
Sejak pertemuan Antara Nabila dan Josephira dipesta tuan Fadel, hubungan keduanya menjadi akrab. Disaat waktu senggang Nabila akan diajak Josephira bertemu, entah jalan-jalan atau sekedar nongkrong.
“Apakah kamu hari ada syuting?” Tanya Josephira lewat sambungan telepon.
“Tidak kak, hari ini off, tidak ada jadwal syuting”” Jawab Nabila
“Temani aku dirumah ya.” Pinta Josephira.
“Eee.. gimana ya?” Nabila ragu-ragu.
Hari ini sebenarnya dia ingin seharian bersama Diva, putrinya. Sudah satu bulan lebih dia disibukkan dengan pekerjaan, hingga tidak punya banyak waktu untuk bersama putrinya.
Josephira wanita baik, jika dia tahu Nabila sudah memiliki seorang putri mungkin dia tidak ingin mengganggu quality time Nabila. Tapi Nabila tidak pernah mengatakan keberadaan putrinya itu. Itu adalah rahasia yang harus ia simpan.
“Kenapa? Kamu baik-baik saja kan?”
“Oh, eh iya kak aku baik-baik saja kok. Okelah aku akan temani kakak. Ditunggu ya kak.” Jawab Nabila setelah sempat ragu, tapi demi kerahasiaannya dia rela tidak menemani Diva hari ini.
“Akan kukirimkan mobil untuk menjemput kamu. Oke, see you Bil.”
Nabila segera pergi mandi dan berganti pakaian. Satu jam kemudian dia telah sampai di rumah besar milik Bram.
“Bi Nah, aku pergi kerumah kak Josephira.” Pamit Nabila pada bi Minah.
“Iya Bil, hati-hati dijalan. Pulangnya jangan terlalu malam, tuan Adli kemarin berpesan besok kamu ada acara promo film kamu yang terbaru di Bandung.”
Nabil mengangguk mengerti. Seperti biasa Adli selalu mengirim pesan yang sama pada bi Minah dan dirinya. Agar dirinya tidak lelet atau lupa pada jadwal kerja.
Lalu Nabila berjalan menghampiri Diva yang sedang bermain boneka. Ditatapnya lekat putri yang ia rahasiakan statusnya itu. Diva telah tumbuh besar. Usianya sudah delapan tahun. Kecantikan Nabila menurun padanya.
“Emm, Diva mama Bila pergi ya.”
“Kata mama Bila hari ini kita akan main sepuasnya.” Rajuk Diva, tanpa memandang wajah Nabila. Tangannya tetap memainkan boneka Barbie berhijab.
“Maaf, tiba-tiba istri bos tempat mama bekerja meminta mama Bila datang kerumahnya.” Bohong Nabila sambil tangannya mengelus lembut ujung kepala anaknya.
Diva tidak menjawab, juga tidak menoleh. Dia merajuk, karena Nabila tidak menepati janjinya. Hati Nabila terasa teriris, sedih sekali tidak bisa mengajak Nabila keluar bersama dan menunjukkan putrinya itu pada dunia.
Sebenarnya Nabila juga takut, pada Ferdi. Dia yakin jika Ferdi melihat Diva yang tumbuh kembang dengan paras cantik dan menggemaskan lalu kepintarannya pasti akan berusaha merebut Diva dari dirinya. Hal inilah yang semakin membuat Nabila menutup rahasia rapat-rapat status putri yang dilahirkannya itu.
Sebuah mobil berhenti membuyarkan lamunan paranoid Nabila. Sopir keluar lalu membukakan pintu belakang mempersilahkan Nabila masuk. Mobil pun melaju menuju ke rumah besar nan mewah yang berjarak lumayan jauh.
__ADS_1
“Assalamu’alaikum kak.” Seru Nabila ketika melihat Josephira sedang duduk ditaman sambil melukis.
“Waalaikumusalam, sini Bil.” Jawab Josephira dengan senyuman lebar dan membentangkan tangannya mengundang Nabila masuk dalam pelukan hangat seorang sahabat.
“Kamu selalu terlihat cantik.” Puji Josephira sambil menatap intens pada artis idola yang kini telah menjadi sahabatnya ini.
“Ah kakak terlalu memuji aku. Kakak juga cantik banget loh. Aku aja iri pake banget loh kak, saat memandangi kakak seperti ini.” Balas Nabila.
Keduanya lantas tertawa dan berpelukan seolah sahabat yang telah bertahun-tahun tidak bertemu.
“Owh, cantik sekali lukisan kakak.” Seru Nabila, matanya menatap takjup pada lukisan bunga-bunga mawar yang sedang dikerjakan Nabila. “Detail banget, bahkan duri-duri ditangkai mawar ini serasa nyata.”
“Terima kasih.” Jawab Josephira seraya menyesap teh hangat dari cangkir porselin cantik.
“Sendirian saja kak disini. Ini kan hari libur. Mana keponakan gantengku?” Bila menanyakan putra semata wayang hasil cinta Josephira dan Bram.
“Ada kok, Betoven lagi berenang sama papanya di belakang.” Jawab Josephira santai.
Mereka berdua lalu saling bertukar cerita. Nabila lebih banyak mendengarkan cerita Josephira yang begitu bangga menceritakan putranya yang sekarang telah berusia sembilan tahun. Josephira bersemangat menceritakan tumbuh kebangnya, kenakalan dan kelucuannya juga tingkah putranya itu saat disekolah.
Nabila mendengar dengan seksama. Dalam hati kecilnya dia iri, sebenarnya dia ingin juga bercerita dia memiliki putri yang cantik, baik dan pintar. Dia hanya bisa mendengar, tak memiliki keberanian menceritakan Diva yang kini telah berusia delapan tahun dan juga bersekolah disekolah yang sama dengan Betoven. Nabila hanya bisa memendam kebanggaannya memiliki seorang putri bernama Diva.
