
“Hmmm, sudah cantik kakakku ini.” Ucap Nabila seraya memegang pundak Josephira.
“Terima kasih ya Nab. Ayo sholat dulu.” Sahut Josephira.
“Oke kak.”
Mereka lalu keluar kamar dan menuju mushola kecil didalam rumah besar, dimana Bram dan Bethoven sudah menunggu. Mereka sholat berjamaah dengan Bram sebagai imamnya. Josephira sholat tidak didalam mushola melainkan sedikit dibelakang karena dia sholat dari atas kursi rodanya.
Selepas sholat subuh, Nabila berpamitan karena dia harus keluar kota dan belum mempersiapkan segala sesuatunya.
Semua berjalan seperti biasanya. Bethoven pergi berangkat ke sekolah lebih dulu. Meninggalkan Josephira dan Bram.
“Kenapa kamu tak bersiap Bram?” Tanya Josephira yang merasa heran karena Bram masih memakai kaos oblong dan celana pendek selutut.
“Kalau aku kerja siapa yang akan merawat kamu sayang? Ingat ga, kemarin kamu sudah mengusir perawat kamu?” Bram mengingatkan Josephira
“Ah iya, maafkan Bram. Lagi-lagi aku tak bisa mengontrol emosiku.” Ucap Josephira.
“Iya ga papa, aku paham. Ah Sudahlah ambil hikmahnya saja. Dengan begini aku jadi bisa puas didekat kamu.”
Deg!
Josephira terkesiap mendengar kalimat bisa puas didekat kamu. Seketika wajah Josephira memerah malu dan sedih. Dia merasa dirinya sudah tidak berguna lagi. Seketika itu juga air matanya menerobos keluar meleleh melewati pipinya.
“Ke-kenapa sayang? Kamu sakit?” Tanya Bram kuatir karena melihat wajah istrinya tiba-tiba memerah lalu menangis.
Josephira hanya menggelengkan kepalanya berkali-kali.
“Tidak Bram, tidak.” Jawabnya sambil sesenggukan.
“Atau aku telah berkata salah padamu?”
“Tidak Bram, tidak. Kamu tidak salah.” Dan tangis Josephira pun menjadi hingga badannya bernguncang hebat.
Bram semakin kelimpungan tak tahu kenapa istrinya tiba-tiba menangis histeris seperti ini?
“Katakan padaku kenapa kamu tiba-tiba menangis seperti ini?” Tanya Bram seraya memegang kedua pundak istrinya. “Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan?”
Tapi Josephira masih menangis dan tak menjawabnya.
“Eee... Begini saja, bagaimana kalau hari ini kita ke pantai. Kita akan bersantai di cotage. Siapa tahu dengan suasana baru, kamu bisa melupakan kesedihan kamu.” Bujuk Bram.
“Benarkah? Kita akan jalan-jalan berdua melewati pasir dipantai dan menghindari ombak seperti dulu?” Tanya Josephira seraya menghapus kasar air mata yang mengalir di pipinya.
Bram menganggukkan kepalanya mantab seraya tersenyum.
Hening.
“Bagaimana? Kita akan jalan-jalan hari ini?” Tanya Bram memecah keheningan.
Josephira menggeleng dengan tatapan kosong. Lagi-lagi air matanya menetes pelan, meski tidak seperti tadi. Tapi Bram tahu emosi istrinya sangat tak stabil.
‘Aku harus menghiburnya. Aku harus bisa menghiburnya.”
Tiba-tiba ponsel Bram berdering.
__ADS_1
Dengan perasaan jengkel Bram menerima panggilan dari Johan asistennya.
“Aku sibuk dengan istriku Johan! Kamu handle semuanya.” Bentak Bram tanpa mengucap salam pembuka.
“Tapi tuan, miting dengan Alabama Oil Inc. yang kita jadwalkan sejak dua bulan lalu, adalah hari ini tuan. Bahkan Mr. Smith sendiri yang memimpin timnya untuk melakukan deal-deal dengan kita hari ini.” Jawab Johan.
“Aaargh!”
Prak!
Bram membanting ponselnya kelantai hingga pecah berhamburan. Bram bingung harus bagaimana. Disaat suasana hati istrinya sedang labil, perawat tak ada, bisnis yang telah direncanakan matang-matang dengan nilai investasi jutaan dollars bisa batal jika dia tak datang dalam miting hari ini.
Josephira tiba-tiba menjelma seperti bidadari berkursi roda. Tatakala suaminya kalut, dia langsung berubah.
Josephira mendekat kearah Bram, memegang telapak tangannya, menatap wajah suaminya yang sedasng gusar. Lalu melemparkan senyuman termanis.
“Berangkatlah Bram. I will just fine. Trust me.” Ucapnya menyuruh Bram untuk segera berangkat bekerja.
“Ta-tapi...”
“Ssssh... Ini perintah dari istri yang kamu sayangi dan cintai. Kamu sayang aku kan?” Potong Josephira.
Bram mengangguk.
“Kamu mencintai aku kan?”
Lagi-lagi Bram mengangguk.
“Berangkatlah, itu merupakan bisnis besar. Melibatkan banyak uang dan orang disana. Jika itu sukses, banyak orang akan terbantu karena bisa bekerja. Berangkatlah, percayalah aku akan baik-baik saja.” Titah Josephira tenang dan tegas.
Johan datang menjemput Bram.
“Maafkan saya nyonya, telah mengganggu quality time anda berdua.” Ucap Johan setelah bertemu dengan Josephira yang mengantar Bram keluar.
“Tidak apa Johan, aku bisa mengerti. Ponselnya sudah kamu bawakan?”
