MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)

MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)
Eps. 67 Berenang


__ADS_3

Di sebuah apartemen mewah.


“Aaah, lagi-lagi kamu nonton chanel Diva di yutub.” Seloroh Naginisa. “Kamu ini sangat bersimpati dengan Josephira ya? Selalu video doa bersama itu yang kamu tonton.” Gerutu Naginisa lagi.


Budak nafsu itu diam saja dan terus menonton video dalam tabletnya.


“Hei, berani kamu mengacuhkan aku?”


Budak nafsu itu masih bergeming. Matanya terpaku pada layar tablet.


“Budak sialan! Jangan salahkan aku jika nanti ada video Diva terbunuh.”


Seketika budak itu menoleh kearah Naginisa. Menatap ketakutan, lalu menggelengkan kepala.


“Jangan, jangan sakiti dia.” Kata budak nafsu itu lirih.


 “Memangnya kenapa? Kamu bisa apa?” Tanya Naginisa Dingin.


“Mungkin dia putriku.” Jawabnya lirih.


“Hahahahaha....” Naginisa tertawa keras. “Kamu ini bisa membanyol juga hah?”


“Dia, dia mungkin ibunya.” Kata budak nafsu itu seraya menunjuk sosok Nabila yang tampak berdoa dalam video doa bersama untuk Josephira dirumah sakit.


“Terus kenapa?”


“Aku dulu menghamili dia.”


“Hahahahaha...”


Ferdi telah menjual semuanya hanya untuk bertahan hidup. Kecanduan narkoba dan tak punya lagi uang karena  kebangkrutan orang tua, membuat dia menanda tangani kontrak menjadi budak nafsu dengan Germo Boy. Lalu Boy  menjualnya pada Naginisa. Sungguh ironi putra satu-satunya mantan orang kaya-raya jatuh dalam kehinaan seorang budak nafsu.


Sementara itu.


“Ish, kenapa mataku tiba-tiba berkedut ya?” Tanya Nabila sambil menyeruput lemon teanya.


“Apa mah?” Tanya Diva sambil matanya terus menatap tayangan drama korea di layar tivi.


“Ga ada apa-apa.” Jawab Nabila. “Oh ya, sudah lama ya kamu tidak bermain dengan Cherry?”


“Cherry beda sekolah mah, jadi sedikit susah untuk bertemu.”


“Benar juga. Padahal kalau kamu cerita tentang Cherry kamu pasti tertawa ngakak.”


“Sst! Jangan berisik ah.” Sela Minah sambil memasukkan popcorn kemulutnya. Pandangannya tak beralih dari  layar tivi.


Nabila dan Diva tersenyum kecut.


“Yeah! Bersambung deh. Padahal lagi seru-serunya.” Ujar Minah dengan nada kecewa. Lalu berlalu kedapur.

__ADS_1


“Hari ini kamu tak ada acara?” Tanya Nabila.


“Tak ada mah, lagian ini kan hari sabtu. Sekolah juga libur.” Terang Diva. “Sekarang ini, karena kesibukan Diva  membuat konten video dan chanel aku lumayan banyak subscriber juga viewer jadi om Adli memutuskan Diva fokus  saja sebagai vlogger dan sekolah. Biar masa remaja bisa dinikmati sebagaimana mestinya dan pendidikan  tetap aman. Gitu katanya. Jadi banyak tawaran sinetron ditolak sama om Adli.”


“Benar. Yang dikatakan om kamu itu benar seratus persen. Pendidikan nomor satu.” Nabila mengamini keputusan  Adli. Dia juga yakin itu akan menjadi yang terbaik untuk Diva kedepannya. “Terus tak ada kegiatan membuat konten  untuk hari ini?”


“Kemarin malam sudah selesai, tinggal proses editing. Hari ini aku off dari kegiatan. Untuk produk yang mau endors  Diva juga sudah kuserahkan pada asisten untuk berkoordinasi dengan om Adli.” Terang Diva.


“Eh, anak mama sekarang sudah jadi big bos ya?” Goda Nabila.


“Hehehe... Diva kan selain cantik mempesona juga pintar cari duit ma?” Kata Diva narsis.


“Tentu saja. Diva binti Nabila gitu loh.”


Diva tertawa terbahak-bahak mendengar selorohan mamanya.


“Hari ini Diva mau menghibur tante Jose mah, kata kak Betho tante Jose marah-marah melulu setiap hari.”


“Iya. Hari ini mama juga tak ada kegiatan. Mama juga akan kesana untuk menemani calon ibu mertua kamu itu.”


“Ih mama, mau menghibur calon besan.”


Mata Nabila terbelalak mendengar Diva menggodanya.


