
Popularitas itu seperti pedang bermata dua. Yang satu akan membawa kesenangan dan kemewahan sisi satunya akan membuat terluka penuh pengorbanan. Seperti itulah yang dirasakan Nabila dan Diva saat ini.
Kini mereka berdua terhempas keras kebumi, setelah lama melayang-layang diudara. Seolah angin yang menerbangkan tubuh mereka menghilang. Bumi yang keraspun seolah ingin menenggelamkan, menelan seluruh tubuh mereka.
Yang paling merasakan pukulan akibat terbongkarnya sisi sebenarnya, adalah Diva. Dia kehilangan banyak pelanggan yang dulu setia melihat konten-konten video yang diunggahnya. Di media sosial lainnya pun dia banyak kehilangan pengikut. Komentar-komentar pedas dari netizen sungguh memberikan tekanan pada mentalnya. Tentu saja hal itu diikuti dengan jumlah produsen yang ingin bekerja sama untuk mengiklankan produk mereka, bahkan yang sudah kenal baik dan sudah lama menjalin hubungan baik dengannya, memilih menarik dukungan dan juga menjauh.
Semua terjadi begitu cepat. Hanya dalam hitungan hari semuanya beramai-ramai menghilang. Meninggalkan Diva sendirian. Tapi anehnya, semua konten yang diunggah oleh pihak ketiga tentang dirinya, malah meraih simpati dan dukungan netizen. Seperti video-video pertemuan terakhirnya dengan Bethoven dibandara, atau video-video lainnya yang mengunggah opini-opini pribadi pengunggahnya tanpa klarifikasi pada Diva atau Nabila.
Dua minggu telah berlalu. Seluruh kontrak kerja dan kerja sama telah dicabut dari kehidupan nyata ibu dan anak ini. Beruntungnya pundi-pundi uang mereka masih cukup banyak. Masih bisa digunakan untuk masa yang cukup lama.
“Dimana Diva. Kok aku belum melihatnnya? Hari ini hari minggu, sudah pasti dia sedang libur sekolah kan?” Tanya Rendi. Dia sudah datang dirumah Nabila sejak pagi. Sejak pertama bertemu dan mengungkapkan perasaan, juga mengutarakan keinginannya untuk menikah dengan Nabila, Rendi menjadi sangat sering bermain kerumah Nabila. Meskipun kadang hanya sekedar membawakan makanan atau juga sekedar numpang makan.
“Biasalah kalau seperti ini dia pasti didalam kamarnya.” Jawab Nabila. “Lihat itu bi Minah jadi gelisah, nonton teve saja, gonta-ganti chanel berkali-kali tak jelas apa yang ingin ditontonnya.”
Rendi menoleh kearah Minah yang tengah didepan televisi. Rendi mangut-mangut karena melihat hampir setiap lima belas detik Minah mengganti chanel televisinya.
“Apa dia masih bersedih karena mendapat kemarahan publik?” Tanya Rendi lagi dan mengarahkan pandangannya pada Nabila. Terlihat Nabila juga kusut. ‘Sepertinya mereka belum terbiasa dengan keadaan baru seperti ini.’ Batin Rendi.
“Bukan, aku yakin bukan karena hal itu. Tapi dia sangat bersedih karena Bethoven masih belum bisa dia hubungi. Mungkin Bethoven sudah memblokir nomor Diva.” Jawab Nabila sambil menghembuskan nafasnya cepat, seolah melepaskan beban berat didalam dadanya.
“Boleh aku berbicara dengan Diva?” Tanya Rendi lagi setelah mengetahui keadaan Diva.
“Boleh, sebentar lagi aku akan mengantarkan sarapan ini kekamarnya, lalu menyuapinya. Kalau tak kulakukan, bisa dipastikan dia tak akan memakan apapun seharian.”
“Baiklah.”
“Tunggu sebentar ya, aku akan mempersiakan sarapan untuk Diva dulu.”
__ADS_1
Beberapa menit kemudian.
Rendi melihat Diva duduk diatas kasurnya dengan bersila. Masih dengan memakai piyama, tanda gadis sma ini masih belum mandi. Rambutnya dibiarkan tergerai tanpa diikat. Tatapan matanya lebih sering kosong dan menerawang entah kemana. Berkali-kali diangkatnya ponsel berwarna putih didepannya, lalu diusap-usap sebentar layarnya, kemudian bibirnya mengerucut dan diletakkannya kembali ponsel itu. Sudah hampir sepuluh menit Rendi dan Nabila dikamar Diva. Baru dua sendok berhasil Nabila suapkan ke mulut putrinya itu.
