
Pagi menjelang.
“Aduh, sayangku ini dari tadi kok sepertinya kamu termenung terus? Memikirkan apa lagi sih?” Tanya Bram setelah menuntaskan tugas memandikan dan mendandani Josephira.
Josephira tersenyum lalu menarik lengan Bram agar berjongkok didepannya yang telah duduk dikursi roda.
Bram menurutinya dan langsung berjongkok.
“Bram, apakah aku masih cantik?” Tanya Josephira seraya mengelus pipi Bram yang ditutupi jambang tipis.
“Tentu saja. Kamu selalu cantik sayang. Dan aku sangat mencintaimu. Dan kuucapkan terima kasih kepadamu yang juga telah mencintaiku selama ini.” Jawab Bram lugas disertai senyuman khasnya, lalu mengecup kening istrinya dengan penuh cinta.
“Apakah aku seksi?” Tanya Josephira lagi sambil memegangi dada dan perutnya.
“Pasti! Dan aku tak pernah tahu loh kalau ada wanita seksi selain dirimu didunia ini.”
“Gombal!” Tukas Josephira seraya tersenyum.
Bram pun tertawa karena berhasil membuat senyum mekar dibibir istrinya. “Jangan tersenyum seperti itu dipagi hari.”
“Memangnya kenapa?”
“Aku jadi ingin mencium kamu.”
“Lakukanlah!” Kata Josephira dengan nada menantang dan mengangkat dagu berlagak pongah.
Dan tanpa menunggu diperintah lagi Bram langsung menerkam bibir tebal Josephira. Dia sudah sangat merindukan bibir itu. Dia sudah sangat menginginkannya, merasakan manisnya bibir merekah istrinya. Beberapa lama mereka berpagut hingga terpaksa berhenti karena kehabisan udara.
Tanpa menunggu tarikan nafas yang kedua, bibir mereka beradu kembali. Sambil berpagutan tangan Bram merengkuh tubuh Josephira dan lalu menggendongnya.
“Bram...” Pekik Josephira tak menyangka digendong secara tiba-tiba.
“Tidak enak sayang aku menciummu sambil membungkuk seperti itu. Enakan seperti ini.” Kata Bram sambil meletakkan tubuh istrinya diatas kasur. Dan lalu adegan mouth to mouth itu pun berlangsung lama dan intens.
Jari-jemari Josephira bergerilya menjelajahi seluruh kulit tubuh suaminya yang hanya terbungkus oblong dan boxer. Perlahan dia menikmati setiap mili, setiap helai bulu yang tumbuh disana. Jemari lentik itu menari-nari memberikan sensasi pada tubuh Bram yang terkadang menggelinjang kenikmatan.
Satu tangan Josephira berhenti di inti tubuh Bram yang telah mengeras dibalik boxer, dia meremasnya. Membuat Bram tertegun antara takut dan mau.
“Aku kangen sama dia Bram.” Rengek Josephira dengan tatapan mata sayu.
“Ta-tapi?”
“Ayolah Bram, puaskan aku pagi ini. Kumohon.”
“A...”
Bram tak sanggup meneruskan kalimatnya, karena Josephira sudah menarik kepala Bram dan membenamkannya dalam himpitan gunung kembar.
Setelah setengah jam foreplay, Bram sudah tak lagi mampu untuk menahan tak menyatukan tubuh inti mereka. Perlahan dia buka dua kaki istrinya yang sangat kaku.
__ADS_1
“Pejamkan matamu Bram. Biarkan aku yang menuntunmu.” Erang Josephira seraya menggigit bibirnya.
Bram pasrah. Dia menutup matanya dan dibiarkan sang istri menuntunnya merasakan sensasi biologis yang telah lama tak dirasakannya. Pelan namun pasti, Bram dan Josephira berusaha saling mengimbangi dengan segala situasi yang terjadi. Dan setengah jam kemudian, muntahlah lahar panas mengakhiri permainan pagi ini.
Bram menjatuhkan tubuhnya disamping Josephira.
“Terima kasih sayang. Kamu tetap yang seperti yang dulu. Meski sekarang sedikit lebih kering disana.”
“Iya aku tahu.” Jawab Josephira lirih seolah menahan sakit.
“Eh, sakit ya? Maaf, maafkan aku, maaf.”
“Tidak apa Bram sayangku. Mungkin hanya lecet sedikit.”
“Hah lecet? Apakah parah?”
“Mungkin Bram. Mungkin. Tapi sepertinya kamu harus beli pelumas untuk ituku deh. Biar kamu nantinya juga tidak kesakitan.”
“Siap sayangku. Nanti aku akan menyuruh Johan.”
“BRAM!” Sentak Josephira.
“I-iya sayang.” Jawab Bram kaget karena langsung mendapat bentakan.
“Beli sendiri! Kamu harus beli sendiri! Paham? Aku malu jika Johan tahu.”
