
“Ini nyonya, ada paket untuk nona Diva.” Kata salah satu dari dua pengawal yang ditugaskan oleh Adli dikediaman Diva, sambil menyerahkan satu buket besar bunga mawar merah dan putih.
“Wow?” Hanya itu saja yang bisa Mina katakana. Tangan kurusnya segera memeluk buket mawar yang besar itu. ‘Mungkin lebih dari seratus tangkai mawar yang ada didalam sini.’ Batin Minah. “Siapa yang mengirimnya?” Tanya Minah setelah berhasil merengkuh buket itu.
“Ada kartu ucapan didalamnya nyonya.”
“Oh, baiklah terima kasih.”
Pengawal itu membungkuk lalu kembali ke tempatnya.
“Diva… Diva… cepat turun nak.” Panggil Minah pada Diva yang masih berada didalam kamarnya.
“Iya bu…” Sahut Diva dan segera berlari turun menghampiri Minah.
Seketika Diva terkagum-kagum menjumpai Minah, ibu asuhnya, sedang memeluk satu buket besar bunga mawar. Bahkan karena saking besarnya seluruh wajah Minah tertutup buket bunga itu.
“Bu… dapat kiriman bunga dari siapa dan untuk siapa?” Tanya Diva masih terkagum-kagum.
“Untuk kamu nak, ini terima dulu. Aku akan mencari beberapa vas untuk menaruh bunga-bunga yang sangat banyak ini.” Jawab Minah sambil menyerahkannya.
“U-untuk aku? Dari siapa?” Tanya Diva sambil berusaha meraih buket dari tangan Minah.
“Itu ada kartu ucapan dari pengirim. Ibu belum membacanya.” Katanya sambil berlalu ke belakang untuk mencari vas bunga.
Diva meletakkan buket bunga itu diatas meja lalu dia mengambil kartu ucapan yang terselip disana. Sebuah kartu ucapan warna biru, warna favoritnya. Diva cepat membuka kartu ucapan itu dan membacanya.
‘Untuk Diva bidadari teranggun. Dari temanmu ~ B ~’
“Temanku? B? Siapa ya? Bagio, Bambang, Basir? Aaah.. kenapa pake inisial segala sih?” Teriak Diva jengkel. “Tapi aku kan ga punya teman dengan nama Bagio, Bambang apalagi Basir.” Sungut Diva.
“Nah ini, ibu udah bawakan beberapa vas kaca dan Kristal. Semoga cukup untuk menampung semuanya.” Kata Minah sambil membawa keranjang berisi beberapa vas.
Dengan cekatan Minah memindahkan tangkai-tangkai mawar itu dan merangkainya didalam vas. Lalu setelah selesai dia langsung meletakan vas itu di tempat lain.
__ADS_1
Sementara Diva masih berpikir keras siapa orang yang mengirim mawar-mawar ini. Dia betul-betul bingung.
“Aku akan memeriksanya dalam daftar kontak ponselku.” Kata Diva lirih.
Diva sempat terhenti pada satu nomor yang tidak diberikan nama. Dia hanya memberikan beberapa gambar hati berwarna merah disana. Diva tersenyum karena nomor itu telah mengiriminya beberapa pesan dan beberapa ratus panggilan. Dan semuanya tak dia balas.
“Hehehe… Maaf kak, aku ingin menilai apakah perasaan aku ke kamu tak bertepuk sebelah tangan. Jadi untuk sementara aku tak akan membalas semua chat kamu dan tak akan mengangkat telepon darimu, aku ingin kamu berusaha mencari aku dan menemui aku.” Ucap Diva pelan namun penuh harap.
\===o0o===
“Baiklah, karena semua sudah berkumpul disini. Saya akan langsung saja.” Kata Burhan setelah dua lawyer duduk didepannya. Sementara Nabila dan Adli duduk disamping kanan dan kirinya.
“Oke, kami ingin mendengarkan dulu bagaimana keputusan yang diambil oleh anda dan klien. Setelah itu kami akan menggelar jumpa media.” Kata salah satu pengacara itu dengan senyum lebar.
“Baiklah tolong dengarkan ini, setelah membaca dan menimbang surat somasi yang dikirimkan kepada kami, maka dengan ini kami memutuskan untuk tidak akan melakukan atau melaksanakan apa yang menjadi tuntutan klien anda pada somasi yang anda kirimkan kepada kami. Hal ini karena….*)”
Wajah kedua pengacara Ferdi itu tampak terpukul. Argumen dan pasal-pasal yang mereka susun dengan seksama bisa dipatahkan dengan sangat mudah oleh Burhan. Tapi sebagai professional, tentu saja mereka tidak akan mengakuinya dengan terbuka.
