
Tiga bulan berlalu.
“Pergi kamu! Melakukan hal kecil seperti ini saja kamu tak bisa! Buat apa aku menggajimu hah! Pergi sana!” Maki Josephira pada perawatnya.
Perawat wanita paruh baya itu hanya terdiam dan menangis ketakutan saat dimaki dan diusir Josephira.
Prak!
“Pergi!” Bentak Josephira lantang setelah melemparkan vas kristal tepat disebelah sang perawat hingga pecah berhamburan.
Perawat itu semakin gemetar ketakutan lalu berlari keluar ruangan. Pembantu rumah tangga lainnya ikut ketakutan. Mereka terpaku ditempatnya, seraya mengelus dada melihat kemarahan majikannya.
“Kakak, kenapa kak Jose marah-marah seperti ini?” Tanya nabila yang juga melihat kejadian itu.
Nabila berjalan mendekat lalu berjongkok memunguti pecahan vas kristal dilantai. Tangannya lalu memberi isyarat kepada salah seorang pembantu untuk ikut membersihkan pecahan kristal itu.
“Hati-hati.” Pesan Nabila lirih pada pembantu yang memunguti pecahan kaca.
Pembantu itu hanya tersenyum tipis seraya menganggukkan kepala.
Sementara Josephira hanya menangis tanpa suara. Air matanya meleleh deras membasahi pipinya. Dia lalu memundurkan kursi rodanya dan memutar arahnya. Setelah itu menggerakkan tuas dan kursi roda itu meluncur keluar menuju taman disamping rumah besarnya.
Nabila mengekor Josephira. Dia dengan sabar mengekor tanpa sekalipun mencoba untuk menegur atau mencoba mengambil alih kendali kursi roda elektrik itu. Dibiarkannya saja Josephira melaju dalam diam.
“Nab, bantu aku pindah ke kursi malas itu ya?” Pinta Josephira kalem. Sesampainya mereka ditaman.
Taman disamping rumah itu tidak terlalu luas meski juga tak pantas disebut kecil. Ada kolam renang berbentuk lingkaran disana. Didekat kolam renang terdapat kursi malas untuk tiduran santai berwarna putih. Juga ada payung-payung besar yang telah terbuka. Sedikit jauh dari kursi malas ada miniatur air terjun yang terus mengalir, dan airnya keluar dari sebuah ukiran batu berbentuk guci. Air terjun itu bermuara di kolam renang tadi.
“Siap kak.” Jawab Nabila riang seolah sebelumnya tak terjadi peristiwa apa-apa..
Nabila menekan tombol rem, sehingga kursi roda tak akan bergerak saat dia membantu mengangkat tubuh Josephira untuk bisa duduk dibawah sinar matahari pagi. Setelah tubuh Josephira terbaring sempurna, Nabila merapikan rok mini Josephira yang tersingkap sebelum memundurkan kursi roda agar dia bisa duduk dengan nyaman dikursi malas disamping kursi Josephira.
Josephira memberi isyarat memanggil pembantunya yang berdiri tak jauh dari taman. Pembantu itu tergopoh-gopoh menghampiri. Jelas terlihat rasa takut tersirat diwajah pembantu itu.
Nabila hanya bisa menelan ludah. Dia sudah hapal semua pembantu yang ada disini. Dan yang datang ini termasuk yang paling senior diantara yang lainnya. Dan sekarang dia terlihat ketakutan saat dipanggil Josephira.
“I-iya nyonya.” Kata pembantu sepuh itu sambil membungkukkan badannya.
“Ambilkan jus jeruk dan juga camilan untuk kami berdua. Oh ya jangan lupa bawakan kaca mata hitam lebar faforitku.”
“Baik nyonya.” Jawab pelayan itu lalu membungkuk dan meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
“Kak.”
“Hmmm...”
“Aku mau memberitahukan disain perhiasan terbaru untuk bulan ini. Apa kakak mau melihatnya?”
“Tentu saja. Mana disainnya?” Jawab Josephira antusias.
Nabila bangkit seraya menyerahkan ponselnya lalu duduk disamping Josephira. Aroma harum khas Josephira menyeruak.
“Harum banget kakakku.” Kata Nabila seraya mengendus sampai sangat dekat dengan pundak Josephira yang terbuka.
“Ish, apaan sih kamu ini? Dari dulu badanku juga sudah harum mewangi.” Kata Josephira sambil mendorong kepala Nabila agar menjauh.
“Hihihi...” Nabla terkikik kecil berhasil menggoda Josephira.
