MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)

MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)
Eps. 29 HEROIK


__ADS_3

“Maafkan kami, kami datang tidak tepat waktu.” Kata seorang wanita dengan pakaian formal berwarna biru gelap pada Adli dan Nabila.


“Tak masalah ibu Lula, tak masalah. Kami mengerti dengan kesibukan anda. Silahkan duduk.” Jawab Adli dengan senyum mengembang. Lalu dia memberi kode pada pelayan untuk mendekat.


Pelayan mendekat dan wanita itu memesan minuman.


“Oh ya ibu Lula, perkenalkan ini Nabila yang akan bekerja sama dalam iklan dan promosi produk dari ibu Lula.”


Diva tersenyum lalu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Lula hanya melirik uluran tangan Nabila dengan tatapan mata dingin, lalu kembali melihat kearah Adli.


“Sepertinya saya kurang sreg. Artis ini terlalu sering banyak sensasi, dan memutus kontrak ditengah jalan dan menghilang entah kemana seenaknya.” Lula mengacuhkan kehadiran Nabila dengan sikap sinisnya.


“Tapi bu Lula, itu hanya gossip murahan. Semua klien yang bekerja sama dengan kami dan Nabila sebagai bintangnya selalu sukses. Dan mereka tidak pernah mengeluh perihal yang ibu sebutkan tadi.  Lagipula sebelum pertemuan ini terjadi kami sudah mengirimkan profile Nabila dan pimpinan ibu sudah memberikan approval nya. Saya fikir hal ini sudah bukan menjadi masalah utama hari ini.” Sanggah Adli dengan mimik wajah serius.


“Itu kan hanya untuk produk-produk kelas local dan skala kecil. Produk kami ini sudah go internasional lho, kami perlu bintang dengan attitude yang bagus, dan nilai yang kami tawarkan juga fantastis. Apakah anda


bisa menjamin hal itu, kalau dia akan terhindar dari gossip murahan?” Kata Lula sambil menekankan kata dia dengan melirik sinis kearah Nabila.


Nabila mencoba bersikap sewajarnya tanpa menunjukkan ketidak senangannya atas perilaku Lula kepadanya. Dia hanya tersenyum tipis


“Maaf bu, kalau ibu Lula seperti ini maka pembahasan hari ini akan kembali seperti beberapa minggu lalu. Pemimpin ibu yang secara khusus meminta Nabila kepada kami agar Nabila bisa menjadi salah satu ikon promosi.” Adli dengan tegas dan memberikan penekanan pada kata pemimpin ibu dan Nabila. Adli berharap Lula wanita angkuh didepannya ini tidak lagi bertele-tele dan membatalkan kesepakatan awal yang telah dia lalui sebelumnya.


‘Ting’


Terdengar suara pemberitahuan dari gawai Nabila. Adli dan Lula masih sibuk berdebat dan tidak terlalu memperhatikan Nabila yang langsung menyambar gawainya yang tergeletak dimeja.


Nabila melihat ada sebuah video yang dikirim dengan nomor yang tidak terekam didalam buku kontaknya. Segera dia unduh video itu.


Mulut Nabila terbuka lebar dengan mata semakin melotot kearah video berdurasi satu menit itu.


‘Ting’


Satu pesan masuk dalam gawai Nabila. ‘TUNGGU PESAN KAMI SELANJUTNYA!’ Nabila tercekat ketika membaca pesan itu. Fikirannya langsung kacau saat tahu yang ada didalam tayang video itu adalah Diva yang  masih memakai seragam sekolahnya, terkulai dalam gendongan lelaki memakai jaket hoodie merah dan dipindahkan ke mobil lain.


“D..Diva…” Lirih suara yang keluar dari bibir Nabila, hingga Adli dan Lula tidak mendengar karena masih berdiskusi dengan sengit.


Tangan Nabila menarik lengan Adli yang duduk disampingnya. Kepanikan jelas terlihat dari wajahnya.


“Bang….” Panggil Nabila, tapi Adli masih fokus dengan perdebatannya.


Adli hanya melirik sebentar tanpa memperhatikan raut wajah Nabila yang telah berubah.


“Bang… DIVA Diculik orang!” Nabila sedikit berteriak. Membuat beberapa orang yang duduk disekitar mereka menoleh.

__ADS_1


“A-apa maksud kamu?” Tanya Adli menghentikan bicaranya dengan Lula.


Nabila langsung menyodorkan gawainya tanpa berkata lagi. Air matanya meleleh dengan deras. Wajahnya sangat pias seolah darah tak lagi melewati area kepalanya.


Lula pun ikut kebingungan melihat perubahan ekspresi Nabila dan Adli.


Tiba-tiba.


“Nab, Diva kenapa?” Sebuah suara dari meja sebelah yang terhalang hiasan café terdengar.


Nabila masih belum sepenuhnya menyadari siapa yang bertanya. Reflek bibirnya mengucap.


“Dicu…lik. Diva diculik orang jahat bang.” Nabila mengira yang bertanya adalah Adli.


“APA???” Teriak suara itu lagi.


Ferdi dan Joe langsung berdiri dan menghampiri Nabila dan Adli yang masih berhadapan dengan Lula.


