MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)

MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)
Eps. 49 Jangan Gibah


__ADS_3

Enam bulan berlalu dengan cepat. Diva sekarang telah duduk dikelas sepuluh di sekolah yang sama dengan  Bethoven. Diva meminta pada Adli untuk tidak lagi home schooling karena akan memudahkannya  untuk mendapatkan ide buat konten-konten videonya. Dan pihak sekolah memberikan ijin dan kelonggaran  bila jadwal sekolah bentrok dengan jadwal syuting.


Setelah mempertimbangkan keadaan satu tahun terakhir, Adli selaku manajer Diva dan Nabila memutuskan untuk menyetujui permintaan Diva. Mereka berdua memberikan ijin untuk Diva bersekolah umum.


Hubungan Diva dan Bethoven semakin dekat karena bersekolah ditempat yang sama. Meskipun hubungan mereka tak bisa dikatakan berada dalam satu ikatan cinta yang jelas. Namun pada kenyataannya keduanya  berusaha menikmatinya. Dan keadaan ini memancing rasa penasaran jutaan fans yang ingin mereka  bersatu dalam sebuah ikatan janji cinta.


Sementara itu bisnis Nabila yang baru juga mulai membuahkan hasil. Gerai perhiasannya mampu membukukan omzet yang sedikit diatas ekspetasi Nabila maupun Josephira.


“Maaf Nab, kami terlambat. Kamu sudah lama menunggu?” Tanya Josephira yang baru saja tiba di restauran bersama Bram, suaminya.


“Ah tak apa kak. Aku juga belum lama kok, ga sampai lima menit.” Jawab Nabila sambil menyunggingkan senyum.


Seperti biasa Bram akan bersikap dingin dan tak terlalu memperhatikan Nabila. Dia hanya akan diam dan berbicara sesekali saja.


Malam ini mereka makam malam bersama untuk merayakan kesuksesan gerai perhiasan yang diberi nama Nab’s Jewel.


“Sayang, Nabila ini ternyata jago bisnis loh.” Kata Josephira sambil meletakkan sendok diatas piringnya.  “Bayangin saja, bulan ini omzetnya bisa menyentuh lima milyar.”


“Hmm.. Bagus.” Jawab Bram. Lalu dia meminum air.


“Bagus, itu sangat bagus sayang. Ini baru bulan kedua gerai itu beroperasi loh.” Sergah Josephira.


“Iya. Sangat Bagus. Aku sangat setuju untuk itu.” Jawab Bram sambil menatap intens pada istrinya.


Nabila hanya tersenyum lebar mendengar percakapan suami istri didepannya. Dia sudah hapal betul  bagaimana perlakuan Bram yang sangat mencintai Josephira. Apapun yang dilakukan dan diminta Josephira  pasti akan didukung dan dikabulkan. Tanpa berdebat, tanpa banyak perhitungan.


“Aaaah, tak kusangka akan bertemu dengan kalian disini.”


Tiba-tiba terdengar suara seorang  wanita dari arah belakang Nabila.

__ADS_1


Josephira dan Bram menengadah melihat kearah sumber suara. Setelah mengetahuinya, wajah keduanya  berubah. Meskipun tidak drastis tapi Nabila tahu mereka berdua tidak suka dengan pemilik suara yang  sekarang sudah berdiri disamping meja mereka.


Nabila melihat sosok wanita cantik. Secantik Josephira. Bahkan wajah, postur tubuh mereka sangat mirip.  Seperti saudara kembar. Dahi Nabila mengernyit karena tak sekalipun Josephira pernah bercerita punya  saudara kembar.


“Kalau makan malam disini kenapa ga menghubungiku sih. Kalian ini tega banget?” Kata wanita itu lagi lalu duduk begitu saja disamping Nabila tanpa permisi.


“Kami ini lagi berbicara bisnis Na!” Sergah Josephira.


“Owh! Aku mengganggu ya? Maaf deh.” Katanya sambil terkekeh. Tanpa sekalipun menoleh pada Nabila


‘Cih orang ini ternyata sangat berbeda dengan kak Jose.’ Decih Nabila dalam hati. ‘Dia tak menganggap aku ada. Terus gaya pakaiannya itu apa-apaan? Terbuka sekali. Sampai-sampai mau keluar semua tuh payudara  dia.’


“Kak Bram, transfer lagi dong. Udah habis nih.” Kata wanita itu lagi.


Bram yang diajak bicara malah melihat kearah istrinya. Lalu berkata, “Kan seminggu lalu sudah ditransfer oleh Johan.” Katanya dingin.


“Udah habislah kak.” Jawab wanita itu santai.


“Ya mau bagaimana lagi? Minggu lalu aku ke Macau dan sedikit ikut permainan, karena lebih dari setengahnya aku kalah aku lalu pergi spanyol untuk berpesta. Dan habis sudah.”