Sementara Josephira meneliti dengan seksama disain-disain yang diperlihatkan Nabila, sesekali dia memberikan saran pada detil-detil yang diperlukan untuk ditambah atau dikurangi. Nabila pun dengan senang hati menerima masukan yang diberikan, meskipun sesekali mereka berdebat kecil.
Semenjak diperbolehkan pulang dua bulan lalu oleh pihak rumah sakit. Josephira menjadi suatu pribadi yang berubah. Emosinya yang dulu selalu bisa dia kendalikan dengan baik, kini sering lepas tak terkendali seperti kejadian pagi ini.
Bahkan dalam dua minggu ini sudah sepuluh perawat yang sudah dipecat oleh Josephira. Mereka dipecat Josephira bukan karena melakukan kesalahan besar. Bahkan kadang tanpa ada masalah pun Josephira bisa naik darah dan membentak-bentak perawatnya.
“Maaf ya Nab, pagi-pagi kamu sudah melihat aku mengamuk.” Ucap Josephira seraya mengembalikan ponsel Nabila.
“Hhhh... Entahlah Nab. Aku juga tak tahu. Tiba-tiba saja aku menjadi sangat marah pada perawat tadi.”
Nabila bingung mendengarnya.
“Aku tahu aku seharusnya tak berbuat seperti itu. Tapi...”
“Tapi apa kak?” Kejar Nabila.
Josephira terdiam hanya menggigit bibir bawahnya saja.
“A-aku kasihan sama Bram.” Jawab Josephira kemudian.
“Apa maksud kakak? Ya memang benar sih, beberapa hari lalu kak Bram menelpon aku dan mengeluh padaku?”
“Hah? Benarkah Nab? Dia mengeluh soal apa?”
“Kak Bram bingung bagaimana caranya agar kakak tidak lagi memecat perawat yang merawat kakak. Menurut kak Bram, dia sudah mencarikan sesuai yang kak Jose pinta. Mulai yang berumur diatas empat puluh tahun, tidak boleh berwajah cantik dan bermake up tebal dan lain-lain. Tapi tetap saja kakak memecat mereka.”
__ADS_1
“Terus? Apa lagi?”
Nabila menggelengkan kepala, seraya mengatakan, "Ga ada lagi kak."
“Hanya itu?”
Nabila menjawab dengan anggukan kepala beberapa kali.
“Aku sudah menjadi seperti ini Nab.”
“Maksud kakak?”
“Ya seperti ini. Lumpuh. Bagian pusarku kebawah sudah tidak berfungsi sempurna. Bahkan aku tak bisa merasakan apakah aku sudah buang air atau tidak. Seperti saat ini aku tak tahu apakah aku sudah mengompol atau tidak. Aku sudah tak bisa merasakan apa-apa lagi Nab.” Jelas Josephira sambil menangis.
“Itulah kak. Makanya kakak diberi perawat oleh kak Bram.”
Josephira menghela nafasnya dalam-dalam. ‘Kamu memang belum pernah menikah Nab, jadi tak tahu bagaimana rasanya saat mengetahui suami kamu blingsatan ingin melepaskan birahinya.’ Batin Josephira.
“Ah sudahlah Nab, aku lelah. Aku ingin tiduran sebentar disini.”
“Ya sudah kalau begitu. Aku mau bersantai sejenak disini. Ga papa kan kak? Nanti setelah makan siang saja aku balik ke toko.”
“Terserah kamu sajalah. By the way terima kasih ya mau menginap semalam. Senang banget aku bisa mengobrol lama dengan kamu.”
“Aku juga senang kak semalam. Aku bahagia banget semalam bisa melihat kakak tertawa lepas.”
Mereka lalu sama-sama terdiam.
Hening hanya suara gemericik air terjun buatan hiasan taman yang terdengar.
“Nab,” Panggil Josephira setelah beberapa saat.
“Iya kak.”
“Bagaimana kabar pekerjaan kamu selain mengurus toko?”
“Alhamdulillah lancar. Hanya saja aku mulai mengurangi menerima job. Aku sangat senang bisa mengetahui aku punya bakan mendisain perhiasan. Itu semua karena kakak yang telah membimbingku loh.”
“Kalau begitu jangan lupa bagi-bagi cuannya dong. Bagi hasil bagianku harusnya diperbesar lagi.”
“Cih, kalau soal uang langsung saja begitu kaya kompor gas.” Seloroh Nabila.
__ADS_1
“Wkwkwkw... Aku ini kan selain kakak kamu juga pengusaha Nabila sayang. Wajar dong. Wkwkwkw...”
Bersambung...