MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)

MENYIMPAN RAHASIA (MAMPUKAH?)
Eps. 84 Tampil Bareng


__ADS_3

“Ah sudahlah, saya tahu ini pasti terlalu cepat bagimu.” Ucap Rendi. Setelah ajakan menikahnya tersampaikan,  seolah Rendi sudah bisa menguasai keadaan dirinya. Dia kini tampil tenang dan berwibawa. “Oh ya, aku ingin  mengajak kamu di satu tempat faforitku dalam hotel ini. Dan aku yakin kamu akan menyukainya juga setelah tahu tempat itu.” Ujarnya lagi seraya berdiri.


Nabila bingung. Kecurigaan dalam hatinya bertambah. Dia sudah terlalu sering mendapatkan rayuan seperti ajakan  menikah, pemberian hadiah dan lain sebagainya. Dan semua itu ujung-ujungnya adalah mengajak tidur  bersama.


‘Cih, semua lelaki kalau memandang aku selalu sama. Ujung-ujungnya hanya pelepasan hasrat saja!’ Runtuk hati  Nabila. ‘Manalagi tempat faforit kamu itu? Aku yakin pasti tak jauh-jauh dari kamar tidur.’


“Mari.” Ajak Rendi yang kini telah dibelakang kursi Nabila dan bersiap menarik kursi itu kebelakang.


Mau tak mau Nabila mengangkat pantat besarnya, dan Rendi segera menarik kursi itu sedikit menjauh.


“Aku yakin kamu akan menyukainya, disana view nya sangat indah. Kamu bisa merasakan semilir angin menerpa  tubuhmu dan memberi kesejukan dibawah sinar matahari pagi ini.” Ajak Rendi sambil menyodorkan tangannya  untuk menggandeng Nabila.


Dengan ragu Nabila menyambut tangan itu. Dia masih berpikir, ‘Orang ini sangat kaya. Uang lima milyar akan  begitu mudah dia berikan jika membuat hal yang tak menyenangkan bagiku. Tapi aku akan mengalami pelecehan  lagi. Apa yang harus kulakukan? Apakah aku ikuti saja permainan dia ini?’


Melihat keraguan Nabila, Rendi tersenyum saja.


“Come on, please trust me. You will like and enjoy it.” (Ayolah, kumohon percaya padaku. Kamu akan suka dan menikmatinya.)


Sebuah kalimat yang sangat ambigu bagi Nabila yang mendengar dan dalam keadaan siaga satu mode on.  Keraguannya semakin nampak, membuat Rendi sedikit lemas tak berdaya.


“Aku tahu ini mungkin sangat cepat bagimu. Tapi tempat ini aku pastikan jauh dari tempat tidur. Ini adalah spot  terbaik di hotel ini. Percayalah, aku tak akan berniat buruk padamu. Karena aku sangat mencintaimu.” Ucap Rendi  mencoba meyakinkan Nabila.


‘Apa mencintaiku? Oke, aku memang cantik dan terkenal. Tapi apa aku juga harus mencintaimu sekarang juga.  Hellooooo.... Are you insane (heloooo... apakah kamu sudah gila)?’ Berontak hati Nabila.


“Okelah, kamu boleh mengajak seseorang yang kamu percaya untuk bersama kesana. Jadi kamu akan merasa  aman saat bersamaku.” Ucap Rendi tak menyerah untuk menunjukkan tempat favoritnya itu.


“Benarkah?”


“Iya benar. Siapa yang kamu ingin panggil untuk menyertaimu? Bilang saja, nanti biar Nadia yang menjemputnya untukmu.”


Nabila berpikir sejenak. ‘Bagaimana ya reaksinya jika aku mengajak Diva saja. Bukankah ini sebuah kebetulan,  anggap saja rekreasi keluarga.’


“Aku ingin sekretaris Nadia menjemput temanku di kamar VIP nomor 510. Dia bernama Diva.” Ucap Nabila setelah  mengambil keputusan.


“Diva? Oh artis muda terkenal yang sering digosipkan sebagai putri kamu itu ya?” Tanyanya dengan kening  berkerut. Lalu dia menggunakan ponselnya untuk menghubungi sekretaris Nadia dan memintanya untuk  menjemput Diva.


Nabila terperangah. Jarang sekali dia mendengar seorang lelaki kaya-raya super sibuk mengetahui detail  kehidupan dan gosip tentang dirinya.


“Boleh aku bertanya sesuatu? Anggap saja sambil menunggu Diva. Tapi kalau kamu keberatan menjawabnya, aku juga tak akan menuntut kamu kok.” Tanya Nabila.


“Silahkan.” Jawab Rendi seraya melempar senyuman.


“Apa kamu telah menyelidiki aku?”


