
Di London.
Josephira tengah berbincang serius dengan Bram. Sementara Bethoven dengan wajah muram duduk tak jauh dari mereka.
“Bram, kenapa kamu menyuruh Bethoven kesini sekarang? Bukankah sebentar lagi dia harus menjalani ujian nasional?” Tanya Josephira.
“Kamu pasti sudah tahu alasannya kenapa aku menyuruhnya tinggal disini.” Jawab Bram tenang. Sejujurnya dia enggan membahas lagi hal ini, karena keputusan telah diambil dan mulai tadi pagi Bethoven juga sudah bersekolah disini.
“Aku yakin mereka tak berbohong. Aku yakin mereka hanya merahasiakannya saja, agar mereka tak mendapat malu, atau apapun alasan lainnya. Dan kita harus menghormatinya. Semua orang juga punya rahasia masing- masing Bram.” Protes Josephira.
“Kita ini sudah berteman dengan Nabila itu bertahun-tahun. Bahkan sejak Bethoven kecil, hingga sekarang sudah hampir lulus SMA. Dan dia sudah aku anggap seperti keluargaku sendiri. Bahkan Diva menjadi pacar Bethoven. Tapi tahukah kamu, saat kamu dirawat Diva tak pernah memanggil Nabila dengan sebutan mama didepan kita. Kamu tahu itu kan?”
“Iya, aku masih ingat semuanya. Pada awalnya aku juga merasa dibohongi oleh mereka Bram. Tapi setelah kupikir-pikir lagi, aku akhirnya mengambil kesimpulan, mungkin mereka hanya tak ingin rahasia kehamilan Nabila dimasa muda itu tak diketahui masyarakat.”
“Masyarakat luas oke, aku bisa paham. Tapi kalau dengan kamu saja dia masih merahasiakan hal sepenting itu, apakah itu bukan merupakan kebohongan? Bahkan putrinya yang masih muda juga sangat lihai bahkan bisa disebut penipu ulung, karena bisa dengan santai dan entengnya memanggil mamanya sendiri dengan sebutan tante. DIDEPAN KITA!” Ucap Bram dengan menekan lebih pada kata didepan kita.
“Benar juga sih. Mereka adalah artis-artis berbakat yang aku sangat senang melihat akting mereka. Mereka juga sangat cantik dengan wajah yang kalem. Tapi... “ Josephira menjeda kalimatnya. “Kenapa aku merasa tak marah meski jelas-jelas mereka telah membohongiku?”
Bram hanya mendengus saja.
“Bram, aku juga telah bekerja sama dengan Nabila. Aku tak mau kamu gelap mata menghancurkan usaha mereka, seperti yang kamu lakukan pada lawan-lawan bisnismu. Biarkan saja, toh selama ini dia tak pernah meminta keuntungan dariku atau dari kita semua.”
“Karena mereka itu ular yang sangat licik sayangku. Tak bisakah kamu melihat kerangka besar dari rencana mereka?”
__ADS_1
“Maksud kamu?”
“Mungkin mereka menginginkan harta kita selamanya. Makanya Diva, putrinya Nabila itu disuruh merayu Bethoven.”
Bethoven yang mendengar kalimat Bram kontan menoleh pada kedua orang tuanya.
“Maaf pah, bukannya Bethoven membela Diva atau apalah. Tapi Diva tak pernah merayu Betho. Bahkan dulu Diva sempat menolak Betho. Sampai akhirnya dia bersedia menjadi pacar Betho. Dia juga tak pernah meminta hadiah apapun, kecuali yang aku berikan padanya.” Jelas Bethoven. “Bahkan dia pernah berkata suatu waktu, dia cukup senang saat bersamaku meski aku datang tanpa membawa apa-apa. Bahkan aku pernah lupa akan hari ulang tahunnya, dan dia tak marah.”
“Benar. Nabila juga tak pernah memintaku untuk memberinya modal atau apapun. Dia tulus berteman denganku. Justru aku yang memaksanya untuk menerima apa yang ingin kuberikan padanya. Dia juga tulus membantuku saat aku depresi karena kelumpuhanku ini. Dia merawatku dengan sabar tanpa minta imbalan apapun. Bahkan aku sempat keterlaluan karena pernah meminta dia menikah denganmu.”
“Aargh! Kalian ini!” Geram Bram sambil mengacak rambutnya sendiri. Dia merasa kesal, karena apa yang dikatakan kedua orang paling dicintainya ini benar adanya. Nabila yang dia kenal tak pernah meminta apapun, bahkan saat istrinya pulang dari luar negeri Nabila hanya akan mengucap syukur karena kembali dengan selamat. ‘Tapi aku sangat benci pembohong!’ Teriak batin Bram.
