya sebelum dia bertemu dengan dua gadis centil sahabatnya. Kalau sudah begitu aku tidak akan mempunyai kesempatan lagi.
Dia lalu mengejar langkah kaki Diva yang telah menjauh beberapa langkah darinya.
Hari ini para siswa akan menerima raport. Dan kebijaksanaan sekolah di tahun ini raport harus diambil sendiri oleh siswa tanpa kehadiran orang tua.
“Diva… bisa kita bicara sebentar?” Tanya Bethoven setelah langkah mereka sejajar.
“Bicara apa?” Tanya Diva tanpa menoleh juga tanpa menghentikan langkah kakinya.
“Aku minta maaf atas kejadian kemarin. Itu tidak kusengaja. Sungguh aku berani bersumpah.”
“Tidak perlu. Aku sudah memaafkanmu kak.”
“Jadi, kita bisa bertemu lagi? Kita bisa jalan-jalan lagi?”
“Tidak.”
Bethoven menghentikan langkahnya dan dengan pandangan penuh kebingungan pada sikap yang Diva tunjukkan. Katanya memaafkan, tapi tidak mau bertemu lagi? Apa maksudmu? Batin Bethoven bertanya-tanya.
Bethoven melangkahkan kaki pergi, ketika dilihatnya Diva sudah disambut kedua sahabatnya.
“Hei… kenapa kemarin ga masuk? Di telepon dan kirim pesan juga ga diangkat dan dibalas?” Cecar Cherry pada Diva.
“Maaf, aku ketahuan manajer aku keluar dengan kak Bethoven. Aku jadi kena marah deh.”
__ADS_1
“Iiiihh…. Masa seperti itu saja marah nya sampai ngehukum ga boleh sekolah?” Tanya Bella dengan memasang wajah tidak senang.
“Karena manajer aku tahu ada kejadian yang tidak diinginkan saat kami keluar itu.”
“APAAAA?!?!” Teriak Bella dan Cherry serempak.
“Emangnya kalian melakukan apa? Itu masih first date loh?” Cherry bertanya dengan wajah masam. Bayangan diotak Cherry, Diva dan Bethoven pasti melakukan perbuatan tak senonoh.
“Melakukan apa?” Diva balik bertanya dengan nada keheranan. Lalu buru-buru menggelengkan kepala dengan wajah memerah saat melihat isyarat dua ujung jari telunjuk Cherry diketuk-ketukan satu sama lainnya. “E- nggak… enggak sampe begituan… jangan ngaco kamu.”
“Terus kejadian apa?”
Diva lalu bercerita bagaimana acara ngebakso itu gagal total karena ada gerombolan pria berjas hitam yang tiba-tiba mengejar mereka, dan membuat mereka harus bersembunyi ditempat penimbunan besi tua. Hingga
mereka diselamatkan oleh pengawal dari orang tua Bethoven. Tentu saja Diva tidak menceritakan pengalamannya bersembunyi dengan Bethoven didalam kulkas bekas juga adegan memegang dada pada kedua sahabatnya.
“Siapa mereka? Yang dikejar itu kamu? Tapi untuk apa tujuan mereka juga ya?” Tanya Cherry.
“Aku tak tahu siapa mereka. Aku juga tidak tahu siapa yang mereka kejar. Aku atau kak Bethoven, atau kami berdua. Tujuannya apa aku juga tidak tahu. Aku hanya bisa bersyukur kami berdua selamat.”
\===o0o===
“Bang… apa abang sudah tahu apa tujuan mereka dua hari lalu?” Tanya Nabila pada Adli, ketika mereka bertemu di ruang kerja Adli.
“Belum Bila. Aku tak punya sumber daya berlimpah untuk menyelidikinya. Yang terpenting Diva selamat dan tak terjadi sesuatu yang buruk itu adalah prioritas aku.”
“Hmmm…” Nabila bingung tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Raut mukanya terlihat sangat jelas gurat kekawatiran tergambar disana.
kamu terikat kontrak sebelumnya.”