“Iya nyonya.” Jawab Johan lalu menyerahkan paper bag yang dibawanya dan menyerahkan pada Bram.
“Thanks Johan. Maaf soal yang tadi.” Ucap Bram.
“Iya tuan, saya mengerti.”
“Baiklah cepat kalian berangkat. Semoga sukses.” Kata Josephira menyuruh kedua lelaki didepannya berangkat.
“Aku berangkat sayang. Assalamualaikum.” Pamit Bram seraya mengecup ujung kepala istrinya.
“Waalaikumusalam.”
Bram langsung menelpon Nabila saat dia sudah dalam perjalanan menuju tempat miting. Bram menceritakan semua peristiwa yang terjadi pagi tadi pada Nabila. Dan lalu meminta saran pada Nabila, karena sejujurnya dia kini sangat bingung dengan kondisi kejiwaan istrinya itu.
“Aduh kak, tahu seperti ini aku akan membatalkan jadwalku hari ini.” Ucap Nabila melalui saluran telepon. “Lagipula aku sudah otw ke kota L untuk pemotretan siang ini dan lalu masih ada sesi disebuah talk show.” Nabila berhenti sebentar untuk mengambil nafas dalam-dalam. Dia juga bingung harus memberi solusi seperti apa. Tiba-tiba dia teringat nama putrinya Diva. “Diva mungkin bisa membantu kak Bram. Akan aku coba untuk menghubunginya sebentar lagi.”
“Diva, pacar Betho? Bukankah mereka satu sekolah. Dan hari ini Bethoven juga sudah sekolah. Lagipula apa Diva tidak ada jadwal syuting atau apa gitu?” Tanya Bram.
“Ya... Aku juga kurang tahu sih kak.” Nabila bernafas lega. Sebenarnya dia tahu jadwal Diva. Dan baru saja putrinya itu berbalas chat dengannya, dan menceritakan karena ada hal jadi mereka diperbolehkan pulang lebih awal.
__ADS_1
‘Untung saja aku tak keceplosan bicara.’ Batin Nabila.
“Makasih ya Nab, barangkali nanti kamu ada solusi lain. Cepat hubungi aku atau Johan saja.”
“Oke kak. Maaf tak bisa membantu.” Jawab Nabila.
“Iya Nab, tak apa, aku bisa mengerti. Assalamulaikum.” Ucap Bram mengakhiri pembicaraan.
Nabila lalu menghubungi Diva dan mengatakan jika memang tidak ada kegiatan agar pergi kerumah Bethoven untuk menemani mamanya Bethoven.
Diva bersedia melakukannya. Dia lalu mengajak Bethoven untuk pergi kerumah besarnya dan mencoba menghibur mamanya.
“Kita kerumah kakak saja ya, tadi tante Nabila bilang kalau sekarang tante Jose lagi sendirian saja dirumah.” Ajak Diva pada Bethoven.
“Oke. Kita berangkat sekarang.” Jawab Bethoven semangat.
Kini Josephira, Diva dan Bethoven telah mengobrol santai. Dialog lebih didominasi dua wanita beda generasi itu. Sementara Bethoven lebih banyak diam sambil memainkan ponselnya.
“Tante coba lihat kak Betho deh.” Ujar Diva seraya menunjuk Bethoven yang sedang asyik dengan ponselnya.
“Kenapa, tak ada yang aneh sama putra tante itu. Dia tampan, menawan, seperti biasanya.” Jawab Josephira serius. “Ah iya ada yang aneh.”
“Ah masa sih? Apanya yang aneh tan?” Diva malah bingung mendengar omongan Josephira.
“Yang aneh tuh, yang disebelah tante. Kenapa lebih memilih mengobrol sama tante dan meninggalkan putra tante itu disana.”
“Ih tante kok gitu sih. Diva tulus menemani tante loh.” Jawab Diva merasa tak enak hati.
“Hahahaha... iya, iya, tante tadi hanya bercanda saja Diva. Tante tahu kamu tulus kok. Tapi kenapa tadi kamu suruh aku melihat putra tante sendiri yang sedang asyik dengan ponselnya itu?”
“Hehehe... Kirain tante tadi seriusan.” Jawab Diva tersenyum kikuk. Lalu melanjutkan untuk menjawab pertanyaan Josephira lagi. “Tante lihat saja dulu.”
Josephira menatap lurus sambil memperhatikan dengan seksama pada Bethoven.
“Kak Betho.” Panggil Diva.
“Ada apa?” Tanya Betho sambil menoleh kearah Diva dan mamanya.
“Coba mundur sedikit kesana kak.” Suruh Diva.
“Memangnya kenapa?”
“Habisnya Diva ga kuat karena kegantengan kak Betho kelewatan sih.”
Josephira spontan tertawa terbahak-bahak karena melihat Bethoven yang tersenyum kecut dikerjai Diva.
“Kamu ini, kirain tante tadi ada apa sama putra tante, ternyata karena gantengnya kelewatan jadi disuruh mundur gitu? Hahahaha...”
“Hehehe... begitulah tan.” Jawab Diva ikutan terkekeh.
Sementara gara-gara hal tadi Bethoven jadi memandang terus kearah mamanya dan Diva. Sekarang dia bisa melihat mamanya bisa tertawa lepas seperti kemarin malam.
“Hmmm, mama bisa tertawa lepas saat bersama Diva, seperti kemarin yang aku lihat saat bersama tante Nabila. Dan kalau dipandang-pandang Diva ini semakin mirip dengan tante Nabila juga. Baik wajah, postur tubuh dan yang pasti mama bisa merasa nyaman setelah musibah itu.”
Bersambung...
__ADS_1