“Kamu ini, sudah ngebet banget kepingin menikah. Lulus sekolah dulu baru menikah.”


“Siap mamaku yang cantik. Setelah Diva menikah, Diva akan cari calon suami untuk mama. Kayaknya sih om Adli sangat pantas jadi bapak tiriku.”


Nabila terdiam.


‘Bang Adli? Apakah aku pantas untuknya?’ Tanya Nabila dalam hati.


“Ah mamah cepetan pulang deh. Kak Betho sudah sampai didepan pagar.” Usir Diva pada Nabila.


Tanpa  banyak kata. Nabila segera bangkit dan  berjalan ke belakang, ke jalan tembus diantara rumah mereka.


Siang itu dirumah besar Bram.


“Hai kak.” Sapa Nabila pada Jose yang tampak merenung didepan rimbunan mawar ditaman.


“Oh kamu Nab?”


“Seperti yang kamu lihat.” Jawab Josephira seraya mengangkat kedua tangannya. “Tadi sih aku ditemani  Betho dan  Diva. Tapi mereka  sekarang sudah pergi lagi.”


“Kamu sendiri ga ada kerjaan hari ini?”


“Iya kak, di toko semua sudah beres. Tak ada lagi yang perlu diperiksa. Hari ini aku ingin bersantai dengan kakak saja.” Jawab Nabila. “Kak Bram lagi bekerja kan kak?”


“Iya.”

__ADS_1


“Kabar kakak bagaimana hari ini?”


“Baik. Aku baik saja Nab.”


“Kakak sudah ta sedih lagi seperti cerita kakak ditelepon?”


Josephira menarik nafasnya dalam-dalam sebelum menjawabnya.


“Masih Nab.” Jawab Josephira seraya menghembuskan nafasnya cepat.


Nabila terdiam. Tak tahu harus bagaimana membalik suasana yang tiba-tiba kaku dan dingin.


“Kakak ga ingin kuantar jalan-jalan kemana gitu?” Tanya Nabila mencari cara agar bisa menghibur sahabatnya ini.


Josephira menggelengkan kepalanya berulang-ulang.


“Ga Nab. Aku masih takut. Apalagi pelaku penusukanku masih belum tertangkap juga.”


“Iya juga. Apa sih maksud sebenarnya pelaku itu? Dan apa memang kakak yang baik hati ini punya musuh tersembunyi?”


“Itulah Nab. Apa aku pernah menyakiti orang lain ya? Sebenarnya sih mungkin saja. Aku sadar aku manusia biasa.  Tapi selama ini teman atau rekan bisnis tak ada yang mengeluh padaku.” Jawab Josephira dengan  pandangan menerawang. “Ah sudahlah kalau berpikir tentang itu aku jadi semakin takut.”


“Enaknya ngapain ya?” Tanya Nabila setelah beberapa saat mereka saling terdiam. “Ah, bagaimana kalau kita berenang saja?”


“Kamu gila ya? Aku ini sudah lumpuh bisa tenggelang aku, meski dikolam dangkal.”


“Kan ada aku kak. Aku akan pegangi kakak.”


“Gak Nab. Gak!”


“Ayolah kak. Biar pantat kakak yang seksi ini ga kempes karena kebanyakan duduk. Barangkali juga bisa untuk terapi kakak.”


“Emang kamu bisa menurunkan aku ke kolamnya?”


“Yee, kursi roda ini kan canggih, jadi aku pasti kuat kalau hanya menggendong sebentar seperti saat memandikan kakak.”


“Baiklah, baiklah. Tapi bener loh jagain aku ya. Kalo dulu sih aku jago renang, kalau sekarang kan kakiku ga bisa bergerak. Jadi beneran loh jagain aku.”


“Iiiih... Bawel banget sih.” Sergah Nabila sambil mendorong kursi roda menuju kamar untuk mengganti pakaian.


Josephira dan Nabila sudah memakai baju renangnya dan telah berada didalam kolam renang. Nabila mencoba  untuk menguatkan hati Josephira agar tidak terlalu takut saat dituntunnya menyusuri tepian kolam sambil  berenang.


“Kamu benar Nab. Otot-otot punggungku terasa relaks dengan seperti ini.” Seru Josephira seraya mengusap wajahnya dengan air kolam.


“Syukurlah kalau kakak suka.” Jawab Nabila seraya tersenyum lebar.


Dari kejauhan Bram memperhatikan interaksi mereka berdua.


‘Jika saja Nabila tak perlu pulang kerumahnya. Aku akan bisa tenang bekerja dan selalu melihat senyum Josephira  dibibirnya seperti saat ini.’ Batin Bram.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2