“Bagaimana ceritanya Nabila, ceritakan padaku.” Cecar Ferdi dengan ekspresi wajah penuh kekuatiran.


Sedikit terkejut, namun Nabila menggeser gawainya dan menyerahkan pada Ferdi. Lalu Ferdi memutar video itu.


Jika itu adalah kondisi normal, tentu baik Nabila atau Adli bisa melihat ekspresi terkejut dan cemas yang diperlihatkan mimik muka Ferdi sangat kurang natural, alias terlalu dibuat-buat.


“Benar bos. Ini sekarang saya sedang mencoba menghubungi dia. Apakah dia tahu sesuatu atau tidak.”


“Bagus. Cepat cari informasinya.” Tukas Ferdi. “Tenang Nab, sabar ya…”


“Bos, benar detektif yang kita sewa mengatakan telah membuntuti dari tadi. Dan sekarang akan di share lokasinya ke kita.” Jawab Joe sambil tangannya sibuk menggeser-geser layar hapenya. “Ketemu bos, dan lokasi xxx jaraknya sekitar satu jam perjalanan dari sini bos.”


“Bagus. Kita harus gerak cepat. Hubungi orang-orang kita dan suruh langsung menuju lokasi itu. Kita menuju kesana Joe kita harus bisa menyelamatkan Diva.” Ferdi berbicara cepat dan terkesan sangat heroik.


Ferdi lalu berdiri. “Kamu disini saja Nab, aku akan bereskan ini untukmu. Percayalah.”


“T-tidak… aku ikut.”


“Terserah kamu. Ayolah kalo begitu.”


 “Aku juga akan ikut.” Sergah Adli. “Bu Lula, mohon maaf karena ada hal emerjensi dengan salah satu anggota agensi kami, miting hari ini kita tunda dulu akan kita lanjutkan dikemudian hari. Mohon maaf karena saya harus langsung pergi seperti ini.”


Tanpa menunggu jawaban dari Lula. Adli dan Nabila sudah berdiri dan meninggalkan Lula yang masih kebingungan. Setelah menyadari dia telah sendiri saja disana, raut wajah Lula langsung berubah cemberut karena miting hari ini gagal total, dan dia harus punya alasan kuat yang harus dilaporkan pada pemimpinnya.


“Sialan. Brengsek! Tidak professional. Amatiran!” Geramnya lirih sambil melangkah pergi keluar dari setelah membayar tagihan.

__ADS_1


\===o0o===


Ferdi turun dari mobilnya didepan sebuah bangunan gudang yang tebengkalai. Joe pun berjalan memutari mobil untuk mendekat pada bosnya itu. Nabila dan Adli juga turun dan mendekat.


“Apakah benar disini Joe?” Tanya Ferdi tanpa menoleh pada Joe. Pandangannya lurus pada pintu gudang yang rusak berat. Sekilas seringaian aneh melintas dibibirnya.


“Benar bos.”


“Mana orang-orang kita yang kamu panggil?”


“Masih otewe bos. Mungkin sepuluh menit lagi mereka akan sampai disini.”


“Aku akan masuk dan membebaskan Diva.”


“Ja..Jangan Bos. Berbahaya. Kita tunggu bala bantuan saja dulu.”


“TIdak, aku harus masuk sekarang atau akan terlambat.” Tukas Ferdi lalu berlari mendekati pintu gudang yang rusak itu.


Dalam sekejap, tubuh Ferdi sudah tidak terlihat dibalik bangunan gudang. Nabila memegang erat tangan Adli, dia sangat cemas dengan keselamatan Diva putrinya. Adli hanya bisa menarik nafas dalam-dalam dan  memeluk pundak Nabila memberikan ketenangan pada bintang yang telah ikut serta membesarkan nama Agensinya.


Joe berjalan mondar-mandir didepan mobil yang mereka tumpangi.


“Joe, mungkin lebih baik kamu nyalakan mobil. Barangkali ada hal urjen, hingga kita bisa langsung bertindak.”


“Ah, benar pak Adli. Anda benar.” Joe bergegas menyalakan mobilnya. Mereka bertiga pun masuk kedalam mobil dengan harap-harap cemas.


Tiba-tiba dari arah pintu terlihat Ferdi sedikit kesusahan keluar dari pintu yang rusak itu. Terlihat juga Ferdi sedang membopong seseorang dengan pakaian seragam sekolah.


“I-itu Fer-di bang… dia menyelamatkan Diva. Cepat kesana.”


Joe langsung tancap gas mendekat.


“Cepat! Cepat! Cepat! Kita pergi dari sini, aku hanya melumpuhkan satu orang saja disana. Setidaknya masih ada empat orang didalam sana.” Ujar Ferdi dengan nafas tersengal-sengal.


Adli membuka pintu belakang dan menerima tubuh Diva dengan cepat. Setelah berhasil Ferdi langsung masuk ke mobil dan menyuruh Joe kabur secepatnya.


“Dia hanya pingsan Nab. Aku sudah memeriksanya. Kita langsung menuju rumah sakit terdekat Joe.”


“Baik bos.”


Bersambung…


=============

__ADS_1


__ADS_2