“Aku ga bisa konsentrasi mempelajari kontrak-kontrak ini bang. Fikiranku terus merasakan kekuatiran pada Diva, jadi abang aja deh yang pilihkan. Aku akan balik dulu kerumah. Nanti sore baru aku akan berangkat kembali
ke lokasi syuting, asisten sutradaranya dari kemarin udah seratus kali telepon dan kirim pesan agar aku datang tidak terlambat.”
“Ya sudah kalo begitu. Akan aku pilihkan kontrak terbesar saja dan waktu kerja teringan untukmu dikontrak baru nanti. Oh ya, kamu harus fokus saat bekerja nanti ya Nabila, percaya deh akan kujaga Diva.”
“Iya bang. Terima kasih. Aku balik sekarang bang.” Pamit Nabila lalu mencium tangan Adli takzim.
\===o0o===
Ditempat lain.
Ferdi sedang duduk di minibar didalam apartemen miliknya. Dituangkan wine faforitnya kedalam gelas kecil didepannya. Sementara Joe sang asisten terlihat sibuk duduk disofa tidak jauh dari tempat Ferdi duduk. Joe tampak sibuk berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon.
“Kamu langsung naik ke lantai sembilan saja, aku menunggu disini.” Joe lalu menutup sambungan telepon dan berjalan menghampiri Ferdi yang masih memandangi gelas kecil berisi wine.
“Bos…” Panggil Joe pelan sambil meletakkan pantatnya di kursi bundar kecil.
Ferdi tidak menyahut. Dia hanya memandang Joe melalu ekor matanya, lalu kembali menatap gelas kecil didepannya.
__ADS_1
“Aku baru saja mengundang seorang hacker.”
“Hacker? Untuk apa?”
“Kata hacker tadi dia bisa meretas data yang Adli simpan. Jadi kita nantinya bisa mengetahui apa yang dirahasiakan Adli dan Nabila bos.”
“Bagaimana caranya?”
“Caranya? Sebentar lagi hacker tadi akan kesini. Kita bisa tanyakan langsung cara dia meretas.”
Beberapa saat kemudian, Joe membukakan pintu ketika terdengar beberapa kali ketukan disana. Lalu masuklah seorang lelaki berperawakan kurus dan pendek dengan rambut gimbal dan berpakaian lusuh meskipun potongan pakaian itu terlihat jenis pakaian bermerek mahal.
“Bos, perkenalkan dia bernama Agustin, hacker yang dikenalkan teman sekolahku dulu.”
Ferdi hanya menganggukkan kepala sekali tanpa membalas uluran jabat tangan dari Agustin.
“Bagaimana caranya kamu bisa meretas computer Adli?” Ferdi tanpa basa-basi lagi langssung melempar tanya.
“Saya butuh seseorang untuk meletakkan alat saya ini di radius maksimal tiga meter tanpa penghalang apapun pada CPU atau laptop sasaran tuan. Bisa terpasang pada USB laptop atau CPU semakin baik karena bisa mempercepat usaha peretasan yang akan saya lakukan tuan.” Jawab Agustin sambil mengeluarkan alat kecil berbentuk persegi panjang berwarna hitam dan ada dua lampu merah dan hijau yang terus berkedip.
“Kamu punya orangnya yang bisa meletakkan alatmu itu?”
“Maaf tuan, tugas saya hanya meretas. Untuk yang meletakkan alat tuan harus mencari sendiri siapa yang bisa.”
“Oke, berapa?”
“Untuk tugas peretasan ini saya biasa dibayar seratus juta tuan.”
“Berapa waktu yang kamu butuhkan?”
“Semuanya tergantung pada orang yang meletakkan alat tuan. Kalau dia bisa meletakkannya dengan tepat akan semakin cepat. Apalagi kalau dia bisa menancapkannya pada USB CPU pasti dalam hitungan jam saya sudah menyerahkan semua file yang disimpan target anda.”
“Oke deal. Urusan keuangan kamu hubungi Joe saja.”
“Saya permisi tuan, alat ini akan saya taruh disini dan setelah alat ini terpasang saya akan mulai bekerja.” Agustin berdiri lalu pergi menghampiri Joe.
“Joe…”
“Siap bos.”
“Carikan aku dua orang detektif swasta untuk mengikuti dan mengamati Diva dan Nabila kemanapun mereka pergi.”
“Siap bos.”
\=========
Bersambung….
__ADS_1