“Hmmm... Bagaimana ya? Kalau dibilang menyelidiki kamu rasanya tidak etis. Aku menganggapnya sebagai  enggalian informasi tentang kamu.”


“Cih, penggalian informasi. Bilang saja kamu menyelidiki aku sebelum acara hari ini.” Decih Nabila merasa sebal  dengan permainan kata-kata yang Rendi lakukan.


Rendi hanya tertawa lebar mendengar itu.


Sementara itu ditempat lain.


“Hei, kenapa broadcast-broadcast nya belum juga dirilis?” Tanya Naginisa melalui sambungan telepon pada admin  Mak Lambe Dower.


“Sabar mbak, kata bos sebentar lagi semua konten dan broadcast yang telah kita persiapkan untuk penguatan isu  yang kita lemparkan, hari ini juga akan dirilis. Mungkin sekitar sepuluh menit lagi, semua grup wasap, istagram,  switer, dan pesbuk, akan kami banjiri dengan broadcast dan konten yang telah kami persiapkan.” Jawab admin.


“Baguslah. Awas jangan meleset lagi!”


“Tenang saja mbak, kami melakukannya sesuai dengan time schedule yang telah kami rencanakan. Semua ini  dilakukan agar setiap isu yang kita sebarkan mendapat perhatian publik. Dan kali ini kami sangat yakin berita ini  akan viral dan bombastis. Dan media akan banyak yang tertarik untuk mendapatkan ini.”

__ADS_1


“Oke, aku percaya. Tapi ingat jangan sampai gagal! Bos kamu itu tahu akibatnya kalau sampai gagal. Bilang sama  bos kamu apa yang aku ucapkan ini. mengerti?”


“Siap mbak.”


Kembali kepada Diva yang baru saja mandi dan berganti baju didalam kamarnya.


Kini dia mengenakan pakaian casual khas remaja sma. Sebuah celana monyet berwarna biru muda dipadu dengan  kaos putih lengan pendek dan sepatu tenis berwarna putih. Lalu sebuah topi baseball warna putih menutupi  kepalanya dan kacamata hitam frame lebar sudah menutup matanya. Rambut hitamnya dibiarkan saja tergerai tanpa diikat, tak lupa sebuah tas kecil berwarna pink dia sampirkan dipundaknya.


“Sip! Aku akan jalan-jalan sekarang.” Ujarnya sambil mematut diri didepan cermin.


Baru saja akan melangkah, terdengar pintu kamarnya diketuk dari luar.


“Siapa ya? Masa room service? Seingatku aku tak pesan apapun.” Tanya Diva pada dirinya sendiri.


Diva mendekat dan melihat dari lubang intip untuk mengetahui siapa yang ada didepan pintu kamarnya. dilihatnya  dari lubang intip itu seorang wanita muda, cantik dengan setelan span dan blazer hitam. Rambutnya sebahu  dibiarkan tergerai, dan ada kacamata menghias wajah cantiknya menambah kecantikan yang dimilikinya.


“Siapa dia ya?” Gumam Diva.


Terdengar lagi ketukan dan kali ini disertai panggilan yang menyebut nama Diva.


“Siapa?” Tanya dari  balik pintu.


“Bisakah anda membukakan pintu untuk kami. Kami pegawai hotel ini.”


Diva membuka pintu, namun hanya sedikit dan masih mengaitkan kunci pengaman. Sehingga yang terlihat oleh Nadia adalah wajah Diva saja.


“Perkenalkan nama saya Nadia dan saya kesini karena Saya diperintahkan oleh CEO hotel ini untuk menjemput  anda karena tamu CEO kami nona Nabila ingin anda ikut serta bersamanya?”


“Nabila?”


“Kalau anda tak percaya anda bisa menelpon nona Nabila perihal hal ini.” Tegas Nadia.


“Baik mah, aku akan ikut dengan sekretaris Nadia.” Jawab Diva mengakhiri pembicaraannya dengan Nabila.


Diva kini sudah berjumpa dengan Nabila dan Rendi. Setelah basa-basi perkenalan Rendi pun mengajak mereka  berdua ke tempat yang ingin dia tunjukkan.


“Bagaimana? Disini sangat indah bukan?” Tanya Rendi ketika mereka sudah sampai ditempat yang dimaksudkan Rendi.


Dari balkon hotel itu mereka melihat pemandangan indah dibawahnya. Hamparan samudera Indonesia yang luas  dan membiru berhiaskan beberapa burung-burung berterbangan diatas ombak yang bergulung. Sepanjang garis  pantai terlihat bersih dan ada beberapa payung besar warna-warni menghiasinya. Seperti yang Rendi katakan sebelumnya, kini Nabila dan Diva pun merasakan hembusan angin laut yang pelan dan menyejukkan menyapu  kulit-kulit mereka.


