Metamorfosa Rasa (My Glyn)

Metamorfosa Rasa (My Glyn)
Perkara Tas


__ADS_3

...~ Happy Reading ~...


...________________...


...*...


...*...


...*...


Tiga hari kemudian.


Sudah tiga hari setelah ultimatum yang diberikan Alvino, Rossa benar-benar di rumah saja. Sekedar keluar dan berkeliling rumah besar itu pun, tidak! Mami Lusy sendiri yang memastikan itu sesuai permintaan anaknya.


Namun, kali ini semuanya terasa biasa saja bagi Rossa. Tidak sesuntuk hari-hari yang lalu. Kali ini, dengan berkirim pesan serta berbagi cerita via telepon bersama teman barunya saja, sudah sangat cukup untuk mengusir kejenuhan.


Selama tiga hari ini pula, Rossa selalu berusaha menghindar dari pertemuan dengan Alvino. Bukan apa-apa, hanya saja gadis itu memperkecil ruang untuk terluka lagi. Jangan sampai pertemuan yang tak diinginkan, berpotensi memicu kekecewaan lagi dalam hatinya.


Tiga hari ini, kamar benar-benar menjadi penjara yang menawarkan kenyamanan baginya. Sekedar makan pun tetap di kamar. Dia akan keluar ketika Alvino sudah berangkat kerja, dan kembali mengurung diri ketika laki-laki itu kembali.


Nyatanya, hal itu justru menghidupkan kegalauan bagi Alvino sendiri. Setiap kembali ke rumah, matanya selalu berusaha menyoroti setiap sudut bangunan megah tersebut. Menoleh ke sana kemari seolah mencari sesuatu yang hilang.


Tidak seperti biasanya yang tidak pernah peduli sama sekali dengan keadaan rumah. Hal baru itu, tidak lepas dari pengamatan mami Lusy pastinya.


Pagi ini saat menuruni tangga, mata Alvino terus tertuju ke arah sebuah kamar yang letaknya tidak begitu jauh dari tangga. Sempat berhenti sejenak dan menatap lekat pintu bercat broken white tersebut, sebelum terus melangkah menuju ruang makan. Bergabung bersama ayah dan ibunya di sana, lalu menikmati sarapan bersama.


Tiba-tiba sebuah suara bariton, terdengar menyapa ketiganya.


"Selamat pagi, Om, Tante, Vin!"


"Eh, pagi, Lex. Sini gabung!" Mami Lusy mempersilahkan teman baik sekaligus sekretaris Alvino, untuk bergabung bersama mereka.


"Ah, ngg …."


"Gak usah, Vino udah selesai. Ayo, jalan!" potong Alvino dan langsung bangkit dari duduknya.


Tak lagi membantah, Alex langsung berpamitan pada orangtuanya Alvino. Dengan segera ia menyusul langkah lebar lelaki pemarah itu. Keduanya kini sudah masuk ke dalam mobil. Namun, tidak sengaja mata Alvino melihat sopir keluarga yang tengah menyiapkan mobil milik ibunya.


Mami mau keluar?


"Sebentar, Lex." Menghentikan Alex yang sudah menyalakan mesin mobil, sementara matanya fokus pada kegiatan sopir di sana.


Penasaran, ia pun keluar dari mobil dan berjalan menuju sopir keluarganya.


"Pak, apa mami mau keluar hari ini?" tanyanya to the point.


Sopir itu terperanjat kaget dengan kehadiran anak majikannya yang tiba-tiba.


"Ah ... iya, Tuan." Berbalik dengan segera dan menjawab pertanyaan Alvino.


"Emang mami mau kemana, Pak?" Semakin penasaran.


"Nyonya mau nganterin Non Rossa periksa kandungan, Tuan muda."


Deg!


Sekali saja. Ucapan pak sopir itu sukses mendebarkan jantung Alvino sekali saja. Namun, kekuatannya jangan ditanyakan. Lelaki itu termangu tanpa sepatah kata pun. Pandangannya berubah kosong. Ada sekelumit perasaan aneh yang mengusik jiwanya.

__ADS_1


Tin ….


Tin ….


Tin ….


Bunyi klakson beberapa kali menyadarkan dirinya. "Ya sudah, Pak. Hati-hati!" Langsung berbalik dan menghampiri Alex.


"Ada apa, Vin?" tanya Alex.


"Gak ada apa-apa. Ayo, jalan!" Menjawab dengan pandangan yang tak putus-putusnya menatap jendela kamar Rossa.


Alex bisa menebak aura kegelisahan yang terpampang jelas di wajah tampan temannya.


Jenn lagi kah?


Itu yang terlintas di benak Alex. Jelas saja dia berpikir seperti itu. Apalagi yang bisa menyita perhatian lelaki itu selain Jenn?


Mobil terus melaju membelah jalanan yang tengah ramai dipadati aktivitas lalu lintas.