“Hehehe... Kamu ini, aku jadi teringat saat malam pertama kita dulu.”
“Udah dong sayang, jangan dibahas itu lagi. Aku malu.”
Dan percakapan pagi itu berlanjut hingga mandi bersama, sarapan dan lalu ke apotik. Kemudian seperti temanten baru mereka melakukannya lagi, dan lagi. Seolah-olah Bram dan Josephira ingin menebus malam-malam sebelumnya yang sempat kosong tanpa aktifitas **** diantara mereka.
Meskipun merasa sangat lemas, dan keduanya menunggu Nabila yang telah mereka undang untuk makan siang. Saat menunggu kebetulan Bethoven dan Diva datang, sekalian mereka ajak untuk menemani makan siang yang telah terlambat jam.
Bram menjauh, saat dokter Eka menelpon dirinya. Dan kembali duduk bersama mereka tepat saat Nabila sudah duduk bersama.
“Kamu terlihat sangat senang Bram?” Tanya Josephira.
“Tentu saja. Dokter Eka barusan memberitahu bahwa salah satu koleganya di London bersedia memberikanmu terapi untuk penyembuhan syarafmu. Dan menurut kolega Eka itu kemungkinan keberhasilannya cukup tinggi, setelah melihat catatan medis yang diberikan Eka, sekitar empat puluh lima persen. Ini layak dicoba sayangku.”
“Benarkah?” Wajah Josephira seketika ikut berbinar.
“Tentu saja. Biar Johan yang mengatur keberangkatannya. Kita akan ke Paris sayang.”
Bethoven, Diva dan Nabila langsung menghambur kearah Josephira memeluknya senang. Mereka mengucapkan syukur dan selamat juga memberikan doa agar diberi kemudahan dan kesembuhan seperti sedia kala.
“Aamiin... Ya Robbal Alamin. Terima kasih, terima kasih.” Ucap Josephira seraya menitikkan air mata bahagia. “Eh ayo kita makan dulu. Nanti kalau aku sudah sembuh total baru kita makan besar sebagai syukurannya.”
Sementara itu disuatu tempat.
__ADS_1
“Apakah kamu yakin bisa menangani tugas kecil ini?” Tanya seorang wanita yang duduk disudut sebuah pub yang gelap hingga wajahnya tak bisa diketahui.
“Kalau anda tak yakin, saya akan pergi dari sini dan kita tidak akan berjumpa lagi.” Jawab lelaki berperawakan kecil dan botak itu dingin.
“Hmmm, aku akan menambahkanmu seratus juta jika berhasil dalam tiga hari. Sekarang pergilah.”
“Sebelum kesini saya telah mencari tahu terlebih dulu siapa nona. Saya tahu uang bukanlah hal yang perlu dipermasalahkan bagi nona. Dan itu juga berlaku bagi saya. Ketika saya tahu nona membutuhkan pelaya...”
“Tak usah panjang lebar, apa maumu? Dua ratus juta ditambah bonus seratus juta masih
belum cukup?”
“Sudah saya bilang, uang tidak perlu dipermasalahkan dalam hal ini. Dan saya belum mengatakan bersedia atau tidak kan sedari tadi?”
“Cepat katakan apa mau kamu?” Geram wanita itu.
“Pelayanan dibayar pelayanan. Saya melayani keinginan nona, dan nona melayani kebutuhan saya.”
“Maksudmu?”
“Ketika mission accomplished, bayar saya dengan pelayanan tubuh nona. Bagaimana?”
“Deal!” Jawab wanita itu tanpa berpikir panjang.
“Senang berbisnis dengan anda. Tunggu telepon dari saya dalam tiga hari kedepan. Dan pastikan tubuh anda dalam kondisi bugar. Hahahahaha...” Ucap lelaki berperawakan kecil dan botak itu seraya berdiri dan pergi.
Kembali ke rumah besar Bram.
“Nab.” Panggil Josephira.
“Iya kak.”
“Kamu sudah siap untuk besok?”
“Tentu saja kak. Aku sudah preprare semuanya. Mulai perawatan hingga minum jamu.” Jawab Nabila sekenanya. ‘Maaf kak, aku tak siap untuk menyakitimu. Jujur aku tak sanggup.’ Rintih batinnya berlawanan dengan mimik muka yang ditampilkan.
Nabila melihat kearah Diva yang langsung melengos sebal. Membuat hatinya semakin teriris-iris serasa ada buah simalakama didepannya.
“Bram, sini Bram. Duduk disebelahku.” Panggil Josephira. Bram menurut dan menggeser tubuhnya hingga tepat disisi kanan Josephira.
“Nab, jika aku bilang...”
“Apa kak?”
“Aku memintamu membatalkan rencana menikah dengan Bram apakah kamu tak kecewa?”
“Apaaaa?”
Bersambung...
__ADS_1