MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)

MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)
Eps. 15 RUBAH KECIL


__ADS_3

Cuplikan eps. sebelumnya…


“Hei Diva, udah ketemu belum caranya balas bullian Lia dan Anggi?” Tanya Cherry dengan wajah serius.


Diva dan Bella yang sedang sibuk mempersiapkan hiasan untuk memperindah ruang kelas mereka pun menoleh dan menghentikan kegiatannya.


“Belum sih, masih belum terfikirkan. Memangnya kamu ada rencana mengerjai mereka?” Tanya Diva setengah berbisik.


\=\=\=o0o\=\=\=


“Ada.” Jawab Cherry dengan seringaian. Lalu menunjukkan dua kantung plastik bening berisi puluhan ekor cicak.


“Iiih…” Jerit Bella begidik melihat banyaknya cicak yang dibawa Cherry.


“Sshhhtt..!!”


“Maaf, habis geli sih ngelihat itu.” Kata Bella mejawab desisan kedua sahabatnya.


“Udah, sekarang kamu jaga diluar, awasi si duo sok cantik itu. Sisanya biar aku yang ngerjain.” Tukas Cherry memberi perintah pada Bella, sambil matanya melirik kearah dua tas pungung Lia dan Anggi yang tergeletak diatas bangku tempat duduk mereka.


Bella segera berlalu menuju pintu. Sementara Cherry dengan berlagak normal menuju ketempat kedua tas Lia dan Anggi berada. Setelah dirasa tidak ada teman lain yang memperhatikan dia segera memasukkan masing-masing satu kantong dan membuka kantong plastik itu, lalu menutup tas dengan cepat, sehingga cicak-cicak itu bisa keluar dari plastik tapi tidak akan keluar dari dalam tas.


Beberapa saat kemudian Lia dan Anggi kembali memasuki kelas. Seperti biasa mereka berdua berjalan dengan gaya anggun dan kepala yang sedikit terdongak khas para bangsawan eropa yang angkuh. Tanpa menyapa satu pun teman yang juga berada didalam kelas, mereka berdua langsung menuju tempat duduk mereka.


“Pasti kali ini berhasil Anggi. Pasti.” Kata Lia dengan sedikit senyuman terlukis dibibir yang terpoles lipstick warna pink itu.


“Iya Lia, elo memang pintar. Kak Beto pasti akan suka. Malahan sangat suka pake banget lagi.” Jawab Anggi sambil terkekeh menimpali ucapan Lia.


Lia bermkasud mengambil permen dari dalam tasnya. Tangannya segera membuka resleting tas, dengan tanpa melihat tangannya segera dimasukkan kedalam. Sejenak kemudian.


“WHAAAAAAA!!!” Jerit Lia sambil melemparkan tasnya ke lantai.


Semua yang berada dalam kelas ikut terkejut mendengar jeritan keras Lia. Serentak Lia telah dikerubungi teman-temannya. Mereka bergumam menanyakan kenapa.


“I-itu… “ Jawab Lia dengan wajah yang telah memucat.


Semua menoleh pada arah yang ditunjuk Lia dengan jarinya yang gemetar.


Anggi yang masih terpaku ditempat duduknya segera mengambil tas Lia yang berada diatas lantai. Perlahan tas itu dibukanya. Dan beberapa cicak tampak berlarian keluar dari dalam tas Lia. Anggi pun menjerit lalu berdiri dan memeluk orang yang berada didekatnya. Wajahnya terlihat memucat, seperti tanpa dilewati darah. Bibirnya gemetar seiring tubuhnya yang gemetar memeluk rapat.


“Iiih… lepas! Apaan sih?” Sungut Diva yang tidak suka dipeluk Anggi.


Menyadari telah memeluk Diva, teman sekelasnya yang beberapa waktu lalu telah dibulinya membuat Anggi terkesiap dan mundur. Dia menoleh pada Lia yang masih gemetar menatap kearah tas.


“Hadew, sama cicak saja takut.” Kata Seno. Dia lalu mengambil tas Lia dan mengeluarkan semua buku kemudian mengeluarkan semua cicak dari dalam tas Lia di luar kelas.


“Udah. Udah kubuang semua.” Seru Seno sambil menyerahkan tas kosong pada Lia.