‘Apa-apaan? Menghabiskan satu milyar dengan penjelasan seperti itu. Enteng banget nih orang kaya.’ Batin Nabila merasa jengah dengan apa yang didengarnya.


“Lagian uang segitu kan hanya seperlima penghasilan kak Bram perharinya. Ayolah Josephira jangan terlalu  pelit dengan sepupumu ini. Atau mungkin aku harus mengingatkan sesuatu padamu?” Kata wanita  disebelah Nabila yang sekarang mengaku sepupu Josephira dengan senyum smirknya. “Lagipula harga  minyak goreng sekarang naik berkali-kali lipat masa aku minta dua kali dari biasanya saja kamu ga mau  kasih sepupuku tersayang?”


“Apa hubungannya permintaan kamu dengan harga minyak goreng hah? Masuk dapur saja kamu ga  pernah!” Sergah Josephira semakin jengkel mendengar alasan sepupunya itu.


“Sudah! Sudah! Biar nanti Johan akan transfer kamu lagi. Dan kamu pergi sekarang juga!” Usir Bram geram.


“Oh ya kak Bram. Aku minta ditransfer dua milyar. Dan juga  ini adalah sebagai tanda uang jajanku  bertambah mulai bulan depan.”

__ADS_1


“Apa kamu gila ya?” Maki Josephira dengan suara tertahan karena pengunjung lain mulai menoleh kearah mereka duduk.


“Aish, ayolah sepupuku. Itu masih terlalu kecil untuk penghasilan kak Bram perbulannya.” Jawabnya lagi  dengan senyuman kemenangan. “Pasti kak Bram setuju. Iya kan kak? Oh ya aku masih bisa loh setiap saat  menelpon temanku untuk melakukan itu.” Katanya lagi.


“Oke! Akan aku berikan itu. Dan tutup mulutmu sekarang juga lalu pergi dari sini!” Sergah Bram dengan  tatapan tajam seolah ingin membunuh wanita disamping Nabila ini.


“Hahahaha, aku tahu kamu akan sangat baik padaku Bram ganteng.” Kata wanita itu lalu berdiri. Sebelum  pergi dia sempat mengelus dagu Bram yang langsung mendapatkan tepisan keras dari Bram.


Wanita itu pergi dengan santainya meninggalkan mereka bertiga.


“Maaf ya Nab, gara-gara dia kamu jadi mengalami hal seperti ini.” Kata Josephira dengan wajah memelas karena merasa bersalah.


“Ah ga usah dianggap kak. Aku tak mempermasalahkannya kok.” Jawab Nabila lalu tersenyum manis.


\===o0o===


Beberapa hari setelah makan malam itu. Josephira mengunjungi Nabila di gerainya. Mereka berbicara didalam kantor Nabila.


“Oh ya kak, maaf ya. Aku sebenarnya sangat penasaran loh sama sepupu kak Jose tempo hari.” Kata Nabila  setelah beberapa saat berbincang-bincang. “Dia mirip banget sama kakak, sampai-sampai awalnya aku  menyangka dia itu kembaran kakak.”


“Oh dia.” Jawab Josephira dengan malas. “Namanya Naginisa, putri ketiga dari tanteku.”


“Jadi masih sepupunya kak Jose ya?”


“Iya. Sebenarnya aku sangat malas kalau membahas si ular betina itu. Tapi karena kamu udah bertanya aku  hanya akan bilang kamu harus waspada sama dia jika suatu saat kamu harus dekat dengan dia.” Nasihat  Josephira serius. “Dia itu wanita ular, kalau dia menginginkan sesuatu dia akan membelitnya lalu  meremukkan tulang belulang mangsanya. Dan dia sangat licik.”


“Iya kak. Aku akan selalu waspada jika bersama dia suatu saat kelak.” Jawab Nabila. “Tapi sungguh wajah  kakak dan dia sangat mirip. Bahkan postur tubuh kakak juga ga beda jauh loh.”


“Hei udah, udah, jangan gibah. Dia nanti yang keenakan karena dosanya dapat discount.” Ujar Josephira tak  lagi mau bercerita tentang sepupunya itu. Terlihat dia sangat malas untuk membahasnya seolah ada rasa  benci yang sangat mendalam.

__ADS_1


Beberapa bulan berlalu. Tak terasa Diva sudah akan menghadapi ujian kenaikan kelas. Kepopuleran Diva  dan Bethoven terus meroket. Begitu juga dengan bisnis perhiasan Nabila, omzetnya semakin bertambah dan  mulai mengundang pengusaha dari kota lain untuk bekerja sama untuk ekspansi pasar.


Bersambung…


__ADS_2