Bram keluar ruangan. Hatinya sangat jengkel dan marah. Karena saat ini dia sangat menyalahkan Nabila dan Diva atas kebohongannya, tapi dia juga tak melihat cacat lainnya selama kenal dan dekat dengan mereka. Istri dan anaknya juga merasakan hal yang sama.
“Perasaan kamu bagaimana Betho? Maksud mama selama kamu tinggal di London ini?” Tanya Josephira, beberapa saat setelah Bram meninggalkan mereka.
“Beneran? Aku lihat beberapa hari ini kamu sangat muram? Kangen sama Diva?” Tanya Josephira seraya tersenyum.
“Beneran lah mah, masa Bethoven bohong sama mamah?” Jawab Bethoven mencoba mengelabui mamanya. Dia tak ingin menambah beban pikiran mamanya karena perang batin yang dialaminya sekarang.
“Ayolah, aku ini mama kamu. Wanita yang melahirkan kamu dan membesarkan kamu tanpa pengasuh. Mama tahu tumbuh kembang kamu. Dan mama juga hafal kalau anak mama ini sedang kalut pikirannya. Ceritakanlah Bethoven, mama akan sangat senang jika kamu mau terbuka dengan mama.”
“Eeee... Entahlah mah. Bethoven juga tak tahu dengan perasaan Bethoven saat ini. disatu sisi Bethoven marah, jengkel dan kecewa dengan kebohongan yang dilakukan Diva pada Betho. Tapi disisi lain, Bethoven juga ragu ada motif lain selain hanya menutupi satu rahasia besar tante Nabila yang membuat Diva harus mau berbohong.” Akhirnya Bethoven buka suara yang membuatnya merasa kalut pada Josephira. Setelah beberapa kali didesak oleh Josephira. “Dan yang pastinya sih sekarang Bethoven kangen berat sama Diva mah, tapi betho juga masih marah sama Diva.”
__ADS_1
“Uuuuh... Anak mama ini. Sudah lama sekali mama tak mendengar kamu curhat. Mama sempat lupa kalau wajah kamu itu sangat imut kalau sedang curhat.” Goda Josephira yang membuat Bethoven mengerucutkan bibirnya dan melengos. “Hehehe... Maaf, maaf, jangan ngambek gitu dong? Masa udah mau menikah masih suka ngambek?” Goda Josephira lagi.
“Siapa yang akan menikah mah? Pacar saja sekarang tak punya.” Sergah Bethoven cepat.
“Haaah? Kamu sudah putus sama Diva?”
“Yaaaa.... eh bagaimana ya mah? Bethoven waktu itu sangat marah karena merasa diabaikan dan tak dianggap Diva. Jadi Bethoven meninggalkan Diva begitu saja di bandara saat Diva mencoba menjelaskan semuanya pada Betho.”
“Oh, jadi seperti itu ceritanya. Pantas saja di medsos banyak video kamu diciumi Diva ya?”
“Ah, oh, itu Diva saja yang nyosor. Betho gak ada niat mesum sama sekali mah.” Bethoven salah tingkah dan membela dirinya sendiri dengan wajah bersemu merah karena malu mengingat videonya bersama Diva dibandara yang diunggah orang banyak dan menjadi viral.
“Hahahaha... Putra mamah ini jadi semakin imut. Sini-sini mamah ingin peluk kamu sayang.” Ujar Josephira dan langsung menarik lengan putranya jatuh dalam pelukannya.
“Mamah... Betho udah besar mah, bukan anak sd lagi.”
“Memangnya kalau sudah besar, mamamu ini ga boleh peluk kamu lagi?” Goda Josephira tanpa melepaskan pelukannya. Dia sangat senang bisa menggoda putranya ini.
“Mah please lepasin. Kalau ketahuan orang lain, Betho malu mah. Entar Bethoven dibilang anak mamah lagi.”
“Yaaaa memang anak mamah kan? Masak anak orang lain.” Goda Josephira sambil melepaskan pelukannya.
“Mamah ah becanda melulu?” Rungut Bethoven sambil berdiri dan mengerucutkan bibirnya. “Udah ah, Betho mau belajar dulu.” Katanya lagi seraya berjalan meninggalkan mamanya.
__ADS_1
“Hehehe... Oh ya saran mama, coba kamu telepon saja Diva kalau kamu memang masih kangen.” Ucap Josephira sambil terkekeh melihat tingkat anaknya.
Bersambung...