Lia dengan sedikit ragu menerimanya.


Seno melepaskan senyuman sambil mengangguk seolah berkata, sudah tidak ada apa-apa didalam ini.

__ADS_1


“I-ini pasti ulah elo!”


Tiba-tiba Lia berkata dengan keras menunjuk pada Diva yang dari tadi hanya terdiam saja.


Diva yang tiba-tiba menjadi tersangka kaget, dia mundur satu langkah tidak tahu harus berkata apa. Karena dalam hatinya membenarkan tuduhan itu. Tapi kenapa aku harus mengakuinya? Apa yang harus kukatakan? Batin Diva dalam hati.


“Enak saja elo ngomong hah! Kenapa tiba-tiba Diva? Dia saja jijik. Kalian lihat saja sendiri bagaimana ekspresi wajah dia.” Solot Cherry membela. “Lagian apa bukan ulah elo sendiri biar dapat perhatian Seno?”


“Ih, ngaco! Ngapain gue caper ma Seno, kurang kerjaan kali?” Balas Lia sambil memandang kearah Seno dengan gaya jijik. “Hiiii…. Ga mungkin kaleee.”


Seno yang ditatap jijik oleh Lia jadi memerah wajahnya. Dia merasa sangat dipermalukan oleh Lia.


“Terus, elo punya bukti apa hah?”


“Hei, dia tuh mau balas dendam karena beberapa waktu lalu gue bilangin tuk ga dekatin Bethoven. Pasti itu sebabnya, Betul kan Anggi?”


“Betul. Baru jadi artis baru aja sudah sok!” Timpal Anggi ketus. Lalu dia berniat mengambil botol minum didalam tasnya.


“WHOOAAAAA!!!!” Anggi berteriak kencang ketika dirinya telah membuka tasnya. Beberapa cicak berhamburan keluar. Tas itu langsung dilemparkan. “Seno, tolongin gue dong… please.”


“Ogah!” Jawab Seno dengan tegas lalu pergi meninggalkan tempat.


Melihat hal itu Bella dan Cherry pun tertawa keras diikuti teman-teman yang lain.


PLAK!


Sebuah tamparan keras mengenai pipi Diva. Lia melakukannya dengan tatapan mata menghujam penuh kebencian. Sementara Diva hanya bisa meringis kesakitan, dia benar-benar tidak menyangka Lia berani menamparnya.


Bella dan Cherry yang masih terpana hanya mampu memekik memberikan peringatan. “DIVA…!!”


Tap!


“Cih, kenapa kamu suka sekali menampar orang?”


Anggi yang merasa gerakan tangannya ditangkap sebuah genggaman yang kokoh dari arah belakangnya, lalu dia pun menoleh, melihat kearah suara. Dilihatnya sosok Bethoven sedang memegang tangannya, sorot mata yang tajam dan wajah yang dingin terukir jelas disana.


“Kak Betho…” Desis Diva lalu menundukkan kepalanya.


Lia yang mendapat tatapan tajam merasakan ngeri yang teramat sangat. Orang yang dikaguminya itu kini menatap dia dengan sorot mata penuh kebencian seperti itu, seakan hendak membunuhnya saat itu juga. Lia berusaha menarik tangannya tapi terhalang rapat genggaman Bethoven, membuat Lia hanya bisa meringis merasakan sakit dipergelangan tangannya.


“Dia menuduh Diva mencari gara-gara kak. Dia juga bilang kakak adalah pacar dia.” Bella segera mendekat kearah Diva dan Bethoven juga mengadukan permasalahan yang terjadi.


“Pacar? Aku pacarnya dia?”


“Iya kak.” Jawab Diva lirih sambil menunduk.


“Hei, aku peringatkan padamu ya. Aku hanya tahu kamu adalah teman sekelasnya Diva. Dan aku bukanlah pacar kamu. Paham!”


“Iya kak. Maaf.” Lia berkata lirih. Wajahnya kini memerah merasakan malu yang teramat sangat. Begitu dirasakan tangan Bethoven sedikit melonggar, dia segera menarik tangannya lalu berlari meninggalkan ruang kelas diikuti Anggi.