“Wow!” Pekik Diva. “Ini sangat indah”. Dia lalu mengambil ponselnya dan berselfi dengan latar belakang lautan.  Beberapa kali dia mengambil gambar dirinya sendiri. Lalu mengamati hasil jepretannya dengan wajah berseri.  “Benar-benar sangat indah  mempesona.” Gumamnya mengamati hasil jepretannya.


Nabila juga tak kalah antusiasnya. Seolah dia sudah lupa, sebelum sampai ditempat ini dia sudah berprasangka  buruk pada Rendi yag mengajaknya. Nabila pun melakukan kegiatan yang sama dengan putrinya itu. Dia berselfi  ria dan tak lagi memperhatikan Diva apalagi Rendi.


Pandangan  Rendi tak lepas sedikitpun dari Nabila. Apapun yang Nabila lakukan, Rendi mengikutinya dengan sorot  mata saja. Dia tak berkomentar, apalagi berupaya mendekat atau ikut selfi dengan Nabila. Sesekali dia  tersenyum saat melihat Nabila berpose dengan gaya buruk wajah, menjulurkan lidah dan face konyol lainnya.


Setelah beberapa saat berdiri dan menikmati segala kelakuan Nabila, Rendi pun duduk dikursi kayu berwarna putih  yang tersedia dibalkon itu. Seorang pelayan hotel mendekat lalu Rendi mengatakan sesuatu dan pelayan itu  lalu pergi.


Nabila dan Diva masih sibuk berpose. Kini mereka sedang berselfi bersama. Senyum dan tawa lebar mengiringi  kegiatan ibu dan anak ini. Bagi mereka berdua, kegiatan seperti tak pernah mereka lakukan. Dan baru kali ini  mereka seolah bebas berselfi bersama dan seolah tak lagi peduli dengan rahasia yang telah mereka simpan sekian lama.


Pelayan yang tadi pergi meninggalkan, kini kembali dengan mendorong troli makanan. Dia lalu meletakkan  makanan kecil dan minuman yang dibawanya dan menaruhnya diatas meja disamping kursi dimana Rendi duduk.  Setelah itu dia kembali pergi.


Rendi masih membiarkan saja kedua teman barunya itu. Dia lalu menuangkan kopi hitam kedalam cangkirnya dan  menyeruputnya sambil menikmati setiap polah Diva dan Nabila.


“Mereka ini, sangat mirip. Pantas saja sering digosipkan sebagai ibu dan anak. Postur, wajah, bahkan senyuman yang mereka miliki terlihat sama. Hanya faktor usia saja yang menjadi pembedanya.” Gumam Rendi sambil menyeruput kopinya. Lalu diletakkannya cangkir itu dan ganti dia mengambil cemilan yang telah tersedia.


Nabila dan Diva sudah merasa sangat puas. Dan kini mereka telah duduk bersama dengan Rendi.


“Ini om pesan untukku?” Tanya Diva sambil menunjuk segelas es lemon tea faforitnya.

__ADS_1


“Benar. Kamu suka lemon tea kan?”


“Iya. Bagaimana om bisa tahu ya?” Tanya Diva sambil mengambil gelas lemon tea dan langsung meminumnya menggunakan sedotan.


Rendi hanya mengedikkan bahu dan mengangkat kedua alisnya sebagai jawaban.


“Ren. Ini benar-benar indah. Terima kasih ya telah menunjukkan spot ini. Sebelumnya aku berencana untuk jalan- jalan kepantai sana kalau cuacanya tidak terlalu panas. Tapi dengan adanya tempat ini, aku jadi tak perlu lagi  berpanas-panas.” Ucap Nabila sambil terkekeh. Lalu dia juga meminum lemon tea yang telah tersaji disana. “Eee, maaf ya aku sempat berprasangka buruk sama kamu tadi.”


“Tak masalah. Lupakan saja.” Jawab Rendi enteng.


Ketiganya terdiam. Ketiganya juga menatap lautan luas disana dengan pikiran masing-masing.


“Hmmm, sambil menikmati keindahan disini bolehkan aku bercerita tentang diriku?” Tanya Rendi sambil menatap  Nabila, setelah beberapa saat terdiam, dan menikmati semilir angin yang berhembus.


“Eee, silahkan saja. Aku juga ingin mengetahui kepribadian kamu yang lainnya.” Jawab Nabila sambil tersenyum.


‘Kayaknya aku akan jadi obat nyamuk deh.’ Runtuk hati Diva. Dia tak berkomentar apa-apa karena meski tak  menyebut nama, tapi sangat jelas terlihat oleh Diva, kalau pertanyaan Rendi tadi hanya untuk mamanya.