...*****...


Di rumah.


Selepas kepergian Alvino, mami Lusy menghampiri Rossa di kamar. Bumil satu itu tampak masih menikmati sarapan yang sudah diantarkan pelayan sebelumnya.


"Abis ini siap-siap yah, Sayang."


"Iya, Mi." Suaranya tidak begitu jelas sebab mengunyah makanan.


"Mami tunggu di depan."


Rossa melanjutkan sarapannya hingga tandas tak tersisa. Sesudah itu, ia mulai bersiap-siap untuk ke dokter. Butuh beberapa menit untuknya mandi dan berdandan. Begitu selesai, Rossa mengambil tas selempang mini miliknya.


Lima belas menit berlalu setelah ia selesai bersiap-siap, mami Lusy kembali masuk untuk memanggilnya. Merasa lama menunggu, wanita paruh baya itu berniat memeriksa keadaan menantunya di kamar.


Tanpa mengetuk pintu, mami Lusy menerobos masuk begitu saja. Raut bingung tercetak di wajahnya kala melihat sang menantu yang sudah bermandi peluh sambil mengacak dalam tasnya berulangkali.


"Cari apa, Sayang? Kok sampai panik gini?"


Mendekat dan melihat wajah Rossa yang sudah pucat. Tampak jelas raut panik dan cemas di wajah cantiknya.


"Hah!" Terlonjak kaget. "Aaaaaa, Mami ... aku kaget." Mengelus dadanya.


"Kenapa, ada apa sampai panik begitu, Nak?" Mengusap peluh pada dahi menantunya.


"Eng …." Takut untuk menjawab. "Itu, Mi ... Rossa nyimpennya di dalam dompet, tapi tiba-tiba gak ada."


"Iya apanya yang gak ada?" Bertanya lembut.


"Takut dimarahin sama Mami," lirihnya sambil menunduk.


"Enggak mungkin mami marah. Gak akan, coba bilang apa, Sayang?"


Bukannya menjawab, gadis itu menunjukkan jari manisnya pada sang mertua. Mami Lusy menatap bingung.


"Ada apa degan jarimu?"

__ADS_1


"Cincin," cicitnya takut.


"Oh …." Tiba-tiba, "Hah? Apa? Jangan bilang cincin pernikahanmu hilang," ucap mami Lusy dengan mata melotot.


"Itu dia maksud Rossa, Mi." Menggigit ujung kukunya. "Bukan cuman itu, hasil scan USG dia juga gak ada." Menunjuk perutnya yang membuncit.


"Kok bisa?" Sebelah alis mami terangkat.


"Gak tau, semuanya biasa Rossa simpen di dompet. Kok tiba-tiba ilang? Udah Rossa bongkar semuanya ulang-aling tapi sama gak ada juga."


Sama seperti Alvino, cincin pernikahan mereka tidak pernah dipakai. Bedanya, kalau Alvino tidak pernah sama sekali, tetapi Rossa akan memakainya hanya jika keluar rumah saja. Ia akan melepasnya begitu kembali, karena itu ia selalu menaruhnya di dalam dompet agar ketika hendak keluar, tinggal disematkan saja.


Foto USG bayinya pun selalu tersimpan di dalam dompet, tetapi tiba-tiba menghilang entah kemana.


"Gak mungkin banget kan, Mi, kalo pelayan yang ngambil?" ucapnya. Ia mengingat tas yang dikembalikan salah satu pelayan di bagian dapur malam itu.


Rossa menceritakan tentang tasnya yang ketinggalan di dapur saat menyiapkan makanan untuk Alvino. Saat dimarahi sang suami, Rossa langsung mengurung diri di kamar dan melupakan tasnya. Malam itu hampir larut barulah seorang pelayan mengembalikannya.


"Biar mami tanyakan pada mereka."


Kedua wanita berbeda generasi itu menuju dapur. Di sana, mami Lusy memanggil semuanya untuk berkumpul dan menanyakan tentang tas milik putrinya.


"Kami tidak tahu, Nyonya."


"Siapa yang mengembalikan tasnya malam itu?"


Harus jawab apa saya? Nanti ….


Batin seorang di antara pelayan-pelayan di sana.


..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...


...Selanjutnya …...


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


Hay semuanya 👋 Maaf telat up 🙏 Sedikit sibuk hari ini 🙏


Terima kasih buat yang selalu menunggu 🥰


Jangan lupa like dan komen yah 😍


Jangan pelit² 😅😅


Sampai jumpa di episode berikutnya 🤗


Ig author : @ag_swertie0425


__________

__ADS_1


Oh ya, genkz! sambil nunggu kelanjutannya, boleh nih mampir ke karya temanku di bawah ini 👇 Kisah rumah tangga yang tak kalah seru ada di sini 🥰 Mampir yah ... 😘



__ADS_2