“Tante…” Sebuah teriakan anak kecil terdengar.
“Hai ganteng.” Seru Nabila lalu menangkap tubuh Betoven dalam pelukannya. “Kok ga pake baju sih?” tanyanya lagi sambil menciumi pipi anak kecil tampan itu.
“Aish, tante jangan cium-cium dong. Entar pacar aku tahu, aku jadi malu.” Betoven membersihkan pipinya yang baru kena cium Nabila. Membuat Nabila terkekeh.
“Iya maafin tante ya, tante selalu ingin mencium kamu yang ganteng ini.” Jawab Nabila sambil mencubit ujung hidung Betoven dengan gemas. Membuat Betoven meringis.
“Ihh, tante nakal!” Rajuk Betoven.
“Ma..” belum sempat Nabila meneruskan kalimatnya, tampak seorang lelaki gagah hanya memakai celana renang selutut menghampiri. Membuat mata Nabila terpaku dan memandangnya dengan khidmat.
Nabila menelan salivanya, menatap tubuh atletis Bram dengan rambut basah yang mulai mongering sehabis berenang dengan putranya ini. Bram semakin mendekat. Beruntung Nabila cepat tersadar dari rasa kagum berlebihan pada suami sahabatnya, kemudian dia mengalihkan pandangannya pada Betoven. Bram yang baru tahu kalau Nabila sedang menemani istrinya itu melempar senyum lebar sambil mengucap hai pada Nabila. Lalu berjalan kearah istrinya yang sedang melanjutkan lukisannya.
“Sayang, kok ga bilang kalo mengundang Nabila pagi ini?” Tanyanya dengan mesra lalu mengecup ujung kepala istrinya.
“Aish, kamu ini ada tamu kok seperti ini? Kamu juga Beto. Ayo cepat sana mandi, bilas badan kalian lalu berpakaian yang sopan.” Hardik Josephira pada suami dan anaknya.
Keduanya lalu berdiri tegak dan memberi hormat kemudian berlalu. Josephira menggelengkan kepalanya, sementara Nabila hanya cekikikan saja melihatnya.
__ADS_1
Seorang bos besar begitu tunduk pada istrinya yang jelita, batin Nabila dalam hati.
Beberapa saat kemudian Bram dan Betoven sudah tampil rapi dan bergabung.
Betoven anak yang sangat aktif, tidak bisa duduk tenang sambil berbicara. Dia pergi berlari-lari diarea taman dan mengajak seorang pelayan lelaki untuk bermain bola.
“Kabar kamu bagaimana Bil?” Tanya Bram berbasa basi.
“Aku baik kak. Alhamdulillah. Kabar kak Bram sendiri bagaimana?”
“Alhamdulillah, kami sekeluarga sehat dan baik-baik saja.” Jawabnya sambil menggosok punggung istrinya yang sedang asyik melukis itu.
“Ah ya Bil, sinetron kamu yang udah tayang di televisi bagus loh, aku sangat senang melihatnya.” Seru Josephira tanpa mengalihkan pandangannya dari kanvas lukisan.
“Terima kasih kak. Itu kan sinetron yang disponsori perusahaannya kak Bram.” Jawab Nabila.
“Terus ada ga proyek sinetron atau film baru?” jawab Nabila “Apalagi sekarang sinetron yang kakak cerita barusan kontraknya diperpanjang sama stasiun tv nya kak, jadi mulai minggu depan aku sudah syuting striping lagi. Terima kasih kak, tanpa bantuan kakak aku pasti masih kesulitan mendapat tempat di persinetronan.”
Sesekali Nabila mencuri pandang pada Bram saat menjawab. Sementara Bram terlihat acuh tak acuh saja, sesekali juga dia memandang Nabila, tetapi kebanyakan dia memandangi punggung istrinya, tapi tangannya tak berhenti mengusap punggung itu.
Nabila begitu iri melihat keharmonisan keluarga sahabat barunya ini. Kaya, punya anak, harmonis lagi. Ah, jika saja kak bram dulu jadi suamiku. Pikiran liar Nabila menyeruak. Lalu buru-buru ditepisnya.
“Yang… udahan dong melukisnya. Ada Nabila disini.” Pinta Bram dengan nada manja. Membuat Nabila nyengir.
“Ish, emang kak Bram kalau dikantor nada bicaranya seperti ini ya?” Canda Nabila.
Josephira tertawa terbahak mendengarkan candaan itu.
“Tentu saja tidak.” Jawab Bram datar, dingin dan terkesan mengintimidasi. Seolah menunjukkan pada Nabila itulah gayanya saat bekerja. “Aku hanya bersikap manja pada istri tercintaku saja.”
Deg, kalimat terakhir seolah hantaman dirasakan Nabila. Apakah kak Bram tahu aku tadi terkagum melihat dia dan terus-menerus mencuri pandang padanya meskipun itu hanyalah ketidaks sengajaan, batin Nabila. Membuat Nabila tanpa sadar menundukkan kepala merasa malu.
“Oke. sudah selesai. Bagaimana?” Tanya Josephira tersenyum lebar dan tangannya lebar mengisyaratkan pada semuanya untuk menilai hasil karyanya.
Bersambung…
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Bukan hanya Josephira loh yang minta readers memberikan penilaian. Author juga.
So please tinggalkan jejak kalian lewat jempol, komentar dan atau vote. Kalo bisa sih sekalian sawerannya bunga mawar cukup, secangkir kopi malah membuat author bersemangat melanjutkan kisahnya.
__ADS_1
Terima kasih readers.