
...~ Happy Reading ~...
..._________________...
...*...
...*...
...*...
"Bilang sama sekretaris Papi, jangan lakukan apapun!Suruh mereka untuk kembali melanjutkan pekerjaan, atau … mau aku saja yang berbicara dengan sekretaris Papi?"
Sudut bibir Rossa sedikit terangkat setelah melemparkan ancaman halus bagi suaminya. Ia tahu bahwa Alvino tidak akan pernah mengizinkannya berbicara dengan Alex atau lelaki manapun.
Benar saja, dengusan kecil meluncur pelan dari bibir lelaki angkuh yang masih dengan posesif merangkulnya.
Alvino membuang nafasnya sedikit kasar. "Jangan lakukan apapun, Lex! Kembali dan selesaikan pekerjaanmu!"
Mata lelaki itu melirik tajam dua wanita yang berdiri kaku di balik meja reception. Sudut-sudut bibir Rossa terangkat sempurna, melengkungkan segaris senyum yang teramat manis.
"Baik, Tuan!" Alex menunduk hormat, begitu juga dengan dua receptions di sana.
Berulang kali keduanya mengucapkan terima kasih untuk istri dari atasan mereka. Rossa hanya membalasnya dengan senyum santun seperti biasa. Meskipun begitu, bumil cantik itu tidak berani untuk melirik sekretaris suaminya barang sedikit saja.
Mungkin ia bisa mengendalikan Alvino dengan berbagai permintaan lainnya, tetapi tidak dengan ketentuan-ketentuan yang sudah dipatenkan lelaki berlesung pipi itu.
Rossa tahu batasannya, apa saja yang bisa ia minta, dan apa yang harusnya ia patuhi. Perempuan berparas ayu itu tidak mau serakah, dalam kelayakannya mendapatkan seluruh cinta dari keluarga Dharmawan.
Cinta yang besar dari suami dan mertua, juga para pelayan, tidak lantas menjadikan bumil cantik itu bermegah hati dan seenaknya. Justru ia merasa seolah tidak layak mendapatkan semua kebahagiaan yang melimpah ruah dalam hidupnya saat ini. Rossa cukup dengan bersyukur atas semua yang telah digenggamnya kini.
"Ayo, Papi!"
Ia menggamit lengan kekar Alvino, mengajaknya ke ruang kerja sang suami. Alvino mengangguk dan keduanya segera berlalu dari sana.
Setiap langkah mereka tidak pernah lepas dari jejak rekaman CCTV-CCTV hidup yang berada di sana.
Tuan Alvino ternyata takut juga sama istrinya.
__ADS_1
Bukan takut, tapi sangat sayang.
Halaaa ... sebut saja bucin akut.
Hebatnya wanita itu bisa meluluhkan hati bos yang dingin.
Seandainya aku yang di sana menggamit lengan si bos.
Ingin sekali aku menggantikan posisi wanita itu.
Karyawan-karyawan wanita asik bergosip setelah pasutri itu tak terlihat lagi. Adanya Alvino saja selalu mampu menyita perhatian mereka, apalagi ini ditambah kehadiran sang istri yang tidak pernah terekspos sama sekali.
Jiwa-jiwa kepo tingkat nasional mulai beroperasi lancar tanpa mempedulikan sekitar.
"Ngapain kalian?" Alex tiba-tiba muncul di tengah-tengah komplotan para hawa yang tengah bergosip.
Pembicaraan dengan topik menghangat itu seketika buyar. Kasak-kusuk yang membising sedari tadi mendadak tertelan keheningan. Kerumunan kecil itu langsung berpencar ke tempat masing-masing.
"Kalian digaji untuk bekerja, bukan bergosip. Tunjukkan kinerja masing-masing, bukan malah mengurusi urusan orang apalagi atasan!" Alex memperingati.
Semua yang di sana menunduk, lalu kembali berselancar dengan pekerjaan masing-masing.
...🦋🦋🦋...
Rossa mengedarkan pandangannya menyapu setiap sudut ruang kerja sang suami. Decak kagum yang terlantun dari bibir mungilnya, merupakan kebahagiaan tersendiri bagi Alvino.
"Kamu suka, Honey?" tanya Alvino. Lelaki pemilik ruangan itu kini berdiri di balik tubuh padat Rossa, dengan tangan setengah melingkar pada perut besar istrinya.
Rossa mengangguk dengan senyum bahagia, kala netra teduhnya menangkap gambar dirinya yang terbingkai dalam kanvas kecil di atas meja kerja Alvino.
Ah, sungguhkah secinta itu dia padaku sekarang? Maafkan aku jika aku terlalu bahagia, Tuhan!
Ia melepaskan tangan Alvino yang mengurungnya, dan melangkah mendekati meja seraya meraih pigura kecil di sana.
"Kenapa harus ada ini segala?" tanya Rossa dengan senyum yang tak pernah pudar. Jemari lentik itu mengusap gambar dirinya yang dilapisi kaca transparan.
Alvino turut mendekat lalu berdiri tepat di depan wanitanya, dengan posisi bersandar pada meja kerja. "Ya … sebagai penyemangat di saat aku mulai lelah dengan pekerjaan."
__ADS_1
"Memangnya bisa? Apa yang bisa dia lakukan dengan hanya diam seperti ini?" tanya Rossa lagi.
Kali ini ia meletakan kembali pigura kecil tadi pada tempat semula. Ia mendongak lalu menyoroti wajah tampan lelaki yang teramat dicintainya.
Alvino terkekeh dan lagi-lagi menarik perempuan dengan perut buncit itu ke dalam pelukannya.
"Dia tidak perlu melakukan apapun. Cukup diam di sampingku, setia temani aku, dan … senyuman manis ini jangan sampai meredup," ucap Alvino dengan tulus. Tatapannya sarat akan cinta yang terpusat pada manik coklat milik Rossa.
"Kalau misalnya … suatu hari dia pergi?" Rossa bertanya lagi. Ia sedikit memiringkan kepalanya dengan tatapan lucu. Alvino yang kesal dengan pertanyaannya kali ini, pun jadi tidak bisa untuk marah.
Tatapan lembut Rossa bagai sihir yang selalu dahsyat melumpuhkan emosi dalam diri Alvino.
"Itu tidak akan terjadi. Dia sudah aku rantai dengan kekuatan cinta yang tidak mudah terlepas. Gemboknya sudah kutenggelamkan dalam lautan sanubari, dan tidak akan pernah bisa ditemukan lagi." Jawaban Alvino yang berhasil membungkam Rossa dalam keharuan.
Saat Rossa menunduk malu, Alvino justru tersenyum menang. Telunjuknya mengangkat dagu wanita cantik itu. Saat ia mendekatkan wajah hendak meraup bibir mungil istrinya, tangan halus Rossa lebih dulu menghalangi.
"Tunda dulu mesra-mesranya, Papi! Aku ingin mendengar lebih dulu alasan Papi membohongiku sejak semalam sampai pagi ini."
..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...
...Selanjutnya …....
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
Hai, hai 👋 seperti janjiku kemarin, hari ini aku double up 😍😍
Semoga puas yah bacanya 😁
Terima kasih buat yang selalu menunggu 🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen 😍
Ig author : @ag_sweetie0425