Metamorfosa Rasa (My Glyn)

Metamorfosa Rasa (My Glyn)
Perasaan Jenn


__ADS_3

...~ Happy Reading ~...


...____________________...


...*...


...*...


...*...


"Silahkan, Nona!"


Reza membuka pintu mobil dan sedikit membungkuk, mempersilahkan Rossa untuk masuk ke mobil. ia bersikap seolah seorang sopir yang menghormati majikannya.


Rossa sendiri hanya tertawa melihat tingkah teman sekaligus adik iparnya itu. Ada rasa bahagia yang tidak dapat ia sembunyikan, tetapi ada segenggam rindu yang belum terobati sama sekali.


"Bisa aja kamu, Za. Makasih," ucap Rossa dengan wajah berseri.


"Sama-sama, Nona!" sahut Reza lalu menutup pintu.


Rossa semakin terkekeh gemas ingin menimpuk lelaki itu, tetapi ia menarik tangannya kembali. "Stop, Za! Pen gue timpuk tau gak, tapi gak dibolehin nyentuh cowok lain."


Rossa tersenyum kecil sambil mengusap tangannya, sedangkan Reza hanya geleng-geleng menanggapi perkataan bumil cantik itu. Ia sudah paham bagaimana Alvino kalau sudah mencintai wanita. Apa yang menjadi milik lelaki arogan itu, tidak boleh disentuh oleh siapapun.


"Kamu tau abangmu seperti apa 'kan?" tanya mami Lusy pada Reza. Lelaki yang tengah mengendarai mobil saat itu, mengangguk mengiyakan sebagai jawaban.


Mobil yang dikendarai Reza memasuki sebuah mall. Pagi itu, Rossa ingin jalan-jalan sekedar menghilangkan gugup, takut, dan deg-degan selama menunggu persalinan.


Tentu tidak semudah itu ia bisa keluar tanpa bujuk rayu, rengekan, serta berbagai permohonan yang diajukan pada Alvino. Rossa harus berusaha keras untuk itu. Dari malam ia coba me-loading, hingga pagi hari barulah lolos.

__ADS_1


Sementara itu, Reza yang bertugas seharian ini menjadi sopir, juga tidak lolos begitu saja. Banyak peringatan serta ancaman yang diberikan Alvino padanya. Kesempatan itu tidak disia-siakan Reza untuk memberitahukan Jenn dan Putri. Meski hanya dari kejauhan, ia ingin mengabulkan harapan gadis-gadis itu.


"Mau ke mana dulu nih?" tanya Reza. Ia setia mengikuti dua wanita berbeda generasi itu dari belakang.


"Hmm ... nonton," jawab Rossa dengan girang.


Eits, tidak semudah itu forguzo. Reza harus memboking satu bioskop itu untuk mereka bertiga, tetapi lagi-lagi Rossa barulah dan menolak keras. Bumil itu ingin membeli tiket biasa, tetapi dicegah mami Lusy.


"Jangan, Sayang. Ini bahaya buat kamu. Mami gak mau tanggung jawab sama Alvino. Desak-desakan sama yang lain itu bahaya, dan mami sama Reza terancam di sini." Mami Lusi menjelaskan pada menantunya.


Keinginan untuk nobar siang itu, dibatalkan. Akhirnya, mami Lusy mengajak berkeliling ke baby shop. Meskipun sudah banyak kebutuhan calon penerus keluarga Dharmawan itu, tetapi lagi-lagi mami Lusy memborong banyak hal.


"Udah, Mi. Udah banyak di rumah, jangan banyak-banyak, takutnya mubasir!" ucap Rossa tak enak.


Melihat sang menantu yang sepertinya kecapean, mami Lusy berhenti dan mengajaknya makan siang. Sementara Reza masih setia mengikuti dengan melakukan panggilan telepon pada dua sahabatnya yang masih sibuk bersiap di apartemen.


Di tempat lain, Jenn dan Putri juga tengah on the way menuju restoran yang diberitahu oleh Reza. Dua gadis itu begitu cantik dan kece dengan topi serta kacamata hitam. Tentu saja agar mereka tidak mudah dikenali Rossa dan yang lain.


"Put, perasaan gue gak enak," ucap Jenn. Gadis itu mengalihkan pandangannya keluar kaca jendela, entah apa yang mengusiknya.


"Gak sabar kali, Jenn. Gue juga gak sabar tapi deg-degan." Putri terkekeh. "Gini amat yah, mau ketemu Nona Muda Dharmawan." Gadis tomboi itu makin terbahak.


Jenn tersenyum kecil. "Gak tau, tapi ... perasaan gue gimana yah." Jemari lembutnya saling bertaut erat.


"Tarik nafas, Beb. Kita mungkin gak akan bisa menahan diri untuk tidak memeluknya." Kedua gadis itu lalu tertawa bersama, tetapi Jenn masih saja merasa aneh dengan hatinya.


Sementara di restoran, Rossa bersama dengan mami Lusy dan Reza, tengah menikmati makan siang diselingi obrolan kecil yang seru. Tiba-tiba Rossa berdiri dari duduknya.


"Mau ke mana, Sayang?" tanya mami Lusy.

__ADS_1


"Ke toilet sebentar, Mi." Rossa menjawab dan segera berlalu dari sana. Mami Lusy yang ingin mengantarnya, tetapi ditolak.


Rossa segera berlalu ke toilet. Beberapa menit berlalu dan bumil cantik itu belum juga kembali. Mami Lusy mendadak khawatir dan hendak menyusul menantunya ke kamar mandi. Namun, langkahnya terhenti kala melihat keributan dari arah toilet. Seorang pria dengan pakaian hitam melangkah cepat mendekatinya.


Tubuh wanita berusia senja itu tiba-tiba menegang begitu mengenal pria yang kini di hadapannya. Lutut tua itu seketika lemas, tumpuannya goyah dengan seluruh tubuh yang gemetar, kala melihat raut tak biasa di wajah pria hadapannya.


"A-apa yang te-terjadi?" tanyanya dengan terbata. Wanita cantik berusia senja itu sudah bisa meraba dalam ketakutan.


Reza juga ikut berdiri melihat situasi yang terjadi. Baru saja ia hendak bertanya, tetapi pemandangan selanjutnya sudah lebih dulu membungkam mulut pria itu. Reza masih di tempat dengan tangan bergerak cepat menangkap tubuh mami Lusy yang tiba-tiba ambruk.


..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...


...Selanjutnya .......


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


Hai .... ai em kambek 😁


Jangan lupa like dan komen yah 😍


Sampai jumpa di episode berikutnya 🤗

__ADS_1


__ADS_2