“Kami disini tidak mempunyai kekuasaan untuk menghalangi melakukan apa yang ingin kalian lakukan. Tapi saya hanya akan mengingatkan sebaiknya itu tidak perlu anda berdua atau klien anda lakukan, sebab jika itu tetap anda lakukan saya ibaratkan anda sedang menggarami lautan. Karena pasti kami tidak akan diam saja, kami pasti akan berusaha mematahkannya sebelum itu naik ke ranah penyelidikan. Saya dan tim yang akan memastikan hal tersebut.”
“Silahkan lakukan apa yang anda ingin lakukan tuan Burhan. Dan kami yakin kita akan segera bertemu lagi di ruang sidang. Dan nanti akan kita ketahui bersama siapa yang akan tertawa di akhir pertunjukkan. Selamat siang. Kami mohon permisi.” Dengan kasar kedua pengacara itu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar.
“Benarkah apa yang dikatakan tuan Burhan? Bahwa mereka pasti gagal pada ahirnya.” Tanya Nabila penuh kekuatiran.
“Kami akan berusaha semaksimal mungkin nona Nabila, tuan Adli. Semoga Allah Ta’ala meridoi kita. Dan juga anda harus lebih percaya diri nona. Anda ini mempunyai sahabat yang kuat dan berkuasa.”
“Sungguh? Saya?” Tanya Nabila lagi.
Burhan hanya mengangguk dan tersenyum simpul untuk menjawab Nabila.
\===o0o===
“Maaf, apakah alamat yang tertera ini adalah rumah ini?” Tanya Bethoven. Ini malam Bethoven telah dandan habis-habisan. Dia ingin membuat kesan mendalam pada Diva.
__ADS_1
“Benar.” Kata penjaga itu setelah membaca tulisan alamat pada layar ponsel yang ditunjukkan Bethoben padanya.
“Apakah Diva ada dirumah? Dan apa aku bisa bertemu dengannya?” Tanya Bethoven.
“Kamu siapa? Dan ada perlu apa?” Tanya penjaga itu dingin.
“Bethoven. Aku Bethoven, temannya Diva.”
“Baik, tunggu disini.” Jawab penjaga itu lalu menelpon seseorang dengan ponselnya. Matanya tetap waspada meskipun tangan satunya sibuk dengan ponselnya. “Kata nyonya Minah, saya disuruh mengantar anda untuk masuk. Silahkan ikuti saya.”
Penjaga itu hanya mengantar sampai diteras samping rumah. Bethoven dipersilahkan duduk dan menunggu disana. Setelah itu penjaga tadi pergi kembali ketempatnya berjaga meninggalkan Bethoven sendirian.
Bethoven begitu resah. Dalam hatinya dia sangat bingung dan canggung akan berbicara bagaimana dan bertanya. Dia berdiri memperhatikan penampilannya lalu duduk lagi. Belum satu menit dia sudah berdiri lagi lalu duduk lagi.
“Eh hem.” Minah berdehem dari arah belakang Bethoven. Membuat pemuda itu terjingkat kaget.
“Ah.. Oh.. Selamat malam tan… Perkenalkan saya Bethoven, temannya Diva.” Kata Bethoven memperkenalkan diri dengan salah tingkah.
“Hmmm… Silahkan duduk.” Jawab Minah. “Ada perlu apa ya?” Tanya Minah setelah Bethoven duduk, dan Minah menatap dengan tajam kearah Bethoven.
“Aaa… Anu tan, ga ada perlu apa-apa kok. Cuman pengen main.” Jawab Bethoven dengan keringat dingin yang mulai keluar, mendapat sorot mata tajam dari Minah. “Oh ya, saya mohon maaf, tante ini apanya Diva ya? Apakah tante ini mamanya?”
“Bukan. Saya bukan mamanya. Tapi, ibunya.” Jawab Minah tegas.
Bethoven melongo. Dia menggaruk ujung kepalanya yang tidak gatal. ‘Tante ini becanda atau apa ya? tatapannya itu mengerikan sekali. Keringat dinginku sampai keluar semua.’ Batin Bethoven.
Bersambung…
\================
Footnote :
*) Maaf ya happy readers, sebenarnya author semasa kuliah kelas hukum pindana dan perdata ga pernah masuk. Karena saat itu author lagi ikut di kelas hukum gantung dibawah pohon pisang. Makanya author skip deh dialog saat Burhan menjelaskan perihal somasi.
__ADS_1