Teriakan koor bernada mengejek mengiringi kepergian Lia dan Anggi. Beragam cemoohan keluar dari teman-teman sekelas yang mengetahui peristiwa yang barusan terjadi.

__ADS_1


Bella segera menyeret Diva menjauh dari Bethoven.


“Kamu ga papa Diva?” Tanya Bella sambil mengelus pipi Diva yang kini masih terlihat memerah bekas tamparan.


“….”


“Emang dasar tuh cewek penyihir, main gampar anak orang aja.” Maki Cherry yang kini sudah mendekat pula pada dua sahabatnya. “Aku akan ke UKS mengambil minyak tawon, biar memar itu cepat hilang dari pipi mulus kamu.”


“G-ga…” Diva mengurungkan kalimat untuk mencegah Cherry yang terus melesat keluar kelas. “Aish, anak itu bisa lari secepat itu ya?”


Bethoven berjalan mendekati dengan sedikit keraguan.


Diva yang melihat Bethoven berjalan mendekat, hanya bisa memberi isyarat untuk berhenti mendekat karena Bella tiba-tiba berkata padanya.


“Untung kak Betho tiba-tiba datang dan menangkap tangan Lia, coba saja kalau ga. Pasti makin memar saja tuh pipi.” Kata Bella sambil terus mengelus pipi Diva. “Maafkan kami ya Diva, tadi kami begitu kaget hingga tidak tahu harus berbuat apa. Kami berdua tidak menyangka si Lia begitu berani. Tapi tenang saja, nanti aku dan Cherry yang akan langsung membalasnya. Kamu ga usah ikutan, biar kami yang membuat dia membayar pipi lebam kamu ini.”


Diva yang mendengar itu kembali hanya bisa terdiam. Dia tidak menyangka kalimat itu bisa keluar dari bibir Bella, kalau Cherry yang mengatakannya mungkin dia tidak terlalu terkejut. Tapi ini Bella, sahabatnya yang selama ia kenal begitu kalem dan santun.


“Coba kamu menoleh ke kiri, biar kuoles pipi kamu dengan minyak tawon ini.” Seru Cherry yang sudah kembali dengan membawa sebotol besar minyak oles cap tawon.


“Maaf ya Diva, kami sebagai sahabat kamu kurang tanggap.” Kata Cherry lagi sambil jemarinya mengusap pipi Diva.


“Iya, iya, ga papa kok. Kalian jangan seperti inilah, bikin aku ga enak hati aja. Tapi sejujurnya aku tadi terkejut, tiba-tiba Lia menampar aku, karena pandanganku terpaku pada kak Bethoven yang masuk kelas. Sebenarnya aku tadi sempat ingin membalasnya langsung, tapi ku urungkan kubayangkan kak Bethoven akan menolong aku. Eh, ga tahunya benaran terjadi. Qiqiqiqi…”


“What?!?! Kamu…. Licik banget ternyata.” Kata Cherry sambil mengoleskan minyak sekali lagi tapi kali ini ditekannya hingga membuat Diva mengaduh kesakitan.


“Aduh, sakiiit Cherrrrr…”


“Bodo amat!”


“Kamu jangan kasar sama teman kamu dong!” Bentak Bethoven sambil berlari mendekat.


“Kamu ga papa kan?” Tanya Bethoven kali ini sambil mengangkat dagu Diva dan memandang wajah Diva sambil memeriksa dengan seksama pipi Diva.


“Tidak apa-apa kak. Maaf membuat kakak kuatir.” Jawab Diva dengan pipi bersemu merah.


“Kamu itu ya… dia kan sahabat kamu. Cepat minta maaf.” Bentak Bethoven pada Cherry.


Cherry pun gelagapan.


“Maaf ya sahabatku.” Kata Cherry dengan nada sumbang dan aneh, sambil mengulurkan tangannya mengajak bersalaman.


Diva menerima uluran tangan itu sambil melempar senyum manis seolah berkata, gimana hebat kan taktik aku?


“Iya CHER… ry..a-aku ma-afkan.” Jawab Diva dengan sedikit merintih. Dia merasakan sakit karena kini telapak tanganya diremas dengan sangat keras oleh Cherry.


Cherry pun melemparkan seringaian seolah berkata, dasar kamu sahabat rubah kecilku, rasakan itu!


Bersambung…


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2