“Diva, Kamu masih sedih karena ditinggal Bethoven?” Tanya Rendi dengan pelan. Dia lalu mendudukkan dirinya ditepi ranjang memunggungi Nabila dan Diva.
“Iya om. Dan yang lebih membuat hati Diva sedih adalah kemarahan kak Bethoven saat pergi.”
Meski tak melihat langsung, tapi mendengar suara Diva yang bergetar dan semakin pelan Rendi yakin air mata gadis muda itu telah menetes.
“Bersabarlah. Suatu saat Bethoven pasti menyadari kenapa kamu melakukannya.”
“I-iya om.” Jawab Diva sangat lirih.
“Menurut om, kamu jangan terus larut dalam kesedihan dan penyesalan kamu. Kamu harus bangkit Diva. Memang berat terluka karena cinta, dan berat untuk melupakannya. Tapi om yakin dengan berjalannya waktu, kamu akan bisa kembali seperti dulu. Asalkan kamu mau mengalihkan sejenak pikiran kamu.” Nasihat Rendi.
“Hmmm... Terus kenapa? Kamu harus menerima kenyataan kalau nama Bethoven memang telah terukir didalam hatimu. Sampai kapan pun mungkin itu tak akan terhapuskan. Tapi kamu harus juga bisa menerima kenyataan saat ini, Bethoven telah pergi.”
Diva tak menjawab. Dia termangu memikirkan nasihat Rendi.
“Seperti yang om bilang tadi, memang terasa sangat berat Diva, tapi kamu harus bangkit. Dan itu bisa terjadi kalau kamu mau bangkit. Om dan mamamu disini hanya membantu. Selebihnya kamulah harus melakukannya.”
“Tapi aku tak mau melupakannya kak Betho om.”
“Tak harus melupakan. Bethoven akan terus ada dalam ingatan dan hatimu. Dan kamu akan terus mengingatnya, kecuali kamu amnesia atau hilang ingatan.”
“Ih, om masa Diva harus hilang ingatan dulu sih? Naudzubillah deh.” Jawab Diva sambil terkikik.
__ADS_1
“Nah gitu dong, tertawa ga pasang wajah kusut terus.” Ujar Nabila setelah melihat putrinya itu mencair suasana hatinya. ‘Terima kasih ya Ren.’ Ucap Nabila dalam hati seraya memandang punggung lelaki itu.
“Oke, sekarang cepat habiskan makananmu, terus aku akan mengajak kalian semua nge mal. Aku traktir deh, belanja apa saja aku yang bayar.”
“Beneran om? Asssssyyyiiikkk...” Teriak Diva kegirangan. Tapi sejurus kemudian, “Ga usah deh om. Diva dirumah saja.”
“Loh kenapa?”
“Risih, pasti nanti ketemu banyak orang, mendengar cibiran mereka semua.” Keluh Diva sambil memasukkan sesendok nasi kemulutnya.
“Udah cuekin saja. Aku yakin tak semua orang membenci kalian. Aku yakin masih banyak orang yang bersimpati dengan kalian. Contohnya..... Aku!” Ucap Rendi masih membelakangi dua wanita itu seraya tertawa.
“Cih, itu kan karena om ada maunya.” Cibir Diva.
“Ya ealah, om mau mama kamu jadi istri om selamanya. Dan aku jadi putri tiri om yang akan om lindungi selamanya.” Jawab Rendi dengan tegas. “Tapi sampai sekarang mama kamu masih menggantung perasaan aku, hikz, hikz...”
“Jangan lebay! Pake pura-pura nangis segala! Emang ini sinetron?” Sergah Nabila seraya memukulkan bantal ke punggung Rendi berkali-kali. Yang disambut tertawa ngakak dari Rendi.
Diva ikut tertawa menyaksikan adegan diantara mereka.
Sementara itu.
Diapartemen mewah.
“Sialan aku sudah keluar uang banyak, berita juga sudah viral. Bahkan sekarang Nabila dan Diva menjadi public enemy. Tapi kenapa Bram dan Josephira belum juga menunjukkan gelagat apapun ya?” Geram Naginisa. Wajahnya memerah karena merasa sangat marah. Dia merasa telah gagal untuk menghancurkan biduk rumah tangga sepupunya itu.
Bersambung...
__ADS_1