Rendi lalu bercerita tentang masa kecilnya. Dimana dia dibesarkan dalam keluarga yang dikatakan kaya tidak,  miskin juga tidak. Ketika dikelas dua sma ibunya meninggal dan beberapa bulan kemudian ayahnya menyusul  ibunya ke alam baka. Sejak itulah Rendi harus mulai bekerja sambil tetap bersekolah. Dia dibantu sahabatnya  Reyhan meneruskan usaha ayah Rendi dibidang jasa konstruksi.


Meski minim pengalaman, berkat kegigihan mereka berdua, usaha itu berkembang. Dan berkat usaha dan doa  perusahaan kecil peninggalan orang tua Rendi pun berkembang menjadi sebuah grup usaha hingga memiliki  beberapa hotel berbintang di beberapa kota besar. Dan hotel XX ini adalah hotel terbaru dari pengembangan  usaha mereka.


“Hebat kamu Ren.” Puji Nabila setelah Rendi menutup cerita kesuksesannya.


“Terima kasih Tapi tahukah kamu, kenapa aku memaksa untuk menghadirkan dirimu disini?”


Nabila menjawabnya dengan menggelengkan kepala saja.


Diva yang mendengar kalimat tanya Rendi yang terakhir jadi merasa antusias untuk mendengar alasan teman baru mamanya ini.


“Ketika aku masih SD, mamaku sangat senang melihat sinetron kamu di televisi. Disanalah pertama kalinya aku  melihat kamu. Dan aku merasa telah melihat wanita tercantik dalam hidupku.”


Nabila dan Diva tersenyum lebar mendengar itu.


“Dan kamu harus tahu, sejak saat itu aku sudah berjanji pada diriku sendiri aku harus bisa menikahimu.” Ucap  Rendi lagi dengan tegas dan jelas.


“Hah? Beneran tuh om?” Tanya Diva.


“Iya. Saat itu aku sudah merasa jatuh cinta pada pandangan pertama.” Jawab Rendi sambil menatap pada Diva.  Tapi kemudian pandangannya kembali pada Nabila. “Tapi ketika kedua orang tuaku meninggal, aku sedikit lupa  dengan janjiku itu. Apalagi ketika aku harus bersekolah dan bekerja. Modal kerja yang sedikit membuat aku dan  Reyhan berjuang mati-matian agar bisa mendapat kredit bank. Dan syukur alhamdullah Allah masih memberikan  kemudahan jalan. Hingga kami bisa sebesar sekarang ini.” Rendi berhenti sebentar. Dia memeriksa ponselnya  karena berkali-kali bergetar.


Diva dan Nabila juga melakukan hal yang sama. Memanfaatkan jeda cerita itu untuk memeriksa ponsel mereka.  Ratusan notifikasi pesan dan panggilan tak terjawan muncul dilayar ponsel masing-masing. Keduanya pun cepat-cepat memeriksa ada berita apa, sehingga diponsel mereka sangat ramai pemberitahuan.


Nabila dan Diva saling menoleh dan saling memandang satu sama lain setelah mengetahui apa yang sebenarnya  terjadi. Kegelisahan terlihat jelas diwajah mereka berdua. Namun mereka hanya diam tak berkata-kata.


“Maaf, sampai dimana tadi?” Tanya Rendi membuyarkan pikiran kalut Diva dan Nabila.


“Eeee, sampai anda harus berjuang keras mencari kredit om.” Jawab Diva sekenanya.


“Ah benar. Aku berjuang keras, agar perusahaan peninggalan orang tua tidak bangkrut. Ada dua motivasi disana,  Pertama, jika itu bangkrut maka sudah tak ada lagi sumber penghasilan bagi anak yatim piatu seperti aku. Lalu  yang kedua, aku percaya usaha peninggalan orang tuaku itu, jika berhasil kukembangkan aku bisa menjadi kaya raya dan bisa memantaskan diri untuk menikahi kamu, Nabila.”


Diva langsung terperangah mendengar kalimat terakhir dari Rendi.


“Maaf om, bukannya lancang. Diva juga masih muda banget saat ini. Tapi mendengar cerita om barusan, seperti  om terobsesi banget sama tante Nabila? Maaf om jika Diva lancang.”


“Tidak apa Diva. Dan tadi pagi aku juga sudah mengajak mama kamu ini agar bersedia menikah denganku.” Terang Rendi kalem.


DUAR!!!


Kalimat Rendi itu meski diucapkan dengan  pelan, tapi seperti guntur yang menggelegar ditelinga ibu dan anak  yang telah merahasiakan hubungan mereka bertahun lamanya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2